
Jenny terdiam tanpa kata, perasaan tegang menyelimuti dirinya. Bagaimana tidak, James sama sekali tidak memberitahukannya terlebih dahulu. Membuat Jenny tidak memiliki waktu untuk mempersiapkan dirinya.
Beberapa menit kemudian, James menghentikan mobilnya di carport rumahnya. Jenny melirik ke James dan menyentuh lengan James saat Ia melepas seatbeltnya.
"Kenapa? Turunlah." James menatap bingung ke Jenny.
"James... Kau yakin? Apa mama dan papa mu mau menerima ku?"
"Aku gak yakin." James melirik ke Jenny dan tersenyum.
"Kaaan... Kau sendiri saja tidak yakin, bagaimana denganku? Ayo.... antar aku pulang!" rengek Jenny.
"Adindaku sayang... Kau ini belum mencoba sudah berpikiran yang aneh-aneh. Mama dan Papa ku baik kok, gak gigit juga. Kenapa Kau jadi takut begini?"
"Ini pengalaman pertamaku James." Jenny menunduk.
James tersenyum, lalu Ia menyentuh punggung tangan Jenny untuk meyakinkan kalau keluarganya tidak seperti yang di pikirkannya.
"Kau itu pasti di senangi oleh orang tuaku. Ini juga pengalaman pertamaku. Jadi, kita sama-sama berjuang. Kau kan tidak sendiri sayang, dan jika mereka tidak menyukaimu, kita akan buat sampai mereka menyukaimu. Bagaimana?" tanya James untuk meyakinkan.
Jenny melirik ke James yang masih tersenyum.
"Kau benaran yakin?" sekali lagi Jenny memastikan untuk memantapkan dirinya.
"Yakin.. Karena Aku ingin serius denganmu Jen. Jika kau kembali ke tempatmu, Aku sudah yakin mejalani hubungan jarak jauh , sampai kita benar-benar menyatu, kaya roti tawar di olesin selai srikaya." James mengajaknya bercanda.
"Enak tuh." ujar Jenny.
James malahan tertawa.
"Kalau makanan aja langsung di bilang enak." sindir si James.
"Iya dong.. kan hobinya makan." balas Jenny dengan seulas senyuman.
"Ya sudah... Ayo turun." ajak James dengan melepas seatbeltnya.
Jenny pun mengikuti James, keduanya sama-sama turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk. James mengetuk pintu, Jenny melingkarkan tangannya ke lengan James, Ia merasa jantungnya cenat cenut, seperti genderang mau perang. Jenny berasa berada di dunia peperangan, untuk mendapatkan hati keluarga James.
James menepuk kecil punggung tangan Jenny, agar Ia tidak berpikiran buruk seblum bertemu dengan mamanya Anna. Tak lama pintu terbuka,wajah tegang Jenny melirik ke depan, melihat siapa yang membukakan pintu mereka.
"Selamat siang Nak James, silahkan masuk." kata Mba Santi asisten rumah tangga di rumah Jimmy.
"Siang Mba... Mama lagi apa Mba?" tanya James.
"Ibu ada di dapur Nak James... lagi buat puding untuk bapak." balas Mba Santi ramah.
"Okey.... mari kita berperang." bisik James ke Jenny.
Keduanya melangkah dengan pasti, sepasti hati abang buat adik. Begitulah James, dengan senyum merekah dari bibir merahnya berjalan dengan menggandeng tangan Jenny menuju dapur. Hingga keduanya tiba di ruangan dapur, di mana Anna suka berperang dengan alat-alat dapurnya.
"Good morning selamat pagi, baju kuning belum mandi." ucap James dengan tertawa kecil ke Anna yang sedang memakai baju kuning sedang mengaduk-aduk masakannya.
"Apaan sih Kamu, James. Gini-gini Mama sudah mandi sejak bangun tidur tadi pagi. Kamu kenapa sudah pul—." Anna berbalik dari mengaduk masakannya, menatap kaget ke James yang membawa seorang gadis ke rumahnya.
Anna terkesiap, dia merasa gugup dengan anaknya. Dengan cepat Anna berjalan dan menarik tangan James , lalu Anna memukul bokong James.
"Anak gadis siapa Kamu culik James! ayo ngaku agh...." Anna menggebu-gebu memukul bokong si James.
"Awww... widih... awwwww.." James mengadu sakit dengan menyentuh bokongnya.
"Cepat katakan! Anak gadis siapaaaa yang kamu culik James?" Anna menatap tajam ke James yang wajahnya berubah mengerut karena mengadu sakit.
"Maaf Tante... Saya gak di culik kok sama James. Saya yang mau kok Tan." Jenny mencoba menjelaskan dengan suara yang sendu.
Anna berpindah menoleh ke Jenny, "Kamu gak bohong kan Nak?" tanya Anna mendekatinya.
Jenny tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Iya Tante, kenalkan nama saya Jenny, Tan. Saya pacarnya James." Jenny mengulurkan tangannya ke arah Anna.
Anna terperanjak dengan menatap bergantian ke Jenny dan James, seakan Ia tidak percaya dengan ucapan Jenny.
"Kok diam sih Ma? Malahan bengong aja, itu calon Menantunya mau kenalan loh!" sindir James membuat Anna tersadar.
"Agh.. I—Iya Jenny ya.. Kenalkan Tante namanya Anna, Mama kandungnya si James. Maaf ya... Gagal fokus, kurang minum. Jadi seperti ini kalau kurang cairan, agak lupa" balas Anna dengan membalas uluran tangan Jenny.
"Tidak apa-apa Tan..."
"Ayo sini duduk, kalian sudah makan siang?" tanya Anna ke Jenny.
"Sudah Tante.... Tadi sudah makan sebelum ke sini." balas Jenny sopan.
"Hemmmmm... Sebentar Tante matikan dan tuangkan dulu masakan Tante untuk papanya James ya." ucap Anna berjalan ke arah kompor.
“Bagaiamana? mamaku baik kan?” bisik James ke Jenny.
Jenny mengangguk dan tersenyum, “Sangat baik malahan," balasnya berbisik.
“Yeee… Bisik-bisik tetangga ya? Duh Mama kok enggak percaya ya ini pacarnya kamu , James?” tanya anna menarik salah satu bangku di depan James dan Jenny.
“Yeee… Mama ini selepe banget sama anaknya sendiri. James gini-gini banyak menolak anak gadis Ma, demi menanti cinta pertama James,” balas James.
“Cinta pertama James? Kalian sudah kenal lama? kenapa Mama tidak pernah mengenal Jenny, Nak?” tanya Anna.
“Awalnya bukan Ma, Jenny ini satu kelas dengan Vara waktu SMP. Dan SMA, Jenny pindah sekolah. Karena itu saat James lulus minta pindah sekolah juga, karena Jenny, Ma. Egh lagi sayang-sayangnya malahan putus karena Jenny berkuliah di luar negeri. Ternyata jodoh gak mandang Negara ya Ma? Jenny malahan minta balikan saat berlibur nih ke Jakarta, membuat James gak bisa nolak kedatangan sang Dewi cinta seperti Jenny Ma,” ungkap James.
“Dih… Sok romantis banget sih kamu. Apa benar ini? Gak gombal kan James?”
“Benar Ma… tanyain itu orangnya kan masih hidup.” balas James.
“Dih ya iyalah masih hidup, ngomong kok sembarangan. Kalau begitu dari Jenny, Tante mau tanya sesuatu dari kamu sayang. Boleh ya?” tanya Anna ke Jenny.
“Dih apaan sih Mama, tanyai James aja dong. Jangan Jenny, Jenny kan malu Ma,” kata James dengan menatap Anna.
“Sudah.. kamu sudah cukup. Sekarang kekasihmu, Mama pengen tau juga.” balas Anna dengan menatap James melotot.
“Tidak apa-apa Tante, mau tanya apa ya Tan?” tanya Jenny.
“Hemmmm.. Kalau boleh tau, kenapa kamu menerima anak Tante si James? Bukannya si James ini rada ada aneh-anehnya?” tanya Anna.
“Apaan? ini hak Mama kamu loh James untuk tau apa yang bisa di lihat Jenny dari kamu yang aneh ini.” ledek si Anna.
“Gak sah di jawab sayang, Mama ini resek” balas James.
“Tidak apa-apa James, boleh Jenny jawab Tante?” tanya Jenny.
“Boleh dong sayang, Tante ingin tau, ayo silahkan di jawab.” balas Anna.
“Hemm.. Maaf sebelumnya Tante, kenapa Jenny bisa menerima James sebagai kekasihnya Jenny, ya karena itu keanehannya si James yang Tante katakan. James orangnya asik Tan, lucu, jadi kalau di dekat James bawaanya happy mulu, Gak mesti-mesti harus romantis, gak perlu terlihat harus bagus, bersama James itu bisa menjadi diri sendiri. Apa adanya sih Tan,” balas Jenny dengan semangatnya.
Anna yang sedari tadi senyum-senyum sendiri menatap kekaguman Jenny ke James sangatlah terpesona. Kenapa begitu? Karena memang Jenny mengatakannya dengan alami, tidak di buat-buat, apa lagi melebih-lebihkan agar terlihat baik untuk di terima oleh keluarga James. Jenny sedari awal mampu membuat penilaian Anna terhadap dirinya memang sangat baik.
“Bagaimana Ma?” tanya James yang bangga di puji.
“Nilai A.” balas Anna menoleh ke James.
“Yeeeeeeeee… Mama ku memang yang terbaik,” James terlihat bahagia karena Anna menyukai Jenny.
“Baiklah, Kalau begitu Jenny di Jakarta sama siapa?” tanya anna.
“Sama mama dan papa , Tan. Jenny memang asli anak Jakarta Tante, hanya berkuliah di luar.” balasnya dengan lembut.
“Baguslah, kalau begitu kita menunggu papa Jimmy untuk makan malam, tapi setidaknya izin dulu dengan kedua orang tua kamu, kalau di izin kan kamu makan malam bareng kita sayang. Kalau tidak, Tante juga tidak keberatan,” balas Anna dengan kedua mata berbinar.
Setelah menghubungi orang tuanya, Jenny di izinkan karena kedua orang tua Jenny lebih dulu tau hubungan Jenny dengan James. James memang berniat untuk menakhlukan hati dari keluarga sang kekasih, barulah berani membawa Jenny ke keluarganya. Terutama untuk Anna dan Jimmy, James mengawalinya dengan baik. Di sinilah, Jenny membantu Anna mempersiapkan malam malam mereka, meskipun Anna menolak agar Jenny tidak turut membantunya, Jenny tetap saja berkeras untuk membantu Anna. Lagi-lagi Anna di buat kagum oleh Jenny, Ia terlihat sangat cekatan dalam membantu Anna dan Mba Santi.
“Apa di sana kamu suka masak?” tanya Anna ke Jenny.
“Iya Tante, karena mama melarang memakan makanan cepat saji, karena itu Jenny menyempatkan memasak sendiri makanan sehari-hari Jenny,” balas Jenny yang membantu Anna menggoreng ayam crispy.
“Wah.. pantesan saja sangat telaten. Kamu memang anak mandiri.” balas Anna.
“Terima kasih Tante,” balas Jenny.
Beberapa menit kemudian, seluruh masakan sudah terhidang, dengan tepatnya si Jimmy pulang dari kerjaanya.
“Selamat malam Ratu yang mengisi hatiku,” kata Jimmy berjalan menghampiri meja makan.
“Selamat malam suamiku, buruan naik ke atas dan bersih-bersih, kita akan malam.” ucap Anna.
Jimmy yang menghampiri Anna dengan mengecup kening Anna, tiba-tiba kaget saat kedatangan Jenny dari kamar mandi menuju meja makan.
“Siapa dia sayang? Anak perempuan kita?” tanya Jimmy berbisik ke Anna, matanya berkedip dengan cepat.
“Dia calon menantu kita sayang,” balas Anna tersenyum ke Jenny.
“Jenny, ini namanya Papa Jimmy, Papa kandungnya James,” ujar Anna ke Jenny.
Jenny langsung tersenyum dan berjalan mendekati Jimmy ingin memberikan penghormatannya.
“Selamat malam om, saya Jenny Om” sapanya mengulurkan tangannya’
“Selamat malam Nak Jenny temannya Jinny ya?,” balas Jimmy dengan membalas uluran tangan Jenny sambil meledek.
“Itu Jinny oh Jinny maksud kamu. Nama kalian mirip semua.” ledek Anna.
“Iya ya, jadi Triple J dong? wah.. Kamu benaran nih pacarnya James?” tanya Jimmy memperhatikan Jenny.
“Benaran Om.” balas Jenny.
“Kok mau?” tanya Jimmy bingung.
“Mama sama Papa benaran sama-sama aneh ini! pertanyaan pertama yang kalian lontarkan benaran merobek harga diri seorang anak,” Sambung James yang turun dari atas.
“Benaran ini Papa serius James, Jenny sangat cantik, kenapa mau sama kamu yang kalah tampan dari Papa gitu loh?” Jimmy membanggakan dirinya, “Kaya gak ada anak lain aja Jen yang lebih tampan dari anak om.”
“Terlalu tinggi imajinasi Papa, atau Papa kekurangan cairan dan ion tubuh nih, jadinya gak nyambung gini,” balas James kesal.
Jimmy mengacak rambut James yang berdiri di samping Jenny,” Gitu saja kau merajuk igh.. Lucu aja sih menurut Papa. Kamu tau Jenny, untuk pertama kalinya si James ini bawa anak perempuan ke rumah ini. Biasanya kaum-kaum rebahan para pria hidung belang yang di bawanya, gak jelas kan? bagaiamana kami sebagai kedua orang tuanya tampak kebingungan kalau kamu mau sama dia, dan kamu bisa berada di sini. Agh… enggak tau aja sih mikirnya, Om mu ini salah melahirkan anak,” ungkap Jimmy.
“Aku yang lahirkan Bang Jimmy,” sambung Anna cepat.
“Oh iya ya.. Lupa sayang, maafkan suami kamu. Ya sudah, tunggulah Aku. Tidak akan lama,” balas Jimmy seraya berjalan ke arah tangga.
“Anakku sudah besar” gumam Jimmy sambil berlalu.
Anna kembali meminta James dan Jenny untuk duduk menunggu kedatangan Jimmy yang mau bersih-bersih. Anna menyendokkan nasi ke masing-masing piring mereka. Beberapa menit kemudian, Jimmy kembali datang dan langsung mendaratkan tubuhnya di bangku sebelah Anna tepatnya di depan kedua anak mudanya.
“Kalian sudah sangat cocok,” sindir Jimmy.
“Iya… Pastilah, James gitu loh.” balas James bangga.
“Dih, sok keren kamu.” balas Jimmy.
“Ayo di makan Nak Jenny, jangan di lihati mulu loh, kan kasihan nasinya kalau di lihati aja, entar malu loh dia. Karena malu, jadinya berubah nasi merah ." ucap Jimmy lagi.
“Iya om,” balas Jenny menahan tawanya.
“Selamat makan Om dan Tante,” ucap Jenny sopan.
“Selamat makan Nak.” balas Anna.
“Makan yang banyak ya Jenny, kalau gak nambah gak boleh pulang loh,” ancam Jimmy.
“Gitu ya Om?” Jenny mendengus takut.
“Tidak, hanya bercanda, makanlah. Kau juga James makan, jangan mengunyah!” sindir Jimmy.
“Ya iyalah di kunyah Pa, kan James ini lagi makan. Giman sih Papa ini?” tanya James.
“Sudah… semuanya makan saja. jangan berdebat lagi, kalian ini ada tamu special masih saja sama seperti biasanya. Gak sopan banget,” ketus Anna.
“Maaf Ma,” balas James.
Keempatnya makan dengan tenang, setelah mendapatkan teguran dari Anna, Jimmy dan James menjadi takut. Sesuai makan malam, Jimmy mengajak anak dan istrinya beserta kekasih anaknya untuk duduk di ruangan santai. Sejenak bertanya tentang kisah antara Jenny dan James yang bisa memadu kekasih. Karena selama ini, Jimmy beranggapan sang anak tidak normal. Bagaiman tidak? Rava sudah menikah dengan Renata, Harsen bersama Vara, Defan bersama dengan Alice, sedangkah anaknya??? untuk pertama kalinya Jimmy yakin anaknya ternyata normal dan pria sejati yang menanti kembalinya sang cinta pertama.
“Menikah muda mau gak?” tanya Jimmy.
Kalau mau tolong bantu VOTE ya hahahah biar saya semangat hiks, semoga besok bisa update dan besok bercerita tentang Vara. Karena dari itu, jika kalian suka karya saya dukung saya dalam bentuk VOTE ya.. yang merasa terbebani saya gak maksa, saya hanya berharap dari kalian semua yang sudah membaca karya saya. Karena naik ranking itu butuh kerja sama penulis dengan pembacanya , bukan penulis sendiri. Sekali lagi saya minta, saya berharap dari pembaca saya, bukan MENEKAN dan MEMAKSA pembaca saya. Terima kasih ^^