My Chosen Wife

My Chosen Wife
AKHIR DARI SEBUAH RASA.



Renata tersenyum dengan harunya dia menatap pada Rava.


 


"Apa Aku harus menjawabnya?"


 


 


“Ya harus dong, kalau enggak mau jawab, biar Aku yang jawab.” celetuk Rava dengan mata tajamnya.


 


 


Harsen menahan tahan tawanya, terkadang atasannya itu seperti ada rada gilanya karena berhadapan dengan Renata. Rava yang mendengar suara yang sempat terdengar mengarah dari Harsen, Ia menoleh dengan kening yang mengkerut.


 


 


“Kenapa Kau menertawaiku, Sen?” tanya Rava dingin.


 


“Habisnya, Kau aneh… bertanya sendiri jawab sendiri.” Sambung Renata.


 


Rava menoleh ke Renata, lalu menoleh lagi ke Harsen.


 


“Apa kalian bekerja sama untuk mengolok Aku?” Rava menatap tajam.


 


“Bukan Kak… bukan seperti itu.” Harsen melembaikan tangannya, serasa merasa takut.


 


“Sudah.. Aku mau tahu jawabanmu, jangan bertele-tele.” ucap Rava kembali menatap Renata.


 


“Apa?” kata Renata membalas tatapannya.


 


“Renata.. Aku serius. Cukup untuk menghukumku, Aku sangat mencintaimu, menyayangimu setulus  hatiku, Apa Kau bersedia menjadi pendamping hidupku?” tanya Rava tanpa bergetar.


Renata tersenyum, “ Aku bersedia,”


 


Rava matanya melotot sangkin kagetnya, begitu juga dengan Harsen. Keduanya terkesiap bersamaan, membuat Renata melambaikan tangannya ke arah wajah Rava. Seketika itu juga, Rava tersadar.


 


“Kau benar menerimaku?” Rava memastikan lagi.


 


Renata mengangguk dengan tersenyum, “Aku benaran menerima, kok gak percaya?”


 


 


Refleks Rava menarik tubuh Renata dan menggendongnya dengan memuutar tubuh Renata, keduanya saling tertawa senang. Harsen turut bahagia menyaksikan keduanya, pada akhrinya cinta berpihak pada kedua orang yang di sayangnya.


 


 


“Terima kasih.” ucap Rava masih dengan mutar tubuhnya.


 


 


“Sudah.. Aku pusing.”


 


Segerah Rava menurun Renata yang masih dalam kebahagiaanya.


 


“Kau tidak boleh menarik perkataanmu barusan.” ucap Rava dengan tegas.


 


Renata menggelengkan kepalanya, “Tidak.. Aku serius, buat apa Aku menyesalinya, toh Kau itu orang yang sangat Aku cintai.”


 


Rava tersenyum seraya menyingkap rambut yang menyelinap di atas kening Renata.


 


“Terima kasih, Akhirnya Aku menemukan cinta yang sesungguhnya dari dirimu. Jangan pernah lari lagi dari Aku. Aku enggak sanggup, jika Kau pergi tanpa berpamitan denganku.”


 


“Hemmmmm…” Harsen berdehem, keduanya menoleh ke arah Harsen.


 


“Kau batuk, Sen?” tanya Rava dengan menatap bingung.


 


“Bukan Kak… Apa Harsen sudah bisa kembali ke perusahaan Kak? Maksudnya… biar enggak ganggu gitu, atau canggung gitu. Lah pokoknya Harsen tidak mau mengganggu momen yang  baru kalian rasakan.” Harsen berkata dengan gugup.


 


“Aghh… Kenapa cuma bilang mau kembali ke perusahaan, bicara mu sangat banyak? Ya sudah sana, kembali lah. Tolong bereskan dulu balon-balon di atas itu. Sepertinya calon Istriku tidak membutuhkannya.” Rava tersenyum menatap ke Renata.


 


“Jangan di buang Sen, tolong bawalah masuk ke kamar Kakak. Ayo  kita masuk,” ajak Renata menarik tangan Rava dan menggenggamnya. Rava melihati tangan yang tergenggam, kemudian Ia  tersenyum.


 


 


Barusan pintu terbuka, tampak Casandra dan Varel sudah salah tingkah. Dengan cepat Rava memberikan salam pada calon mertuanya itu.


 


“Agh… Akhirnya kau menemukan kami Nak.” Varel memukul pelan pundak Rava.


 


 


“Bagaiaman tidak? Bukankah dia anak dari keturunan yang tidak bisa di kelabui?” sambung Casandra.


 


 


“Ayo duduklah dulu, sayang buatkan minuman untuk calon menantu kita,” ceplos Varel lalu semuanya saling memandang satu sama lain.


 


 


“Mami dan Papi menguping ya?” Renata menatap garang.


 


 


“Agh.. anu… Papi sama Mami cuma menebak kok, enggak menguping. Lagian kalian kan memang… “


 


 


“Papi alasan…” sambung Renata.


 


 


“Bukan seperti itu Nak, kami tidak menguping cuma mendengarkan saja. Apa salahnya, dengar ribut-ribut diluar, kami mengintip dan ada Rava, jadilah kami ikut mendengarkan pembicaraan kalian. Enggak menyangkah… Rava sangat romantis seperti papanya.” Casandra tertawa , sedangkan Renata dan Rava hanya menatap pada Casandra.


 


 


“Mami,” gumam Renata dengan raut wajah sedihnya.


 


 


“Tidak masalah sayang, cuma samar-samar kok dengarnya. Santai aja kek di pantai. Mami dan Papi kamu pernah muda kok,” celetuk Casandra.


 


 


Rava tersenyum, lalu Ia menarik tangan Renata yang duduk di sampingnya dan menggenggamnya erat, saling memandang, kemudian Rava menatap Casandra dan juga Varel, lalu Ia menarik nafasnya dan membuangnya dengan perlahan.


 


 


“Bibi, Paman. Izinkanlah Rava, untuk menggantikan kalian melindunginya, mendampinginya , menjaganya bahkan membahagiakannya. Tolong izinkanlah Rava memperistri Renata.” ungkapnya dengan memohon.


 


 


Casandra berkaca-kaca bahkan air matanya mengalir dari kedua pelupuknya, Varel menoleh ke Casandra dan menarik Casandra serta merangkulnya.


 


 


“Mami kenapa menangis?” Renata menatap sendu.


 


 


“Mami enggak nangis sayang, Mami cuma terharu, akhirnya kalian benar-benar bersatu. Dan Renata  bakalan memiliki keluarga baru, itu membuat Mami sangat bahagia nak. Kau memiliki suami yang benar-benar sepadan denganmu. Mami dan Papi bahkan tidak mengkhawatirkan kehidupan kamu kedepannya. Mami bahagia Nak.” ujar Casandra dengan menangis haru.


 


 


Renata langsung berdiri dan memeluk sang Mami, Casandra memeluk erat dan menciumi puncak kepala Renata.


 


 


“Renata harus bahagia ya sayang, tidak bersedih lagi. Akhirnya Rava memang jodoh kamu, Nak.” Casandra semakin menangis.


 


 


“Mami… jangan begini, kan Renata ikut nangis,Mi.”


 


 


Varel mengusap air matanya yang hampir keluar, Dia juga turut bahagaia atas ungkapan Rava. Terharu, mungkin kata itu yang membuat Varel merasa turut merasakan kebahagiaan anak semata wayangnya. Varel kemudian menatap ke Rava, “Paman yakin denganmu,Nak. Sekiranya Kau tidak ingkar janji dengan ucapanmu.”


 


 


“Terima kasih Paman,” Rava mengusap wajahnya yang menegang, perasaan nya sangat lega.


 


 


“Bibi juga menerima lamaran kamu, Rava. Sama seperti yang di katakan Pamanmu. Kau harus membahagiaan Renata, jangan pernah menyakitinya seperti sebelumnya. Karena perasaan Bibi saat melihatnya menangis sendiri, membuat Bibi turut merasakan kesedihannya. Bibi sangat bersyukur untuk semuanya Nak.” ujar Casandra.


 


 


“Terima kasih Bibi, Paman. Janji yang sudah Rava katakan, akan Rava genapi Bi sampai akhir kehidupan Rava. Semoga saja, Rava bisa seperti Bibi, Paman ,Papa dan Mama, kalian adalah contoh nyata dalam kehidupan kami,” jawab Rava masih dengan senyum merona.


 


 


“Sudah sana temani Calon suami kamu. Jangan menangis lagi, Kau jelek saat menangis. Seperti yang di katakan Rava tadi.” Ledek sang mami.


 


 


“Mami.. benaran kan nguping sama Papi.” Renata cepat-cepat mengusap air matanya.


 


 


Varel dan Rava sama-sama tersenyum melihat si Renata yang di ledeki Casandra.


 


 


 


 


“Dih… Mami igh… jangan malu-maluin Renata dong,” ucap Renata yang sudah duduk di samping Rava. Rava menatapnya dengan tersenyum.


 


 


“Jangan takut Bi, Vara sangat manja dia tetap bisa Rava atasi. Renata denganku tidak manja Bi, malahan dia sering memarahiku.” Rava  masih tersenyum menatap nya.


 


 


Renata menoleh cepat dan tajam, “Apa Kau sedang mengadukan Aku?”


 


 


Varel dan Casandra saling pandang dan tersenyum melihat tingkah keduanya, tetapi Casandra sangat salut dengan Rava. Benar saja, Rava sangat bisa mengontrol Renata, sifatnya yang tenang seperti Eva membuat Rava mampu mengimbangi Renata yang sangat cerewet itu.


 


 


“Kalian ngobrolah, Mami akan masak untuk makan malam kita. Rava… makan malam di sini. Sebelum Bibi dan Paman akan pulang, agh Renata juga.” Casandra berjalan  meninggalkan ruang tamu.


 


 


“Baiklah Bi,” ucap Rava senang, masih memandangi Renata.


 


 


“Agh… Sepertinya kalau Papi terus-terusan di sini seperti mengganggu. Kalian lanjutkan saja, Paman ke kamar.” ucap Varel dan beranjak dari duduknya.


 


 


“Terima kasih ,Paman.” ucap Rava cepat.


 


 


Tinggalah keduanya, saling menatap. Rava terus-terusan tersenyum, tanpa berkedip menatap Renata. Membuat Renata merasa gugup dengan tatapannya.


 


 


“Ke-Kenapa Kau terus menatapiku seperti itu? Aku kan merinding.” seru Renata, wajahnya memerah.


 


 


Rava tersenyum, “Ternyata Kau itu punya malu juga, Apa Kau tahu? Aku sangat merindukan dirimu. Jika saja, tidak ada orang di sekitar sini, aku sudah memelukmu dan mendekapmu,” Rava masih menatapnmya.


 


 


“Agh.. Aku enggak tahu Kau bakalan merindukan Aku, mungkin saja Kau sangat senang jika tidak melihatku.” ucapnya tanpa menoleh ke Rava.


 


 


Tokkkkkk.... Rava mentoyor kepalanya.


“Awwww… Sakit tahu! Kenapa Kau memukul kepalaku!” Renata menatap Rava dengan meringis.


 


 


Rava berucap dengan bibir yang ditekan, “Kau itu bicara tidak pernah memikirkan perasaanku! Kau tidak tahu aku tersiksa karena merindukanmu! Seakan-akan hanya Kau saja yang tersakiti! Ak-“


 


 


Cupppppp….


Renata mencium bibir Rava seraya tersenyum, lalu melepasnya agar tidak ketahuan oleh Maminya yang sedang di dapur. Mata Rava melotot dengan aksi tiba-tiba Renata  barusan, Renata sendiri mencoba bersikap tenang dan tidak gugup.


 


 


“Kenapa sekarang jadi cerewet?” tanyanya dengan menoleh sekilas ke Rava.


 


 


“Kenapa Kau tidak bilang-bilang ingin menciumku?” Rava malah balik bertanya.


 


 


“Agh… Agar Kau tidak cerewet. Apa Kau keberatan?” tanya Renata menantang.


 


 


“Tidak berasa.” jawab Rava tanpa memandang Renata.


 


 


Renata tertawa  kecil, “Ternyata Kau genit.”


 


 


“Bukankah Kau yang menggodaku?”


 


 


“Tidak… Aku tidak menggodamu. Bukankah Kau sendiri yang datang kesini?” Renata melotot dan protes.


 


 


“Agh… Maaf Aku lupa.” Jawabnya dan kemudian Rava memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Renata, menarik tangannya saling memandang.


 


 


“Apa Kau selama ini baik-baik saja?”


Renata tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Aku sehat dan Aku sangat menyesal pergi tanpa pamit.”


 


 


“Akhirnya Kau sadari kesalahanmu?”


 


 


“Iya… Aku minta maaf. Apa Kau mau memaafkan Aku?”


 


 


Rava purak-purak berpikir. “Hemmmm… Karena Kau calon Istriku, jadinya Aku menerima maaf dari kamu.” Rava tersenyum.


 


 


Renata ikut tersenyum, mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Rava, “Terima Kasih sudah mau menjadikan ku pendamping hidupmu,” ucap Renata dengan mata sendunya.


 


 


Rava menggeleng, “Tidak.. Aku yang harusnya berterima kasih,” jawabnya dengan mencium telapak tangan Renata.


 


 


Casandra tiba-tiba datang dan melihat keduanya, “Heeeemmmmm…” Casandra berdehem, reflek Rava dan Renata mengubah posisi siap.


 


 


“Ada apa, Mi?” Renata salah tingkah.


 


 


“Enggak apa-apa, cuma mau numpang lewat.” ledek Casandra dan berjalan melewati keduanya.


 


 


“Mamiiiiiiiii,” teriak Renata.


 


 


“Ssstttt… Enggak baik meneriaki orang tua.”


“Habisnya, Mami sengaja mengganggu,”


 


 


“Kau tidak tahu, Mami mu itu unik?”


 


 


“Hemmm… Apa yang Kau katakan. Aku tidak tahu maksud mu.”


Rava tersenyum, “Bibi Casandra itu kata Mama ku, orangnya semasa gadis mereka sangat lucu, suka teriak-teriak seperti dirimu, lalu orangnya centil suka tebar-tebar pesona sama paman Leo, tapi akirnya jadian sama Paman Varel,” ucap Rava dengan santainya.


 


 


“Ravaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”


.


.


.


Hari ini dua bab ya. Semoga kalian terhibur, tolong dong yang komentar ikut bantu Vote ya. Mohon kerja samanya di harapkan dari kalian. Jangan menuntut saya update 3-5 bab, sepertinya ini pembaca baru, yang belum tahu saya ibu beranak satu. Jadi enggak bisa update sebanyak dan secepat yang kalian mau, karena saya harus cek kondisi dan suasana kehidupan nyata saya. Terima kasih yang sudah selalu VOTE, saya sangat bersyukur.. semoga kalian tetap sehat dan tetap bahagia , salam sayang dan ketcup dari Mommy untuk pembaca Mom… Muacchhhhh^^