
Senja meninggalkan peraduannya, berganti dengan malam yang sepi. Setelah Raka meminta semuanya pulang, kembali ke Hotel, di karenakan memikirkan para Istri yang berada di Hotel. Raka sengaja, tidak mengizinkan para istri datang ke Rumah sakit. Karena Raka berpikir, biarlah seharian penuh keempat anak-anak itu bisa berisitirahat sejenak , tanpa di ganggu dengan suara tangisan para mama itu.
Dan benar saja yang di katakan Raka, seusai sampai di Hotel, Raka, Leo dan Varel langsung di sambar histerisnya para istri. Eva, Rere dan Casandra menangis di dalam pelukan para suami. Hingga ketiganya memberikan penjelasan masing-masing ke tiap-tiap Istri. Dan Rere-lah yang paling terpukul, mendengar kondisi Harsen. Sehingga Leo berusaha memberikan ketenangan terhadap Rere.
Seusai keluarga semua memberikan dukungan, kekuatan, kebersamaan mereka mampu membuat suasana kembali tenang. Semuanya kembali ke kamar mereka masing-masing.
Raka mencoba tertidur, tapi tidak bisa membawa kedua matanya terpejam. Menoleh ke Eva, sudah tertidur dengan pulas. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikiran Raka. Siapa sebenarnya si Ansel dan keluarganya. Dia masih belum bisa menemukan detail latar belakang keluarga Ansel, tat kala yang biasanya Leo-lah yang mampu mencari seluruh riwayat orang-orang yang di curigai Raka. Tapi Raka tidak ingin menugaskan seorang besan yang barusan sah terikat keluarga mereka.
Di kamar lain, sama hal-nya dengan Raka, Varel merasa gusar. Semuanya terasa rumit baginya, jika dia memendam sendiri, apa yang dia tau. Sampai - sampai ada korban seperti Harsen , Vara dan Renata. Varel menoleh ke Casandra yang barusan bisa tertidur. Menatap wajah sang Istri hatinya pun terenyuh.
'Bukankah dulu Istriku? dan sekarang anakku pun merasakan-nya. Aku tidak bisa tinggal diam saja, jika itu saja bisa terulang, bagaimana dengan cucuku nantinya.' batin Varel .
Refleks Varel mendudukkan dirinya, Ia mengusap kasar wajahnya. Varel mengubah posisinya, menjejajakkan satu persatu kakinya di atas lantai, kemudian Varel mengambil ponselnya di atas nakas di samping ranjangnya, kemudian dia menyentuh layar ponselnya dan mencari nama Raka dalam aplikasi chatnya.
Varel.
✔ Apa anda sudah tidur Besan?
Tidak butuh waktu lama, Raka yang memang sedang menggenggam ponselnya, membalas pesan dari Varel. Dahinya mengernyit, mendapatkan pesan dari Varel di tengah malam, itu tidak biasanya. Dengan cepat Raka membalasnya.
Raka.
✔ Saya tidak bisa tidur, ada apa Besan?
Varel.
✔ Apakah bisa menemani saya mengobrol besan?
Raka.
✔Baiklah, saya akan segera keluar.
Setelah masing-masing pesan terkirim dan di baca, Raka dan Varel bergegas beranjak dari duduk mereka dan membawa coat untuk menutupi tubuh kekar mereka. Duluan Varel yang berada di depan pintu kamar Raka, saat daun pintu terbuka dengan sangat hati-hati.
"Maafkan Saya besan menggangu istirahat anda." ucap Varel saat mendapati Raka sudah keluar.
"Tidak masalah, saya juga gak bisa tidur. Banyak hal janggal dari kejadian ini. Mari kita ke kedai coffe hotel," tangan Raka menyentuh pundak Varel dengan menepuk pelan hingga keduanya berjalan bersama.
Tiba di salah satu cafe hotel yang menyajikan coffe, dengan suasana yang sepi, Varel dan Raka mengambil tempat duduk dan saling berhadapan. Setelah memesan beberapa menu untuk menemani mereka mengobrol, Varel memulai untuk membuka percakapan di antara keduanya.
"Apa yang anda pikir dengan saya pikirkan mungkin ada kaitannya Pak Raka." ucap Varel terdengar sangat serius di telinga Raka. Apa lagi, Varel mengubah panggilannya. Wajah Varel di selimuti keseriusan, membuat Raka mudah mencerna perkataan-nya.
"Maksud anda? apakah benar ini ada kaitannya dengan masa lalu?" Raka menebak.
Varel mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar berat untuk mengatakan sesuatu. Tapi, ini haruslah di bicarakan, karena Raka adalah orang yang tepat yang mampu membereskannya. Karena Raka memiliki akses besar pikir Varel.
"Benar Pak Raka, Ini semua di atur oleh Valdi. Kakak tiri saya dulu. Karena Valdi sudah keluar dari penjara Lima tahun lalu dan menetap di New York. Hanya saja saya berpikir, dia sudah berubah saat setelah di penjara. Dan ternyata yang saya dapat dari mata-mata saya, sebenarnya ini saya sudah tau sejak lama, cuma saya gak berpikir sejahat itu Valdi terhadap anaknya." Varel berucap dengan geram. Raka mengernyit, dia gagal mencerna perkataan Varel yang terakhir.
"Anaknya? Maksud kamu?"
"Iya Pak Raka. Ansel itu anak dari Valdi, yang dia titipkan dengan sahabatnya Tuan Edward. Saya gak tau, kalau anaknya di titipkan. Karena yang saya dapat info dari mata-mata saya, waktu hampir satu tahun di penjara, seorang perempuan mendatangi Valdi ke penjara, meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya. Saya tidak tau menau, perempuan itu berasal dari mana, yang saya tau Valdi memiliki anak laki-laki di luar pernikahan. Dan perempuan itu, meminta Valdi mengurusnya, jadilah Ansel di titipkan ke Tuan Edward yang memang belum memiliki anak. Jadi, Tuan Edward tidak tau tentang akal busuk Valdi, Pak Raka. Dan Ansel di beritahukan, setelah dia lulus sekolah, kalau Tuan Edward bukan papa kandungnya, dan singkat ceritanya, Ansel terbang ke New York untuk tinggal bersama Valdi, sampai Ansel di wisuda. Setelah di wisuda dan mendapatkan gelar serta bekal mengatur perusahaan, Ansel di kembalikan ke keluarga Tuan Edward, agar Ansel bisa membantu Tuan Edward berbisnis dan bersaing dengan anda tentunya." jelas Varel dengan seksama.
Raka mencoba berpikir, mencerna kata demi kata yang di ucapkan oleh Varel barusan. Bagaimana mungkin, pembalasan Valdi terbilang sangat rapi.
Raka kembali menatap Varel.
"Apakah Ansel tau niatan buruk Papanya?"
"Saat di mintai keterangan, saya sudah menduga Pak Raka, Ansel tau. Dan memang bertujuan untuk membalas dendam, ke keluarga anda. Bukan ke saya Pak Raka. Valdi mengincar Vara, dan ingin menjatuhkan anda lewat Ansel. Membalaskan perbuatan dari nenek Lusi dan anda yang menjebloskan Valdi dan almarhum papanya ke dalam sel tahanan. Hingga seluruh aset mereka yang di kembalikan ke mendiang mama saya. Semuanya itu, tujuan pertama Valdi yang memanfaatkan anak sendiri." Varel menatap wajah Raka yang mulai menggeram.
"Jadi maksudnya, Ansel sengaja di tugaskan Valdi, untuk mendekati Vara, dan Tuan Edward yang sangat naif meminta Vara menjadi Istri Ansel, semua karena dorongan Ansel, agar bisa mencapai tujuan Papanya? logika juga sih, kalau saja Vara menikah dengan Ansel, berarti dia mengusai beberapa harta yang akan saya berikan ke Vara, terus semakin lama dia medapatkan tujuannya hingga menghancurkan perusahaan saya? apa begitu maksud kamu Rel?"
"Benar Pak. Dan yang saya duga juga, Ansel yang awalnya bertujuan menjadikan Vara umpan, untuk masuk ke keluarga anda, malahan berujung benar-benar menyukai Vara. Karena Ansel tidak tau saja, sebelumnya Harsen ada kaitannya dengan keluarga Atmadja. Saya rasa begitu, sampai dia tega menghancurkan Harsen, Karena kebencian yang di tanamkan Valdi ke Ansel. Dengan alasan dendam dengan keluarga anda, Harsen yang berhubungan dekat bahkan benar-benar bisa mengambil Vara sebagai Istrinya, menambahkan kebencian Ansel ke Harsen. Saya jadi tidak enakan dengan keluarga Anda Pak Raka. Jadi membawa kalian dalam masalah keluarga saya." balas Varel sungkan.
Raka menatap Varel dengan tangan terangkat.
"Bukankah kita juga keluarga! Tidak masalah, Eva adalah anak angkat dari mama, kamu Rel. Jadi, itu sudah jadi bagian saya, menolong keluarga saya. Jangan di pikirkan, yang terpenting sekarang kita sudah tau yang sebenarnya. karena sebelumnya, saya memang merasakan kejanggalan, kenapa permainan mereka secantik ini. Ternyata, Valdi di belakang ini semua. Baiklah, sampai sini, mari kedepannya kita pikirkan cara untuk membalas dendam saya ke Valdi. Dia menyentuh anak saya dan kedua menantu saya. Saya gak akan tinggal diam begitu saja Rel." Raka berucap santai, tapi aura dingin dari perkataannya, Varel sadar, kemarahan Raka terpancar dari setiap kata-katanya.
"Baiklah Pak Raka. Saya akan ikut serta, karena ini juga menyangkut keluarga saya. Jangan halangi saya, membantu anda." Varel terlihat serius.
Raka menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Akan kita bicarakan setelah putusan yang di berikan oleh team keamanan." kata Raka.
Setelah mendapatkan titik terang, keduanya merasa legah dan menyeruput coffe yang sempat panas sudah menjadi dingin, karena telah lama di biarkan menganggur, karena pembicaraan serius di antara keduanya.
Pukul 23:20
Varel dan Raka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Karena baru teringat, keduanya sudah lama meninggalkan Istri mereka yang sedang tidur. Sesampainya di ujung lorong kamar mereka berada, Varel dan Raka yang semula tertawa sambil jalan dan bercerita, kini terhenti. Kedua mata mereka membulat sempurna, saat mendapati masing-masing pintu mereka, berdiri keamanan yang menjaga hati mereka.
"Eva."
"Casandra."
Ucap keduanya saat mendapatkan sorotan mata yang dingin dari Eva dan Casandra..
"Sepertinya nikmat sekali." kata Eva.
"Sangkin nikmatnya, Istri tidur pun di tinggal!" timpal Casandra.
"Kalau saja kami yang gantian di culik bagaimana?" Eva dan Casandra sama-sama berkacak pinggang.
Varel dan Raka sama-sama menatap, saling memandang, lalu berjalan menuju Istri masing-masing dan membawa mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.
"Jangan takut di culik, Hotel ini sudah di jaga ketat." seru para suami menenangkan para istri, kemudian terjadilah pergulatan di antara kedua pasangan suami istri tersebut , di kamar masing-masing. Biasa biar gak marah-marah lagi ^^.
Bersambung.
***
Turun ke 11 hiks.. gak apa-apa, yok sama-sama bantu karya saya naik ranking ya.. Oh ya jangan lupa juga LIKE dan Komentar Kalian....❤ Terima kasih.^^