
Tolong buat yang berkomentar ceritanya Renata dan Rava tidak menarik, tidak usah di ceritakan lagi. maaf...Saya enggak bisa, tolong di hargai pembaca lainnya yang menikmati cerita mereka. Karena dari itu, cerita mereka tetap akan saya buat, karena memang sejak di Terpaksa Menikah Rava dan Renata yang duluan saya umumkan. Jadi tolong di ikuti saja setiap alur dari karakter masing-masing karena sudah ada ceritanya dan porsinya.
.
.
.
Rava dan Renata sudah bersiap untuk menyapa kedua orang tua mereka. Keluar dari rumah mereka menuju mobil Rava. Dengan perasaan yang masih berbunga-bunga dan bahagia, keduanya berangkat ke tujuan utama mereka yaitu kediaman Raka.
Karena berhubung itu adalah akhir pekan, pastilah seluruh keluarga mereka memilki waktu untuk berkumpul di rumah. Tanpa ada pemberitahuan sama sekali pada kedua orang tua Rava, akan kedatangan mereka berdua, karena Rava ingin memberikan surprise pada Eva dan juga Raka.
Hanya butuh beberapa menit saja, mobil Rava memasuki area parkiran rumah Raka. Jarak Rumah Raka, Rava dan Varel tidaklah jauh. Karena itu sudah di pikirkan oleh Rava untuk kebaikan Renata. Siapa tau saja, suatu saat nanti jika memerlukan bantuan apapun, tidaklah jauh dari kediaman mereka.
"Ayo turun sayang." ajak Rava dengan melepas seatbeltnya.
Renata mengikuti Rava yang sudah keluar dari mobil, dan keduanya bersama-sama berjalan mengarah pintu masuk. Rava menarik handle pintu rumah orang tuanya dan langsung di sambut dengan Kiki yang mendengar suara mobil Rava sebelumnya.
"Selamat datang Tuan Rava dan Nona Renata, silahkan masuk.. Bu Eva dan Pak Raka ada di kamarnya." ucap Kiki bersemangat.
"Halo Bu... Terima kasih sudah menyambut kedatangan kami berdua." ucap Renata dengan tersenyum.
"Ibu kesayanganku.... Terima kasih. Ibu sehat kan?" Rava memeluk tubuh Kiki.
"Sehat dong Tuan muda... Ayo masuk, Ibu masih bau kenapa di peluk-peluk Tuan muda. Nona Renata saja di peluk kan masih harum-harum pengantin baru." ledek kiki.
"Duh... Bu Kiki bisa aja nih. Renata kan malu, Bu."
"Sok malu kamu, padahal malu-maluin ya. Sudah ayo kita ke kamar Mama dan Papa." ajak Rava ke Renata.
Keduanya berjalan menuju anak tangga menuju kamar orang tua Rava. Dengan bersemangatnya menaiki anak tangga, Rava yang sangat merindukan mama dan papanya ingin cepat-cepat melihat mereka. Setelah tiba di depan pintu kamar Rava dan Eva, Renata dan Rava saling memandang.
"Apa baik-baik saja kita mengganggu Mama dan Papa?" Renata merasa tidak enakan, menggangu mesra-mesranya Raka dan Eva pikirnya.
Rava menyentuh kening Renata dengan membulatkan jarinya, "Pikiranmu kotor!" kata Rava sambilan tertawa kecil.
Renata mencebikkan bibirnya dan menyentuh keningnya yang berasa berdenyut, "Kali aja kan... Aku takut kita menganggu mereka. Bagaimana kalau kamu di posisi seperti itu?" tanya Renata lagi.
Rava tertawa, "Kau semenjak menikah suka berhalusinasi soal begituan ya. Tidak mungkin... sudah ketuk pintunya."
"Enggak agh...Kamu aja... Aku takut." Renata menolak hendak pergi dari depan kamar Raka dan Eva.
Rava sigap menarik tangan Istrinya, "Sini... Papa dan Mama sangat senang melihat menantunya datang!"
Tidak menunggu jawaban Renata, Rava mengetuk pintu kamar orang tuanya sambil berkata, "Tuan... Nyonya... Makanan sudah selesai di hidangkan." teriakan Rava membuat Renata tertawa.
"Tuaaaannn Raka, Nyonya Eva... Makanan sudah siap di hidangkan." panggilnya sekali lagi.
Renata memukul pundak suamianya yang menjadi aneh tersebut.
"Iya sebentarrrr." jawab Eva dari dalam.
"Kau dengar? Itu suara Mama." kedua mata Rava berbinar.
"Iyaa... Bagaimana ini? apa kita tidak mengganggu mereka?" bisik Renata lagi.
"Tidak sayang... Tenanglah" balas Rava.
Tak lama suara handle di tarik dari dalam terdengar, "Kenapa Ki—" kedua mata Eva membulat sempurna saat wajah Rava yang tersenyum menatap Eva, "Rava." seru Eva dengan cepat memeluk tubuh putranya.
"Iya Mamaku sayang.... Ini anakmu." balas Rava dengan memeluk erat tubuh Eva.
"Siapa Ma?" tanya Raka dari dalam sana.
"Anak kita dan menantu kita Pa." jawab Eva dengan melepaskan pelukannya dari Rava dan menyentuh wajah Rava, lalu berpindah ke Renata yang sudah tersenyum ke arahnya dan memeluk tubuh Renata dengan erat.
"Bagaimana sayang? Apa bulan mudamu menyenangkan?" tanya Eva ke Renata.
"Sangat menyenangkan Ma." balas Renata dengan malu.
Eva melepaskan pelukannya dan menyentuh kedua pipi Renata.
"Bagulsah kalau Kamu senang Sayang... Mama malahan khawatir, kalau Rava tidak bisa memberikan bulan madu yang romantisnya seperti Papanya."
"Kenapa membawa diriku?" tiba-tiba Raka keluar dari dalam menampakkan wajahnya di depan pintu.
Raka langsung memeluk tubuh Rava.
"Anakku... Bagaimana Nak?" tanya Raka ke Rava sambilan menepuk pundak Rava.
"Baik Pa." balas Rava juga dengan eratnya memeluk tubuh Raka.
"Bukan itu maksud Papa Nak," ucap Raka melonggarkan pelukannya dan berpindah menatap ke Renata serta tersenyum dengan memberikan sentuhan lembut pada puncak kepala Renata.
"Terus maksud Papa apanya?" tanya Eva ke Raka.
"Itu loh... Cucu." Raka tertawa kecil dan sungkan.
"Astaga Papa Raka... sabar ya Pa... belum juga sebulan." kata Rava dengan malu, begitu juga dengan Renata yang merasa malu.
"Kamu ini aneh-aneh saja Ya." bisik Eva ke Raka.
"Egh... ayo masuklah, kita duduk di dalam." ajak Raka pada kedua anaknya.
Eva langsung menarik lengan Renata dan memeluknya, bersama-sama masuk ke dalam kamar orang tua mereka.
"Duduklah Nak..." Raka mempersilahkan Rava dan Renata duduk di sofa kamarnya.
"Duduk dulu, biar Mama ambilkan minuman." bisik Eva ke Renata dan tersenyum.
Eva berjalan keluar kamarnya, sedangkan Raka memulai obrolan.
"Bagaimana Nak?"
"Apa lagi Pa? Cucu lagi?"
"Bukaannn... Maksud Papa bagaimana keputusan kalian mulai dari sekarang? Memang sudah pasti menetap di Jakarta?"
"Iya Pa... Rava sudah putuskan membiarkan perusahaan di sana dengan bantuan orang yang Rava percaya mengisi posisi Rava di sana. Rava akan memulai di sini, perusahaan yang Papa pimpin sebelum di Atmadja. Bolehkah Pa?"
"Pasti boleh dong.. Kenapa tidak? itu peninggalan Kakekmu yang masih Papa pegang. Tidak masalah, Papa akan mengurusnya karena perusahaan itu juga membutuhkan pemimpin tetap." balas Raka serius.
"Baiklah Pa... Rava setuju. Terima kasih Pa." balas Rava dengan tersenyum kecil.
Kini mata Raka berpindah ke Renata, "Bagaimana dengan kamu, Nak? Apa kamu masih mau bekerja?"
Renata terkesiap, sejenak beradu pandang dengan Rava. Rava tersenyum dan menyentuh punggung tangan Renata dan menganggukan kepalanya.
"Masih Pa... Renata masih ingin bekerja." balasnya sopan.
Raka tersenyum, "Tidak masalah Nak, dulu Mama kamu Eva juga bekerja. Tapi resign karena mau melahirkan suami Kamu. Tidak perlu takut, keputusan ada di tangan kalian berdua. Kesepakatan bersama itu lebih baik. Jangan sampai ada yang gak enakan di salah satu pasangan kita. Itu bahaya, apa lagi di diamkan. Rasanya seperti makan sayur yang pahittttt banget." curhat Raka membuat Rava dan Renata tersenyum.
"Karena dulu.. Papa kalian sangat cemburuan." ucap Eva yang barusan datang dari luar dengan membawa nampan berisi jus dan cemilan kue.
"Jangan buka aibku dong Ma. Kan malu di depan menantu." Raka menatap sedih ke Eva.
"Biarin... Apa lagi tuh, Papa kalian ini sangat manja... kadang Mama sampai bingung."
"Dari pada manjanya ke Istri tetangga, kan bisa berbahaya sayang." Raka berucap tanpa dosa.
"Coba saja kalau berani!" ketus Eva sambilan mendaratkan tubuhnya di samping Raka.
Sangatlah senang bagi Rava masih bisa melihat keharmonisan Raka dan Eva sebagai panutannya. Membuat Rava ingin bertekad, akan memperlakukan Ranata seperti Papanya memperlakukan Mamanya Eva.
"Paaa... Maaa..." panggil Rava membuat kedua orang tuanya berhenti saling sindir.
"Iya Nak." balas Eva dengan lembut, Raka menatap ke Rava.
"Dua minggu dari sekarang, Vara akan di wisuda. Dan setelah itu, Rava meminta Vara untuk kembali ke Jakarta." ucap Rava dengan tegas.
"Benarkah?Wah.. Putri kecilku akhirnya... Ternyata waktu sangat cepat berlalu. Sekarang di sudah sangat besar." balas Raka bernostalgia.
"Papa dan Mama harus menyusul ke sana Rava, sebelum hari tepatnya Vara di Wisuda." balas Eva.
"Iya Ma. Rava setuju, biar Rava yang mengatur keberangkatan Mama dan Papa. Karena... Papa dan Mama haruslah mendampingi si anak manja itu. Kalau diantara kita tidak ada yang datang, mungkin dia akan bersedih dan sangat marah." ujar Rava sambilan tertawa kecil mengingat wajah Vara yang marah-marah.
"Iyaaa... pasti kami akan ke sana Nak. Kalian tidak usah ikut, kasihan Renata kelelahan." Raka mengingatkan.
"Iya Pa... Apakah usai Vara di wisuda dia akan di nikahkan Pa?"
.
Jangan lupa Tekan Like dan VOTE nya ya...🥰