My Chosen Wife

My Chosen Wife
MAKAN MALAM.



“Bisa juga dia ngambek?”


Renata berjalan keluar kamar dan tidak menemukan Rava di manapun, Akhinrya dia pun dengan perlahan menuruni anak tangga, hingga mendapati Defan yang bingung melihat Rava bergegas berjalan menuju pintu keluar.


“Kak Rena, kenapa dengan Kak Rava?” tanya Defan sambil menunjuk ke arah keluar.


“Ngambek! di mana dia?” tanya Renata.


“Sepertinya mau ke garasi mobil Kak.”


Renata berjalan menuju pintu keluar, tampak mobil sudah berjalan keluar pintu garasi.


“Rava!” jerit Renata sambil mendekati mobil Rava.


Mobil tetap melaju pelan, Rava tidak mendengar suara Renata yang berjalan ke arah mobilnya yang hendak berhenti di depan gerbang, petugas pun berjalan membuka pintu gerbang rumah.


“Ravaaaaaaaaaaaaa!” teriak Renata yang masih berjalan ke belakang mobil Rava.


Pak Ujang berjalan menuju mobil Rava.


“Pak.” panggil Pak Ujang seraya mengetuk pintu kaca mobilnya.


Perlahan kaca mobil terbuka.


“Iya Pak?” balas Rava.


“Itu Ibu Renata memanggil.” tunjuk Pak Ujang ke belakang.


Rava dengan cepat melihat sang Istri yang sudah mengenakan dress piyama berjalan ke arahnya. Hingga tiba di depan pintu mobil Rava.


“Turun!” perintah Renata.


“Malas agh di diami mulu, Aku mau tidur di jalanan aja!” balas Rava dengan bibir yang di cebikkan.


“Kamu gak malu apa? sudah tua gitu ngambek? Sudah mau jadi Papa loh?” Renata menyindir.


“Dih Kamu bisa masa Aku gak bisa?” balas Rava masih acuh.


“Aku kan cewek, wajar dong ngambek! Nah kamu itu kan sudah mau bapak-bapak, mana juga kamu yang salah kan.”


“Iyaaa, aku salah. Kan Aku sudah minta maaf sama Kamu, Kamunya aja diamin Aku mulu.”


“Ya sudah kalau begitu! Aku yang pergi.” ancam Renata.


Alis Rava terangkat ke atas, dengan menatap wajah Renata yang sok galak itu ke arahnya. Rava malahan tertawa meledek ke arah Renata.


“Kenapa kamu tertawa?”


“Kamu yakin mau pergi?”


“Iya! emang kenapa?” tanya Renata dengan kedua tangannya di letak di pinggang.


Rava lagi-lagi tertawa.


“Dengan pakai piyama itu?”


“Kenapa rupanya! Kamu pikir Aku takut? Sudah sana, kamu yang masuk rumah, biar Aku yang pergi!”


“Gak ngaruh deh ancamannya.” balas Rava yang masih melihat Renata berdiri di depan kaca.


“Baiklah,kau bisa cari Istri lain yang lebih cantik dan tidak suka marah!” Renata berjalan menuju pintu gerbangnya.


Rava melihat ke depan dengan perasaan was-was. Gila saja pikirnya, ini kan sudah malam juga. Kenapa jadi Renata juga yang jadinya pergi dari rumah. Gak benar ini, Rava pun melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang,melihat Renata yang berjalan di bawa lampu penerang jalan, tampak sangat seksi, buat gairah Rava tiba-tiba merasuki pikirannya.


Rava tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lucu benar rasanya dia, menghadapi Istri yang sedang hamil, banyak maunya, perasaan yang berubah-ubah, terkadang menjadi tempat amarahnya, kekesalannya. Semuanya itu sangat di nikmati Rava sebenarnya, meskipun kadang juga hampir kesal.


Rava mendekati mobilnya di samping Renata yang masih setia berjalan kaki itu.


“Neng! mau ke mana malam-malam?” goda Rava.


“Bukan urusan kamu!”


“Duh Neng, kok galak amat? Suaminya ganteng pasti yang Neng” goda Rava lagi.


Renata melirik ke Rava, bibirnya yang cemberut dengan di hiasi tatapan sinis. Rava semakin tersenyum sendiri, melihat Renata yang ngambek seperti itu. Kembali lagi Renata focus ke jalannya, tanpa menghiraukan Rava yang mengikutinya.


“Neng! godain Aku dong!” Rava tertawa kecil, gak kuat gitu lihat wajah Renata yang menggemaskan.


“Nengggg! awas ada yang culik loh!” ledek Rava lagi.


“Duh… berisik amat sih kamu! pulang sanaaaaaa….”


“Neng! abang anteri yuk.”


Renata berhenti dan tiba-tiba mengadu sakit.


“Aduhhhh…” Renata menyentuh perutnya.


Rava panik dan dengan cepat menginjak rem, dan melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun dari mobil.


“Sayang! kamu gak apa-apa? di mana yang sakit?” tanya Rava dengan suara panik.


Renata masih berdiam, wajahnya mengerut menahan sakit di perutnya.


“Sayang! kok diam aja sih? bagian ini kah yang sakit?” tanya Rava dengan menyentuh bagian bawah perut Renata.


Renata pun mengangkat wajahnya ke arah Rava.


“Kamu tertipu!” katanya dengan menjulurkan lidah dan tertawa.


Rava menghela nafasnya dan mengusap kasar wajahnya.


“Kamu ini ya!” katanya dengan menatap wajah Renata yang sudah tertawa-tawa geli.


“Baiklah! Kalau begitu, Aku yang akan menculik kamu!” refleks Rava mengangkat tubuh Renata di dalam gendongannya.


“Kamu mau apa!” suara Renata terdengar panik.


“Mau culik kamu, karena uda nakal!” kata Rava sambil membuka pintu mobilnya, lalu mendudukan tubuh Renata, dan menarik seatbelt dan memasangnya.


Selesai memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya Renata, Rava masih mengarahkan wajahnya ke Renata dengan sedikit membungkuk.


“Sudah tidak marah lagi kan?” tanya Rava.


“Tergantung sih bagaimana sikap kamu.” balasnya dengan acuh.


Rava tersenyum, tangannya menarik hidung Renata dengan gemas.


“Kalau begitu, aku ganti dengan ini.” Rava mendekati wajahnya ke wajah Renata.


Rava membenamkan kehangatan di bibir Renata. Renata terkesiap menatap kedua manik mata Rava.


“Okey, pembayaran di awal atas kesalahan aku hari ini.” kata Rava sambil menutup pelan pintu mobilnya.


Renata pun menjadi jantungan, duh Rava kok romantis begitu sih? orang lagi marah aja dia bisa tertawa, gak ikut marah. Benaran deh, Rava jauh berbeda dari yang dulu.


Kedua sudut bibir Renata tertarik ke atas. Rava yang berhasil melihat senyuman itu pun ikut tersenyum saat membuka pintu dan duduk seraya menarik dan memasang sabuk pengamannya.


"Sudah bisa senyum ya? lagi ngakui di dalam hati, kalau suami kamu caem kan?"


"Idih! lebay amat kamu, kepedean juga."


"Hahaha... bukannya Aku memang tampan ya kan? kalau gak ya mana mau juga kamu menikah sama Aku." gumam Rava dengan senyum manis.


Renata menahan senyumnya melihat Rava yang bisa mencairkan suasana itu.


"Ya sudah... pulang!"


"Egh... kan kita mau bobok di jalan." balas Rava sambil melajukan mobilnya.


"Aku gak mau!"


"Kenapa?"


"Banyak nyamuk! terus kan aku lagi hamil, masak iya kamu mau siksa Aku dan anak kita?" Renata menatap kesal. Rava lagi-lagi tertawa, ada saja pikirannya si Renata ini.


Mobil melaju hingga menembus jalanan kota, Rava sangat lama, tidak membawa sang Istri berjalan di malam hari dengan mengendarai mobilnya.


"Kita mau ke mana sih Rava?" tanya Renata gusar.


"Temani Aku makan Sayang, Aku sedari tadi belum makan, karena Kau tidak membalas dan menjawab semua panggilan dari Aku. Bagaimana bisa Aku konsen dengan pertemuan tadi. Kau itu semangatku, kalau Kau marah masih mending buat aku. Nah kalau Kau diam, aku bisa apa? bisa gilaaaaaaa!"


Renata tersenyum mendengarnya, tanpa menoleh ke Rava, dia menatap jalanan kota yang tidak seramai di siang hari itu.


"Kok jadi diam benaran?"


"Enggak kok, Aku dengar. Kamu mau makan apa?"


"BAKSO!"


Renata terkesiap mendengar Rava yang bersemangat sekali.


"Apa masih ada jam segini?"


"Ada, dulu Papa dan Mama juga pernah makan sih. Hanya saja, ini yang jual sudah anaknya, dan gak pakai gerobak di pinggiran jalan. Mereka uda buka tempat, jadi kita bisa duduk." balas Rava sambil mencari lokasinya.


Renata menganggukan kepalanya.


"Terusss... kita gak jadi dong bobok di jalan?"


"Ya jadi dong, ada bawa anti nyamuk gak?"


"Dih! becanda mulu kamu."


Gelak tawa Rava terdengar di ruang lingkup mobil. Tidak beberapa lama mobil terhenti di depan penjual bakso dan mie ayam, jam menunjukkan 21:22 dan masih banyak yang makan di warung Bakso.


"Kamu di sini aja ya." kata Rava seraya melepas seatbeltnya.


"Lah.. kamu take away? " tanya Renata.


Rava tersenyum. "Enggak... kita makan di dalam mobil, sambil menikmati musik romantis. Ini cara Papa melunakan hati Mama dahulu. Tapi, sekarang Aku benar-benar lapar dan ingin makan bakso sambil di temani Istriku yang cantik." ucap Rava sambil menarik handle pintu mobilnya.


Renata hanya tersenyum sambil menatap Rava yang masih mengenakan kemeja panjang putih dan celana keper hitam dengan sepatu pantofelnya, sangat berkharisma meskipun raut wajah yang lelah menghiasi guratan wajahnya.


"Mba." suara Kang Mol si empunya warung mengetuk kaca mobil di mana Renata duduk. Refleks Renata menuruni kaca mobilnya. "Ini Mba bakso plus mie ayam."


"Ou iya... Terima kasih Kang." balas Renata sambil mengambil mangkok yang di berikan oleh si Kang Mol.


Tak lama Rava datang dengan membawa semangkok Bakso kosong. Sangat menggugah selera, baunya membuat Renata jadi lapar.


"Ayo di makan Sayang." kata Rava sebelum dia menyantap makanannya, dia memutar musik dari audio musik di mobilnya.


Lagu dari Bryan Adams yang berjudul I do It For You  terdengar di ruangan mobil, mengalir sangat lembut mengiringi suasana makan malam yang tidak di rencanakan sebelumnya.


"Ini sangat nikmat." ucap Renata yang menyantap mie ayam plus bakso yang barusan dia suapkan ke mulutnya.


"Kau suka?"


Renata menganggukan kepalanya, kedua matanya berbinar.


"Syukurlah Kau suka." Rava tersenyum sambil mengunyah makannya.


Tangan kirinya terangkat dan mengelus sayang kepala Renata.


"Jangan mendiami Aku lagi ya... Aku tau Aku salah. Karena gak menepati janji. Jadi, ini pembayaran akhir untuk membayar kesalahanku hari ini." ucap Rava membujuk.


Renata pun tersenyum.


"Iya deh... Aku maafi. Aku juga minta maaf, karena buat kamu sampai gak makan. Aku jahat banget ya jadinya, buat kamu sampai gak makan siang dan malam." Renata menatap sedih sambil mengunyah.


"Gak agh... kamu gak jahat. Cuma cerewet." Rava tertawa.


"Ciss.. Kalau gak cerewet bukan cewek namanya."


"Iyaaa-iyaaa.. Cewek Aku. Hehehe... entar sampai rumah bisa dong ya?" goda Rava.


Renata menoleh ke Rava. "Bisa apa maksudnya?"


"Biasa, jatah bulanan dong! Kan uda gak marah lagi."


"Kamu yakin bisa?"


"Kenapa tidak! jangan meragukan Aku."


Terjadilah gelak tawa di antara keduanya. Membuat perasaan masing-masing mereka membaik. Namanya juga rumah tangga, pastilah ada konflik kecil maupun besar. Hanya saja, tergantung dari keduanya, mau memperbaiki konflik kecil sebelum menjadi konflik besar. Terima kasih...