It Beats For You

It Beats For You
I might lose my mind



Malam itu Alvaro hanya mengantarkanku setelah makan malam tadi, dengan debat yang mengerikan bagiku.


Apa yang terlintas dipikiran Alvaro hingga ingin berniat melukai dirinya dan aku hanya bisa mengalah demi keselamatannya. Aku tak mampu, aku lemah dihadapkan dengan situasi seperti itu.


Ahh.. sudahlah, aku ada pekerjaan yang harus kulakukan malam ini, tidak banyak tapi tetap harus ku kerjakan.


Setelah membersihkan diri segera aku mengambil laptop dan duduk disofa sambil fokus untuk mengerjakan pekerjaanku yang tertunda.


Jam 9 malam, sudah satu jam aku berkutik di laporan-laporanku yang akan dipresentasikan akhir bulan ini. Aku menutup laptop karena sudah selesai kukerjakan.


Ku ambil handphone, Alvaro mengabarkan dirinya yang sudah sampai dirumah. Aku hanya membalas syukurlah.. dan mengajaknya untuk istirahat sekarang.


Huft.. buat apa aku bersikeras untuk menghilang jika ada pria yang menerimaku apa adanya.


Tetapi.. apakah Nevan sudah melupakanku selamanya? Sama sekali tidak ada kabar darinya dan akupun takut untuk menghubunginya. Mengingat dimalam itu dia tak ingin menerima telepon dariku ataupun membalas pesanku.


Ternyata.. akhirnya seperti ini, semua yang ku takutkan jika kedua pria baik ini mengetahui aku telah menghianati mereka berdua.


Nevan pergi dan Alvaro yang tetap disisiku, yang kupikir mereka akan hilang dihidupku.


Aku lelah dan masuk kekamar untuk beristirahat.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Nevan sedang duduk di sofa di apartemennya.


Memandangi setiap moment yang tersimpan di memory handphone.


Aku harus bagaimana, apa aku harus melepaskanmu begitu saja, atau mencoba memperbaiki kesalahan ini.


Tapi mengapa Jovita harus diam-diam bertemu dengannya dibelakangku, andai saja dia memberitahu mungkin tidak akan membuatku terkejut dan berpikir pendek saat itu.


Astaga, akupun rindu padamu saat ini. Tapi.. aku tak mampu melihatmu saat hatiku terasa menyakitkan mengingat kalian dimalam itu.


Apakah Jovita juga sudah menyerah dengan hubungan ini, atau itu malah menjadi kesempatan mantan nya untuk mendapatkan Jovita.


Apa yang harus kulakukan...


Pikiran Nevan penuh dengan Jovita dan bagaimana hubungannya saat ini.


๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ๐Ÿ’ฎ


Hari rabu, aku bersemangat hari ini karena bu Glory kemungkinan sudah datang ke kantor.


Alvaro menjemputku dan kali ini aku mencoba melunak, mencoba berpikir hanya menjalin hubungan baik.


Tak ingin membuat Alvaro terbawa pikiran tentang hubungan ini. Karena pekerjaannya juga sangat beresiko jika membuat suasana hatinya tidak baik.


"Nanti aku jemput yah..." Ujar Alvaro dimobil yang menurunkanku didepan lobby.


"Oke.. makasih ya.. hati-hati dijalan.." aku melambaikan tangan saat turun dari mobilnya.


Aku berjalan menuju lobby dan masuk ke lift.


Ternyata Nevan datang ke kantor Jovita dengan mobil operasional kantornya, menghindari Jovita melihat Nevan sedang melihat keadaannya.


"Jovita dengan siapa.. itu bukan mobilnya.. wajahnya begitu ceria kulihat pagi ini.


Ternyata dia pun tak menganggap hubungan ini penting baginya..."


Batin Nevan sedikit kecewa melihat Jovita pagi ini.


"Kita bisa ke kantor sekarang pak.." ujar Nevan ke driver nya dan mobil nya pun meninggalkan kantor Jovita.


๐ŸŒผ


Aku menatap kearah kantor bu Glory, kulihat beliau sudah datang.


Yaap hari ini bisa jadi keputusan beliau.


Aku menunggu kabar dari mbak Risma, mungkin bu Glory juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku sedikit gelisah menunggu kabar darinya.


Jam 10 pagi.


Telepon ruanganku berbunyi.


"Halo mbak" sapa suara dari telepon.


"Halo.. eh lo Za, kenapa..?"


"Gue ada event hari ini, gue minta ACC budget yah.. urgent nih.." Ujar Hifza ditelepon.


"Iya... Mana proposalnya?" kataku.


"Sama Chessy.. sebentar lagi datang ke ruangan mbak.."


"Okey.."


Benar saja Chessy datang dengan membawa proposal Event hari ini.


"Ini.. " aku sudah menandatanganinya.


"Makasih mbak, tumben gak di tanya-tanya dulu?" bengong Chessy.


"Iya gue lagi sibuk, ada apa-apa WA aja" ujarku sambil sok sibuk dengan mengetik di laptop.


Teleponku berbunyi.


Chessy pun kembali keruangannya.


"Halo dengan Jovita.." kataku menyapa.


"Halo mbak.. bu Glory minta mbak datang keruangannya.." ujar mbak Risma.


"Oke makasih ya mbak Risma.."


"Sama-sama"


Aku menutup telepon..


"Yes.." aku bersemangat sambil membawa oleh-oleh untuk bu Glory.


Aku menuju ruangan bu Glory.


"Pagi bu.." sapaku.


"Pagi.. masuk Jovita.." bu Glory mempersilahkan ku masuk.


Aku duduk dikursi di depan meja bu Golry.


"Oh iya bu senin aku sudah masuk kerja, ini oleh-oleh untuk ibu.. hanya saja gak seperti yang ibu bilang" kataku malu-malu.


"Makasih yah. Aku waktu itu hanya bercanda..


Oke karena aku masih banyak kerjaan to the point saja..


Risma bilang kamu berminat untum posisi di Singapore?" Tanya bu Glory.


"Iya bu" jawabku singkat.


"Begini Jovita, hal ini memang sedikit urgent dan memungkinkan untuk segera mungkin akan ditempatkan disana sebelumnya akan ada interview dan psikotes, apa kamu bersedia?"


"Saya bersedia bu.." ujarku semangat.


"Oke.. Aku cukup terkejut dengan belakangan ini tentang kamu, aku baru tahu kamu ternyata menjalin hubungan dengan pak Nevan mantan bos mu disini.


Lalu ku lihat juga ternyata kamu bertunangan dengan dia saat kamu keluar negeri kemarin, lalu sekarang kamu berminat untuk dimutasi ke Singapore..


Apakah ini akan menjadi kendala untuk hubungan kamu dengan pak Nevan?" selidik bu Glory karena hal ini memang patut dipertanyakan.


"Begini bu, kami menemui masalah saat pulang di Jakarta, kami hem.. lebih tepatnya pak Nevan menginginkan hubungan kita selesai.." jawabku singkat dengan jelas.


"Kamu putus begitu?" tanya bu Glory untuk menyakinkan.


"Saya tambah terkejut lagi mendengarnya, romansa cinta zaman sekarang begitu aneh bagi saja, semua serba cepat dan terjadi begitu saja.


Baik itu privasi kamu, lanjut ke pekerjaan..


Disana mungkin akan ada training jika lulus untuk dapat dimutasi kesana.


Memang dari kantor kita hanya dua yang kemungkinan diterima, tapi saya akan mengirimkan beberapa karyawan yang memenuhi syarat" ungkap bu Glory.


"Oh baik bu, kira-kira ada berapa orang kalau boleh tau?"


"Bisa jadi tiga atau empat, kami juga masih mencari yang terbaik dan bisa di mutasi secepatnya.


Jadi jika semua prosedur sudah terlaksana, kami harap kamu bisa profesional dalam menerima pekerjaan ini dan jika dalam interview tersebut ada karyawan yang tidak lulus syarat.


Akan kembali dan bekerja seperti semula"


"Baik bu.."


"Jadi kamu sudah jelas apa yang telah saya sampaikan?"


"Sudah bu, saya akan bertanggung jawab untuk pekerjaan ini sepenuhnya"


"Oke.. karena interviewnya hari senin, jadi kemungkinan kamu akan berangkat hari minggu. Saya harap kamu bisa melakukannya dengan baik saat disana"


"Baik bu.. saya mengerti"


"So.. itu saja, nanti Risma akan mengirimkan apa yang diperlukan.."


"Baik bu.. makasih atas kesempatan yang diberikan.." kataku bsrsyukur.


"Tetapi.. pasti ada hal yang membuat pak Nevan begitu kecewa hingga dia memutuskan hubungan kalian.


Kenapa tidak kamu jaga baik-baik, untuk sekelas pak Nevan, masih muda, baik dan sukses dalam pekerjaan adalah sosok yang sulit dicari.


Harusnya kamu bisa menjaga hubungan itu dengan baik.


Tapi yah sudahlah.. semua sudah terjadi, dan pastikan kamu fokus dalam pekerjaan. Tidak ada galau melankolis selama dikantor" ujar bu Glory panjang lebar sambil membalik-balikkan laporan yang sedang dibacanya


"Saya pastikan tidak bu.." akupun sedih mendengar penyataan dari bu Glory.


"Makasih bu.." saya meninggalkan ruangan kantor bu Glory.


"Makasih mbak Risma" sapaku padanya.


"Iya sama-sama mbak Jovita.." seraya memberiku senyuman.


Aku menuju ruanganku.


"Apa yang dikatakan bu Glory adalah benar adanya, harusnya aku tidak menyia-nyiakannya, atau harusnya aku tidak bertemu lagi dengannya" bisikku.


Jam kantor sudah selesai.


Aku menunggu Alvaro di lobby, sambil mengobrol dengan beberapa teman kerjaku yang kutemui saat pulang kantor.


Ternyata Nevan melihat Jovita dari dalam mobilnya, memastikan kembali dengan siapa Jovita di antar dan jemput ke kantor.


"Kenapa Jovita di Lobby, apakah ada seseorang yang menjemputnya saat ini.


Apakah dia sudah mulai melupakanku..?" Sambil menatap ke arah Jovita berdiri yang terlihat dari seberang tempat mobil operational kantor Nevan terparkir.


Alvaro datang dan menjemput Jovita. Pandangan Nevan tertutupi oleh mobil Alvaro yang berhenti tepat didepan lobby. Setelah itu Nevan tidak melihat Jovita lagi di lobby.


"Itu mobil yang sama, saat Jovita datang tadi pagi... Apakah ada masalah dengan kendaraannya.. apakah ini mobil transportasi online..?" Nevan terus menebak-nebak.


Mobil yang ditumpangi Jovita sudah pergi, tinggal Nevan yang terdiam.


Telepon Nevan berbunyi..


"Bu Glory.." kaget Nevan dan mengangkatnya.


"Halo sore bu Glory.." sapa Nevan.


"Halo pak Nevan.. Sore, apa kabar..?" salam sapa dari bu Glory, bunGlory termasuk atasan yang dekat dengan Nevan.


"Baik bu, apa kabar ibu?"


"Baik.. maaf tiba-tiba saya menelepon apa saya menganggu waktunya..?"


"Tidak bu, silahkan.."


"Saya bukan mau ikut campur, hanya saja ingin memastikan..


mengenai Jovita.." ujar bu Glory ditelepon.


"Atau kita bisa makan malam untuk membicarakannya bu?" ajak Nevan agar lebih santai membicarakannya.


"Tidak perlu, saya hanya sebentar mengatakannya.."


"Oh iya.."


"Jovita mengajukan diri untuk mutasi ke Singapore hari senin depan.."


"Singapore? ada apa ya bu?" Heran Nevan.


"Kantor di Singapore akan membuka cabang dan memberikan kesempatan untuk 2 karyawan yang berminat untuk mutasi ini" jelas bu Glory.


Nevan terkejut mendengarnya, Jovita akan pergi..


"Aku tidak masalah untuk pengajuan diri Jovita untuk mutasi kesana. Tapi saya harap tidak akan jadi kendala, karena yang saya tahu kalian memiliki hubungan dekat.


Karena saya ingin tidak adanya pembatalan dalam hal ini.


Karena jika namanya sudah terdaftar, akan menjadi masalah jika yang bersangkutan mengundurkan diri" ujar bu Glory menjelaskan.


"Maaf sebelumnya.. Apakah Jovita mengatakan sesuatu tentang hubungan kami?" selidik Nevan.


"Dia bilang kalian sudah tidak menjalin hubungan lagi" ungkap bu Glory.


Nevan terdiam..


"Malam ini akan saya email ke kantor di Singapore.. saya hanya memastikan untuk tidak ada pembatalan.."


"Kami memang sedang ada masalah sedikit, saya berterima kasih bu Glory berkenan menghubungi saya.


Ibu benar, saya mohon untuk tidak mendaftarkan Jovita dalam mutasi tersebut.


Saya berniat untuk memperbaiki hubungan ini, hanya saja kita butuh waktu untuk memikirkannya"


"Jadi Jovita akan saya tolat mutasinya pak Nevan?"


"Lebih baik begitu bu.."


"Baiklah, semoga kalian cepat dapat solusinya yah.."


"Terimakasih perhatiannya bu"


"Baik kalau begitu.. selamat sore.."


"Sore bu.." Nevan menutup teleponnya.


Nevan masih didalam mobil yang terparkir di depan lobby kantor Jovita.


"Untuk apa Jovita menginginkan mutasi ke Singapore, apakah ini caranya untuk menghindar dari permasalahan kita.


Lalu aku harus bagaimana..


Bagaimana perasaanku saat ini, apakah aku masih tak terima mengetahui Jovita ternyata masih bertemu dengan mantannya.." Nevan terus memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Pak ke apartemen Jovita.." pinta Nevan.


Bersambung..... โœจโœจโœจ