It Beats For You

It Beats For You
In the Name of Love



Alvaro yang sedang bermalas-malasan dikamarnya sambil melihat handphone.


Tok..tok.. suara pintu dikamar Alvaro.


"Alvaro.. kamu gak makan malam?" Tanya mama Alvaro dari luar pintu.


"Gak ma, nanti kalau lapar Alvaro bisa ambil sendiri di bawah" jawab Alvaro.


"Okey.." mama berlalu pergi meninggalkan kamar Alvaro tanpa memikirkan apapun.


Melihat album foto saat bersama Jovita dari saat berangkat ke Inggris dan sehari saat di Inggris, hanya sebentar Alvaro bersama Jovita menghabiskan waktu disana, sebelum akhirnya Nevan datang menemui Jovita.


"Kenapa aku begitu bodoh..


kuberharap Jovita akan berpaling darinya dan kembali padaku lagi.


Ternyata itu tidak membuat Jovita akan meninggalkan pacar barunya" masih sambil menggeser beberapa foto di handphone.


"Setelah sekian lama kita terpisah dan aku mempunyai kesempatan lagi untuk kita bisa kembali bersama, malah kesakitan yang kudapatkan, tapi.. kenapa aku masih saja mengingikan Jovita.


Begitu cepat kamu berpaling dariku Jovita, kupikir aku sudah menjadi pria yang akan kamu banggakan. Ternyata aku masih belum cukup untukkmu.


Haruskah aku berjuang kembali untuk mendapatkanmu..


Atau hanya bisa menerima kenyataan ini"


Alvaro berhenti di foto saat Alvaro berselfi dengan Jovita, disana Jovita terlihat begitu manja bersama Alvaro sambil mendekap lengan Alvaro begitu dekat.


"Mengapa aku masih tak bisa melepaskanmu, walaupun dimulut aku telah mengikhlaskanmu. Aku pun tidak tahu apa yang membuat hati ini begitu posesif untuk tetap menginginkanmu, yang sudah jelas kamu tidak menginginkanku lagi" masih memandangi foto Jovita di handphone.


Alvaro berpindah ke status WA milik Jovita, memang biasanya Alvaro selalu memantau Jovita lewat status yang di unggahnya.


"Bertemu keluarga hah.. disaat aku yang sudah mempersiapkan pertemuan dengan keluarga, kamu malah menghindar dariku lau pergi meninggalkanku.


Sedangkan dia begitu cepatnya kamu sudah bawa dia kekeluargamu, apa kalian akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?" Alvaro mengernyitkan keningnya seakan tak ingin percaya jika apa yang dipikirannya benar.


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Esok hari kami dimulai dengan sarapan yang begitu ceria, orangtuaku begitu menyukai kehadiran Nevan yang akan menjadi calon menantunya. Mama menyiapkan banyak makanan untuk kami santap.


Tak lelah mama dan papa banyak bertanya pada Nevan segala sesuatu yang ada dipikiran mereka.


Tawa canda ini banyak menghiasi hari ini, tak lupa banyak foto yang kuabadikan saat bersama dirumah orangtuaku.


Aku memberikan beberapa oleh-oleh dari Inggris untuk keluargaku yang kutitipkan ke mama ku.


Hari telah siang, aku dan Nevan sedang merapikan barang kami untuk kembali ke Jakarta.


Aku menghampiri kamar Nevan.


"Makasih yah.." kataku yang duduk diatas kasur.


"Makasih kenapa?" Tanya Nevan heran.


"Kamu membuat rumah ini begitu ceria" aku bersandar dibahunya.


Nevan sudah selesai merapikan kopernya.


"Itu akan kulakukan seumur hidupku bersama kamu" membelai rambutku.


Aku tersanjung mendengarnya.


"Apa kamu sudah siap untuk kembali ke Jakarta?"


"Rasanya begitu cepat kita berada disini, serasa kangenku bersama keluarga masih belum terbayarkan"


"Jika kamu masih ingin disini aku bersedia"


"Tidak apa sayang, kita juga ada keperluan di Jakarta"


"Oke.. aku tidak memaksa, aku sudah selesai packing" Nevan duduk disebelahku.


"Berasa mimpi aku berada disini bersama orang yang kucintai" Nevan memandangiku.


"Begitupun aku" aku menatap Nevan.


"Rasanya aku ingin menciummu, tapi aku takut nanti ada orangtuamu datang" Nevan sedikit ragu.


Tak berpikir lama, aku langsung mencium bibir Nevan, merasakan cinta kita yang sudah terlalu dalam.


"I love you"


"I love you too.. kita lanjutkan nanti di apartemenku" Nevan menahan hasrat yang dirasakannya.


"Sayang, aku tidak bisa tinggal diapartemen kamu" kataku.


"Kenapa, hubungan ini sudah mengikat kamu masih tidak ingin bersamaku" Nevan heran.


"Aku akan selalu ingin bersamamu, tapi kita.. aku ingin menikah baru kita tinggal bersama"


"Aku keberatan" ujar Nevan kekeh.


Aku tersenyum seakan tak percaya dengan sikap Nevan saat ini.


"Kamu akan selalu bersamaku setelah menikah, kita hanya cukup bersabar"


"Aku masih belum terima alasan itu, aku ingin kamu tinggal bersamaku. Atau aku yang tinggal bersamamu?" Nevan memberikan pilihan.


"Apartemenku begitu kecil sayang" kataku.


"Aku tidak masalah"


"Sayang.. please..." Aku memohon untuk kita tetap bersabar sambil menunggu harinya.


"Entahlah, ya sudah kita harus pergi sekarang sebelum kita ketinggalan pesawat" ujar Nevan sambil membawa koper.


"Oke.." aku dan Nevan turun kebawah sambil berpamitan oleh semua keluargaku.


Aku berpamitan dengan ayah dan ibuku.


"Makasih ya ma.." aku mencium kedua pipi kanan dan kiri mama.


"Inget, kamu jaga diri selama disana. Fokus dengan apa yang akan menjadi pilihanmu yang tak lama lagi akan segera menikah" mama menasehatiku.


"Iya ma.. baiklah kami pergi dulu ya ma" aku dan Nevan sudah berpamitan kepada orangtuaku dan adikku.


Kami menuju bandara untuk kembali ke Jakarta.


Selama perjalanan ini, kami banyak bicara tentang masa depan setelah kami menikah dan sedikit gurauan.


Kami tiba di Jakarta. Driver Nevan pak Harris sudah menunggu kami dan mengendarai mobil ke apartemenku.


"Aku masih berharap kita bisa tinggal bersama" Nevan masih mencoba membujukku.


Aku bersandar dibahunya dan menggenggam tangannya, mencoba tertidur sambil menunggu sampai diapartemenku.


Kami sudah sampai.


"Sayang.. sudah sampai" Nevan membangunkanku.


"Ooh.. iya" aku tersadar dan membuka mataku pelan-pelan.


Barang-barangku dibawakan oleh bang Harris.


"Kamu mau singgah dulu diapartemenku?" Kataku sambil memegang tali tas.


"Tentu dan aku juga bisa tinggal disini" Nevan menggandengku.


Aku hanya terkejut dan terdiam mendengarnya, kami berjalan menuju apartemen tempat yang kutinggali.


Aku membuka pintu dan menguncinya.


"Maaf agak berantakan dari terakhir aku tinggalkan" aku sedikit minder pada Nevan.


"Gak masalah sayang, berada sama kamu saat ini sudah membuatku bahagia"


"Really..?"


"Of course.." Nevan mendekatku dan menatap dalam-dalam.


"Hemm.. kamu mau ku buatkan teh?" Aku menjadi salah tingkah.


"Aku bisa ambil sendiri, sayang.. saat ini aku sedikit bergairah.." Nevan membisikkannya padaku.


Aku mengedipkan mata.


Nevan merabaku dari punggung hingga menaikkan dan menekukkan kakiku disamping pinggangnya, lalu menciumku dengan hasrat yang sudah mengebu. Aku tak bisa menghindar, hanya bisa ikut menikmati setiap sentuhan dan ciumannya.


Nevan mengarahkanku keatas tempat tidur dan tentu saja kami sudah berbaring dengan Nevan yang berada diatasku.


Aku menahan gairah ini.


"Sayang.. aku juga ingin, tapi tidakkah kita bersabar hingga harinya tiba?" pintaku.


Nevan sekejab berhenti dengan aktifitas kenikmatan ini.


"Entahlah, malam ini membuatku tak bisa bersabar lagi, aku ingin buktikan aku begitu mencintaimu dan melakukannya dengan cinta kita, bukankah kamu juga mencintaiku?"


Nevan mencium leherku dan akupun ikut merasakan keinginan untuk melakukan yang lebih jauh lagi.


Karena mendengarnya aku seperti tak bisa menahan gairah Nevan yang terus memburuku, setiap ciumannya membuatku pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya, ciuman tiap ciuman ini menjadi awal untuk kami akan bercinta.


Kedua tanganku berada didada Nevan yang bidang, aku tahu aku tak bisa mengikuti keinginan ini lebih lama lagi, karena aku akan pasrah untuk selanjutnya.


"Sayang, serius aku juga ingin.. tapi tidak sekarang.." aku tetap bisa menahan gairah yang sudah memuncak.


Nevan menghela nafas.


"Haruskah aku melakukannya dengan perlahan?"


Aku tersenyun tipis.


"Tidak ada bedanya sayang.."


"Aku bisa melakukan dengan perlahan jika kamu sedikit takut"


Aku makin tertawa pelan.


"No... aku tidak takut dan tidak ingin pelan-pelan, aku hanya ingin melakukannya saat malam pertama nanti"


Nevan menatap kedua mataku, lalu memejamkan matanya sekejap.


"Aku ingin menginap disini malam ini"


Bukan meminta tapi lebih tepatnya memberitahu.


"Baiklah tapi malam ini saja" aku membiarkannya menginap, karena sekarang Nevan adalah tunanganku.


"Baiklah, aku akan turun sebentar untuk mengambil pakaian"


"Oke.. aku akan mandi dulu" kataku sambil mencium pipinya yang akan beranjak dari tempat tidurku.


"Oke" Nevan menutup dan mengunci pintu, lalu membawa kunci apartemenku dan turun ke lobby untuk mengambil pakaian di mobilnya.


Aku membersihkan diri, sambil berpikir tentang yang kulakukan tadi.


Apakah Nevan akan bosan denganku yang selalu menahannya untuk dapat bercinta denganku.


Tapi aku begitu takut untuk melakukannya yang pertama kali dalam hidupku.


Apakah aku akan memberikannya karena hubungan kami tinggal beberapa langkah lagi, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Entahlah, biarpun aku ingin tapi aku masih tidak mau melakukannya saat ini.