
Keesokan harinya , sang bibi Rumah itu sudah tampak di dalam rumah kediaman Rava. Di sambut dengan Defan, yang memang lebih dulu bangun dari tidurnya. Defan langsung saja, meminta kedua pembantu di rumah Rava mempersiapkan sarapan mereka. Dengan senang hati, keduanya pun melakukan tugas mereka masing-masing.
Tidak lama, Vara pun menyusul Defan, yang sudah rapi hendak melakukan aktivitas biasa mereka sebagai mahasiswa dan mahasiswi itu. Keduanya memilih untuk duduk di ruang makan. Masih saling menatap dengan tajam.
"Kenapa, lu!" ketus Defan.
"Apaanya?"
"Kenapap lu duduk di sini?"
"Suka-suka gua la, rumah kakak gua!" jawab Vara lagi.
"Ya sudah, malas debat sama anak manja, aku mau membangunkan kakak." Defan beranjak dan berjalan ke arah tangga.
Vara sendiri, berjalan ke arah dapur mendekati kedua pembantu paru bayah itu.
"Halo bibi," sapa Vara pada keduanya.
"Halo, nak Vara." balas bibi sambilan menyicipi masakannya.
"Loh, bibi kok tahu nama, Vara?"
"Karena, nyonya Eva yang memberitahukan ke saya, Nona."
"Ouuu... Bibi di suru mama, dan bibi satu lagi?" tanya Vara lagi.
"Panggil bi, Marni aja nona." jawab yang satunya dengan ramah
"Ouuuu... kalau bibi?" kembali lagi ke bibi pertama.
"Saya, tarni nona Vara. Saya yang sebelumnya bekerja di sini, sebelum tuan muda Rava kembali ke Jakarta."
"Loh... bukannya kakak tinggal sendirian ya, Bi?"
"Iya Nona, bibi hanya bertugas di pagi hari. Siangnya bibi pulang. Nah... kemarin nyonya eva meminta saya untuk kembali bekerja, dan saya menerimanya. Karena nyonya Eva, tidak ingin saya keberatan, saya di suru mencari orang untuk membantu pekerjaan bibi di sini, Non. Karena itu, bibi mengajak adik bibi Marni." jelas si Bibi.
"Ouuu... Selamat bekerja ya, Bibiku sayang." peluknya pada keduanya.
"Teirma Kasih, Nona Vara." ucap keduanya.
"Baiklah bi, Vara menunggu di sana saja ya." tunjuknya ke meja makan, dan mendapatkan jawaban dari kedua pembantunya.
Tak lama, Rava dan Defan bersamaan turun dari arah tangga. Tampak Rava yang tergesa-gesa, mendekati Vara yang duduk di bangku meja makan.
"Vara... Kakak ada pekerjaan mendadak. Kamu nanti berangkat bareng Defan. Jangan bertengkar, belajarlah yang baik." ucap Rava menyentuh kepala adiknya, dan hendak berjalan.
"Kakak... enggak sarapan dulu?" balas Vara seraya berdiri.
"Tidak, di kantor saja. Kamu dan Defan harus sarapan dan hati-hati di jalan." ucapnya ke Vara, lalu Rava menoleh ke arah bi Tarni.
"Halo Bi, selamat datang kembali." sapa Rava pada bi Tarni.
"Terima kasih, Tuan muda."
"Selamat bekerja buat kedua bibi, saya mau berangkat. Tolong perhatikan kedua adik saya ya, Bi." pinta Rava seraya berjalan ke arah pintu keluar.
"Pantas saja, wajah Defan seperti itu." gumam Vara.
Benar saja, Defan yang berjalan turun di belakang Rava tadi, sudah memasang wajah yang masam dengan bibir cemberut. Ternyata, rava sudah meminta Defan, untuk berangkat dan pulang bersama Defan. Defan merasa rugi, jika mengantarkan sepupu manjanya.
***
Di dalam mobil , Rava membuat panggilan ke Harsen, "Sen, Apa semuanya sudah siap?" tanya Rava di ujung telepon, karena ia akan membawa rapat dakdakan.
"Siap Tuan, semuanya sudah datang." balas Harsen.
"Oke... Sepuluh menit lagi, saya akan tiba." ucapnya lalu mematikan sambungan teleponnya.
Benar saja, kemarin malam saat Rava mendapatkan info jam terbang kedatangan Renata di New York, Rava langsung saja memerintahkan Harsen mengubah jadawal rapat perusahaan lebih awal. Karena, Rava mau menjemput renata, untuk memastikan keamanan renata selama di New York.
Tidak butuh waktu lama, sampai di area parkiran perusahaan Rava, ia pun di sambut oleh Harsen dan dengan cepat menuju loby dan masuk ke dalam lift menuju ruangan rapat. Rapat ini membahas tentang pasokan barang persediaan yang di butuhkan anak perusahaan dari perusahaan papa Rava yang di Jakarta. Sesampainya di ruangan rapat, dengan cepat Rava memulai rapat. Tidak butuh waktu lama, masalah pun terpecahkan dan mendapatkan hasil baik.
"Tuan," ucap Alice kaget.
Rava menatap sejenak, "Tolong bagikan, pada seluruh karyawan saya, yang ada di ruangan ini." ucap Rava seraya bergegas keluar dari ruangan.
"Terima kasih, Nona Alice." sambung Harsen dengan senyuman dan dengan cepat mengejar Rava.
Endriko dan Alice bersamaan melihat pada Rava yang sedang tergesa-gesa. Sebenarnya, Ravalah yang memesan cake&coffe untuk karyawan yang mengikuti rapat dakdakan. Rava, yakin karyawannya pasti belum sarapan.
"Pantas saja dia sombong, ternyata dia seorang, Bos." bisik Endriko pada Alice.
"Hemmm... Sudalah Kak, Ayo kita bagikan." ajak Alice.
***
Dengan di temani Harsen menuju bandara, Rava duduk dengan rasa lapar yang mulai menyerang perasaannya. Membuat lambungnya terasa tergelitik, ada yang menggelitik, geli di rasakannya. Tetapi itu tidak penting pikirnya, yang penting baginya si renata, wanita manja yang suka ceplos-ceplos seperti maminya itu. Rava sangat cemas, karena yang Rava tahu, si renata itu penakut. Ketakutan bila sendiran di keramaian di mana tempat yang tidak sering dia kunjungi.
Selang beberapa jam, akhirnya Harsen memarkirkan mobil di area parkiran Bandara. Dengan cepat Rava turun, dan berjalan ke arah pintu masuk Bandara, menuju ke bagian Terminal kedatangan Internasional. Mata Rava mencari-cari sosok renata, ia merasa gusar, satu demi satu ia lirik pada pintu kedatangan itu. Melirik sekilas ke jam tangannya, lalu kembali lagi menatap pada pintu kedatangan.
"Seharusnya dia sudah tiba di jam segini." ucap Rava, kemudian berjalan mencari information display system di bandara tersebut. Dengan cepat Rava menuju layar besar itu, ia melihat satu persatu dan mendapatkan jadwal kedatangan Jakarta-New York pas, sesuai hitungan waktu Rava.
Dengan cepat, Rava kembali menuju pintu terminal kedatangan, mencari sosok Renata yang tak lama muncul melewati pintu kedatangan dengan tubuh lesunya. Membawa satu koper besar, mantel jaket yang ia gantung pada tangan kanannya, dengan tas di bahunya, tanpa memakai kaca mata hitamnya. Tampak matanya sangat sayu, efek kelelahan dalam penerbangan jauh. Rava menatapnya dengan tidak berkedip. Wanita itu, tidak tahu keberadaan Rava, yang sedari tadi mencarinya dengan cemas.
"Hah... Akhirnya ku temukan dirimu." ucap Rava dengan perasaan lega, nafasnya sempat terhenti.
Rava tersenyum kecil, masih saja menatap wanita yang berjalan dengan anggun dan lambat. Mulai tampak Ketakutan di wajahnya , Renata menoleh ke kiri terus ke kanan. Dia merasa lupa, ke mana arah jalan untuk keluar, terakhir kalinya Renata berkunjung tiga tahun lalu, saat Rava setahun menetap di New york. Renata merindu, dan kebetulan Varel akan menghadiri tugas perusahaan yang akan bekerja sama dengannya, di situlah Renata meminta ikut dengan alasan berlibur, Varel dan Casandra menyanggupi untuk putri mereka.
Saat menoleh ke kanan, Renata terhenti. Tatapan yang paling sangat ia rindukan tampak di depannya. Tatapan itu seolah mengisyratkan sesuatu, lalu Rava tersenyum padanya.
"Kenapa, Dia?" gumam Renata.
Dengan cepat Renata membuang pandangannya, dan kembali berjalan , mencari pintu keluar. Rava bingung, Renata bukan menghampirinya malahan berjalan lurus kedepan, dengan cepat Rava mengejar dan menarik tangan Renata.
"Rena," panggilnya.
Renata berhenti dan menoleh ke Rava, "Apa kita saling mengenal, Tuan?" tanya Renata dengan melirik tajam ke Rava.
Rava mengernyitkan keningnya, pertanda dia bingung.
"Jangan bercanda, Renata!" ketus Rava.
"Maaf, Tuan. Saya tidak sedang dalam mood untuk bercanda dengan anda."
"Mba Renata." seru Harsen dengan nafas yang ngos-ngosan, menghampiri keduanya.
"Harsen." seru Renata dengan senang, dan refleks loncat-loncat dan memeluk tubuh Harsen. Begitu juga sebaliknya, Harsen membalas pelukan Renata dan mereka berdua menari-nari.
Rava semakin aneh melihat keduanya, ia menyentuh keningnya dengan menggigit bibir bawahnya. Seakan tidak percaya menatap perilaku Renata pada dirinya. Harsen sadar akan tatapan kesal Rava kepada mereka berdua.
"Agh... maaf, Tuan." ucap Harsen menghentikan, aksi keduanya.
Renata menoleh dan mengerucutkan bibirnya, tampak wajah Rava yang kesal dengannya.
"Ajak jalan, Sen." perintah Rava, karena Rava tahu, Renata sengaja. Bisa jadi, Renata ingin membalas dendam padanya.
"Ayo... Mba." ajak Harsen dengan sopan.
Tanpa menoleh ke Rava, Renata mulai menarik kopernya dan berjalan mengikuti Harsen. Rava menatap tubuh Renata yang berjalan tanpa mengajaknya, dengan cepat Rava berlari kecil menarik koper Renata, dan mendahului Renata.
Renata sejenak terhenti dan menatap si Rava, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tiba di depan pintu keluar, Renata hanya berdiam saat Rava berdiri di sampingnya, menunggu Harsen menjemput mereka. Tak lama, seorang Pria menghampiri Renata.
"Hello Nona," sapa nya dengan suara lembutnya.
Sontak saja Rava dan Renata bersamaan menatap pada pria, tinggi, kekar, berkulit putih , dengan kaca mata hitam yang melingkar di kedua matanya, balutan baju casualnya tampak mempertegas ketampaanannya sedang menatap Renata dengan senyum yang melingkar di bibirnya.
Bersambung.
...........
2 Eps lagi kan, mana Like dan VOTE nya 🥰😘