My Chosen Wife

My Chosen Wife
HARSEN.



Pagi itu Harsen di sibukkan dengan mengurus kedua adiknya. Mengurusi setiap kebutuhan Defan dan Vara , mulai dari membangunkan mereka, mengatur sarapan bahkan mengatur jajan kedua adiknya. Harsen seperti menjadi single parent untuk kedua adiknya, bagaimana tidak? Setelah Rava memberikan tugas baru untuk memantau seluruh aktivitas Defan dan Vara.


 


Kalau Vara memang bagiannya, Defan...OMG? Pikirnya salah apa dia harus ikut memantau anak dari si orang-orangan salju yang super ribut kalau sudah dekat dengan Vara.


 


"Banguuuunnnnn... kau ada kelas hari ini. Buruan siap-siap, Kakak tunggu di bawah." ucap Harsen mengguncang tubuh Defan.


 


Bukannya mendapati Defan bangun, Harsen malahan mendengar suara ngorokan Defan.


 


"Apa di mengira Aku mengayunnya?" Harsen bertanya pada dirinya sendiri.


 


Harsen tidak kehabisan akal, Ia kembali menatap tubuh Defan.


 


"Defannnnnnn, ada Alice di bawah." teriakan Harsen membuat Defan langsung terduduk.


 


"Serius Kak? Benaran Alice datang?" tanyanya dengan kedua mata membulat sempurna.


 


Harsen mencebikkan bibirnya, "Kau lihat saja sendiri di bawah. Bangunnn, mandi, kakak tunggu di meja makan. Kau hari ini memiliki kelas di jam 9 pagi, tolong jangan menyusahkan Kakakmu. Karena usai mengantar Vara, Kakak akan ke perusahaan kak Rava. Tolong kita bekerja sama, Adik yang manis." Harsen mengedipkan matanya dan berlalu dari kamar Defan.


 


 


Harsen itu sebenarnya tidaklah kaku, dia hanya gengsi. Sebenarnya dia pria yang memiliki segudang ekspresi, hanya saja ia menghormati Rava sebagai atasannya. Dan sebagi, kakak yang paling dia hormati. Meskipun berpacaran dengan Vara, Ia tidak mau sampai kelewatan batas. Jadilah... Ia terlihat kaku, meskipun kekakuannya barusan berubah setelah Ia memiliki Vara sebagai kekasih pujaan hatinya.


 


 


Posisi Harsen sekarang berada di depan kamar Vara. Ia menarik nafasnya sejenak, lalu menarik handle pintu kamar Vara. Decitan suara pintu terbuka, tidak mengganggu sedikitpun, posisi tidur Vara. Tidak bergoyang atau tidak bergeming sama sekali, karena Harsen memang membuatnya tidak kedengaran. Setelah pintu tertutup rapat, Ia berjalan menghampiri ranjang sang ratu hatinya. Tampak wajah polos Vara selagi tidur membuat Harsen tersenyum.


 


"Sangat menggemaskan." desis Harsen dengan pelan.


 


 


Harsen memilih untuk duduk di tepi ranjang Vara. Ia tidak mau melewatkan pemandangan indah yang akan dia nikmati setiap paginya. Andai saja kan, waktu cepat berlalu, ingin sekali rasanya Vara di bawa ke jenjang pernikahan. Tapi Harsen tidak ingin egois, Dia ingin Vara memiliki ruang setelah Ia lulus dari kuliahnya. Ia mau... Vara memilih apa yang dia inginkan setelah pendidikan Vara benar-benar usai. Itulah Harsen, Ia tidak mau menjadi pria yang memaksakan kehendaknya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Ia malahan menginginkan dia bisa menikah muda dengan Vara.


 


Kenapa seperti itu? karena Ia mau menciptakan banyak catatan dalam hidupnya bersama Vara. Bersama wanita yang tidak pernah tergantikan di dalam hatinya. Mungkin saja, Harsen memang cinta mati pada Vara. Wanita manapun yang dulu mendekatinya, pastilah dia tolak atau pun menghindarinya. Karena apa? Karena Vara, semua demi Vara. Pikirnya, suatu hari nanti Vara tidak akan pernah berpikir, Harsen pria yang seenaknya jatuh cinta. Tapi Harsen cuma ingin membuktikan, hanya Vara yang pantas tinggal di hatinya.


 


Kedua sudut bibir Harsen di tariknya, pertanda Ia tersenyum sangat teduh, tangannya terangkat mengelus rambut-rambut Vara yang tampak lecek. Mungkin saja, Vara belum keramas. Entahlah, yang pasti Harsen tidak memikirkan itu.


 


"Aku sangat mencintai wanita ini, yang tidurnya sangat nyaman, sangat cantik bahkan sangat terarah yang memiliki gaya tidur hanya dengan satu posisi, " kata itu membuat Harsen kembali tersenyum.


 


"Bagaimana ini? jantungku mungkin setuju dengan ucapanku." Harsen menyentuh dadanya dan menatap wajah Vara.


 


Tiba-tiba, kedua mata itu mengerjap menatap Harsen dengan kaget. Harsen bukannya takut atau panik, Ia tersenyum menyambut penglihatan Vara yang jatuh pada dirinya. Harsen mengangkat tangannya dan menggerakannya sebagai sapaannya.


 


"Good Morning Sleeping Beauty." sapa Harsen ke Vara tak lupa menarik kedua sudut bibirnya.


 


Kedua mata Vara membulat dengan sempurna, Ia menarik selimut menutupi wajahnya. Ia merasa sangat malu, ada Harsen yang sedari tadi memperhatikan Vara dalam tidurnya.


 


Harsen mencebikkan bibirnya dan merasa bingung dengan gelagat Vara, Ia pun menarik selimut yang menutupi wajah tercantik Vara.


"Buka dong My princess." Harsen berucap dengan manja.


 


"Enggakkk... Kenapa kakak di sini? Pergilah, Vara malu di liatin selagi tidur." suara Vara terdengar di balik selimut.


 


"Kenapa? Bukankah itu wajah tercantik yang Kamu miliki sayang?" Harsen sengaja menggoda Vara yang tampak malu-malu.


 


"Kakak! Jangan menggoda Vara. Vara malu kak, sejak kapan kakak di kamar Vara?" Vara mencoba memastikan.


 


"Sejakkkkk.... Kamu ngorok, terus ileran." goda Harsen.


 


Vara yang mengumpet di balik selimut menyentuh sekitar area bibirnya. Sekaan mengusap sisa ilernya kalau ada, tapi Vara tidak menemukan sisa dari ilernya.


 


"Apa sekarang dia menggodaku?" batin Vara.


 


Harsen menarik selimut yang menutupi wajah Vara. Saling memandang, Harsen tersenyum dengan sangat manisnya. Sementara Vara, Ia merona karena tersipu malu. Langsung saja, Vara merengek menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


 


"Kak Harsen usil... Vara malu Kak."


 


"Malu apanya? Kakak ini kekasihmu sayang. Walaupun kamu ngorok, kamu ileran, Vara tetap yang terbaik buat Kakak." Harsen menahan tawanya.


 


"Kakak bohong... Sudah sanalah, Vara mau bersih-bersih. Tunggulah di bawah kak, Vara tidak akan tidur lagi." ucapnya masih menutup wajahnya.


 


Harsen melepas tawanyanya, pikirnya Vara itu seperti wanita yang harus menjaga imagenya di depan dirinya. Harsen membelai rambut Vara, Ia mengusapnya dengan lembut, tiba-tiba Vara menarik tangan Harsen membuat Harsen terkesiap.


 


 


"Jangan menyentuh rambut Vara kak... Vara belum keramas sedari kita di Jakarta." ucap Vara bersedih masih menyentuh tangan Harsen.


 


 


Harsen yang semulanya terkesiap, Ia pun tersenyum dengan manisnya. Lalu Ia melepas tangan Vara dan menarik punggung tangan Vara serta mengecupnya. Vara tersipu malu, wajahnya kembali panas karena memerah. Tidak sampai di situ saja, Harsen menarik kedua pipi Vara.


 


 


 


"Ada apa kak?" Vara merasa panik.


 


"Pipi kamu panas, lagi malu ya?" ledek Vara.


 


 


Vara sepontan memukul lengan Harsen, "Dih Kak Harsen usil banget!" ketusnya dengan kesal.


 


 


"Hahaha... Habisnya Vara imut sih" katanya membuat Vara kaget.


 


 


"Kak... Kakak kok bedah banget hari ini?" tanya Vara.


 


Kedua mata Harsen menatap bingung, "Kenapa? bedah di mananya?" tanya Harsen membuat kedua tangannya terlipat di atas dada. Dan menyilangkan Kakinya menatap serius ke Vara.


 


 


 


"Biasa juga Kakak kaku banget, tapi pagi ini sangat berbeda aja Vara rasakan."


"Apa kau tidak suka?"


 


 


"Sukaaaa... sangat suka. Vara merasa memiliki kekasih nyata" celetuk Vara.


 


"Wah... selama ini Kakak enggak nyata maksud Vara?"


 


 


"Iyaaaa....Kakak kaku sih, Vara bingung. Tapi... tetap di hati Vara." jawab Vara dengan senyum.


 


 


"Hah... sebelum kamu neggombal lebih jauh, Kakak akan keluar, Kamu siap-siaplah. Akan Kakak antar ke kampus, bukankah banyak hal yang akan kamu lakukan?"


 


 


Vara mengangguk sedih, "Iya kak... barusan juga mau mengobrol." katanya sedih.


 


 


"Kita memiliki banyak waktu Sayang... Ayo bersiaplah" Harsen beranjak berdiri seraya mengusap kepala Vara dan berjalan ke arah pintu.


 


 


 


Vara menatapi tubuh Harsen yang sedang berjalan dengan bibir yang di kerucutkan. Lalu, tiba-tiba Harsen terhenti dan membalikkan tubuhnya menatap Vara.


 


"Ada apa lagi?" tanya Vara bingung.


 


Harsen berjalan ke arahnya, "Ada yang ketinggalan." balas Harsen yang tinggal beberapa langkah.


 


 


 


"Ap—"


 


 


Cupppppp...


 


Bibir Vara di kecup Harsen dengan sangat lembut, mata Vara terpejam menikmati sentuhan dari bibir pujaan hatinya. Detak jantungnya tidak seirama, kedua telapak tangannya merasa dingin.


 


 


Harsen menatap wajah Vara dengan tersenyum, lalu melepas kecupannya. Saling memandang dengan lembut, Vara malu.


 


"Selamat pagi my princess... Maaf lupa memberikan Vitamin penyemangat. Kakak tunggu di bawah ya," kata Harsen dan kembali berjalan berlalu dari kamar Vara.


 


 


 


Vara masih menegang dengan bersandar di tempat tidurnya dengan posisi yang masih berselonjor itu menepuk kedua pipinya. Ia merasa lemas tiba-tiba dengan perlakuan Harsen yang enggak biasanya.


 


 


"Aku bisa mati berdiri di buatnya." ujar Vara dengan lemasnya.


 


 


.


Haloo semuanya.. berhubungan ini Weekend, mom slow update. Jika kalian tidak keberatan bisa membaca Novel Mom lainnya, seperti Kekasihku Seorang CEO 2, Catatan Cinta dalam Diary, Nano-Nano Cinta. Yang pasti, Mom tetap minta dukungan dari kalian dong dalam bentuk VOTE dan juga LIKE dari kalian yang terkhususnya pembaca setia mom yang tidak pernah mengeluh dalam mendukung setiap karya Mom. buat yang merasa keberatan, tidak usah merasa terbebani, saya tidak memaksa apa lagi MENEKAN pembaca Mom. Tapi sebagai penulis, pribadi berharap pada pembaca mom, agar tidak menjadi silent readers, Terkhusus pembaca Mom yang selalu mendukung karya Mom, Mom Putri ucapkan Terima kasih banyak karena kalianlah... Mom semangat terus melanjutkan cerita dari Keluarga Atmadja...🙏🥰