It Beats For You

It Beats For You
Come to terms with the past



Kami kembali kekamar dan Nevan langsung memelukku.


"Maafkan aku, maafkan aku sayang..." Dia memelukku penuh penyesalan.


Aku melepaskan pelukannya perlahan lalu menggandeng Nevan untuk duduk disofa bersamaku.


"Semua ini tentu mengejutkan aku sayang.. seakan semua pelan-pelan aku ketahui begitu saja.


Ini terlihat sulit, tapi kini kita sudah menjadi pasangan suami istri..


aku tahu semua itu adalah masa lalu kamu.. dan sekarang aku akan fokus dengan masa depan kita.. dan semua anak-anak kita" aku tersenyum padanya yang ada disebelahku, berusaha menjadi lebih bijak menyikapi masalah yang muncul.


"Makasih sayang, aku tak tahu harus berkata apa. Aku akui aku salah, semuanya karena.." Nevan mencoba menjelaskan dengan wajah yang khawatir.


Aku menghentikan perkataannya.


"Aku memaafkanmu, ini awal pernikahan kita dan kedepannya akan selalu ada salah paham dan pertengkaran diantaranya. Asalkan.. kita bisa menghadapi bersama-sama dan kuharap kamu ataupun aku tidak mengulanginya.


Aku akan selalu bersabar untuk mengetahui apapun tentang masa lalu kamu, mantan kamu, apa yang kalian lakukan atau apapun itu.


Tapi... Itu hanya sebatas masa lalu, jangan ada lagi dimasa depan kita" pintaku untuk menjadi instropeksi kita.


"Pasti sayang, pasti.. tak akan pernah lagi kulakukan apapun yang menyakiti hati kamu. Aku janji ini yang terakhir" Nevan menciumi kedua tanganku dengan segala penyesalannya, membuat aku terseret dalam amarah seseorang yang tak disangka-sangka.


Aku mengangguk dan mataku berkaca-kaca. Tak menyangka masalah pertama dalam perkawinan kami dapat kami selesaikan dengan baik, menurutkum


Nevan sangat menyesali kejadian hari ini.


Dia menjelaskan bagaimana Nevan bisa memilih hotel ini untuk tempat menginap saat kami bulan madu.


Dia bilang Evelyn yang memaksanya untuk menginap disini, karena ingin melihat istri Nevan yang belum bisa Evelyn temui. Saat itu Nevan sudah menolak, karena mungkin saja akan ada hal yang tak diinginkan, tapi Evelyn terus meminta dan memaksa agar tetap menginap dihotel tempat Evelyn bekerja.


Karena mendengar janji manis Evelyn, yang hanya untuk menjalin hubungan baik dan kenalan dengan istri Nevan.


Memang sedikit janggal, tapi mengapa Nevan masih menyanggupi permintaan mantannya, apa karena Nevan terlalu baik pada wanita.


Aku berusaha untuk mempercayai apa yang Nevan katakan, kugenggam janjinya untuk tidak melihat kebelakang ataupun berurusan lagi dengan para wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Nevan.


Karena dia sekarang suamiku dan akan menjadi ayah untuk anak-anakku.


Malam itu ada permintaan maaf langsung dari manager hotel tempat kami menginap dan Evelyn bekerja.


Mereka bilang ini diluar kendali dan tak mengharapkan kejadian apapun yang dapat mengganggu tamu maupun pengunjung hotel.


Nevan menerima permintaan maaf mereka dan berniat untuk chekout besok pagi, karena kami akan pergi negara lain untuk melanjutkan bulan madu.


Nevan tak membicarakannya padaku, yang seharusnya besok malam kita baru pergi meninggalkan Singapore. Tapi aku menghargai maksud Nevan.


Mendengar itu, pihak hotel memberikan kompensasi untuk free menginap dan akan diantarkan khusus oleh pihak hotel, langsung ke Bandara.


Nevan menatapku, sebenarnya Nevan segan untuk menerima kompensasi atas permintaan maaf dari pihak hotel.


Tapi pihak hotel memaksa berdalih semua ini untuk pelayanan sempurna bagi para tamu dihotel tersebut.


Akhirnya Nevan menerima kompensasi itu dan mereka pamit setelah meminta maaf dan memberikan kompensasi tersebut.


Kami masuk kekamar dan saling menatap satu sama lain. Karena ada hal tak terduga yang kami dapatkan.


Lalu aku tersenyum, seakan ada hal lucu yang tidak pernah kami pikirkan.


Tanpa mengurangi keromantisan kami saat berbulan madu, Nevan mengajakku berdansa dengannya. Mengatakan hal-hal manis untuk merayuku sambil menyentuh perutku dan mengajak bayi kami bicara dengan guyonannya.


Aku yakin dan aku yakin cintanya Nevan padaku begitupun aku padanya.


Takkan kuulang kebodohanku dulu yang pernah kulakukan. Aku akan tetap menjaga pernikahan kami sampai maut memisahkan, takkan ada ragu apapun yang terbesit didalam pikiranku.


Kalaupun ada, kami ada bicarakan baik-baik hingga aku dan Nevan menemukan solusi dan tetap menjaga pernikahan kami.


🌼


Saat tiba di Singapore, Alvaro dan Bella sudah cek-in dihotel tempat seminar diadakan. Tak berselang lama, Bella sudah harus menghadiri seminar kedokteran.


Sebenarnya Alvaro bisa saja ikut dalam seminar itu, tapi Alvaro memilih untuk menikmati hari sendiri sambil melihat-lihat sekeliling Singapore.


Tak lupa Alvaro ke mall terdekat dari hotel untuk membelikan hadiah kecil untuk Bella dan keluarganya dirumah.


Saat melihat beberapa boneka ditoko yang Alvaro singgahi. Alvaro terhenti diboneka Winnie the pooh yang sangat lucu.


"Astaga, kita ketemu lagi ya Pooh.. sekarang orang yang pernah aku berikan boneka Pooh ini sudah memiliki pasangan hidup.


Jodoh memang tidak ada yang tahu, tapi yang aku pertanyaan kenapa aku masih tidak bisa berjodoh dengannya padahal kami diberi kesempatan untuk kedua kalinya.


Seberapa keraspun berusaha dan berjuang, dia tetap bukan milikku.." Alvaro memandangi boneka lucu itu sambil bergumam sendiri.


Sadar bahwa kini ada Bella yang menjadi kisah masa depannya, Alvaro melewati boneka itu dan mencari pernak-pernik lainnya yang mungkin Bella akan menyukainya, karena Alvaro berusaha untuk lari dari masa lalunya yang tidak ingin diingat lagi.


Tak terasa, sudah ada tiga paper bag yang sudah terisi beberapa barang yang dibeli Alvaro. Karena sudah merasakan lelah, Alvaro berniat kembali kehotel.


Sesampainya dihotel, Alvaro datang direstoran hotel tersebut untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar, karena habis berbelanja.


Hari itu sudah malam, pemandangan dari atas sini sangat indah. Terpikir oleh Alvaro jika ada Bella disampingnya saat ini.


Tak lama suara gaduh terdengar disisi lain restoran itu. Spontan Alvaro menoleh asal suara seperti gelas pecah.


"Jovita.." Alvaro tak menyangka melihat Jovita ternyata menginap dihotel yang sama.


"Apa yang terjadi?" Melihat dari kejauhan, Alvaro tak tahu pasti apa yang terjadi.


Dilihatnya Jovita kearah restroom sendiri dengan disusul pegawai hotel. Rasa penasaran itupun bangkit, Alvaro mengikuti mereka pelan-pelan. Berusaha mengetahui apa yang terjadi.


Alvaro menguping disisi tembok untuk mengetahui hal yang terasa janggal yang sedang terjadi.


Jelas terdengar apa yang mereka katakan, tentu Alvaro terkejut mengetahui sisi lain dari Nevan. Sedih mendengar ternyata Nevan tak seperti yang dibayangkan.


Nevan ternyata sudah punya kekasih saat bertemu dengan Jovita, lalu mencampakkannya saat Nevan dipertemukan kembali dengan Jovita.


Situasinya sama persis seperti Alvaro saat itu, hatinya mulai teriris kembali jika harus diingat.


Tanpa pikir panjang, Alvaro menyuruh pegawai hotel untuk memanggil pengunjung yaitu Nevan dikursi nomor 65 untuk segera ke restroom, karena ada situasi rumit yang dialami istrinya.


Lalu pegawai itu menuruti permintaan Alvaro dan langsung memanggil Nevan.


Saat mendengar itu Nevan langsung berlari menemui Jovita. Alvaro hanya bisa bersembunyi, tak ingin menampakkan dirinya dengan sengaja didepan mereka nantinya.


Melihat Jovita sudah aman dengan Nevan, Alvaro kembali kemeja makan untuk melanjutkan makan malam. Sambil melihat dari kejauhan, keadaan Nevan dan Jovita saat ini.


Tak lama, mereka keluar dai restroom. Disitu Alvaro sudah tenang, setidaknya Jovita tidak dihadapi hal yang tidak nyaman baginya.


"Semua orang memang punya masa lalu, tapi bagaimana bisa Nevan yang seperti itu malah mendapatkan Jovita" Alvaro menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan.


Bersambung... ✨✨✨✨✨