My Chosen Wife

My Chosen Wife
RENATA LAGI.



“Ravaaaa!”


Gumamnya tidak kalah kagetnya dengan Rava, dengan tubuh yang menegang. Tak mampu menghindar dari pandangan yang merubah raut wajah Rava.


"Kau mengenal, wanita itu Rava?" tanya Vanessa, pada Rava yang masih mematung.


"Ada apa denganmu, Rena?" tanya Albert yang sudah masuk duluan kembali mundur medekati Renata dan menatap ke arah pandangan Renata yang menatap Rava.


"Sudah.. Ayolah. Meja kita ada di sana." ajak Albert dengan menarik pinggang Renata.


Renata dengan cepat mengikuti Albert yang menarik dirinya berjalan masuk ke arah meja mereka. Sedangkan Rava, ia kembali duduk. Seakan dia sangat kesal, melihat Renata bersama Albert di Club malam itu. Perasaannya sangat takut, lalu ia melirik ke Harsen. Seakan Harsen tahu, tugas apa yang di berikan Rava pada dirinya.


Harsen beranjak dari kursinya , menjadi mata-mata untuk memantau Renata. Sedangkan kedua sahabat Rava maupun Vanessa, melihat ke arahnya yang masih mematung itu.


"Siapa dia, Bro? Apa itu wanita yang lo bilang pengganti, Vanessa?" tanya Zayn dengan menyusuri wajah Rava.


Vanessa memilih duduk di depan Rava, seperti yang lainnya, menunggu Rava menjawab pertanyaan Zayn.


"Iya.... Dia orangnya." balas Rava dengan melirik tajam ke Vanessa.


"Kenapa dengannya? Bukankah wanita itu yang di jodohkan oleh Mama dan Papamu?" Vanessa mengingat, cerita Rava dan memberikan foto Renata saat mereka menjalin hubungan dulu.


"Ingatanmu ternyata sangat baik, tapi bisakah kau bersikap tidak mengenalku? Atau anggap saja, kau dan aku tidak punya hubungan apapun di masa lalu. Tolong sadar diri Vanessa, kau itu sudah menjadi Istri dari pria lain! hargain suamimu, kau pikir perbuatanmu ini menyenangkan hatiku!" ucap Rava seraya meninggikan nada suaranya.


"RaVa!" teriak Zayn.


Rava menoleh ke arah zayn, "Tolong jangan ikut campur dengan masa laluku Zayn, maaf sepertinya aku tidak bisa berlama - lama di sini. Aku sangat risih!" ucap Rava, lalu berdiri.


"Rava!" teriak Desta.


"Maaf sob... Aku enggak bisa bergabung dengan kalian lagi. Selama kalian masih memintanya untuk bergabung." balas Rava, seraya meninggalkan sahabatnya maupun Vanessa.


Rava berjalan ke arah meja Renata, dan mendapati Harsen yang sedari tadi memantau Renata dan Albert. Harsen yang memilih duduk di belakang Renata dan Albert itu, dengan mengendap di datangi oleh Rava.


"Bagaimana?" bisik Rava.


Harsen mengeluarkan ponselnya , dan menunjukkanya ke Rava.


"Kak.. Lihatlah." bisik Harsen.


Rava mengambil ponsel Harsen, dan memulai membaca hasil dari pantauan Harsen tentang riwayat Albert. Betapa kagetnya Rava, Albert merupakan pesaing dari perusahaan papinya Renata sendiri.


"Kenapa dia tidak mengenali si Albert?" bisik Rava ke Harsen.


"Bukanya kakak juga tidak mengenalnya?" jawab Harsen.


"Benar juga... Yang aku kenal hanya papanya. Kenapa anaknya bisa ikut bergabung? Bukankah dia berdiri sendiri?"


"Mungkin Kak Rena target mereka, untuk mendapatkan Infomasi, Kak." balas Harsen.


"Terussss.... Bagaimana ini? Renata bisa kena jebakan takutnya, Sen."


Keduanya terus berbisik hingga mendapatkan keputusan, untuk menarik Renata dari Club malam, karena memang besok hari kepulangan Renata, di buat Rava sebagai alasan agar Renata bisa menjauh dari Albert.


"Apa kakak siap?" tanya Harsen.


"Saaaapp." ucap Rava kemudian berdiri dan berjalan ke arah Renata, dan menjatuhkan dirinya di depan Renata.


Sontak Renata kaget, melihat Rava terjatuh di dalam pangkuannya.


"Rava... Kau kenapa? Apa kau mabuk lagi?" tanya Renata seraya menepuk pipinya.


Rava tertawa, "Hahahah... Renata, kau kenapa bisa di sini?" tanyanya dengan pura-pura mabuk.


"Akuuu? Aku... Apa kau tidak melihat aku sedang berkencan dengan Albert?" jawab Renata masih menatap wajahnya.


"Hah... Kenapa kau mau berkencan dengan pria bodoh ini?"


Renata terkaget, langsung menutup mulut Rava. Dan menatap wajah Albert yang memang bodoh itu, pikir Renata. Rava langsung menepis tangan Renata pada mulutnya.


"Tuan Rava, kau sengaja mabuk untuk menggangu kencan kami seperti kemarin?" tanya Albert dengan mata tajammya.


"Akuuuu? Apa iya aku mengganggu? Hahahaha... Aku menggangu kalian, aku tidak percaya itu. Kau jangan senang dulu pria bodoh, kau itu cuma mau memperalat dia saja kan? Apa kau itu tidak tahu, dia sangat mencintaiku dari sejak kami belum ada di dunia. Aku dan dia sudah di jodohkan, jadi jika aku mengatakan iya pada papi dan maminya, kau itu cuma tinggal kenangan." ucap Rava masih dalam purak-purak mabuknya, seraya mengeluarkan isi hatanya.


Sedangkan Harsen yang bersembunyi di bawah lampu yang gelap itu, menahan tawanya. Karena Harsen sangat yakin, kata-kata yang barusan terucap dari bibir Rava itu adalah Fakta Fakta dari semua isi di hatinya untuk membalas Albert yang sengaja mendekati Renata.


"Rava... Kau ini mabuk! asal bicara saja. Ayo pulang, mana Harsen. Bukankah harusnya kau bersama Harsen?"


"Renata... Antarkan aku pulang." ajaknya dengan lunglai, menarik tangan Renata.


Renata menapis tangan Rava, membuat genggaman tangan Rava terlepas.


"Pulanglah sendiri, aku tidak mau membuat masalah dan keributan di antara kau dan adikmu, juga Defan. Atau aku telepon Harsen." ucap Renata dengan mengambil ponsel Renata dengan kasar.


"Rava..., kembalikan ponselku. Biar aku telepon Harsen untuk mengantarkan kamu." ucap Renata dengan berdiri mendekat ke Rava yang wajahnya berubah kesal.


Albert sendiri ingin beranjak dari kursinya , yang juga hendak mendekati Rava dan Renata. Tetapi Rava tidak menunggu waktu lama, ia menarik tangan Renata dan membawanya paksa untuk keluar.


"Rava... Apa kau purak -purak mabuk?" tanya Renata yang sadar, Rava berjalan bukan seperti orang mabuk.


"Ikuti saja aku!." balasnya dengan penuh penekanan.


"Rava... Lepaskan aku! kenapa sih kau selalu suka-suka saja terhadapku?" Renata meronta dengan mencoba melepas paksa tangan Rava.


Rava terhenti, di tengah banyaknya orang dan menatap ke Renata.


"Apa kau layak berada di sini!" bentaknya ke Rena.


"Renata!"


"Jangan membentakku! Kau saja bisa di sini, kenapa aku tidak bisa, mana kau bersama mantanmu bukan? siapa itu si Vanessa. Apa kau tidak punya malu, bermesraan dengan istri orang!."


"Kau salah! aku tidak bermesraan denganya! jangan mengada-ngada!" teriak Rava.


"Sudahlah Rava, biarkan aku mencari kebahagiaanku dan kau... tererah, terserah mau ke manapun kau mau! Aku tidak akan pernah mengejar cinta darimu lagi. Besok aku sudah pulang, jika aku sampai di rumahku akan ku beritahu ke papi dan mamiku serta pada bibi Eva dan paman Raka , untuk tidak melanjutkan perjodohan kita." ucapnya lalu berbalik untuk kembali ke Albert, tetapi Rava gesit menarik tangannya kembali hingga Renata jatuh ke dalam dekapannya.


Keduanya saling memandang, wajah Renata tergambar jelas penuh pertanyaan pada Rava , tampak membuat ia kebingungan akan sikap Rava. Sedangkan Rava, wajahnya mulai memerah, serasa tidak terima dengan semua perkataan Renata pada dirinya.


"Sudah aku katakan! kau jangan mengada-ngada. Aku sama sekali tidak bermesraan dengannya, dan kau harus tahu Vanessa tidak punya hubungan apapapun lagi denganku! yang aku mau sekarang, kau pulang bersamaku! Aku tidak suka kau berhubungan dengan Pria seperti si Albert, kau tidak tahu apa tujuannya mendekati dirimu?" tanya Rava dengan mengikuti kedua bola mata Renata.


Renata tertawa sinis, "Cih... Kenapa perlu sepanjang itu kau menjelaskannya padaku. Kita tidak punya hubungan apapun lagi Rava, jadi kau tidak perlu repot-repot menjelaskan itu semua kepadaku. Lepaskan aku!"


Bukan melepaskan, Rava memaksa menarik Renata keluar dari Club. Vanesaa dan juga Albert, sedari tadi melirik keduanya yang sedang berdebat itu. Albert sendiri tertawa, dengan aksi Rava yang purak-purak mabuk itu, seperti anak kecil saja pikirnya.


"Lepaskan aku, Rava!!!" teriak Renata saat mereka sudah hampir di parkiran.


Harsen sendiri sudah di mobil menunggu Rava dan juga Renata.


"Kenapa kau sekarang menjadi keras kepala, Renata!." teriak Rava enggak kalah besar dari Renata.


Renata tertawa palsu, seakan ada yang lucu. Dan bola matanya mulai berkaca-kaca.


"Kau tanya aku? Kau tanya aku kenapa aku kerasa kepala? Semuanya karena dirimu! semuanya karena kau, apa kau puas!" teriaknya mendekati Rava dan memukul bahunya, lalu air matanya tumpah.


Rava menahan diri, untuk menghentikan aksir Renata. Ia mau Renata melampiaskan amarahnya pada dirinya sendiri. Karena Rava tahu, dia sangat bersalah pada Renata.


"Kau tanya kenapa! Kau tidak sadar Rava! bertahun -tahun aku berharap pada dirimu, nyatanya apa! kau tegakan, kau tega meninggalkan aku ke sini dan menjalin hubungan dengan wanita tadi! Dan aku, aku masih berpegang teguh dengan pendirianku, aku akan memilikimu, kau akan membalas cintaku. Tapi kenyataannya tidak, kau sama sekali tidak membalas perasaanku saat kau juga sudah di campakkan dengan wanita tadi. Aku mulai capek Rava, aku tidak sanggup! aku ingin menyerah... Tapi apa? kau tetap datang, sekalipun itu bayanganmu, hingga sampai saat ini, aku mulai membuka hatiku pada Pria lain, kau terus saja datang untuk mengacau! apa kau tidak tahu perasaanku! Aku sakit Rava, kau sama sekali tidak berpikir kan! betapa sakit hatiku!" teriaknya masih dengan menangis dan memukul dada Rava.


Rava yang mendengar semua ucapan Renata itu, menarik tubuhnya dan memeluknya erat. Sontak Renata meronta melepaskan pelukan Rava.


"Jangan mengsihani aku! Aku mohon, jadilah dirimu seperti kau tidak mengenalku! Anggap saja, aku tidak berada di sini. Dan biarlah semuanya kita akhiri di sini, apa kau mengerti! Heh?" tanya Renata dengan menengadah ke wajah Rava yang sudah berubah frustasi.


Rava benar-benar terpukul, dia enggak terima perkataan Renata barusan.


"Aku yakin kau paham, jangan mencariku! Seperti yang ku katakan padamu tadi, di sini kita akhiri semuanya, dan biarkan aku yang menjelaskan pada orang tua kita. Kembalikan ponselku" ucapnya dengan datar dan mengulurkan tangannya meminta ke Rava.


Rava tertawa seakan ada yang lucu, kemudian dia mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya, "Kenapa kau tidak menepati janji dari ucapanmu selama ini?"


"Aku lelah Rava, aku menyerah terhadap dirimu. Aku sudah tidak sanggup! berikan ponselku!" kembali ia berteriak dan mengulurkan tangannya.


Langsung saja Rava menarik tangan yang terulur itu, memaksanya untuk masuk ke dalam mobil.


"Rava... Lepaskan aku!"


"Tidak akan! Masuklahhhhhh!" teriakan Rava membuat tubuh Renata bergetar, begitu juga Harsen. Membuat suasana menjadi tegang.


Karena takut dengan teriakan Rava, akhirnya ia masuk hendak berjalan ke kursi depan. Lagi-lagi, Rava menariknya untuk duduk di kursi penumpang di belakang bersama dirinya.


Harsen melajukan mobilnya dengan perasaan tegang menuju Apartemen Renata. Sedangkan Renata, yang masih menangis, sesekali mengusap kasar air matanya dalam diam. Rava sendiri, masih tersulut emosi dengan semua amarah Renata itu. Sesekali ia melirik ke Renata, yang membuang wajahnya ke arah jalanan.


Rava menyentuh kepalanya, seakan mau pecah. Kenapa dia merasa ada yang sakit di bagian dadanya, sebelumnya dia tidak pernah sesakit ini. Enthalah, perasaanya ke Renata masih ngambang, masih bimbang itu perasaan cinta atau perasaan seorang kakak dan adik. Tetapi Rava, tidak suka melihatnya dengan Pria lain, yang mencoba mendekati Renata.


Beberapa menit kemudian, Mobil sudah terparkir dan Renata langsung saja turun, tanpa berucap sepata katapun. Lalu Rava mengejaranya dan menarik tangannya, dan menggenggamnya, Renata terhenti dan menatap geram pada Rava. Rava yang merasa telapak tangan Renata basah kemudian menoleh ke wajahnya Renata.


Renata mencoba melepaskan genggaman tangan Rava, tetapi Rava malahan semakin erat menggenggam tangan Renata dan membawanya jalan masuk ke arah Lift Apartementnya. Mau tidak mau, ia mengikuti Rava yang berjalan membawanya masuk ke dalam lift.


Di dalam Lift, Rava masih saja menggenggam erat tangan Renata, ia tidak ingin melepaskannya. Entah itu karena ia takut, atau karena besok adalah hari terakhir Renata di New York. Renata hanya berdiam, matanya yang terasa perih itu, hanya bisa menatap ke arah lain.


"Aku tidak pernah membawamu ke Club malam. Jadi Lain kali, jangan ke tempat seperti itu lagi. Di mana pun kau berada, apa kau paham?" tanya Rava dengan suara terendahnya.


Renata hanya diam, tidak menjawab. Rava tahu, dia masih sangat kesal pada dirinya.


"Apa kau tidak mendengarkanku?" tanya Rava seraya menatap ke Renata.


"Hemmmm." jawabnya dengan berdehem.


Rava hanya tersenyum kecil, karena yang terpenting pikirnya Renata mendengarnya.


Tinggg...


Pintu lift terbuka, dengan cepat Rava membawanya keluar dan berjalan ke arah kamar Renata. Renata terkaget, ada dua orang Bule tampan di depan kamarnya, dengan mengenak stelan jas hitam dan kaca mata hitam, Membuat dia kebingungan sendiri.


"Siapa mereka, Rava?" tanya Renata dengan menatap wajahnya.


"Merekaaa? Bukankah kau bilang, pria bule di sini tampan-tampan. Dan ini, aku memberikannya pada dirimu. Apa dua cukup?"


"Ravaaa.. Aku tidak bercanda! kenapa mereka ada du sini? Tepatnya di depan kamarku, apa kau sengaja? Apa kau pikir aku akan kabur dan kembali ke sana? atau jangan -jangan, kau takut aku dan Albert bertemu?" ucap Renata seraya menarik tangannya dari Rava.


"Renata... Yang kau katakan semuanya barusannya benar. Aku takut, Pria bodoh itu mendekatimu! Kau tidak tahu siapa dia? Apa kau tau maksud dia!"


"Bukan urusanmu!" bentaknya, lalu berjalan meninggalkan Rava menuju kamarnya.


Bersambung.


..........


Jangan lupa like dan VOTE yang buanyak.


Author : Itu uda 2000 kata lebih, banyak kan? Masih kurang juga?


Netizen : Masih Thor, lagi lah. Upnya yang banyak, jangan menggantung dong.


Author : Ampun mami, Nak. Kagak terkatakanlah.... Kaborrrrr....