It Beats For You

It Beats For You
You belong with me



Tak menyangka kami larut dalam kemesraan yang sempat tertahan selama ini, aku seakan menerima apapun yang dia coba inginkan. Hingga dia merabaku dan menjarah disetiap lekuk tubuhku.


Seketika aku mulai tersadar dan menolak ini berlanjut.


"Hem Alvaro, kali ini aku benar-benar tak bisa melanjutkanya. Tolong kamu bisa menghargai itu" ujarku dan merapikan posisiku yang sedikit berantakan.


Alvaro terdiam.


"Aku memang masih punya perasaan padamu, tapi aku tidak bisa untuk seperti ini. Aku belum siap" tegasku.


"Okey, aku tidak akan melakukannya lagi, ingat kamu sekarang milikku, dan kita akan memikirkan untuk ketahap berikutnya" Alvaro mengucapkannya dengan serius.


"Maksudnya?" aku terheran.


"Menikah sayang" ungkap jelas Alvaro.


Deg!!!


Berasa lagi pra lamaran, jantungku serasa mau copot mengetahuinya.


"Really, baru ketemu udah ngomong- ngomong nikah?" tanyaku yang terkejut dengan pernyataannya.


"Kalau sudah jodoh dan cocok, kita pasti ketemu dipelaminan sayang" dia menghujaniku dengan ciuman di pipiku.


Tak banyak yang ada dipikiranku, hanya kubilang. Aku bahagia mendengarnya. Seakan mimpi, tapi ini benar-benar nyata.


"Okey Dokter, semakin lama kamu disini, semakin malam. Minumanmu juga tak kamu minum. Apa ini alasan untuk mendekatiku lagi?" aku meledeknya.


"Masa sih, ahh kamu mudah mengetahui keadaannya belakangan" Alvaro membalas ledekanku.


"Besok sabtu, kamu juga libur kerja kan. Boleh ku menginap disini?" tanya Alvaro.


"No, nanti saat malam akan ada menggerayangiku pas aku sedang tidur" aku mengatakan hal yang terlintas dipikiranku.


"Tuh kamu gak percaya aku kan, lagipula mana bagus begitu. Kamu cuman bisa pasrah. Gak nyerang aku balik" Alvaro mencandaiku lagi.


"Ish dasar kamu. Pulang sana nanti kemaleman" kataku.


"Masih mau disini" Alvaro memanja sambil memelukku.


"Kamu jangan nyetir, naik transportasi online aja. Mau ke rumah sakit lagi atau kerumah?" tanyaku.


"Ke rumah aja, males untuk ambil mobil" sahut Alvaro.


"Yaampun" akupun menyender dibahunya.


"I love you, kamu tidak tahu bagaimana suasana hati ini bersamamu. Aku bersyukur kita bisa bertemu kembali" ungkap isi hati Alvaro padaku.


"Aku juga" tanpa banyak basa-basi kulangsung menjawabnya.


"Besok kita jalan yuk, dating" ajak Alvaro dengan antusias.


"Boleh izin minggu ini istirahat?, aku mau isi tenaga untuk Minggu depan. Disana juga kita dating sayang"aku mulai memanggilnya dengan kata sayang.


"Mau ketemu..." pinta Alvaro dengan manjanya.


"Vcal aja kenapa" kataku sambil mengedipkan mata.


"Yaudah aku kesini aja yah" sambil memasang muka memohon padaku.


"Nanti kamu isengin aku lagi" ledekku lagi.


"Yah terus dimana, kehotel aja kita?"


"Astaga ada-ada aja" aku menatap sinis Alvaro dengan pikirannya yang berlebihan.


"atau kuajak mama aku kesini, buat kenalan?" Alvaro memberi pilihan yang lain.


"Ahh kamu ada-ada aja, masa ajak kesini. Kalau mau kenalan aku yang kesana" kataku dengan malu saat Alvaro mengatakan mengenai ibunya.


"Ayok kalau mau kerumah aku" ajak Alvaro dengan paksaan.


"Idih kamu suka gt ya, menjebak" ujarku.


"Haha kok jebak sih, kan kamu yang bilang duluan" sambil tertawa tipis.


"Iya maksud aku mancing, bikin aku bilang gitu" aku menimpal perkataannya.


"Haha kalau kamu sudah siap, langsung bilang padaku. Kalau aku sih sudah siap kalau kamu mau aku kerumah kamu" dan memainkan alisnya yang sempat naik turun.


"Tuh maunya ya, buru-buru banget sih?" ucapku yang keheranan.


"Ya ngapain juga lama-lama, kalau kamu sudah mau" Alvaro masih mencoba terus menyakinkanku.


"Mau, tapi jangan waktu dekat ini" pintaku.


"Haha oke oke, aku bercanda aja" dengan tawanya yang terdengar renyah ditelingaku.


"Yaudah pulang sana" kataku mengingat sudah malam hari.


"No" ujar Alvaro manja.


"Ihh kamu ya, nanti kamu kecapean"


"Aku gak merasa capek, kalau capek kan bisa tidur disini" lalu mengambil bantal disofa berpura-pura tertidur.


"Gak enak gimana, tetangga kamu juga gak ada yang lihat" ledeknya.


"Ya kalau pas keliatan gimana?" pikirku.


"Aku gak mau pulang sayang" Alvaro tetap pada keinginannya.


"Pulang" kataku.


"Aku udah betah disini sama kamu" masih mengulat diatas sofaku.


"Gini nih klo baru-baru, manjanya deh. Coba kalo dah lama. Ngeselin" ledekku dengan nada bercanda.


"Ihh masa aku ngeselin, gak pernah"


loh" candanya.


"Masa" ledekku.


Saat ini membuat kita begitu dekat. Saling mencintai dan saling melengkapi.


"Menjelang kita ke Inggris, gak usah dipaksain ketemu terus ya, lagipula kita disana juga dua minggu. Kamu akan bosan sama aku" ujarku memberitahu.


"Oh ya, coba nanti buktiin" Alvaro kembali keposisi duduk disampingku.


"Liat aja, kamu kan suka bete kalau aku dah bawel" ujarku.


"Haha itu bukan aku aja, semua cowoknya kalau sama cewek pasti bete kalau bawel" ungkap Alvaro.


"Tuh kan, gitu ya"


Kami bercanda sejenak, sepertinya ini yang kami butuhkan, saling mengobrol dan bercanda.


Bikin hatiku nyess nyess.


"Aku mau tidur" Alvaro memohon padaku dengan wajahnya yang menggemaskan.


"Ih Alvaro, isengkan. Jangan tidur disini" aku tetap saja menyuruhnya untuk pulang.


"Yaudah dikasur?" Alvaro masih saja berusaha untuk menginap disini.


" Haha bukan. Kamu tidur dirumah kamu aja" ucapku lebih merinci saat mengatakannya.


"Pacarnya mau tidur aja gak boleh" gerutu Alvaro.


"Boleh, tapi dirumah kamu aja" aku serius saat mengatakan ini berkali-kali.


"Sekali aja sih sayang disini" pinta Alvaro dengan memohon lagi padaku.


"Aku gak punya baju ganti untuk kamu" aku mulai mengganti alasan lain untuk tetap membuat Alvaro oulang kerumahnya.


"Aku bisa gak pakai baju, gak masalah buat aku" Alvaro masih saja beralasan.


"Nanti kalau masuk angin gimana?" terus saja kami seperti ini tak berkesudahan.


"Ya nanti kan kamu hangetin aku" ucap Alvaro dengan senyum tipisnya.


Terdiam.


Zzzzzzzzz


"Oke.. aku cuma godain kamu. Aku pulang yah.. tapi jika kamu masih mau berubah pikiran. Aku terima" belum berhenti untuk membuatku berubah pikiran, lalu bersiap untuk pulang.


"Hati-hati dijalan.." ucapku dan melambaikan tangan.


"Iya udah ga sabar ngusir nih?" cibir Alvaro.


"Bis kamu bandel" ledekku lagi.


"Sama kamu gak apa-apa lah ya" ujarnya dengan canda.


"Good nite. Semoga kamu bisa mimpiin aku mulai sekarang" harap Alvaro.


"Good nite.. semoga" sambil mengerutkan hidungku.


Alvaro mencium keningku dan pamit pulang, aku menutup pintu dan bersandar sambil memikirkan yang baru saja terjadi.


Bagaimana bisa hari ini berubah seperti hari sebelumnya, bagaimana bisa saat ini aku kembali menjalin hubungan dengan Alvaro.


Walaupun begitu aku tak berbohong, hati ini sungguh bahagia bertemu kembali dengan Alvaro, mencoba merajut tali kasih yang sudah lama ku tinggalkan.


Akankah kabahagiaan ini berlangsung seperti yang Alvaro katakan tadi, sampai aku dan dia menikah.


Memikirkannya saja aku sudah kegirangan dalam hati, bagaimana jika benar-benar terjadi.


Bersambung..... ✨✨✨


Hello semua, Terima Kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca karya saya.


Semoga terhibur.


Jangan Lupa Like, Comment dan di Vote ya..


Thankyou 💓