
Malam dihari pernikahan Jovita adalah malam yang sama saat Alvaro menyatakan cinta pada Bella.
Tak bisa dipungkiri, jauh didalam hati Bella tersimpan perasaan yang dipikir hanya mimpi saja. Ternyata mimpi Bella menjadi kenyataan indah yang tak diduga.
Seperti pasangan lainnya disaat mereka sedang kasmaran, keduanya makin dekat. Banyak pujian yang Alvaro nyatakan pada diri Bella yang membuatnya terpukau.
"Mata kamu indah, apa kamu mewarisi dari ibumu?" Tanya Alvaro disela-sela pembicaraan.
"Lebih tepatnya dari ayahku, tapi memang aku sedikit lebih terang dari mata biru milik ayahku" jawab Bella dihadapan Alvaro yang makin berada didekat Bella.
"Selain mempunyai mata yang sangat indah, kamu juga cantik, cerdas, profesional dan seorang dokter muda" ucap Alvaro yang lagi-lagi memuji Bella.
"Lama-lama aku bisa terbang jika kamu selalu memujiku" ujar Bella dengan tersipu.
"Kamu memang layak dipuji, entahlah kenapa aku baru dipertemukan olehmu saat ini" sambil menggenggam tangan Bella.
"Sebenarnya kita sering bertemu, tapi memang tak pernah ada kesempatan untuk sekedar mengobrol" ungkap Bella yang selama ini dia pendam.
Alvaro tersenyum.
"Tapi aku tetap mensyukuri akhirnya kamu hadir dihidupku" Alvaro menatap Bella dalam-dalam.
Bella selalu salah tingkah saat Alvaro menatapnya seperti itu.
Tak terasa waktu sudah jam 8 malam, Alvaro dan Bella banyak menghabiskan waktu direstoran itu.
"Kamu mau minum lagi?" Tanya Alvaro.
"Tidak, aku sudah cukup, kepalaku juga sudah terasa berat.." sambil memegang kepalanya yang terasa pusing, karena mereka sudah cukup banyak menghabiskan minuman beralkohol.
"Atau mau kuantar pulang sekarang?" tanya Alvaro lagi.
"Tidak, aku akan menginap dihotel ini saja" ujar Bella yang sudah bersandar dibahu Alvaro.
"Loh baru jam 8 kenapa kamu menginap dihotel?" tanya Alvaro heran.
"Aku sedang ingin menginap disini, aku tidak ingin pulang" jawab Bella beralasan.
"Iya tapi kenapa kamu gak mau pulang?" Alvaro penasaran.
"Entahlah, aku sedang bosan dirumah. Aku akan disini saja" padahal alasan Bella adalah menghindari mantannya yang masih berharap pada Bella.
"Kalau begitu bagaimana jika aku juga menginap disini?"
"Bersamaku?" Bella berpikir seperti itu dan sedikit terkejut.
"Ah tidak im just kidding honey" canda Alvaro.
"Baiklah, aku temani kamu chek-in disini" Alvaro berdiri dan memberikan tangannya untuk menggandeng Bella yang sedang terduduk.
Bella menggapai tangan Alvaro dan berjalan menuju lobby hotel yang tak jauh dari restoran yang ada dihotel tersebut.
Alvaro melakukan chek-in atas nama Bella, tapi Alvaro yang membayar kamarnya.
Bella sempat menahan tangan Alvaro untuk mengeluarkan isi dompetnya, tapi Alvaro tetap ingin membayar kamar hotel itu.
"Oke ini kuncinya, kamu bisa istirahat karena kamu pasti lelah" sambil memberikan room card pada Bella.
"Kamu bagaimana, apa kamu baik-baik saja jika pulang dalam keadaan seperti ini?" Bella mengkhawatirkan Alvaro karena dia juga cukup banyak minum alkohol yang bisa saja membahayakan dia saat perjalanan pulang nanti.
"Tidak apa, aku akan baik-baik saja, kamu istirahat yang cukup yah"
"Temani aku sampai kedepan kamar hotel" pinta Bella dengan manja.
"Hem.. okey, apapun untuk wanita tersayangku" sikap Alvaro begitu manis didepan Bella dan menggandengnya masuk ke dalam lift.
Kamar no 907 lantai 9, Bella menempelkan room card di gagang pintu lalu membuka pintu dan menaruhnya di slot kartu yang berada didinding untuk menanyalakan lampu.
"Apa kamu mau masuk dulu sebentar?" Tanya Bella didepan pintu yang berhadapan dengan Alvaro.
"Tidak, kamu masuk saja.. nanti aku akan menghubungi kamu jika sudah sampai dirumah" sahut Alvaro.
"Baiklah.. hati-hati yah dijalan, kamu juga sepertinya sedikit mabuk" Bella mengkhawatirkan Alvaro.
"Belum begitu mabuk kok, tenang saja aku pasti bisa mengatasi ini" kedua tangan Alvaro masuk kedalam kantong celana.
"Oke aku pulang yah.." Alvaro melangkahkan kakinya.
"Iya.." Bella masih memperhatikan Alvaro yang berjalan perlahan menuju lift.
Alvaro berjalan lambat seperti memikirkan sesuatu hal yang berusaha dia tahan.
Baru tiga langkah menjauh dari Bella, langkah Alvaro terhenti dan membalikkan badannya menatap Bella.
Bella yang masih didepan pintu menatap kebingungan pada Alvaro yange menghentikan langkahnya.
Ternyata Alvaro menghampiri Bella dan masuk kedalam kamar, Bella yang berjalan mundur masuk kedalam karena tubuh Alvaro yang membuatnya masuk kedalam kamar, lalu Alvaro menutup pintu.
"Maafkan aku, tapi.." Alvaro membelai pipi Bella dan menatap matanya dengan tajam.
"I love you" kata Alvaro dan menaruh tangan kiri dipinggang Bella, lalu perlahan mendekati wajah Bella yang sedikit terkejut.
Alvaro mencium bibir Bella dan menggerakkannya secara perlahan, mencoba membuat Bella ikut membalasnya dan Bella memang melakukan itu.
Bella yang berdebar hatinya dag-dig-dug merasakan bisa sedekat ini sambil berciuman dengan Alvaro, harum tubuh Alvaro membuat Bella makin terdorong untuk ******* sentuhan demi sentuhan dari bibir Alvaro dan terdengar desahan lembut dari Bella.
Alvaro yang setengah mabuk makin menggila dalam mencium Bella, memeluk tubuhnya yang ramping dan membelai rambut Bella yang panjang.
Perlahan Alvaro melepaskan jas hitam yang ia kenakan dan Bella menjatuhkan tas yang dia bawa dan sepatu high heels.
Say You Won't Let Go - James Arthur
*I met you in the dark
You lit me up
You made me feel as though
I was enough
I knew I loved you then
You make me feel this way somehow
I'm so in love with you
And I hope you know*
Tiba-tiba lagu ini terngiang diingatan Alvaro, lagu yang entah bagaimana bisa masuk kedalam bawah alam sadarnya saat mencium Bella.
Alvaro melepaskan perlahan ciumannya dan menatap Bella.
"I love you, aku akan terus mengucapkannya padamu" bisik Alvaro.
Bella yang masih terbuai dengan sentuhan bibir Alvaro mendekapnya lagi dan kembali berciuman dengannya.
🌼
Aku dan Nevan baru saja menyelesaikan resepsi pernikahan kami, Nevan sangat khawatir padaku dan janin yang kukandung karena terlalu lama berdiri, tapi aku sudah menyakinkannya kalau aku baik-baik saja.
Kami menuju makanan khusus pengantin dan keluarga, karena aku butuh makan untuk mengisi tenagaku yang sudah banyak berkurang.
Nevan mempersilahkan aku duduk, dan aku duduk perlahan sambil menggeser gaun pengantin nan cantik berwarna putih dan mengembang ini.
Keluarga kami sedang menikmati makanan disebelah meja kami dan aku makan berdua dengan suamiku Nevan.
Dia menyuapiku dengan perhatian, sedikit demi sedikit aku mulai mempunyai tenaga.
Senyuman ini tak pernah terlepas dari wajahku, merasakan kenyamanan yang Nevan berikan selama menyelenggarakan resepsi pernikahan yang cukup besar hari ini.
"Kamu juga makan sayang" ujarku sambil mengelap sisa makanan yang menempel dibibirku.
"Iya, tapi kamu prioritasku.. karena sekarang kamu adalah nyonya Nevan" ujar Nevan sambil tersenyum membuatku terpesona.
Tiba-tiba datang beberapa sahabat Nevan yang lain, memberikan ucapan selamat sekali lagi pada kami.
"Wah Van, kenapa lo gak bilang-bilang sih kalau akan menikah pas gue nikah waktu itu..
Asli gue kaget danger kabar lo nikah, mana kasih undangannya 3 hari sebelumnya coba" ungkap Rafael sahabat Nevan yang menikah waktu itu di Surabaya.
"Ya sorry bro, tapi makasih ya dah dateng.." Nevan memeluk Rafael sahabatnya.
"Pasti kita dateng, gak mungkin lah si bos nikah kita gak dateng.. sekali lagi selamat ya bro.. langgeng selamanya" doa Rafael sambil menggenggam layaknya tos sesama pria, dengan Rafael.
Lalu disambung oleh Bimo.
"Selamat sekali lagi ya bos, akhirnya ada satu yang menggerakkan hati lo yah" canda Bimo sambil tertawa.
"Bisa aja lo bro.. thanks ya" Nevan memeluk Bimo.
Gerry tiba-tiba menggeser Bimo dan berdiri dihadapan Nevan.
"Hay bos Nevan, selamat yah.. gue turut bahagia dihari pernikahan lo" Gerry bersalaman dengan Nevan.
"Thanks Gerry.." sambut Nevan.
"Bro, sorry gue mau tanya, si Tamara bagaimana ya bro, gue jadi bingung..
Baru aja dia invest milyaran, dan beberapa bulan setelah itu dia tarik lagi invest nya.
Gue jadi bingung, bisa rugi lah bisnis kalau dia jadi investor begitu.
Katanya yang gue denger dia invest dan kerjasama dengan perusahaan lo bro?" tanya Gerry yang raut wajahnya berubah.
"Awalnya kita memang kerjasama, tapi dia juga memutuskan kerjasama yang sudah terkontrak. Yasudahlah bro, anggap saja ini ujian dari bisnis kita, gue doain bisnis lo selalu lancar dan sukses yah.." Nevan menenangkan kegelisahan Gerry.
"Sama bro, sukses terus untuk bisnisnya, sekali lagi selamat ya.." Gerry tersadar kehadiranku dan menyelesaikan pembicaraannya dengan Nevan.
"Thanks bro.." balas Nevan.
Lalu mereka pergi dan Nevan duduk kembali disampingku.
"Ada apa sayang?" tanyaku.
"Tidak, biasa mereka ngobrol sebentar setelah acara selesai.." jawab Nevan.
"Ooh.. kamu mau makan lagi?" sambil memberikan suapan untuk Nevan.
"Boleh" Nevan menyambut suapanku dan menikmati beberapa makanan yang sudah dihidangkan.
🌼
Acara sudah selesai, satu per satu tamu dan keluarga meninggalkan Ballroom hotel Kempinski.
Aku dan Nevan jalan bergandengan, merasa lega karena semua sudah terselesaikan dan kini kami sudah menikah.
Nevan tak berjalan menuju kamar kami yang sudah tersedia.
Dia mengikuti ke empat orang tua kami.
"Kita mau kemana sayang?" tanyaku heran.
"Kita ke kamar orang tuaku, bersama orang tua kamu.. aku ingin memberi tahu orang tua kamu yang sebenarnya, ini pasti sulit saat mengatakannya, tapi aku tidak ingin berbohong terlalu lama" ungkap Nevan.
"Apa..?" Aku terkejut mendengar alasan Nevan, dia ingin mengatakan apa.. tentang aku yang sedang mengandung?, Bagaimana ini apakah orangtuaku siap menerima kenyataan bahwa aku sedang hamil.
Seketika aku menjadi gugup dan tanganku sedikit gemetar.
Nevan menghentikan langkahnya, memandang kearahku.
"Semua akan baik-baik saja, kamu sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya dan inilah yang harus dilakukan.. kamu jangan khawatir ya" Nevan menenangkanku sambil mengusap kedua tanganku.
Aku hanya bisa tersenyum dengan hati yang berdebar, tidak tahu apa reaksi kedua orangtuaku mengenai hal ini.
Bersambung..... ✨✨✨