
Kediaman Raka Atmadja.
Mendengar suara gerbang terbuka, Eva yang sangat menantikan kedatangan Rava dan yang lainnya langsung beranjak dari duduknya, membuat Raka yang semulanya duduk di samping Eva yang sedang menonton , refleks ikut berdiri dan berjalan mengikuti Eva.
Sesampainya di depan rumah, seluruhnya di sambut hangat oleh Raka dan Eva. Eva langsung saja memeluk Vara yang duluan berada di depan pintu.
"Mama." kata Vara dengan manjanya.
"Selamat datang kembali di rumahmu sayang." kata Eva dengan mengelus pundaknya.
"Papa." kata Rava yang langsung memeluk tubuh Raka.
"Iya Putra kebanggaanku, akhirnya kalian tiba dengan selamat. Sapa mamamu nak." kata Raka melepas pelukan hangatnya dari Rava. Rava tersenyum ke Raka, lalu berpindah menatap ke Eva. Vara dan Rava pun bergantian memeluk Eva dan Raka.
"Apa kabar anakku yang tampan?" ucap Eva pada Rava yang di dalam pelukannya.
"Baik Ma... Mama Apa kabarnya?" tanya Rava kemudian menatap wajah Eva, Eva menyentuh kedua pipi Rava.
"Sehat anakku... Tidak mama sangkah Kau akan segera menikah." balas Eva dengan mesra.
"Iya Ma... Semuanya karena doa Mama dan Papa." balas Rava dengan mencium telapak tangan Eva yang menggenggam pipi Rava.
Di posisi Raka dan Vara, Vara yang manjanya ke Raka memeluk erat tubuh Raka.
"Wah.. Anakku semakin kuat saja." ledek Raka dengan mengelus pundak Vara.
"Vara rindu bangetttt sama Papa." katanya dengan suara manjanya.
"Iya... Semuanya rindu sama Vara dan Rava. Papa sangat menunggu hari ini sayang. Sudahlah... Jangan manja, malu dengan kekasihmu." ucap Raka.
Refleks Vara melepas pelukannya menatap Raka, begitu pun Harsen. Raka mengerutkan keningnya seraya tersenyum ke arah Vara yang kaget mendengar ucapan Raka barusan.
"Kenapa dengan ekpresi kamu, sayang?" tanya Raka ke Vara.
"Papa...." ucapnya pelan.
"Kenapa? Kau kaget , karena papa mengetahui hubunganmu dengan Harsen?" tanya Raka membalas pandangannya dan berpindah ke Harsen yang santai membalas pandangan Raka.
"Papa enggak marah?" tanya Vara.
"Sudah... Nanti saja di bahas, lihat yang lain masih menunggu untuk menyapa." balas Eva.
"Pamaaaaannnnn." teriak Defan langsung memeluk Raka, dengan menggesar tubuh Vara dengan sengaja.
"Defaaaannn...Ih!" gumam Vara kesal.
Defan tidak menghiraukan Vara karena Ia asik memeluk tubuh Raka dengan sangat erat, "Paman Defan rindu sama Paman Raka." ucapnya dengan manja.
Raka tertawa walaupun rasanya sangat sesak di dekap si Defan, Raka menepuk bahu Defan dengan pelan, "Kau sama saja dengan papamu si Frans, enggak jauh amat kemiripannya. Sudah... Kita kan baru jumpa, kenapa kau begitu rindu?"
"Aghh.... Paman Raka adalah paman yang paling tampan di antara semua paman, Defan. Jadi ketampanan paman Raka, selalu menghantui pikiran Defan, Paman. Tolong berikanku pelukan seperti kak Rava memeluk paman." katanya bersemangat.
Jadilah Raka memeluk erat si Defan yang imut itu, membuat yang lainnya tertawa, "Sudah lepaskan! Sapa Bibimu." ucap si Raka.
Dengan cepat si Defan melepas pelukan Raka dan berpindah ke Eva, Ia memeluk Eva dan di balas hangat oleh Eva, Raka menatap tidak senang, dengan cepat Raka menarik tangan Defan untuk melepasnya.
"Sudah... jangan lama-lama, keburu cape yang lainnya." alasan si Raka.
Eva, Vara dan Rava tertawa melihat tingkah papanya yang sudah tua enggak berubah juga pikir mereka. Defan yang melepas pelukannya dari Eva menatap pada Raka dan berpindah ke Rava.
"Ternyata itu sifat turunan." ucap Defan.
"Apa kau bilang!." kata Rava ke Defan.
"Agh tidak apa-apa Kak." jawab Defan dengan tertawa palsu.
"Ayo Harsen... Renata, masuklah nak." ajak Eva pada kedua calon mantunya.
"Iya Bi." balas Renata dan Harsen bersamaan.
Seluruhnya akhirnya bisa melewati pintu karena melepas masa rindu dengan orang yang di sayang mereka. Tampak Eva sudah mempersiapkan segalanya, di meja makan, terhidang berbagai makanan , untuk menyambut kepulangan sang anak.
"Ayooo... Langsung saja makan malam, habis itu kalian baru boleh beristirahat." kata Eva mengajak mereka semua ke meja makan.
"Benar... Renata makan malam di sini, Nak. Paman sudah menghubungi Papi kamu, untuk malam ini menginaplah di sini. Kamu bisa tidur bareng Vara." kata Raka ke Renata.
"Baiklah Paman." balas Renata bersemangat.
"Wah.... Kak Renata bisa nemani Vara bobok dah ini." sambung Vara.
"Bukan hanya menemani, tapi Kakak bisa mengeloni kamu sayang." kata Renata merangkul pundak Vara.
Seluruhnya pun tersenyum melihat keduanya yang sudah sangat akrab. Seluruhnya mengambil tempat duduk masing-masing, lalu para wanita bertugas menyendokan nasi ke piring masing-masing pasangannya. Eva melayani Raka, Renata melayani Rava, Vara melayani Harsen, sedangkan Defan menatap sedih akan pemandangan itu. Ia menjadi teringat ke Alice.
"Ini untuk kamu, jangan bersedih." ucap Eva memberikan piring berisi nasi ke Defan.
"Bibi." ucap Defan menatap sedih ke Eva.
"Sabar sayang... Kita semua di sini keluarga. Meskipun Alice tidak bersama kita, waktu nikahan Rava dan Renata nanti, Alice dan Mamanya juga hadir. Jangan bersedih," kata Eva dengan tersenyum lembut.
"Benar yang di katakan Mama, sekarang anggaplah kau Pria yang kesepian." celetuk Vara dengan santainya.
"Vara... Enggak baik ngomong gitu sayang. Jomlo kok di hina." Raka menimpali.
Jadilah gelak tawa suara seluruhnya, memenuhi ruangan makan itu. Defan malahan cemberut, nasib pikirnya. Mereka semua makan sambilan berbincang dan bercanda bersama.
****
Seusai makan malam, mereka semua termasuk Harsen memilihi bermalam di rumah Raka, karena rasa kantuk dan lelah, membuatnya takut berkendara sendiri. Padahal... Rasa rindunya pada Leo dan Rere sangatlah mendalam. Leo dan Rere sendiri, juga meminta Harsen untuk tetap di rumah Raka, karena Keesokannya mereka akan menjemputnya dan sekalian berkunjung.
Rava yang di kamarnya yang sedang rebahan menatap langit-langit kamarnya , karena memang tidak bisa tertidur, walaupun sangat lelah, Rasanya masih ada efek perjalanan mereka atau efek waktu yang berbeda dari sebelumnya setelah Ia kembali ke kamarnya terdahulu, memiliki aura berbedah dari kamar yang ia tempati di New York.
"Sedang apa dia? Apa dia sudah tidur? Kenapa tidak mengirimkan pesan sama sekali ke aku?" tanya Rava sendiri .
Rava memilih beranjak dari rebahannya, berjalan keluar kamarnya menuju kamar Vara yang hanya di sampingnya. Menarik gagang pintu kamar Vara yang ternyata di kunci dari dalam. Rava mengetuk dan memanggil dengan pelan berkali-kali. Akhirnya pintu kamar itu terbuka, dengan perlahan tampak Renata yang sangat cantik, memakai terusan tidur milik Vara menatap malas ke Rava. Karena Renata dan juga Vara sudah tertidur.
Renata menatap ke wajah Rava dengan pandangan yang terbangun dari tidurnya dengan paksa.
"Ada apa denganmu?" tanya Renata.
"Agh... Kau sudah tidur ternyata?" tanya Rava.
"Kan aku ada di depanmu, berarti aku belum tertidur. Lebih jelasnya, terbangun." jawab Renata dengan malas.
"Sayang.... Apa kau tidak merindukan kekasihmu yang tampan ini?" tanya Rava buru-buru.
"Hemmmmm... Tergantung waktu, kan ini waktunya untuk tidur. Jadi aku merindukan ranjang." jawab Renata.
"Agh... Aku sepertinya sangat sakit hati mendengar jawaban kekasihku ini. Baiklah... Sudah sana tidur!." kata Rava kesal, lalu memutar tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.
Renata tersadar saat Rava sedang kesal, Ia pun segerah menutup pintu kamar Vara dan mengejar Rava.
"Tunggu dulu." kata Renata saat mendapati Rava.
Rava menatap Renata dengan wajah sedih, "Mau apa lagi?" tanyanya sok merajuk.
"Ada apa denganmu?" tanya Renata.
"Aku hanya tidak bisa tidur.... Mungkin tubuh ini terlebih lagi mataku, masih belum menyesuaikan diri dengan suhu dan jam di sini." celetuk Rava.
"Mau aku buatkan teh? apa kau mau duduk di bawah? ayo aku temani." ajak Renata.
Rava menarik tangan Renata dan memeluk tubuhnya.
"Tidak perlu... Aku sudah sangat penuh, karena masakan mama membuat aku makan banyak. Kau harusnya kembali dan tidurlah. Cukup berikan aku pelukan dari tubuhmu ini,agar aku bisa tertidur." katanya dengan lembut.
Renata tersenyum dan membalas pelukan Rava dengan mesra, "Kau yang harusnya tidur... Karena sebenarnya kau itu yang lelah, jangan sampai kau jatuh sakit, karena kita akan sibuk mengurusi pernikahan kita nantinya." balas Renata tak kala lembutnya.
"HEMMMMMMMMMMM!!!"
Bersambung.
.........
Yehh.. Jangan lupa seperti biasanya ya, tekan gambar jempol daaan VOTE yang banyakkk 🥰❤😘.Terima kasih juga yang sudah kasi tips berupa koin 🙏oh ya cara Vote lihat bab sebelumnya dan cara gabung Grup chat nanti saya update... Terima kasih :)
.
jika ada kata-kata lebih dan kurang, akan segera saya perbaiki , mohon di maklumi**.