
Sesampainya di depan lorong tempat di mana Alice tinggal, mobil terhenti. Langsung saja Harsen dengan cepatnya turun dari mobil dan membukakan pintu mobil bagi sang pujaan hatinya. Tampak senyuman Vara mengarah ke Harsen ketika pintu itu terbuka . Dengan mesranya si Harsen mengulurkan tangannya ke Vara. Vara yang di perlakukakan seperti ratu tersipu malu dan menyambut tangan Harsen dengan malu.
Harsen yang melihat Vara yang salah tingkah enggak jelas itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dengan kerennya sih Harsen menggenggam tangan Vara dan berjalan memberikan keamanan untuk Vara sambilan menyebrangi jalan. Defan yang sudah menunggu di depan lorong, melihat tingkah kedua pasangan yang baru jadian itu di buat geli. Matanya di buat tajam memandang kedatangan Vara dan Harsen.
“Apa!” cetus Vara saat ketiganya sudah bersama.
“Kak Harsen ternyata punnya nyali juga,” bisik Defan pada Vara seraya mereka berjalan.
Harsen tidak menghiraukan si Defan, Ia hanya menatap pada jalanan yang mereka tapaki, tetapi Vara mendekat dan berbisik ke Harsen.
“Kata Defan, Kakak punya nyali juga.” bisik Vara.
Langsung saja Harsen memplototi , mengetahui Vara yang sengaja, buru-buru Ia berlari meninggalkan keduanya, karena takut dengan lirikan tajam si Harsen. Vara di buat ngakak melihat tingkah Defan.
“Udah siap ketawanya?” tanya Harsen.
Di sisa tawanya, Vara melihat wajah Harsen yang kesal, “Heh..Sudah Kak. Jangan galak-galak dong. Vara kan takut Kak,” katanya sedih.
“Biarin aja! habisnya sih… kamu buat kakak kesal.” kata Harsen dengan acuh.
“Apaan? kok jadi Vara sih?”
Harsen yang berjalan dengan kedua tangan terlipat di dada, setengah menunduk dan mendekatkan wajahnya ke arah Vara yang cemberut, “Karena kamu sangat menggemaskan.” kata nya sambil tersenyum.
Jadilah si Vara kembali kelepek-kelepek dan senyum-senyum sendiri, rasanya si Harsen jadi suka gombal gimana gitu. Sesekali Harsen melirik wajah Vara yang sudah tersenyum dengan pipi nya yang memerah.
Defan yang sudah terhenti di depan rumah Alice, di sambut oleh Anet yang sekaligus melayani para pengunjung yang selalu meramaikan toko kue Anet. Kali ini tampak Anet sudah memiliki karyawan baru untuk membantunya, sedangkan Alice masih tidak tampak. Langsung saja Defan mendekati Anet yang sibuk tetapi masih bisa memberikan sapaan pada Defan.
”Nak Defan” sapa Anet kaget sambilan membungkus kue.
“Selamat siang bibi,” sapa Defan.
“Siang Defan, ayo masuk nak. Alice ada di dalam.” ucap Anet dengan buru-buru.
“Tidak apa-apa Bi,itu ada Vara dan juga kak Harsen.” katanya sambilan menunjuk keduanya yang sudah datang bergabung dengannya.
“Agh.. Halo Vara, Harsen.” sapa Anet dengan senyum manisnya.
“Hallo Bi, Maaf kita mengganggu.” jawab Vara.
“Hallo Bi.” sambung Harsen.
“Halo semuanya, Tidak-tidak… Ayolah masuk nak….” ajak Anet meninggalkan sebentar tokonya, karena karyawan Anet sudah berjumlah dua orang.
“Aliceeee,” jerit Anet lembut mengarah ke depan pintu rumah mereka, sambilan membawa ketiganya masuk ke ruang tamu.
“Iya Ma,” jawab Alice yang kemudian tampak dari dapur.
“Sini duduk dulu,” kata Anet pada ketiganya.
“Sudahlah Bi.. tidak perlu memberikan pelayanan special untuk kami,” kata Vara yang duduk di sofa.
“Tidaklah.. kalian kan sudah lama enggak main ke sini, Bibi ambilkan Caku dan minuman sebentar,” kata Anet bersemangat, lalu ia berpindah menoleh ke Alice yang sudah bergabung di ruang tamu,” Alice temani dulu teman-teman kamu.” kata Anet ke Alice.
“Iya Ma.. Ayo dong kak Harsen dan Defan duduklah.” Alice mempersilahkan kedua Pria yang masih saja berdiri.
“Iya duduklah, nanti kalau kalian terus berdiri, kalian pendarahan loh!” ledek Vara dengan mata di buat membesar.
Defan dan Harsen sama-sama saling memandang, lalu menatap gemas pada Vara, dengan cepat Harsen memilih duduk di sebelah Vara, membuat Vara tersenyum. Defan sendiri, duduk di dekat Alice dan Alice juga menatap Defan dengan mesra. Ada pandangan kerinduan dari keduanya, karena selama Anet membuka toko, Alice lebih banyak membantu Anet di toko, jadinya kedua pasangan itu memilih malam untuk saling terhubung.
“Wah … Aku senang banget kalian datang ke sini, apa kalian merindukan Aku?” tanya Alice dengan senyum manisnya.
“Jelas Aku sangat merindukan kamu,” jawab Defan dengan cepat.
“Agh.. kalau Defan kan setiap hari kita berhubungan lewat ponsel, kenapa kau sangat tidak sabaran sekali,” ucap Alice dengan menatap Defan.
“Kau tahu sendirikan sayang… Aku itu tidak bisa tidak mendengarkan suaramu yang lembut, rasanya kek ada yang kurang hidupku tanpa dirimu.” Defan mulai menggombal.
Harsen di buat geli oleh Defan, mau tertawa tetapi sangat malu, karena Harsen bukan type yang asal-asalan di depan umum, dia hanya bisa membuka suaranya dengan leluasa hanya dengan Vara.
“Hemmmmmmmmmmm… Aku dan Kak Harsen ada di sini, jangan kalian pikir Aku dan Kak Harsen sebagai patung buatan,” celetuk Vara menatap Defan.
“Isss… lo sirik aja!” cetus Defan.
“Sudah.. langsung ke pokok permasalahan,” lanjut Vara dengan menatap ke Defan.
Alice menatap mereka secara bergantian, mengkerutkan keningnya pertanda dia penasaran.
Alice memutar kedua bola matanya dengan berdiam dengan pandangan ke sembarang arah. Tak lama Anet datang dengan minuman botol dan beberapa jenis kue.
“Hah.. ini di makan dan minum. Bibi tidak bisa menyediakan apapun yang terbaik buat kalian, hanya ini saja yang bisa Bibi sajikan,” kata Anet dengan meletakkannya di atas meja.
Mata Vara di buat berbinar, dengan cepat ia mengambil Cake yang sudah di depannya, “Wah Bibi, ini harum sekali,” kata Vara mengambil kuenya.
Langsung saja Harsen memukul tangan Vara dan menarik kue dari tangan Vara , membuat Vara cemberut ke Harsen.
“Jawab dulu yang di katakan Bibi Anet, Masa iya main makan aja,enggak sopan!” ketus Harsen dengan melototkan matanya.
“Eh tidak masalah nak Harsen, Makan saja Nak Vara, Bibi senang kalau kalian suka.” kata Anet.
Langsung saja Vara kembali menarik Cake yang berada di tangan Harsen dan memakannya.
“Huah…. Bibi ini sangat enak sekali. Vara sangat suka Bi,” ucap Vara dengan mulut yang penuh.
Harsen yang melihat tingkah Vara cuma mengkerutkan keningnya, Defan merasa jijik, Alice dan Anet tersenyum bersamaan.
“Oh iya Ma… Ini bagaimana? Apa Alice memang boleh berkuliah?” tanya Alice pada mamanya.
Anet tersenyum seraya memegang nampan dan duduk di depan mereka semua.
“Alice… Bukankah dari dulu Alice sangat ingin sekali berkuliah? Alice lihat… Mama sudah menambah karyawan untuk menggantikan Alice nantinya. Terimalah nak tawaran dari nak Rava, Mama setuju dengan semua yang mereka katakan kepadamu. Gapailah mimpi Alice yang ingin sekali berkuliah di bidang design.” ujar Anet dengan santai.
Mata Vara berbinar mendengarnya, “Bukankah itu sama dengan jurusan Vara, Alice?” tanya Vara bersemangat.
“Apa Vara sama seperti Bibi?” tanya Anet.
Vara mengangguk cepat, “Iya Bi, jika Vara di wisuda nanti, Vara akan membuka butik di Jakarta. Vara ingin mengembangkan seluruh design yang sudah Vara design selama berkuliah.” ungkap Vara.
“Benarkah Vara? berarti aku bisa belajar dari mu,karena Kau sudah duluan berkuliah.” kata Alice tak kalah semangatnya.
“Tenang saja.. Aku juga ada di sampingmu Alice, Aku akan meminta bantuan langsung dari Vara, jika Vara sudah tidak di negara ini lagi.” Defan menimpali.
“Benarkah Nak Vara? apa kalian mau pindah dari sini?” tanya Anet.
“Iya Bibi, Kak Rava akan menikah setelah Vara selesai ujian ini, jadi Kak Rava akan menetap di Jakarta. Karena Kak Rava tidak bisa memantau Vara secara langsung, jadilah Vara di suru ikut ke Jakarta.” ucap Vara masih mengunyah cake keduanya.
“Syukurlah nak, Rava seperti Papamu yang bertanggung jawab, jadi apapun yang di pikirkan Kakak kamu, pasti sudah di pikirkan secara matang olehnya. Kalian beruntung memiliki Mama dan Papa seperti orang tua kalian.” ucap Anet masih dengan tersenyum.
“Terima kasih Bi,” kata Vara dengan senangnya sambil terus mengunyah.
Harsen yang sedari tadi menatapi Vara tanpa berkedip, mulai di rasuki oleh cake yang terus di makan Vara. Membuat Harsen menelan air liurnya, saat melihat setiap gigitan yang masuk ke mulut Vara,
Harsen kedapatan menatap Vara, dengan cepat Vara mengulurkan sisa Cake di tangannya ke arah wajah Harsen, “Mau?” tanya Vara.
Harsen langsung saja membuang pandangannya, “Tidak” jawabnya datar.
Vara tersenyum dengan senangnnya melihat wajah Harsen yang mau tapi malu, Defan sendiri dengan cepat mengambil potongan Cake sebelum di habiskan oleh Vara.
“Kalau begitu.. Semuanya sudah beres, siap Vara di wisuda, Alice sudah bisa mendaftar di tempat kita berkuliah,” kata Vara bersemangat.
“Wah… Aku sudah tidak sabar.” sambung Alice senang.
“Sabar sayang… ada waktunya.” balas Anet.
“Baiklah Bibi Anet dan Alice, Semuanya sudah selesai, Maaf… Saya tidak bisa membiarkan mereka lama-lama di luar, karena Kak Rava sudah memberikan amanah ke saya, unutk memantau mereka selama masa ujian. Jadi kita akan pamit dulu Bi,Alice.” kata Harsen dengan menatap ke duanya.
“Agh iya.. benar yang di katakan oleh Rava, kalian pulanglah, terima kasih sudah mau berkunjung demi Alice, Bibi sangat senang atas kalian. Sampaikan salah Bibi untuk Papa dan Mama Vara dan juga Kakak Vara,” balas Anet dengan ramahnya.
“Baik bi, Oh ya Bi, Bungkuskan 1 loyang, tapi Vara tidak mau geratis, tolong buatkan dan di potong-potong. Vara ingin memberikannya ke kak Rava dan juga kak Harsen yang sebenarnya sangat menyukai Cake orange ini.” ucap Vara bersemangat.
“Ouuu baiklah Nak Vara, biar bibi persiapkan.” ucap Anet dengan cepat beranjak.
Harsen sendiri menatap pada Vara, yang membuatnya sangat senang. Vara tahu, apa yang di suka oleh Harsen dan apa yang tidak sukai Harsen. Bukankah itu sangat romantis. Defan sendiri sibuk berbincang dengan Alice, Harsen terus memandangi Vara, hingga Vara tersadar. Sambil menunggui pesanan, jadilah keempatnya berbincang dan sibuk masing-masing.
Bersambung.
****
Bab berikutnya akan saya percepat, kepulangan Vara, Harsen ,Rava dan juga Defan. untuk persiapan pernikahan Rava dan Renata. Mohon di maklumi ya pembacaku yang baik hati ^^
Jangan lupa tekan gambar jempolnya ya.. enggak bayar kok :D .Terima kasih sudah mau VOTE, bantu karya saya untuk naik ranking, cara VOTE sudah saya update di bab sebelumnya, Terima kasih banyak untuk bantuan kalian ^^