It Beats For You

It Beats For You
Play it safe



Kami menghabiskan makanan yang telah dipesan. Kulihat sudah jam 1 siang, padahal waktu makan siang kami hingga jam 1 siang sudah harus dikantor. Mungkin ada kebijakan jika seorang Nevan mengajakku makan siang diluar. Berharap tak terjadi apa-apa saat aku tiba dikantor nanti.


Nevan mengantarkan ku didepan lobby, aku memintanya hanya menurunkan aku saja disana agar dia bisa kembali kekantornya.


Aku berjalan menuju kantorku, masih normal seperti biasa. Tapi setelah masuk ke arah ruanganku. Mulai bergemuruh lagi seisi lantai, kali ini aku sudah tau kenapa dan tidak perlu ditanya lagi. Bisik-bisik didepanku pun mereka tidak segan, astaga berasa pacaran sama artis gak sih nih.


Sikapku cuek sambil menampakkan senyum manis, aku langsung masuk ruanganku. Tak perlu lagi kutanya Hifza ada apa, ku langsung mengerjakan pekerjaanku. Sesekali kulihat handphone sambil memeriksa apakah Nevan atau Alvaro menghubungiku sekedar chat WA. Tapi masih belum ada.


Tiba-tiba Hifza masuk dengan tergesa-gesa.


"Mbak mbak, asli ini cerita heboh tentang lo"


"Aish apa lagi sih ini?" Ujarku tetap tenang.


"Gue sengaja nguping apa yang dibicarakan mereka, kebanyakan memang soal kerjaan masa lalu pak Nevan. Selebihnya tau gak?"


"Gak"


"Memang tadi kalian keluar gak bahas soal ini?" tanya Hifza.


"Tadi sih cuman bahas kenapa dia bisa naik kesini. Selebihnya gak ada"


"Mau denger gak apa?"


"Yaudah cerita"


"Ah males kalau gak ada sogokan"


"Yaela, iseng banget. Lo mau apa?"


"Pizza ya"


"Astaga cari kesempatan banget ya lo"


"Yahh karena ini berita besar, tentang lo juga. Asli lo bakal kaget, sayang kan kalau gak ada sogokan" sambil cengigisan.


"Terniat untuk nodong gue kan"


"Haha jadi yah pizza loh mbak" ujar Hifza memastikan.


"Lo kan mau ke Inggris kan"


"Trus"


"Gue gak tau lo cerita ke dia atau gak, tapi gue denger dia mau kesana. Gak jelas maksud dan tujuan kesana, apa mungkin dia mau nyusulin lo"


"Apaaaaa?!" Aku sangat terkejut mendengarnya.


"Lah kenapa mbak? Sampe kayak gitu responnya?"


"Asli ini dia gak bahas sama gue tadi"


"Mungkin maksudnya surprise kali mbak"


"Gak tau juga, trus trus.." aku semakin penasaran


"Nah bu Glory kan tau lo mau ke Inggris, kayaknya dari pembicaraan mereka yang gue denger doi tau nih aroma-aroma hubungan kalian biarpun pak Nevan gak bahas lo disitu.


Tapi lo kan tau bu Glory kepo banget, nah dibahas lah nama lo disitu, dibilang kok kamu sama seperti Jovita mau ke Inggris, jangan-jangan kalian janjian.


Nah yang direksi lain kan jadi ikutan kepo tuh, tapi kayaknya ngelak gitu pak Nevan"


Haduh masalah baru buat aku nih, musti mutar otak lagi tuk cari solusinya. Aku melamun.


"Itu ajah sih mbak gue denger, yaampun happy dong ya mbak, tiba-tiba didatengin sama pacar. Lagian kenapa gak berangkat bareng aja sih, dah go public gini"


"Bukan itu masalahnya, kan gue dah cerita. Gue ketemu Alvaro dulu baru Nevan, jadi kebetulan Alvaro yang gue kasih tau mau pergi dan ikut nemenin gue ke Inggris"


"Alamak.. oiya baru inget. Asli ini rumit banget mbak, mending lo putusin salah satu, eh putusin Alvaro aja. Gue setuju ke pak Nevan, haha Bos kesayangan gue" ujarnya bercanda.


"Oke deh, tengkyu infonya. Plis silent jangan bocor" ucapku.


"Oke mbak Jovita, selamat berpuyeng ria, jangan lupa pizza meluncur ya. Haha" Hifza langsung pergi dari ruanganku.


"Alvaro pergi ke Inggris sama aku, sedangkan Nevan kemungkinan ke Inggris menyusul aku atau ada kerjaan lain, kalaupun dia menyusul aku. Buat apa ya, masa iya mau surprise lamaran?, ah masa iya aku langsung dilamar"


Cinta ini seperti teka-teki yang harus aku pecahkan sendiri.