My Chosen Wife

My Chosen Wife
PULANGNYA FRANS.



Berikan dukungan kalian pada penulis lewat VOTE Poin/Koin, 2 bab ya.


 


***


Tiba di bandara langsung saja mereka semua berjalan menuju pintu masuk. Dari area parkiran hendak berjalan ke pintu masuk, masih terdengar candaan, tawa serta pertengkaran di antara keluarga Atmadja itu. Sesampainya seluruhnya tepat di depan pintu masuk, Raka tiba-tiba menghentikan langkahnya. Seluruh pandang mata menoleh ke belekang saat saat melihat Raka berhenti.


 


 


"Kenapa Papa berhenti?" Vara bertanya dengan wajahnya yang penasaran.


 


 


Raka berjalan mendekati sang Istri, Ia menarik lembut tangan Eva. Eva yang bingung melihat tangannya dan menatap ke Raka yang membuatnya berdiri di posisi Raka. Raka kembali menarik tangan Vara, Harsen, Rava , Renata, Defan dan Delia secara bergantian, membuat Frans semakin bingung dengan abangnya.


 


 


"Kenapa semuanya bang Raka tarik? Kenapa Frans tidak?" Frans menatap dengan bengong.


 


 


 


 


"Sudah... Kami cuma mau mengantarkan kepulangan dirimu saja. Hussssttt.... Pergilah dengan damai." kata Raka dengan terkikik.


 


 


Seluruhnya tertawa, membuat Frans merasa terintimidasi.


 


 


"Wah... Sepertinya bang Raka memang senang sekali membully diriku." ujar Frans dengan sedihnya.


 


 


"Sudah sana... Kau pulanglah. Biar Anak dan Istrimu tinggal di Jakarta." kata Raka meledek.


 


 


"Bang Rakkkkaaaaaaaaaaaa!" teriak Frans kesal dan hampir menangis.


 


 


Raka tertawa ngakak melihat wajah Frans yang sudah hampir menangis itu. Renata di buat tersenyum dan menahan tawanya.


 


 


Renata menarik pundak Rava dan berbisik, "Kenapa Papa dan Paman Frans tidak bisa akur sayang?" tanya Renata dengan berbisik ke Rava.


 


 


Rava yang semula ikut tertawa kini tersenyum melihat ke Renata, dengan kedua tangan terlipat di atas dadanya dan setengah membungkukkan badannya mendekatkan wajahnya ke Renata, "Karena mereka enggak akrab sayang." balasnya dengan manja.


 


 


 


Renata menatapnya cepat dan membuat bibirnya cemberut, "Kau ini, itu bukan jawaban" bisiknya kesal.


 


Rava tersenyum melihat respon Renata, menarik pipinya karena gemas. Raka masih tertawa hingga air matanya hampir keluar dari kedua pelupuk matanya. Eva yang masih melihat ulah suaminya itu menggelengkan kepalanya. Frans berjalan mendekati Delia yang juga tertawa melihat aksi kedua abang beradik itu, Ia menarik tangan Delia untuk ikut bersamanya, masih dengan wajah seperti mau menangis dan bibir yang di kerucutkan.


 


 


"Kau ini sangat melankolis sekali sayang." bisik Delia sambilan berjalan mengikuti langkahan Frans.


 


 


"Aku di ledekin sayang... kau kata aku melankolis?" Frans menatap ke Delia.


 


Masih di sisa tawanya Raka berkata, "Kau lucu Frans, sudah tua loh, masa iya seperti Defan yang ngambek, mau menangis. Kau membuat perutku ikut tertawa bahagia."


 


 


"Aku?" gumam Defan pada dirinya.


 


 


"Iyalah... Teruslah tertawa bang, Terusssss... sampai terbang." ketus Frans masih sedih.


 


 


Vara mendekati Papanya, "Jangan tertawa terus Papaku sayang... enggak baik untuk kesehatan Paman Frans." ledek Vara lagi.


 


 


Frans semakin patah hati, "Aggh... Vara gak asik deh. Paman enggak sayang sama kamu lagi, bukannya belain Paman malahan ikut mengatai Pamanmu yang di tindas sama Papa kamu loh, masa iya kamu ikutan Nak" ucap Frans bersedih.


 


 


"Astaga.... Vara salah ngomong ya Paman?" tanya Vara manja.


 


 


 


Harsen maju beberapa langkah di antara mereka semua, Ia mengangkat tangannya dan menatap pada jam tangannya.


 


"Pesawat keberangkatan ke Irlandia akan berada di 1 jam lagi, Paman Frans dan Bibi Delia, harus sudah check in dan melakukan Boarding Pass." kata Harsen dengan sangat kerennya.


 


 


 


Frans yang melihat ke Harsen menjadi tertawa, "Baiklah Nak... Kau memang anak yang baik seperti Papamu. Vara sangat beruntung memiliki suami sepertimu,” Frans mendekati Harsen dan merangkul pundaknya.


 


 


“Masih pacaran Paman, belum menjadi suami,” kata Rava mendekati keduanya,”Ayo jalan,” ajak Rava.


 


 


“Iya mari kita jalan,” ajak Raka kali ini dengan nada serius.


 


 


Frans menatap kesal ke Raka, melihat Raka yang berjalan duluan, seketika itu juga pikirannya jorok, Ia berlari ke arah Raka dan memeluk pinggang Raka dengan mesranya. Banyak pasang mata pengunjung melirik ke arah keduanya. Raka menjadi gelisah, saat tangan Frans sengaja di eratkannya dan  tidak mau menatap ke Raka. Wajah Frans menatap ke arah depan dan tidak menggubris tubuh Raka yang terus menggeliat.


 


“Lepaskan Frans!!!” ketus si Raka.


 


 


“Biaran! ini pembalasan ampuh dariku untukmu Bang,” Frans tetap acuh.


 


 


"Mereka berdua kenapa tidak pernah akur ya Mba?” tanya Delia ke Eva.


 


 


“Entahlah Del… Mba sedari kenal dengan Frans, keduanya sudah bgitu. Mungkin bawaan lahir mereka kali ya?” tanya Eva balik dengan tertawa.


 


 


“Karena gen Papa dan Paman itu bertolak belakang Bi, tapi kan mereka saling menyayangi dan saling memahami Bi. Jadi… Kenapa kita harus merasa khawatir. Vara malahan senang, kalau paman Frans bisa seperti itu, tetapi kadang juga ngeselin sih, karena keduanya enggak ada yang mau  mengalah,” timpal Vara sambilan berjalan di dekat mamanya dan Delia.


 


 


“Tetapi Defan dan kamu juga sama seperti Paman Raka dan paman Frans,” kata Harsen menimpali.


 


 


 


 


 


“Tapi Rava dan Vara masih waras kok Bi,” balas Rava dari arah belakang yang berjalan dengan merangkul pinggang Renata.


 


 


“Terus.. Defan enggak waras gitu kak?” tanya Defan tiba-tiba.


 


 


Rava melihat ke Defan, “Waras kok… tenang saja, itu hanya kosakata,” kata Rava lagi.


 


 


 


 


“Hah.. Aku memang tidak pernah berpikir, memiliki Keluarga yang persaudaraan mereka sangat unik Del,” imbuh Eva.


 


 


“Apalagi Delia, Mba. Terhibur sih melihat mereka, walaupun sifat manja Frans enggak pernah pudar ya Mba,” kata Delia lagi.


 


 


 


 


“Benar Delia,” balas Eva lagi.


 


 


Tidak ada tampang dan paras kesedihan dari wajah mereka semuanya karena keberangkatan Frans. Karena bagi mereka, Frans itu sosok orang yang tidak cocok  untuk di tangisi. Tingkah kocaknya saja yang membuat mereka merindu, terkecuali Raka. Raka memang tidak pernah bersedih, tetapi jauh di lubuk hatinya, Frans itu sama halnya dengan Eva, Rava dan Vara. Sosok adik yang sangat ia sayangi. Apa lagi kalau ia mengingat pesan dari Neneknya Lusi, terkadang membuat Raka kembali lagi mengingat masa kecil Frans.


 


 


“Jaga dia seperti dirimu sendiri, lindungi dia dan keluarganya, seperti kau menjaga Eva dan keluarga kecilmu. Nenek sudah memutuskan, Frans itu adalah cucu yang ku anggap sedarah denganmu, apapapun yang menjadi masalahnya kelak, kau punya hak untuk membantunya. Kau dan Frans sama-sama berharga untuk Nenek. Ingatlah.. Frans itu  sedari dulu menganggapmu Papanya dan Abangnya sekaligus. Kau tahu sendirikan Raka? semenjak meninggalnya papa Frans, kau tahu betapa dilema dan hancurnya dia. Nenek cuma mau menitipkan dia hanya pada mu Raka. Nenek tahu kalian suka bertengkar, tetapi dari dalam lubuk hati kalian berdua, kalian saling menyayangi dengan cara kalian berdua. Bersama selalu dalam membangun usaha yang di tinggalkan oleh Kakekmu, Papamu sudah selesai bertugas, tinggal Kau dan Frans yang melanjutkan usaha kami.” saat Lusi mengangkat Frans menjadi cucu kandungnya, di saat itulah Raka di berikan pesan penting dari Lusi.


 


 


 


Masih berjalan bersama, Raka bukan lagi meminta Frans untuk melepaskan pelukannya, Raka malahan merangkul pundak Frans dengan mesra, Ia tidak mau kalah dengan si Frans. Berjalan bersama dengan lenggokan yang di buat manja. Jadilah keduanya menjadi tatapan para pengunjung dan tersenyum mengarah ke Frans dan Raka. Vara menepuk keningnya merasa malu dengan keduanya. Rava menggelengkan kepalanya dan tersenyum, sama halnya dengan Renata, rada gila pikir mereka.


 


 


Sampai di tempat check in, akhirnya keduanya pun melepas pelukan mereka dan tertawa bersama,


 


 


“Kau memang adik gila!” kata Raka dengan tertawa.


 


 


“Bang Raka lebih parah gilanya, mau aja punya adik gila!” kata Frans tertawa.


 


 


“Ya sudah… Kalian hati-hati di perjalanan pulang, cukup sampai di sini mengantarkan kami. Maafkan kami sudah merepotkan kalian beberapa hari ini,” Delia menatap pada seluruhnya.


 


 


“Tidak.. Delia. Kau tidak pernah merepotkan kami, cuma lakimu aja yang suka buat repot,” balas Raka dengan santai.


 


 


“Hah Aku lagi.. iyalah, suka Bang Raka saja asal dirimu senang, payah kalau sudah tua suka keceplosan,” gumam Frans ke raka.


 


 


“Yayayay.. Kalau begitu kami pulang. Kalian hati-hati, jangan lupa mengabarkan kami,” ucap Raka lagi.


 


 


“Ya… Jangan lupa juga merindukan Aku,” balas Frans.


 


 


“Hemmmmm… Kalau ingat,” kata Raka pelan.


 


 


 


 


“Okey Paman Frans dan Bibi Delia…Terima kasih sudah datang ke pesta pernikahan Rava dan Renata. Terima kasih juga  buat kadonya, semoga bisa bermanfaat” Rava menundukkan setengah badannya.


 


 


“Iya Paman dan Bibi, Terima kasih untuk segalanya. Berkat dari pada sang maha kuasa di berikan ke pada Bibi dan Paman,” Renata menimpali.


 


 


“Iya Rava dan Renata, semoga kami mendengar kabar baik dari kalian. Juniornya Atmadja,” balas Delia.


 


 


“Iya.. yang banyak… jangan lupa putar music kalau lagii hemmm.. biar enggak ada dinding yang mendengar aungan kalian,” ledek Frans.


 


 


“Astaga Paman… Sudah sana masuk. Paman mengotori pendengaran Vara dan DEfan.” kata Vara dengan tatapan tajamnya.


 


 


“Hahahah.. Baiklah… Sampai jumpa di lain waktu. Titip Defan anakku yang tertukar Bang,” kata Frans ke Raka.


 


 


Raka mengangkat tangannya dan tersenyum ke Frans. Defan menatap pada Mama dan Papanya, karena sebelumnya sudah berpelukan,Ia tidak ingin lagi memeluk kedua orang tuanya, karena takut menangis.


 


 


“Ma… Pa.. Hati-hati di dalam penerbangan, sehat sampai di rumah,” kata Defan sebelum Frans dan Delia melangkah.


 


 


“Baiklah Anakku,” jawab Frans, “Ayo sayang,” ajaknya ke Delia.


 


 


Delia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya dan bersama Frans berjalan meninggalkan keluarga yang mereka sayangi. Kedua mata Defan menjadi berkaca-kaca, menatapi kedua orangtuanya yang hendak balik ke kampong halaman keluarga kakek Raka.


 


 


“Aku hanya pergi tuk sementara, bukan untuk meninggalkanmu selamanya, ku pastikan kembali pada dirimu, tapi kau jangan nakal, Aku pasti kembali,”  Raka menyanyikan sebuah lirik lagu dari Pasto Aku pasti kembali dan berjalan memutar menuju pintu keluar.


 


 


 


 


“Dasarrrr Paman jahat,” gumam Defan dengan air matanya yang sudah menetes.


 


 


 


 


.


Thor Rava dan Renatalah, Vara dan Harsenlah, Tolong kalian ikuti saja, setiap peran ada masing-masing porsinya. Enggak mungkin loncat-loncat. Saya masih menyelesaikan  ceritanya Frans, biar klop. Okey... Buat kalian yang tanya IG saya bisa Follow @putritritrii_ Terima kasih.