My Chosen Wife

My Chosen Wife
KATA SAYANG.



Jangan lupa VOTE dan tekan LIKE nya :)


***


Vara menatap pada Harsen yang menatap kedepan pintu lift, dengan perlahan Harsen membalas pandangan Vara.


“Kenapa?” tanya Harsen.


“Tidak apa-apa.” balas Vara kemudian membuang pandangannya.


Tiiinggggg…. pertanda pintu lift terbuka.


Dengan menggenggam tangan Vara, Harsen membawa Vara masuk kedalam lift, lalu memilih tombol yang langsung menuju lobby. Vara semakin erat membalas genggaman Harsen, entah mengapa baginya, cemburu mungkin hal yang lumrah untuk pasangan seperti mereka. Tapi ini sangat memalukan baginya, mengapa bisa-bisanya cemburu, harusnya kan bisa bersamaan dengan  Harsen.


Harsen kembali menoleh ke Vara, “Apa sudah baikan?” tanya Harsen dengan lembut.


Vara hanya menganggukan kepalanya bersamaan itu pintu lift terbuka dan langsung saja Harsen membawanya berjalan keluar. Keduanya berjalan ke pintu keluar menuju area parkiran, terehenti sejenak di depan pintu keluar.


“Berikan kunci mobilmu,” Harsen mengulurkan tangannya ke arah Vara.


“Ada di tas yang kakak bawa,” Vara menunjuk ke tas yang di bawa oleh Harsen.


Harsen menoleh pada tas Vara, mengambil tasnya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Vara.


“Hem… ambil,” perintah Harsen.


Vara pun mengikutinya, mengambil kunci mobilnya di dalam tasnya, lalu memberikannya pada sopir yang  bertugas di Hotel. Dengan penuh hormat, sang sopir menerima kunci yang di berikan Vara, mereka pun melanjutkan langkahannya menuju area parkiran.


Dengan cepat Harsen membukakan pintu mobilnya untuk Vara, dan membawanya masuk serta memasang seatbeltnya. Vara di buat terkesiap, saat wajah Harsen sangat dekat dengannya. Harum dari parfume yang menempel di tubuh Harsen, membuat Vara merasa nyaman setiap dekat dengan Harsen.


Harsen menoleh ke Vara yang menatapnya dengan tegang, lalu Ia tersenyum dan membelai lembut kepala Vara.


“Jangan bersedih lagi, kita pulang,” ucap Harsen lalu Ia menutup pintunya dan berjalan menuju kursi kemudi.


Harsen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan Hotel dan membawa ke kediaman Vara, seketika itu juga suasana hening. Bukan type Vara, yang bisa diam di dalam mobil, tetapi karena keadaan yang membuatnya tidak enakan banyak bicara, Ia memilih diam.


“Kenapa diam? Apa tidak mau menangis lagi?” ledek Harsen seraya menatap ke Vara sekilas.


Vara menoleh ke Harsen, “Apa Kakak mau mendengarkan Vara menangis lagi?” tanya Vara.


“Siapa tahu ada lanjutannya lagi, yang tadi belum cukup gitu?” Harsen membalas pandangan Vara dan tersenyum. Vara malahan membuang pandanganya dan menatap pada jalanan, Ia tidak memberikan jawabannya ke Harsen.


Harsen menyentuh tangan Vara yang berada di atas tasnya dan menggenggamnya dengan lembut seraya tersenyum, “Kau membuat Kakak khawatir,” ujar Harsen.


Vara menunduk menatap genggaman tangan Harsen, Ia pun tersenyum kecil.


“Jangan menangis lagi, kalau Kau menangis, Kakak akan terus merasa bersalah kepadamu. Jangan di pikirkan soal Sylvia, Kakak hanya membantunya tidak ada  niatan lain, karena dia anak pindahan baru di lingkungan perumahan, hanya Kakak yang Ia kenal. Tapi Vara jangan khawatir, Kakak enggak akan membantunya lagi,” Harsen mengemudi dengan perasaan yang tenang, ketika Vara sudah di genggaman tangannya.


“Kakak,” balas Vara menoleh lagi ke Harsen.


Harsen mengacak rambut Vara sambilan tertawa, “Tidak usah sungkan, hanya Vara yang menjadi cinta di dalam hati Kakak. Terusss… Kenapa Vara enggak percaya dengan Kakak?”


“Bukan seperti itu Kak, Kakak pulang tanpa membicarakannya ke Vara, jantung Vara kan menolak Kak, terus.. niatan ingin bertemu Kakak, malahan lihat Kakak berduan dengan Sylvia, dekat lagi. Apa salah Vara jika melihat sang kekasih yang dekat dengan wanita lain?”


“Tidak… Tidak salah, jika kakak jadi kau, mungkin Kakak akan seperti itu. Sudalah… semuanya hanya salah paham, jangan menangis lagi, kalau kau menangis, akan susah mengurusnya,” ledek Harsen.


“Kakak,” panggil Vara manja.


“Kenapa? Mau di cium?” tanya Harsen yang tahu sifat manja Vara.


Vara melototkan matanya, “Ti-Tidak,” ucapnya dan langsung kembali menatap jalanan dan merasa panas dingin mendengarkan ucapan Harsen.


Harsen tersenyum sendiri, melihat sikap Vara, rasanya memang sangat igin sekali dia mencium bibir tipisnya Vara. Jika pun Vara bilang Ia, mungkin Harsen akan benaran memberikan ciuman untuk Vara, sangat di sayangkan Vara bilang tidak, hati abang Harsen menjadi panas dalam.


***


Kediaman Raka Atmadja.


Sesampainya di kediaman Keluarga Atmadja, Mobil Harsen terparkir dengan rapi bersebelahan dengan mobil Vara yang sudah tiba duluan. Dari depan pintu, tampak Rava yang sudah berdiri menunggu kedatangan sang adik. Kedua tangan terlipat di atas dadanya dan bersandar pada pintu.


“Tidak usah takut, turunlah,” ucap Harsen membuat Vara tersadar dan langsung melepas seatbeltnya.


“Kalau kak Rava marah gimana Kak?” tanya Vara sedih.


“Ada Kakak, tenanglah. Ayo… kita turun sayang,” ucap Harsen tiba-tiba.


Vara menjadi terdiam mendengar kata sayang dari Harsen, membuat keduanya saling memandang.


“Kenapa?” Harsen menatap bingung.


“Kakak enggak salah bilang?”


“Tidak? Kau kan sayangku, apa yang salah?” Harsen masih menatap bingung ke Vara dan merasa gugup sendiri.


“Tidak… “ ucap Vara dengan turun dari mobil.


Harsen tersenyum sendiri melihat Vara yang menjadi salah tingkah.


“Aku merasa merinding dengan perubahannya yang tiba-tiba,”gumam Vara sambilan berjalan ke arah Rava.


Rava bersiap menyambut sang adik yang berjalan ke arahnya, bukannya marah, Rava tersenyum ke arah Vara, membuat Vara yang semula takut menjadi tidak takut lagi. Harsen buru-buru berdiri di samping Vara.


“Kakak” panggil Vara dengan pelan.


Rava tersenyum dan memajukan dirinya tepat di depan Vara, tangannya terangkat dan menyentuh kepala Vara.


“Kau sudah dewasa, Apa sangat senang mengemudi sendiri?” tanya Rava dengan suara lembut.


“Kakak???”


“Maafkan Harsen, Kak. Semua karena Harsen yang membuat Vara membawa mobil sendiri,” ucap Harsen menundukkan kepalanya.


Rava menoleh ke Harsen tepat di samping Vara hingga membuat Rava tertawa kecil.


“Kakak tahu Sen, Kau ini mirip sekali denganku. Kesalahan Vara selalu di tutupi oleh Kakak, dan sekarang… Kau sama melakukannya. Hah… tidak ada yang perlu di salahkan,  Bawalah Vara masuk, temui mama, mama sangat mengkhawatirkan kamu Vara. Tapi… Kakak sudah menjelaskan pada mama, Vara sudah dewasa. Vara segerah wisuda dan mungkin akan berbisnis, membutuhkan kemampuan sendiri untuk kemanapun, tidak mungkin menyusahkan Harsen terus kan?” tanya Rava dengan lembut.


“Kakak,” Vara merasa terharu dengan menatap wajah Rava.


“Sudalah.. jangan bersedih, kalian berdua masuklah.” Rava berjalan duluan, diikuti Harsen dan juga Vara yang masih saling memandang bingung.


“Adikku sudah dewasa,” gumam Rava pelan.


“Mama… Vara sudah pulang Ma,”  jerit Rava ke Eva.


Buru-buru Eva  berdiri bersamaan dengan Renata menghampiri Rava dan juga Harsen yang berjalan masuk ke ruangan tamu.


“Vara,” panggil Eva dan memeluk tubuh Vara.


“Maafi Vara , Ma,” Vara merasa bersalah dan membalas pelukan Eva yang sangat membuatnya nyaman.


“Tidak… Vara enggak salah, hanya saja Vara enggak mau jujur sama Mama, kalau kamu mau membawa mobil sendiri, Mama enggak marah kok sayang. Mama sudah membicarakan ini sama papa sebelumnya. Vara juga sudah dewasa, jika nanti mau berkarir, tidak mungkin juga Vara tidak membawa mobil sendiri. Sudah.. ini hanya masalah sepele, jangan sedih lagi. Kakakmu Rena sudah menceritakan ke Mama. Kalian berdua harus akur, Vara harus mengerti sikap Harsen yang menurut kamu itu sangat kaku. Tapi Harsen kan anaknya baik sayang, lihat mamanya saja bisa menghadapi papanya yang juga dulu mirip dengan Harsen.”tutur Eva dengan tersenyum melihat Vara dan Harsen yang menjadi malu-malu.


“Iya Ma… Terima kasih Ma,” kata Vara dengan manjanya.


“Maafi Harsen ya Bi,” ujar Harsen dengan kakunya.


“Tidak sayang… Bibi tahu anak Bibi  bagaimana. Dia ini sama seperti papanya pencemburu, tetapi kamu yang harus membawa Vara untuk lebih dewasa,” kata Eva dengan kedua mata berbinar menatap anak dan calon menantunya itu.


“Hah.. Ma.. enggak berasa si manja ini sudah besar ya Ma? Sudah pintar pacaran pula, apa itu namanya ya?” sejenak Rava berpikir, “Hah.. My prince… My princess. Itu panggilan sayang mereka Ma,” ledek Rava dengan senangnya.


“Sayang… Jangan meledeki mereka, bukankah itu sangat romantic?” tanya Renata ke Rava.


“Apa Kau mau ku panggil My wife? My Queen? My Sweety atauuuu.. My bunny?” Rava menoleh ke Renata dia tersenyum meledek.


“Astaga Kakak… kenapa membuat Kakak iparku menjadi malu,” celetuk Vara.


“Lah… bukankah Kakak iparmu ini bilang, panggilan kalian itu sangat romantis? Siapa tahu saja mau di panggil seperti itu juga?” ujar Rava santai.


Renata menarik nafasnya sejenak, mungkin di kiranya si Rava sendiri yang cemburu tidak punya nama panggilan sayang seperti papa dan mamanya, Harsen dan juga Vara.


“Dulu.. papa dan Mama kalian punya sebutan Mama Bear dan Papa Bear. Itu sangat menggemaskan,” ucap Eva dengan tersenyum.


“Benarkan Ma? Rava saja yang terlalu datar Ma,” adu Renata ke Eva dengan sekilas menajamkan matanya ke Rava.


“Aku datar?” tanya Rava protes.


“Ya.. Kamu memang datar, seperti TV layar datar. Agh sudalah… Mama, Vara, Harsen, Renata ke kamar dulu ya.” ucap Renata seraya berjalan ke arah tangga.


Eva tersenyum dan menggelengkan kepalanya, memang di akui Eva, anaknya si Rava itu memang datar, tidak seromantis Papanya Raka.


“Kejar kak, kenapa masih di sini?” tanya Vara.


“Kejar? Kakakmu di katain TV layar datar, kenapa di antara kalian tidak ada yang membela kakak?” Rava menatap kesal pada adik dan Mamanya.


Eva tertawa kecil, “Yang di katakan Renata memang benar sayang,” kata Eva.


“Mama membelanya?” jawab Rava dengan mata membulat.


“Tidak.. yang di katakan Renata itu memang benar. Apa kau pernah memberikannya bunga? Ice cream, cokelat, apa lagi ya? kejutan dan sebagaianya? pokoknya Kau dan papamu berbeda dalam menyenangkan pasangannya. Kau tahu Rava? Papa kamu itu sangat romantic,sekecil apapun, dia akan memberikan kejutan untuk Mama, tidak berlebihan hal kecil saja sudah membuat Mama kamu senang. Jadi… bukankah Mama tidak salah mengatakan kalau yang di katakan Renata memang benar adanya?”


“Mama,” panggil Rava sedih.


“Sudah sana… Susul istrimu, jangan mengecewakan Istrimu, Nak.” kata Eva dengan manisnya.


Rava pun buru-buru berlari ke arah tangga mengejar Renata, sedangkan Harsen yang mendengarkan perkataan Eva, membuatnya berpikir keras untuk mencerna kata-kata Eva yang memang menurutnya sangat benar. Harus membahagiakan pasangan, sekecil apapun itu. Tidak perlu memakai hal yang di luar batas kemampuan, bukankah tersenyum bersama atau juga mendengarkan sang kekasih saja sudah bisa membuat kekasih itu bahagia? Entahlah… Harsen mungkin akan mencoba melakukan seperti yang di katakan Eva, karena Harsen juga menyadari dirinya yang kaku.