
Seusai makan malam, seluruhnya pergi ke kamar masing-masing, termasuk Eva dan Raka. Keduanya sudah berada di salah satu kamar di kediaman putranya. Di mana keduanya sedang rebahan dan saling menatap satu sama lain.
"Tidurlah... Kenapa menatapku terus?"
"Aku masih merindukanmu sayang." Raka menarik pinggang sang Istri.
"Karena itu... Enggak boleh nakal. Kamu itu sudah mau jadi kakek-kakek, masa iya terus-terusan suka emosi menanggapi masalah. Kasihan Rava, kau kan tahu sendiri anakmu itu selalu melindungi adiknya." Eva terus mengeluarkan pendapatnya.
"Aku kan memang seperti itu sayang dari pabriknya, mau gimana lagi. Mana aku sangat takut dengan Renata, jika sesuatu terjadi dengannya, kedua anakku akan dalam masalah besar. Kau tahu sendiri kan, Renata anak tunggal." ujar Raka dengan wajahnya yang sendu.
"Iya aku tahu sayang... Tetap enggak boleh emosian. Apa lagi sampai menampar Rava, aku enggak suka begitu." tutur Eva.
"Iya... Maafkan daku Baby." Raka tersenyum dengan membelai rambut Eva.
"Baiklah.... di maafkan." jawab Eva deng tersenyum manis.
"Wah... Istriku memang yang terbaik." Raka menarik tubuh Istrinya mendekapnya dengan sangat erat, "Aku tidak mampu jika kau tidak memperdulikanku, rasanya setengah jiwa ku pergi entah ke mana. Kau itu penyemangat hidupku, membuatku selalu ingin di dekatmu. Kalau kau jauh dariku, rasanya seperti ada yang kurang saja."
Krooooookkkk....
Raka melihat wajah Eva, "Ah teryata dia sudah tidur. Kau pikir aku mendongengkanmu, sayang?" Raka tersenyum lalu mengecup kening Eva, dan kemudian ikut memejamkan matanya dengan senyum yang masih melingkar di mulutnya.
****
Keesokan harinya, di Rumah Sakit tepatnya di kamar Renata. Dokter yang berkunjung untuk memeriksakan setiap pasien yang di temani oleh asisten Dokter maupun suster, masuk ke dalam kamar Renata. Dengan tersenyum , ketiga team Medis Rumah Sakit itu melihat Rava dan Renata yang sedang berpelukan, masih tertidur dengan nyenyaknya. Ketiganya saling memandang dan tersenyum, rasa-rasanya sang Dokter enggan untuk membangunkan keduanya yang tampak sangat mesra itu.
Dokter menjadi serba salah, jika tidak di bangunkan, jam itu adalah jam kerjanya Dokter yang menangani Renata, jika tidak di bangunkan, tidak mungkin Renata tidak di lakukan pengecekan pagi. Inisiatif dari Suster, dia akan membangunkan keduanya, agar tidak terlewatkan waktu pengecekan pada Renata.
"Hemmmmmmm..." Suster pun berdehem, masih juga tidak ada tanda-tanda keduanya mendengarkan suara Suster.
"Selamat pagi,Tuan, Nona." Suster mencoba kembali, tetapi tidak juga ada tanggapan.
"Selamat pagi, Tuan dan Nona." kali ini Suster menyentuh pundak Rava dengan menggoyang pelan pundaknya.
Renata sontak terkaget, bergerak dan mengerjapkan matanya. Tampak wajah Rava yang masih tertidur, begitupun tangan Renata yang memeluk Rava, dengan cepat di tarik Renata, pandangannya berpindah pada ketiga team Medis. Sontak ia terkaget menolak Rava, hingga pelukan tangan Rava di pinggang Renata terlepas. Rava mengucek matanya , seakan sangat berat untuk membuka matanya. Sama seperti Renata, pandangannya jatuh pada ketiga team medis yang tersenyum sangat lembut. Sontak Rava terduduk, lalu ia menoleh pada Renata yang masih rebahan dan menatap langit-langit kamarnya. Dengan gerakan cepat, Rava turun dari ranjang Renata, dan memakai sepatunya. Terasa amat sakit seluruh tubuhnya, tidur di ranjang yang sempit.
"Selamat pagi, Nona Renata, Maaf membangunkan anda dan kekasih anda. Saya akan melakukan pengecekan pagi, tolong Tuan untuk keluar." Dokter menoleh pada Rava yang berdiri di belakang mereka.
Renata yang mendengarkan itu seakan panik dan gusar, kalau kemarin ada sang mami yang menemaninya. Rava sejenak menatap pada Renata, tangan Renata mengulur ke arahhnya, dengan cepat Rava mendekat.
"Jangan tinggalkan aku, tetaplah di sini." ucapnya dengan memohon, karena Dokter juga gak mengerti saat mereka berbicara dalama bahasa keduanya, jadilah team Medis saling memandang.
Rava pun tersenyum, "Dokter, Maaf kekasih saya ingin saya tetap berada di sini, biarkan saya menemaninya untuk melakukan pengecekan pagi ini." pinta Rava dengan ramah.
"Ouww.. Okey." jawab sang Dokter.
"Aku memantau dari ujung sana, mungkin mereka akan mengecek bagian dalammu, sehingga aku di suruh keluar. Kau tidak keberatan kan, aku di sana?" bisik Rava, dan Renata menganggukan kepalanya.
Benar yang di katakan Rava, Dokter memeriksa bagian dalam di balik pakaian Renata. Karena itu Rava di minta untuk keluar agar Renata tidak malu, mungkin bisa jadi sang Dokter yang tahu Renata masih single, akan merugi, jika pakaiannya di buka di depan sang kekasih.
Beberapa menit kemudian, Usai Renata di periksa Dokter memanggil Rava untuk memberikan informasi kesehatan Renata.
"Tuan... Semuanya stabil, tetapi luka yang ada di kulit Nona ini, hanya menunggu waktu untuk kering secara alami. Dan kita akan memberikan cream salep yang mencegah terjadinya bekas luka pada kulit pasien. Dan beberapa jam kedepan, tolong jangan minum dan makan dahulu, karena pasien akan melakukan pemeriksaan CT Scan. Jika hasil CT Scan baik, pasien sudah di perbolehkan untuk pulang." jelas sang Dokter.
"Baiklah Dok...Untuk bagian kepala yang di jahit, apakah itu tidak bermasalah, Dok?" tanya Rava dengan serius.
"Hemmmm... Sejauh ini tidak ada yang perlu di khawatirkan, kita tetap memberikan obat pengurang rasa sakit, dan juga cream salep agar jahitan cepat mengering." lanjut sang Dokter.
"Sudah tugas kami, kalau begitu saya pamit. Nona Renata, cepatlah pulih." ucap si Dokter tampan itu, setelah mendapatkan jawaban, si Dokter pun keluar ruangan.
Renata masih tersenyum, ia terpanah dengan senyuman dan ketampanan dari Dokter yang menanganinya. Rava menatapnya dengan tatapan tajam, seketika itu juga Renata merasakan hawa dingin di sampingnya, berpindah kesepannya. Ia menatap Rava dan langsung memudarkan senyumannya.
"Kenapa dengan matamu?" tanya Renata.
"Cih... Apa kau suka dengan Dokter tadi?" tanyanya lalu duduk di depan Renata.
"Maybe... Solnya itu Dokter tampan banget, perhatian lagi. Duh senyumannya, menggoda imanku." ucap Renata dengan gaya centilnya.
Rava tertawa kecil, "Hah... masih tampanan aku dong. Dokter tadi masih kalah jauh denganku." Rava membuat tampangnya dengan sekeren mungkin.
"Wah.... Ada yang memuji diri sendiri. Tidak tahu malu, wuh. Andai saja aku berjodoh dengan Dokter tadi, mungkin aku selalu sehat kali ya, enggak makan hati kek mencintai orang yang di depanku!." celetuknya dengan sinis.
"Hemmmm... Sepertinya, ada yang menyindir uluh hatiku. Rasanya kek mau di tampol aja tuh mulut, enggak tahu apa rasanya di khianati cinta." Rava menyindir Renata.
"Isss... Keknya ada yang gak tau malu! Sudah jelas orang yang mencintainya dengan tulus, ada di depan matanya. Malahan selingkuh di belakangnya, bukankah itu suatu karma di campakkan dan di tinggal kawin? Agh.. Ternyata Tuhan lebih berpihak padaku, doaku terkabul." sindir Renata lagi.
"Kau ini!." Rava kehabisan kata-kata, ia berdiri dengan tangan yang ingin memukul kepala Renata biar sadar pikirnya, syukurnya itu tangan ada Rem nya.
"Nahhh... Pukul saja!" Renata memberikan kepalanya ke Rava.
Rava pun berjalan mendekati Renata, dan membelai lembut kepalanya, lalu ia duduk di samping Renata, "Kau pikir aku tega menyakiti dirimu."
Renata mengangkat wajahnya dan menatap pada Rava, "Buktinya kau mampu mengabaikan diriku."
"Itu dulu, tidak dengan hari ini. Jangan menjadi pendendam, kau itu sangat cerewet!"
"Kalau aku tidak cerewet, apa mungkin kau menyukaiku?"
Rava tertawa kecil, "Benar juga ya, kau itu sama seperti mamaku, kalau sudah cerewetnya keluar, membuatku sangat Happy, dari pada berdiam. Kau teruslah cerewet, sampai aku mendapatkan cintamu kembali." Rava mengedipkan matanya.
Renata nyengir, "Aku merasa merinding dengan perubahanmu, kau itu seperti Hantu yang berubah wujud."
"Hahahah.... Kau memang sangat lucu. Ayo kita bersih-bersih, sebelum kau melakukan CT Scan."
"Bagaimana bersih-bersih, panggilkan saja perawat untuk membantuku mengganti pakaian ini. Aku sangat risih tidak mengganti pakaianku, apa lagi tidak mencuci wajahku, seakan kecantikanku akan luntur." ujar Renata dengan menghadapkan wajahnya ke Rava.
Rava menarik kedua pipi Renata, "Kau itu sangat cantik, walaupun kau tidak mencuci wajahmu, kecantikanmu tidak hilang atau pun pudar." Rava tersenyum.
"Lepaskan tanganmu! Kau jangan gombal!"
"Tidak.... Aku tidak gombal. Kau memang cantik, ya sudah aku panggilkan perawat untuk membersihkanmu." ucap Rava segerah beranjak dari ranjang Renata, dan berjalan keluar.
Renata tersenyum mendengar ucapan Rava, ia menyentuh kedua pipinya dan menggerakannya ke kiri dan ke kanan, merasa bahagia dengan perubahan Rava terhadap dirinya.
Bersambung.
........
Tekan Like dan VOTE nya ya... Terima kasih.
Oh ya yang nanya Alice... Tunggu aja waktunya 🥰.