My Chosen Wife

My Chosen Wife
Kau Bisa Marah?



Perempuan yang sedari tadi sibuk dengan keyboard dengan komputer yang menyala terang di hadapannya, ia meregangkan sedikit tubuhnya setelah menyadari waktu istirahat, langkahnya ia gerakkan berniat meninggalkan ruangan tersebut, baru saja tangannya memegang gagang pintu untuk ia buka, namun pintu tersebut seketika terdorong sebelum tangannya menarik gagang pintu itu...


Kau, emm maksudku pak Rey, ada apa kemari? Tanyanya dengan sedikit terkejut


Apa aku harus menjelaskan alasanku, di sini aku punya saham bukan kah kita memiliki kontrak kerja sama? Aku kesini ingin melihat seberapa jeli karyawan di sini dalam bekerja, apa itu salah, kalau kau tidak mau aku berada di sini, aku akan mengatakan pada atasanmu kalau kau menolak ajakanku, ucapnya dengan penuh ancaman membuat perempuan tercengang merasa sangat sulit untuk mencerna ancaman tersebut..


Bukan itu maksudku, tapi---


Sudahlah, tukas Rey dengan cepat


Aku hanya ingin mengatakan, jangan pulang kalau tidak bersamaku, tunggu aku dan jangan menolak. Lanjutnya dan segera mungkin tubuhnya menghilang dari tutupan pintu tersebut.


Apa haknya mengaturku, gumamnya sedikit kesal...


Tiba-tiba pintu itu kembali terbuka dengan manusia yang begitu lancang,


Kinaya, ada apa tuan Rey menemuimu? Tanyanya dengan nada berteriak


Marissa bisa kau merendahkan sedikit suaramu, aku tiba-tiba kaget karena kedatanganmu yang tergesa-gesa di tambah bicaramu yang berteriak. Ucapnya membuat Marissa terkekeh,,,


Dia kemari hanya mengatakan ingin menjemputku nanti, jawabnya dengan polos,


Apa, menjemput? Teriaknya kembali dengan sangat terkejut,


Marissa, bisa kau tidak berteriak, katanya dengan tatapan murka


Maaf, aku hanya sedikit kaget mendengar kedekatanmu dengan tuan Rey,


Aku tidak dekat dengannya hanya saja aku---


Kalau tidak dekat, apa maksudnya ingin menjemputmu? Tukasnya, kau begitu polos Kinaya, apa kau tidak bisa mengartikan maksud dari dua laki-laki itu, huh? Aku harap kau tidak tergoda dengan mereka, mereka lihat kau orang baru di sini dan ingin mempermainkanmu saja. Jangan coba-coba tergiur dengan rayuan lelaki tampan Kinaya, apalagi bersama tuan Rey, kau akan kena banyak gunjingan di luar sana.


Apa yang kau katakan itu tidak benar Marissa, aku tidak dekat dengan siapa pun, sudahlah apa kau sudah kenyang dengan celotehanmu? Ucapnya berkilah dan meninggalkan tubuh sahabatnya yang masih berdiri di sana.


Kinaya berjalan menuju tangga dan secepat kilat Masrissa menyusulnya.


Langkahmu begitu cepat, ucapnya dengan hembusan nafas yang ngos ngosan


Aku akan jauh meninggalkanmu jika kau banyak bicara, tukasnya


Meski tidak demikian, kau tetap akan meninggalkanku bekerja d luar kota, tentunya akan membuatku kesepian. Ucapnya dengan lemah.


Aku akan pergi jauh lebih lama jika kau terus mengejekku dengan laki-laki itu,


Ya ampun, kau marah?


Tidak, aku hanya kesal,


Maaf, ucapnya lirih..


Sudahlah, aku hanya bercanda, ayo makan aku sangat lapar mendengar kau berbicara tanpa henti. Ucapan itu membuat Marissa lebih tenang karena ia pikir Kinaya benar-benar marah padanya.


Oh, iya kau kan tidak bisa marah, balasnya,


Aku akan memarahimu jika kau banyak bicara, ancamnya membuat sahabat sekaligus rekannya itu terkekeh


^^^^


Setelah sore hari, Kinaya bergegas meninggalkan ruang kerjanya menuju halaman gedung tersebut, Marissa terlihat pulang lebih awal karena ada urusan yang mendadak membuat perempuan itu berjaln sendiri,


Rendy, aku harus mengembalikan tupperwar ibunya dan mengucapkan terima kasih, gumamnya saat ekor matanya menangkap keberadaan tubuh laki laki tersebut yang sedang berbincang dengan seorang perempuan yang tidak Kinaya kenali. Ia tidak bermaksud menganggu tapi perempuan itu berperasangka buruk terhadapnya,


Rendy, maaf aku menganggu kalian, aku hanya ingin mengembalikan ini, ucapnya sambil memberikan kantongan itu pada Rendy, sampaikan terima kasihku pada ibumu, masakannya sangat enak sekali. Lanjutnya sambil melirik sejenak ke arah perempuan yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tidak suka...


Aku akan pergi, maaf menganggu kalian, imbuhnya dan hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba suara Rendy mengurungkan langkahnya.


Kau pulang bersama siapa, katamu kau tidak membawa mobil? Tanyanya dengan tatapan dalam, membuat perempuan yang di hadapannya berdecak kesal saat melihat Rendy begitu perhatian pada Kinaya


Pandai sekali sekertaris baru ini menarik perhatiannya... gumam perempuan tersebut


Sayang,, kenapa kau jadi perhatian padanya, aku ini kekasihmu, ucapnya dengan suara manja sambil menggelayuti tangan Rendy, laki laki itu hendak menepisnya namun tangannya begitu kuat merengkuh lengannya...


Aku bisa mengantarmu kalau kau mau? Lanjutnya tanpa memperdulikan perempuan yang sedang memeluk lengannya,


Kinaya sejenak melirik kearah tangan itu dan pemiliknya melototkan kedua bola matanya tanda ketidaksukaannya pada Kinaya


Terima kasih Rendy, tapi aku tidak akan merepotkanmu, aku akan pulang bersamaa---, jawabnya menggantung tatkala sebuah mobil mewah sedang memasuki halaman gedung dengan bisingan klakson yang tidak berhenti memanggilnya, Kinaya sangat mengetahui pemilik mobil tersebut,


Aku permisi Rendy, jemputanku sudah datang, tanpa ada jawaban darinya Kinaya segera meninggalkan dua manusia tersebut, sepasang mata menatapnya dengan tatapan kecewa sedangkan pasangan mata satunya menatapnya dengan sangat tidak suka.


Lepaskan! Teriaknya dengan suara kesal


Tangannya seketika terlepas dari pegangan yang sedari tadi merengkuhnya,


aku tidak suka kau mengatakan itu tadi, dan berhenti mengangguku Laurel,,,


Kau selalu saja bersifat dingin di hadapanku, sedangkan sekertaris baru itu kau sangat ramah...


Jangan-jangan kau menyukainya, tanya nya dengan penuh selidik, namun pertanyaan itu tak di jawab oleh Rendy. Ia segera meninggalkan perempuan itu dan hendak memasuki mobilnya dengan perasaan kesal.


Liat saja, aku akan membuatnya tidak betah bekerja di sini, gumam Laurel dengan licik.


^


Maksudmu Rendy, tanyanya bingung karena tatapan itu mengarah kesana


Rey mengalihkan pandangannya, kedua mata hitam itu sedang melotot kearah perempuan yang sedang berada di sampingnya,


Dia ini kenapa selalu melihatku seperti itu, gumamnya dengan perasaan kesal dan takut, ia menundukkan pandangannya tidak berani menatap mata yang sedang melihat ke arahnya...


Kau jangan coba-coba dekat dengan pegawai laki-laki di kantor ini, ucapnya dengan nada dingin.


Kenapa.? Kinaya mengangkat kepalanya dan memberi pertanyaan yang membuatnya merasa tidak mengerti.


Karena aku tidak suka, jawabnya dengan malu meski dengan wajah yang terlihat kesal.


Kinaya mengernyitkan keningnya dengan sangat heran, bahkan ia tidak mengerti maksud perkataan dari laki-laki di hadapannya saat ini.


Suasana menjadi begitu hening, seiring perjalanan itu Kinaya masih mencerna baik-baik maksud dari setiap ucapan Rey namun otaknya terlalu sulit untuk memahaminya,


Rey sesekali melirik kearah Kinaya yang sedang menatap jalan dengan begitu fokus, pikirannya juga meleset kemana-mana tentang perempuan yang sedang ia bawa saat ini.


^


Rendy sedang mengendarai mobilnya dengan rasa penasaran akan sosok yang menjemput Kinaya, rasanya begitu kecewa saat mengetahui Kinaya di jemput oleh seseorang meski ia tidak tahu sosok itu adalah seorang perempuan atau tak lain ialah kekasihnya sendiri, pikiran itu terus memenuhi kepalanya, rasa keingintaunya sangatlah besar, bagaimana tidak saat perhatiannya kepada perempuan itu menyadarkan bahwa ia begitu mengagumi sosok perempuan tersebut....


~


mmm.. pak Rey, panggilnya dengan pelan sambil melirik kearah pemilik nama tersebut, ia kembali menunduk saat mata itu kembali menatapnya dengan tatapan dingin dan sangat mengetahui maksudnya.


maksudku Rey, ulangnya membuat pemilik nama itu mengubah mimik wajahnya namun tidak memperlihatkan pada Kinaya


ada apa? Tanya nya dengan suara yang tidak ramah


kembalikan kunci mobilku, pintanya dengan berani karena memang itu haknya meminta barang miliknya,


laki laki itu hanya tersenyum akan permintaan itu


Kenapa kau ketawa, tanyanya dengan kesal


Kau sangat lucu, jawabnya dengan suara kembali dingin,


Apa yang lucu, itu hakku meminta barang milikku apa kau sebegitu berkuasa ingin mengaturku hanya atas dasar kerja sama kita, kau salah. Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya,


Lakukan saja, aku juga tidak akan mengembalikan kunci mobilmu karena itu juga akan menjadi milikku, jawabnya dengan santai


Aku tidak memiliki hutang kepadamu, kau tidak punya hak memiliki barang-barangku, ketusnya dengan kesal,


Waw, ternyata kau bisa marah? Ledeknya membuat perempuan itu mengumpat dengan sangat kesal.


Aku bisa marah lebih dari ini jika kau terus mengaturku, ucapnya ketus


Benarkah, aku akan terus melakukannya, balasnya dengan wajah bersemangat, Kinaya tidak lagi bisa mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi mengumpat di hatinya karena itu akan terdengar sangat kasar, Rey meliriknya dengan perasaan begitu menang...


Perjalanan kembali hening, hingga akhirnya laju mobil tersebut berhenti pas di halaman rumah yang terlihat sederhana ini.


Apa kau sebegitu nyamannya duduk di kursi mobilku? Tanyanya dengan meledek karena melihat perempuan itu tidak menyadari kalau mobil yang ia tumpangi berhenti di halaman rumahnya.


Ucapan Rey membuat ia seketika terbangun dari lamunannya, ia sejenak melirik dengan kesal ke arah Rey,


Turunlah!, kau sudah sampai.


Perintahnya dengan suara terendah


Kinaya seketika beranjak dan hendak turun dari kursi penumpang yang berada di samping kemudi,


Tunggu! Teriak seseorang dari samping, orang itu tak lain ialah Rey yang sama sekali tidak berpindah dari posisi duduknya,


Apa kau juga mau mengambil rumahku, ambil saja, tukasnya kembali kesal


Waw, apa ini marahmu yang luar biasa itu? Pancing Rey


Huuuurgggghh, teriaknya dengan sangat murka, kedua tangannya mengepal dan siap untuk di daratkan pada tubuh yang ada di hadapannya, namun ia sadar kalau emosinya sedang terpancing membuat ia segera membuka kepalan tangan itu,


Ternyata marahmu tidak sehebat yang aku kira, kau sangat jelek dengan wajah seperti tadi, Rey tiada habisnya memancing emosi perempuan yang sangat menggemaskan di kedua pandangan matanya...


Ust, jangan marah, aku hanya bercandaa, bagaimana pun kau tetap terlihat sangat cantik, godanya namun tidak membuat perempuan itu merubah raut wajahnya,


Matahari sudah lelah menyaksikan adegan menakutkan ini, cepat masuklah dan jangan lupa mandi agar kau terlihat semakin cantik, dan satu lagi, ucapnya sambil melihat kearah Kinaya dengan wajah yang tidak memiliki raut ramah,


Besok aku akan menjemputmu, lanjutnya di selingi senyuman yang begitu berarti.


Aku tidak mau, teriaknya sambil menghempas kasar pintu mobil tersebut,


Ternyata memancing amarahmu begitu sangat menyenangkan, aku seperti tidak ingin jauh darinya. Gumamnya dengan mata terpejam dan kepala yang menyandar di bagian kursi kemudinya,


Mohon dukungannya,πŸ™πŸ’•


Jangan lupa tinggalkan likeπŸ’žπŸ’žπŸ’ž