
"Awwwwww." Vara menyentuh keningnya.
Pria bertubuh atletis itu menoleh ke belakang, merasakan ada angin yang menyentuh tubuh bagian belakangnya. Pria itu menatap ke Vara yang sedang mengusap-usap keningnya, lalu menoleh ke Pria di depannya. Keduanya saling memandang, Pria itu tersenyum, sedangkan Vara langsung menundukan setengah tubuhnya.
"Maaf." kata Vara lalu buru-buru berjalan.
"Hey Nona." panggilnya.
Vara terhenti dan langsung menoleh dalam diam, menatap Pria yang tampannya gak kalah jauh dari Harsen.
"Siapa nama kamu?" tanyanya dengan suara yang sangat lembut.
"Aku? Aghhh.. Maaf aku harus masuk ke kelas." ucap Vara kembali melanjutkan langkahnya dengan buru-buru.
Pria itu tersenyum melihat Vara yang semakin lama berlari seakan takut di kejar. Lalu Pria itu menoleh kembali pada teman-temannya yang merupakan mahasiswa tamatan dua tahun sebelumnya. Kedatangannya ke New York hanya untuk sekedar menghadiri rapat dari perusahaannya dan sejenak bertemu dengan teman-temannya dengan mengenang masa mereka berkuliah
"Apa kalian mengenal gadis tadi?" tanya Ansel pada ketiga temannya.
"Tidak bro... Kau kan tahu kita ke sini untuk melihat perkembangan tempat di mana kita belajar, bermain dan menemukan cinta yang sementara." balas Baron temannya.
"Benar Bro... Kenapa? lo suka sama gadis tadi? pepet bro, keknya orang kita juga tuh. Siapa tahu aja jodoh lo bro, gak seapes mantan lo yang dulu." sambung Hendrik.
"Santai dulu... baru juga kenal. Apa kalian enggak lihat tadi, respon gadis tadi? ketampanan Ansel aja enggak mampu memikatnya seperti wanita yang di sekitaran perusahaan Ansel, benar gak?" ledek si Marco.
Semuanya tertawa membuat jengkel hati Ansel. Benar saja, apa yang di katakan Marco, wanita mana yang tidak bertekuk lutut pada Ansel si pendiam tapi menggemeskan.
"Kita lihat saja nanti, Gua tunggu gadis itu pulang kuliah, meskipun lusa gua sudah balik." ucap si Ansel dengan penuh pengharapan.
"Okey....Kita lihat aja... sepertinya Ansel ingin membuka hatinya Bro dengan pandangan pertama, sama gadis tadi. Kita tunggu saja," ucap Marco dengan gelak tawa lainnya.
"Hahaha... Sudah ayo kita ke ruangan dosen," ajak Hendrik.
Ansel merasa panas sendiri, memang benar Vara tidak memiliki respek saat Ansel memangilnya. Paras Vara yang manja dan cantik membuat Ansel ingin mendekatinya atau penasaran, merasa tertarik ingin mendekati gadis pertama yang langsung menolaknya.
****
Vara yang sedang ujian semester akhir, dengan bersemangat menjawab seluruh soal tanpa kewalahan, karena mendapatkan ciuman dari Harsen. Ciuman Harsen membuat Vara mampu menyelesaikan semua tugas ujian dengan cepat. Karena Vara duluan selesai membuat mata si Zahra, Momo dan Coco menatap kepergian Vara dengan kesal.
Dengan semangatnya Ia berjalan keluar, menyusuri koridor yang masih sepi. Karena Vara memang mahasiswi terpintar di kampusnya. Saat Ia berjalan tiba-tiba dari belakang.
"Duarrrrrrrr."
"Aghhhhhh." jerit Vara kaget.
Defan sudah tertawa senang melihat wajah Vara yang kaget.
"Berhasil." kata Defan semangat.
Vara menatap geram ke Defan dan memukul bahunya, "Kenapa kau senang sekali mengejutkan Aku. Kalau anu ku copot gimana!"
Defan mengkerutkan keningnya dengan menatap Vara bingung, "Anu apa yang copot?"
Vara kembali terdiam dengan memutar kedua bola matanya, "Egh... Anu apa ya?Jantungku maksudnya. Sudahlah... kenapa kau sudah keluar?"
"Kenapa? situ juga sudah keluar," balas Defan dengan bibir di cemberutkan.
"Heh... Kau kan tahu, Sepupumu yang cantik, jelita, rajin menabung dan tidak sombong ini, memiliki kepintaran di atas rata-rata, wajarlah Aku sudah keluar, kan semuanya sudah aku jawab dengan baik." ujar Vara.
Defan yang mengubah ekpresi wajahnya menjadi geli mendengar ucapan Vara barusan, menarik Vara dan merangkul Vara dengan manja dan memaksa Vara berjalan bersama Defan.
"Lepaskan Aku, Fernando!" kata Vara dengan menarik tangan Defan. Bukannya terlepas, Defan semakin kuat dan asik merangkul pundak Vara sambilan berjalan.
Defan tertawa dengan manjanya, "Sepupuku yang cantik, jelita nan sexy, namaku Defan, DE‐FAN. Bukan Fernando." ucap Defan dengan penekanan, "Dan kau jangan begini dong, kita kan sepupu paliang akrab, masaan kau di rangkul saja menolak." celetuk Defan dengan merangkul dan menggoyangkan tubuh Vara.
Sesampainya di ujung koridor kampus yang menghubungkan halaman kampus itu, Vara terhenti dengan menepiskan tangan Defan dengan perasaan kesalnya.
Vara menatap Defan, "Oh Defan.... sepupuku yang somplak, tolong jaga sikapmu di kampus ini. Bisa-bisa reputasiku di sini ternodai jika kau terus dekat-dekat denganku!" kata Vara kesal.
Dari jarak yang tidak jauh, Ansel dan teman-temannya yang berjalan hendak menelusuri ruangan kelas terhenti dengan menatapi Vara dan Defan di ujung koridor kelas.
"Wooow... Ternyata gadis pagi tadi udah punya gebetan bro." seru Marco.
"Hah... Patah hati sebelum mendapatkannya." sambung Hendrik.
"Sudahlah jangan menggangguku!" kata Vara lalu berjalan menuruni beberapa anak tangga, dengan cepat Defan kembali melompat kecil dan merangkul pundak Vara.
Semakin kesal lah si Vara, "Defaaannnn... Nanti aku kasi tahu Kak Rava, apa kau mau?" ancam Vara dengan menunjuk Defan.
Defan tertawa, "Astaga... Vara. Kenapa susah sekali mendekatimu. Kau mau ke mana? Pulanglah denganku." ajak Defan lalu menarik tangan Vara.
Vara yang di gandeng Defan seraya berjalan, menatapi tangan Defan yang menggenggamnya erat. Terus Ia tersadar dan merasa geli.
"Lepaskan Akuuuu,Defan!" katanya dengan menepis tangan Defan.
"Astaga... Kau ini sepupu yang paling menyebalkan! Ayolah kita pulang, eh tidak... Ayo temani aku ketemu Alice, untuk menanyakan keputusannya soal tawaran kak Rava waktu itu." ucap Defan.
"Baiklah... Tunggu Kak Harsen, kak Harsen sudah dalam perjalanan. Mana mungkin aku meninggalkannnya." jawab Vara.
"Oiyaaa...Aku lupa kalau Kau sudah laku juga."
"Apa Kau bilang!" teriak Vara.
"Aku bilang akhirnya Kau laku juga. Kau lupa... Kau kan barusan jadian dengan Kak Harsen. Menggelikan sekali, cinta tapi gengsi." ledek Defan dengan tawa yang membuat jengkel.
Vara semakin geram di buat oleh Defan, "Terserah kau saja! pergi sana sendiri, aku tidak mau menemanimu!." kata Vara berjalan cepat menuju parkiran.
Defan yang di ancam Vara menjadi takut, ia berlari dan kembali menarik tangan Vara, Vara menepisnya tanpa menoleh ke Defan. Defan kembali lagi mengejar dan menarik tangan Defan sambil merengek manja ke Vara. Lagi-lagi Vara menepis tangannya, tetapi Defan tidak berhenti sampai di sana, kembali lagi Defan menarik tangan Vara hingga keduanya berhenti saling memandang. Ansel datang dan menepis tangan Defan dan menarik tangan Vara membuatnya berada di posisi belakang Ansel.
Defan dan juga Vara sama-sama terkaget. Defan menatap aneh pada Ansel, sedangkan Vara mengintip ke arah wajah Ansel dari belakang tubuhnya, merasa aneh sama dengan Defan. Baron, Marco dan Hendrik sama-sama berkumpul di bagian belakang Ansel, membuat Vara menoleh pada ketiga pria itu.
"Kau kelewatan sekali dengan wanita! Jangan kasar-kasar sama wanita, jika dia tidak mau jangan memaksa!." kata Ansel dengan datar.
"Siapa kau maksud? Aku?" tanya Defan dengan menunjuk dirinya.
Ansel tertawa, "Ternyata bukan hanya pria pemaksa, Kau itu ternyata pria bodoh!."
Vara kaget dengan ucapan Ansel, Defan di buat emosi dengan ucapan Ansel barusan.
"Apa kau bilang! aku pria pemaksa, aku pria bodoh! kau siapa? berani-beraninya kau datang mengganggu kami!." celetuk Defan menantang.
"Heyyy anak ingusan! kau tidak mengenali kami?" Marco membuka suaranya dengan menatap remeh pada Defan.
"Siapa kalian semua! Aku sama sekali tidak mengenal satupun di antara kalian! So... jangan mengganggu urusanku dengan gadis yang di belakangnya!." ketus Defan ingin menarik Vara.
Ansel menepis kasar tangan Defan, "Jika kau berani mengganggu wanita ini, kau berurusan denganku! kau tahu sendiri kan, wanita ini tidak mau bersamamu, jadi jangan memaksaku untuk kasar pada Pria ingusan seperti mu!." ancam Ansel.
"Pukul aja bro!" seru Hendrik.
"Sepertinya anak ingusan ini memang tidak mengenal kita sebagai alumnus kampus tempatnya belajar." sambung Marco.
Defan menatapi satu persatu wajah mereka, mengangkat alis sebelah kanan dengan mata di sipitkan. Tiba-tiba Defan tertawa sendiri dengan suara cemprengnya.
"Hahaha... Jadi kalian Alumnus di kampus ini. Terussss... Apa urusannya denganku! Kalian tidak tahu kami ini siapa? Kalau kalian tahu, jangan pernah menyesali perbuatan kalian padaku!" ancam Defan.
"STOPPPPP!!!!"
Vara tiba-tiba bersuara, membuat kelima pria di dekatnya kaget. Vara memposisikan tubuhnya di tengah Defan dan Ansel. Menarik nafasnya dengan perlahan, lalu melihat ke Ansel dengan tersenyum palsu. Seluruhnya menatap ke Vara tanpa ada yang berani bersuara.
"Maafkan kita ya kakak-kakak yang terhormat. Sampai di sini, masalah selesai." ucap Vara dengan tegas, lalu ia melihat ke Defan, "Ayo Fan." katanya menarik tangan Defan.
Ansel di buat bingung saat Vara menarik tangan Defan, dengan cepat Ia memanggil Vara, "Hey nona.... " panggilnya.
Vara dan Defan berhenti, lalu sama-sama menoleh ke Ansel yang kembali mendekat.
"Kau tidak perlu takut! Jika Pria gila ini membuat Kau tidak nyaman, katakan padaku. Aku akan mematahkan tangannya, kakinya atau pun lidahnya. Katakan padaku." ucap Ansel dengan menatap penuh yakin ke Vara.
"Ada apa ini!." kata Pria lain.
Bersambung.
.........
NOTE :
Tekan like dan jangan lupa bantu VOTE, oh ya...yang kemarin ada komentar bilang rankingnya turun karena saya lama Update. Setiap saya cek RIWAYAT VOTE, yang LIKE maupun KOMENTAR, belum tentu mau VOTE, jangan salahkan saya yang lama update, karena kan saya juga sudah katakan saya Ibu beranak satu dan bersuami satu, tentu saya harus mengurusi dunia nyata saya terlebih dahulu. Kalau kalian sebagai pembaca yang memang bukan sekedar pembaca yang cuma diam tanpa berpartisipasi ya sama aja tidak mendukung karya saya untuk naik. Jadi tolong... jangan hanya menuntut saya cepat update. Maaf sebelumnya dan Terima Kasih semua yang sudah berkomentar maupun yang jadi silent reader🙏.