My Chosen Wife

My Chosen Wife
UCAPAN DAN DOA



 


 


"Hemmmm... Giliran Defan dong" kata Defan enggak mau kalah.


 


 


 


 


"Sabarrr dong... tunggu antrian" balas Jimmy.


 


 


“Wuhhh… enggak ngomong sama Om-Pong,” balas Defan dengan bibir di cemberutkan.


 


 


“Yeeee…. Sekate-kate lu yeee… Gigi gua masih bagus nih nohhhh…. lu kate ompong, dasar lu anak orang-orangsan salju!” ketus sih Jimmy.


 


 


“Yah sudah… kalian ini selalu saja rebut, sudah ayo… jauhan saja duduknya” ucap Eva pada keduanya.


 


 


Defan langsung saja berdiri duduk di sebelah Harsen, Vara yang di samping Harsen melirik sekilas ke Defan.


 


 


“Berasa orang ketiga ni orang,” gumam Vara kecil.


 


 


Harsen melirik ke Vara dan tersenyum kecil, syukurlah Defan enggak mendengarnya.


 


 


“Ayo…Siapa lagi, lanjut dong” kata Raka.


 


 


“Aku saja besan,” ucap  Casandra dengan menunjuk dirinya.


 


 


“Okey silahkan,” balas Raka.


Renata tersenyum melihat Maminya yang sudah bersiap untuk memberikannya doa dan ucapan.


“Hem… Buat Renata anak Mami, Mami ucapkan selamat ulang tahun buat kamu ya Nak, Semoga Renata tetap sehat, tetap  bahagia dengan kehidupan Renata bersama suami kamu Rava. Semoga… apa yang menjadi keinginan kalian berdua dapat terkabul, Amin.” kata C asandra dengan bahagianya.


 


 


“Amin Terima kasih Mami,” baals Renata dengan menyunggingkan senyumannya.


Varel langsung menyambar, “Dari Papi, Sama dengan Mami kamu sayang, yang terbaik buat anak Papi satu-satunya dan menantu Papi satu-satunya. Tapiiiii.. Cucu enggak boleh satu, harus lebih dari satu ya! permintaan  khusus ini.” ujar Varel dengan tawa kecilnya.


 


 


Semuanya ikut tertawa dengan ucapan Varel.


 


 


“Akan kami garis bawahi ya Pi,” kata Rava dengan tawanya.


 


 


“Tidak hanya di garis bawahi, harus di usahakan,” yak an Rel,” sambung Raka dengan semangatnya.


 


 


“Iya dong Besan, kalau bisa lebih dari anak-anak kita,” ucap Varel lagi.


 


 


“Benar kan Kak… sama dengan permintaan Vara waktu itu. Kak Renata dan Ka Vara, harus memberikan Vara keponakan yang banyak dan cantiknya seperti Vara ini,” ujar Vara dengan menyentuh kedua pipinya.


 


 


“Lah… kalau kamu mau yang banyakkk… kamu dong yang  nikah dengan Harsen, biar bisa buat kesebelasan gitu,” Rava protes dengan melihat ke Vara.


 


 


“Agh Kakak.. Siapa juga yang mau buat kesebelasan, lagian juga masih lama nikahnya,” gumam Vara.


 


 


“Sabar sayang.. kalau Harsen sudah siap mempersunting kamu kan, kamu bisa nikah,” balas Eva dengan tersenyum kecil.


 


 


Harsen menjadi tegang sendiri, Leo dan Rere sama-sama tersenyum mendengar perkataan mereka.


 


 


“Iya… Kalau Harsen sudah siap dan Vara  juga sudah matang, kalian bisa menikah,” kata Raka dengan sangat lembut pada putri kecilnya.


 


 


“Iya Papa,” balas Vara singkat.


 


 


“sudah di lanjut loh, entar keburu jadi tengah malam,” kata Eva dengan lembut.


 


 


“Iya sekarang Paman Jimmy dulu, Paman ucapkan selamat ulang tahun untuk keponakan paman tersayang. Semoga… apa yang Renata inginkan dan harapkan bisa tercapai, pokoknya yang terbaik buat keponakan Paman yang sangaaat cantik,” kata Jimmy serius.


 


 


“Tumben Waras?” tanya Defan.


 


 


“Woiii…” balas Jimmy.


 


 


“Eeghhh kok gitu lagi sih,” Eva menatapi keduanya.


 


 


“Sudah.. Terima kasih Paman ku terganteng sedunia,” jawab Renata sambil tersenyum.


 


 


“Dari Bibi Anna… Sama aja deh sayang,semuanya sudah  mengatakan doa yang terbaik buat Renata,” ujar Anna.


 


 


“Iya Bi,Terima kasih ya,” kata Renata lagi.


 


 


“Kalau begitu… Sekarang Paman Leo ya?” tanya  Leo dengan semangatnya.


 


 


“Silahkan Leo , “ balas Raka.


 


 


“Hah… Satu… Selamat ulang tahun buat Renata, Dua… Semoga cepat dapat momongan, ketiga… Semoga Renata semakin di berkati, keempat… Semoga Renata dapat momongan lagi, kelima.. Semoga Renata bahagia selalu,” ujar Leo dengan menepuk tangannya.


 


 


Semuanya terngangah menatap ke Leo , si kaku paling aneh menurut semuanya.


 


 


“Paman… Kenapa Paman malahan berhitung?” tanya James bingung.


 


 


“Agh… Apa iya seperti itu?” Leo terkesiap dengan menatap James dan Rere.


 


 


“Tidak… Sudah bagus kok, jarang-jarang dan sangat langkah.”  celetuk Rere.


 


 


Leo pun tersenyum dengan menggaruk kepalanya,.


“Hebat itu... bagus doanya,’ kata Raka.


 


 


“Terima kasih Pak Raka,” balas Leo.


 


 


“Okey… Sekarang Rere.” kata Raka lagi.


 


 


“Hemmm dari saya sama sih ya.. Selamat ulang tahun buat Renata, semoga terus dan selalu bahagia ya sayang. Itu saja sih dari Bibi ,” Rere tersenyum ke arahnya.


 


 


 


 


“Dari Defan dong,” kata Defan lagi.


 


 


“Ya sudalah.. Kamuuuu..” kata Raka ke Defan.


 


 


“Yeeee… Hemmmm… Buat Kak Renata, special dari Defan … Sama aja sih hehehe.. Selamat ulang Tahun buat kakaku terkasih. Kakak  terbaik yang Defan miliki selama ini, semoga kakak selalu di lindungi oleh yang maha kuasa, cepat punya momongan buat Defan juga, yang banyaakkkkkkkkk. Itu saja,” kata Defan bersemangat.


 


 


“Okey… masuk di akallah,” celetuk Jimmy.


 


 


“Apaan sih Om.. merusak mood saja,” balas Defan.


 


 


“Defan… Terima kasih untuk doa dan ucapan kamu ya, selama ini sudah menjadi penguat kak Renata juga, semoga Defan juga sama cepat menyelesaikan studynya dan selalu bahagia juga sama Alice dan yang lainnya,” kata Renata.


 


 


Defan tersenyum seraya melirik ke Alice, keduanya menjadi sama-sama tersenyum.


 


 


“Sekarang dari Alice dan Anet dong,’ kata Eva yang melihat keduanya hanya tersenyum.


 


 


“Agh.. Kebagian jugaya?” tanya anet basa basi.


 


 


“Iya dong… Ini malam terkahir kita ngumpul begini Mba, lusa anak-anak sama Mba dan Alice akan kembali ke New York. Rava dan Renata berbulan madu ke Korea. Wah… Sepi lagi dong kita ya Pa?” tanya Eva ke Raka.


 


 


“Iya sayang.. kamunya kembali sepi di rumah, hanay bergelut dengan Aku di malam hari,” ledek Raka dengan kedua mata di picingkan.


 


 


“Yeeeee huuuuuuu…” sambung Defan meledek.


 


 


“Mesra amat sih Mama dan Papaku,” ujar Vara merasa iri.


 


 


Eva di buat malu oleh Raka, pikirannya menjadi meronta-ronta enggak jelas.


 


 


“Sudah-sudah.. Mba Anet sekarang,” Eva memotong semuanya.


 


 


“Ya.. Terima kasih untuk semuanya, buat keluarga besar Atmadja terutama, karena kalian di sini bisa menerima Aku dan Alice menjadi bagian keluarga ini. Teruntuk Renata, secara pribadi, Bibi ucapkan Selamat ulang tahun sayang, semoga di hari spesialmu ini,semua yang kamu inginkan dan cita-citakan dapat tercapai dengan sesuai keinginan, Doa yang terbaik buat keluarga kecil kalian, Terima kasih.” kata Anet dengan meninggalkan senyuman.


 


 


“Wah… Bibi Anet.. Terima kasih sekali untuk doanya, Semoga Bibi Anet juga di lindungi oleh sang pencipta di manapun Bibi dan Alice berada. Terima kasih sudah menyempatkan diri datang ke Jakarta untuk Rena dan Rena ya Bi, Selalu sukses buat kalian berdua juga,” Renata menyunggingkan senyumannya.


 


 


“Sama-sama sayang,” kata Anet lagi.


 


 


“Sekarang.. Alice,” ujar Defan bersemangat.


 


 


“Hemmmm.. Terima kasih buat Paman dan Bibi semua yang ada di sini, rasanya Alice punya keluarga lagi di Jakarta. Doa Alice sama dengan yang lainnya, buat Kak Rena dan Kak Rava di berikan yang terbaik dan terus berbahagia. Terima kasih,” Alice malu-malu, karena semuanya menatap ke Alice.


 


 


“Terima kasih adikku sayang,” balas Renata.


 


 


“Sekarang dari James,” kata Eva.


 


 


“Aku? Hemmm Aku ya… okeylah,” kaat James dengan merubah posisinya menjadi siap.


 


 


“Hemmmm… Buat Noona ku tersayang, Noonaku terbaik, Selamat deh nambah satu tahun, Sehat dan bahagia selalu. Di berikan anak yang banyak, seperti keinginan yang lainnya. Noona  harus bahagia di kehidupan Noona yang baru. Kalau kak Rava buat Noona ku menangis lagi, Aku yang berhadapan dengan Kak Rava,” mata James melotot ke Rava.


 


 


Rava terkesiap mendengar ancaman James, “Elehhhh… Ni anak, doa awalnya bagus, selalu saja akhirnya mengancam. Itu  semua masa lalu ya James, sekarang Kakak akan memberikan kebahagiaan untuk Noonanya kamu, dasarrrrrrr!” ketus Rava.


 


 


“Kau membuat mood seseorang berubah James,” ujar Jimmy.


 


 


“Habisnya sih Pa, dulu Noona Renata suka nangis sama James,” James menunduk malu.


 


 


“Sudah.. Itula masa lalunya Noona sayang… Sekarang kita harus berbahagia bukan?” tanya Renata ke James.


 


 


“Harus dong Noona. Noona harus bahagia apapun ceritanya, di sini banyak yang sayang sama Noona.” James menjadi menggebu-gebu.


 


 


“Iya sayang.. Terima kasih doanya,” balas Renata.


 


 


“Okey.. Sebagai penutup dari Saya dan Eva,selaku mertuanya Renata. Ayo sayang… katakan doa kita bersama,” ajak Raka dengan merangkul pingganya Eva.


 


 


“Agh.. Iya sayang.. Dari kami sama aja sih doanya, Mama dan Papa mau Renata tetap bahagia di kehidupan kamu yang baru, semoga Renata dan Rava di berikan momongan seberapapun yang kalian mampu jangan di pikirkan itu. Mama dan Papa mau, kalian berdua tetap hidup rukun, hidup dengan baik dalam membina rumah tangga, kalau ada masalah langsung di selesaikan jangan di pendam, gak baik kan. Teruss…. Semoga di rumah baru ini adalah awal yang baru buat Renata dan Rava. Mama bangga sama Rava, bisa memberikan hadiah yang kamu siapkan sendiri dengan jerih payahmu untuk istrimu. Tapi, jika kalian bertengkar dan Rava di husir Renata dari Rumah ini, Maam dan Papa  masih mau kok menampung Rava,”


Perkataan Eva mengundang gelak tawa semuanya, bisa-bisanya dia bercanda dalam keseriusannya.


“Mama semakin lucu aja kalau sudah gabung dengan kita semua,” Vara berkata dengan tawanya.


“Iya.. kenapa Mama jadi aneh,” timpal Rava dengan tawanya.


“Enggak tahu nih, Mama kamu ini semenjak dekat si Jimmy dan Defan, eror,” balas Raka dengan tawanya.


 


 


“Dih kalian ini… Hidup itu jangan terlalu serius agh.. Enggak baik,” balas Eva membela dirinya.


 


 


“Ayo Kak Renata, jawab tuh ucapan dari Bibi Eva,” sambung Defan.


 


 


Renata tertawa kecil, “Terima kasih Mama dan Papa buat doanya, Renata senang banget,  bahagia  banget bisa menjadi bagian dari keluarga Atmadja. Enggak menyangka bisa memiliki keluarga yang bisa di jadikan sahabat, teman bercanda,selalu bisa di andalkan. Renata pribadi mau bilang Terima kasih semuanya, untuk semua surprise yang kalian berikan untuk Renata. Buat Rava juga, terima kasih untuk kado spesialnya, ini rumah kamu juga kok.. Renata enggak bakalan berani mengusir separuh dari jiwanya Renata,” ungkap Renata dengan tersenyum ke Rava yang sedari tadi memperhatikannya.


 


 


“Awwwwww… Mesra amat sih,” kata Vara, enggak sadar dia memeluk lengan Harsen.


 


 


Harsen melihat ke arah Vara dengan membulatkan kedua matanya, sepontan Vara melepas pelukannya dari Harsen dan kembali melirik ke arah depannya.


 


 


“Baiklah… karena semuanya sudah memebrikan doa dan ucapannya, malam ini kita tutup dengan berdangdut bersama,” Raka berdiri dan menyalakan musiknya.


 


 


Jadilah semuanya berdangut ria dan berlenggok berjoget terkecuali Rava, Renata, Alice dan Harsen  yang hanya memilih untuk melihat yang lainnya. Betapa pusingnya Alice melihat Defan yang berjoget tanpa malu bersama James. Bayangkan sajalah sendiri bagaimana Aksi Frans dance waktu Eva melahirkan, begitulah si Defan.


 


 


 


 


Bersambung.


….


Terima kasih semuanya, Saya selesaikan untuk mereka karena bakalan ada cerita ngumpul lagi sepertinya. Nah untuk bab sambungannya akan menceritakan kembalinya Vara, Harsen dan yang lainnya. Mungkin Part Vara dan Harsen yang akan sering nampil sampai mereka kembali ke Jakarta, jadi harap di maklumi ya.. Ayo jangan lupa dukungan kalian dalam bentuk VOTE karena saya berharap hanya dari pembaca setia saya, Terima kasih semuanya ^^