It Beats For You

It Beats For You
I wanna grow old with you



Kami meneruskan jalan-jalan sambil berwisata di sekitar Trafalgar Square.


Nevan sangat membuatku nyaman, ditengah negara yang belum pernah aku kunjungi.



"Jadi.. apa yang kamu katakan tentang masa laluku, kamu tak pernah menanyakannya padaku" aku penasaran tentang apa yang Nevan pikirkan soal ini.


"Memang.. karena.. semua orang pasti punya masa lalu, masa lalu bagian dari diri kita yang tak terhindarkan..


Tapi masa lalu mu milik kamu.. dan masa depanmu bersamaku.." ungkap Nevan sambil berjalan bergandengan tangan disekitaran Trafalgar Square.


"Aww.. gak tau ya, setiap kata yang kamu ucapkan itu selalu membuatku serasa terbang, kamu pandai sekali membuat hatiku bergejolak" ujarku berlebihan.


"Jangan terbang dong sayang, aku gak punya sayap.. kamu enak punya sayap.. karena kamu seperti malaikat cintaku" ujar Nevan sekali lagi membuat aku meleleh.


"Aww.. kamu tuh bisa bikin aku geer terus" senyum tersanjung ku selalu terhias diwajah ini.


"Anyway.. kita duduk dulu sebentar sambil lihat sekeliling tempat ini, sepertinya banyak warga yang menjadikan ini tempat nongkrong juga ya" kataku.


"Iya.. disini nyaman soalnya untuk menghirup udara segar dan memandang ramainya tempat ini"


Kami duduk dipinggir kolam seperti yang lainnya, menghabiskan waktu berdua sambil merajut tali kasih kami agar semakin kokoh.


"Sayang.. aku tak mau berlama-lama pacaran sama kamu, aku mau bertemu dengan orangtua kamu untuk meminta restu dan membicarakan semua tentang pernikahan kita" ujar Nevan serius sambil memegang kedua tanganku.


"Secepat itukah?" tanyaku sedikit terkejut.


"Untuk apalagi, aku ingin segera memiliki istri dan anak.. apalagi usiaku sudah melewati angka 30an.. aku sudah tidak muda lagi, aku takut nanti kamu berpaling dengan yang muda" wajah Nevan berganti menjadi melankolis.


"haha kamu ada-ada saja, iya sayang, aku senang mendengarnya.. tapi jangan pasang wajah seperti itu dong, walaupun usiamu 30an.. tapi aku tetap cinta, aku ingin selamanya bersamamu" kataku memeluknya dari samping.


"Gitu dong.. aku senang kamu katakan itu. Lalu.. apa kamu pernah membicarakan ku dengan orangtuamu?" Nevan ingin tahu.


"Iya gak apa.. sesampainya di Jakarta kita jadwalkan pertemuan aku dan keluarga kamu ya.." pinta Nevan.


"Iya.." aku setuju.


"Untuk konsep pernikahan itu terserah kamu bagaimana, aku mengikuti saja.. mau yang mewah atau super mewah aku tetap menyukainya" Nevan memberikan pilihan yang sulit.


"Yaampun.. pilihannya mewah dan super mewah.. itu gak berlebihan sayang?" aku terkejut lagi.


"Ya aku sih berpikirnya, kolega dari perusahaan dan orangtuaku begitu banyak, rasanya 3000 undangan saja kurang"


"Hah.. 3000 undangan masih belum cukup.." aku makin terkejut mendengarnya.


"Iya.. hehe memangnya kenapa sayang, ya mau bagaimana lagi.. aku anak pertama dari pemilik perusahaan dan beberapa bisnis yang aku jalani, atau harus bagaimana menurut kamu"


"Ya aku berpikir saat ini mungkin cukup yang biasa saja.. Mungkin 1000 undangan sudah terlalu banyak untuk aku"


"Baiklah.. aku masih belum punya bayangan soal berapa banyak undangan, mungkin nanti kita bisa bicarakan lagi yah.. hehe"


"Aku mau kita sederhana saja.. itu lebih baik"


"Terdengar ide yang bagus" ujar Nevan.


Aku tak habis pikir jika undangan kami bisa mencapai 3000 tamu yang hadir, entah harus sebanyak itukah yang harus diundang. Tapi tak bisa dipungkiri mungkin kolega ayah Nevan dan berbagai bisnisnya begitu banyak, hingga harus menargetkan undangan sebanyak itu.


Aku tak menyangka menikahi pria seperi Nevan yang mandiri dan mapan.


Aku menatap Nevan, kulitnya yang putih terkena sinar matahari sore yang hangat ini. Membuat sosoknya begitu memukau.. aku akan menjadi pendampingnya tak lama lagi. Nevan sudah merencanakan pernikahan kami dalam waktu dekat.


Semoga selamanya Nevan dan aku saling mencintai seperti ini, kasih yang tiada akhir yang telah mempertemukan kami.