
"HEMMMMMMM...."
Seorang Pria berdehem di belakang Renata. Refleks Renata melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah suara, sama halnya dengan Rava. Keduanya di buat terpelongok memandang Defan yang mendekati keduanya. Renata merasa malu, karena berasa kedapatan mencuri.
"Belum Halal! Enggak boleh peluk-pelukan di tempat gelap. Kata Nenek di larang berdua-duan, karena itu berbahaya jika ada orang ketiga yang datang." ujar Defan.
Rava menarik nafasnya dan memasuki kedua tangannya di dalam saku celananya, "Bukankah orang ketiganya adalah KAU!." ketus Rava.
"Iyaaa benar... Aku orang ketiganya Kak. Jadi hati-hati aja kak." kata Defan dengan membalas tatapan tajam Rava.
"Cih... Kau selalu membuatku kesal!." kata Rava sambil berjalan mendekati Defan dan menarik lehernya dan membuatnya di dalam ketek Rava, dengan kesalnya juga Rava mentoyor kepalanya yang sedari kemarin kepengen di toyornya. Defan meronta-ronta, sedangkan Rava bersemangat mentoyor kepalanya.
"Gimana? ampunnn? dari di pesawat Aku sabarin tingkahmu yang membuatku jengkel, tapi sekarang kau kembali mengulah, membuatku merasa semakin panas. Kau tahu... Ini adalah pembalasan yang sudah aku tunggu-tunggu!." kata Rava sambilan menggetok kepalanya.
"Ampunnnn Kak Rava, iya Kak... Ampun. Defan janji enggak buat kak Rava kesal lagi." celetuk Defan dengan setengah suaranya.
"Sudah dong... Kalian kok gak bisa akur dari dulu sih? aku bingung banget dengan kalian berdua. Entar jodoh loh, mau?" kata Renata pada keduanya.
"Enak aja! Apa jadinya pedang dengan pedang bersatu? kau jangan mengada-ngada sayang." balas Rava dengan menatap wajah Renata.
"Kak Rena, tolongi Defan dong." ucap Defan meminta tolong.
"Sudah-sudah... Kalian bisa membangunkan seisi rumah ini kalau terus-terusan begini. Kamu juga... lepasin dia." ucap Renata pada Rava.
Rava melepaskan dekapan siksaan balasan dari leher Defan, "Syukur aja ada Renata! Jika tidak ada dia , kau tidak selamat dari tanganku!." ketus Rava lagi dengan bibir yang di majukan.
Defan menyentuh lehernya dengan meringis, "Kak Rava jahat banget sih sama Defan?"
"Sudah... Tidurlah. Aku mau tidur, kalian kembalilah ke kamar kalian masing-masing." perintah Renata lalu berjalan masuk ke kamar Vara.
Rava melirik sang kekasih yang meninggalkannya dengan santai itu. Lalu kembali menatap tajam ke Defan, "Ganggu aja sih lo Defan." kata Rava ingin berbalik ke kamarnya.
"Kak Rava." panggil Defan buru-buru.
Rava terhenti dan menoleh lagi ke arahnya, "Apaa lagi! Mau minta di tampol?" tanya Rava.
"Kak....Jangan di tampol deh di cium aja , Defan terima." Defan menatap sedih.
"Buruan apaan!." ketus Rava.
"Lapar kak... " balas Defan sedih.
"Astaga... terus?"
"Temani Defan dong ke dapur, masak gitu." kata Defan membujuk.
"Astaga Defan... Aku benar-benar kejepit kalau kau berada di dekatku! Sudah turunlah," ketus Rava.
Walaupun berat hati, Rava selalu saja mengikuti kemauan Defan padanya. Apa saja yang di mintanya, sebisa mungkin Ia menerimanya walupun berat hati dan dengan mulut yang mengoceh dan mengatai Defan dalam hatinya. Rava sangat sayang ke Defan , seperti menyayangi Vara maupun Harsen. Tetapi... Rava enggak mau menampakkan itu , karena Defan yang super manja. Membuat Rava terkadang takut dengan masa depannya.
Sesampainya di dapur, Langsung saja mereka berdua menghidupkan lampu dapur, karena memang semua orang sudah tertidur dan seluruh lampu sudah di matikan.
"Apa kau bisa masak?" tanya Rava ke Defan.
"Lah kak... Bukankah kakak sangat mengenal Defan? masak air aja gosong kak."
"Agh... Aku tidak menyangkah punya adik seperti Kau ini. Sungguh merepotkanku dan sangat menyebalkan! Untungnya yang seperti kau ini cuma satu! Kalau dua? bisa-bisa aku gila!." tutur Rava.
"Kak Rava... Defan memang hanya satu di dunia ini. Karena Defan adik kak Rava paling tampan dan palinggg imut." kata Defan bersemangat duduk di depan Rava yang sudah mencari bahan makanan.
"Sudahlah... Tidak baik membanggakan diri sendiri. Kalau kau jatuh, rasanya sakit. Buruan....Kau mau di masaki apa?"
Defan berpikir sejenak dengan menatap Rava yang sudah mengenakan apron dan menggenggam sendok penggorengan yang sudah siap untuk berperang.
"Hemmm... kak nasi goreng dong, lebih cepat keknya." jawab Defan bersemangat.
"Baiklah... Kau duduk tenang di boncengan. Sekali kau membuka suara dari mulutmu itu, aku tidak akan melanjutkan masakanku! apa kau paham?" tanya Rava dengan menunjukkan sendok penggorengan ke arah wajah Defan.
"Siap Kak!." kata Defan dengan tegas.
Langsung saja Rava mempersiapkan bahan-bahan, bumbu, telur, nasi, kecap dan bahan lainnya yang Ia butuhkan. Alhasil dia sibuk dengan mempercepat gerakannya agar Defan tidak kelamaan menahan laparnya. Defan sendiri, berjingkrak kecil dari duduknya untuk mengintip yang sedang di lakukan Rava. Ia berdecak kagum akan Rava, yang lihai sekali dalam memasak.
"Sial! enggak bawa ponsel, kalau bawa kan bisa aku video kan dan mengirimkannya ke grup keluarga Atmadja." gumam Defan dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, dengan peluh yang terkucur, Rava menghidang hasil masakannya di atas piring kaca putih, menata nasi goreng dengan telur mata sapi, lalu ia memberikannya ke Defan.
"Taraaaaaa.... Nasi goreng spesial dengan telur setengah masuk. Andalan keluarga Atmadja," ujar Rava dengan bangganya, dan meletakkannya di depan Defan.
Defan yang semula menatap kagum akan nasi goreng buatan Rava, seketika itu juga mengernyitkan keningnya mendengar kata telur setengah masuk.
"Apaan sih kak! Beberapa kali Defan mendengar telur setengah masuk. Itu maksudnya apaan sih?" tanya Defan penasaran.
"Hemmm... Hanya orang-orang yang memiliki IQ di atas mu yang paham itu. Sudah makanlah.... Ini menu kesukaan kami sekeluarga, terutama Papa. Karena papa yang meminta ini ke Mama, jadilah menu ini turun temuran di keluarga kami. Dan kali ini khusus kakak sajikan untukmu, agar kau mengingat akan kakakmu yang tampan ini." ujar Rava dengan berbangga diri.
Mata Defan terang benderang, tak mengapalah tak paham artinya, yang penting rasa dari masakan itu yang penting pikir si Defan. Dengan bersemangat, Defan menarik piring untuk lebih dekat dengannya, lalu melahapnya dengan sendokan pertama yang di masukannya kedalam mulutnya.
"Huahhhh.. Enak banget kak!." kata Defan dengan menguyah dan kembali memasukan suapan berikutnya. Rava yang mengambil segelas susu buat Defan, barusan duduk di depannya dengan meletakkan susu di atas meja.
"Apa kakak bilang! ini menu andalan dari Mama Eva, Bibimu sendiri." kata Rava tersenyum.
"Wuah... Sangat beruntung, Bibi Eva menjadi mama nya kak Rava."
"Apaan maksud mu!."
"Sudahlah... hanya orang-orang di atas IQ nya kak Rava yang mengerti maksudnya." balas Defan dengan mengunyah makanannya tanpa menatap ke Rava.
Plakkkkkkkkkk....
"Aduh kak!." Defan meringis dengan melapas sendoknya dan menyentuh kepalanya.
"Berani-beraninya Kau mengulang perkataan kakak ke padamu!."
"Hah... Kak Rava! Membuat nafsu makan ku terganggu saja! Egois tahu kak! Agh....Sudahlah, jangan menggangguku!" kata Defan dengan meneguk susu yang sudah di persiapkan Rava untuknya.
"Hadeh... Dasar adik tidak tahu di untung! sudahlah... Makanlah sendiri! kakak mau tidur, gara-gara mengasuhmu, Aku melupakan jadwal ku besok. Kau tahu, besok Kakak dan Renata bakalan ke tempat desainer baju pengantin terkenal untuk calon kakak iparmu! dan malam ini, Kau malahan membuatku repot!." kata Rava sambilan melepas apron pink yang ada di tubuhnya, lalu mencampakkannya ke atas lemari dan hendak meninggalkan ruangan dapur.
"Kakak!!! Tunggulah sebentar lagi, ini sudah mau siap. Defan takut sendirian kak," Defan meringis sambilan cepat-cepat menghabiskan sisa makannannya.
Lagi-lagi Rava tidak tegaan, dia menarik nafasnya dan kembali mundur dan duduk di depan Defan dengan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Dalam hitungan ke lima tidak kau habiskan! aku akan meninggalkanmu! aku sudah tidak tahan jika berlama-lama denganmu!." kata Rava dengan ketus.
Dengan buru-buru seperti kecepatan abang Valentino Rossi, Defan menyuapkan makanannya dengan cepat sampai mulutnya penuh. Rava yang melihat mulut Defan penuh bagaikan mirip ikan mas koki itu membuat Rava tertawa kecil.
"Cis... Kau memang aneh." kata Rava.
"Apanya yang aneh." ucap Defan susah payah dengan mulut yang penuh.
"Belum juga Kakak menghitungnya, kau main gas saja. Engkol dulu baru di gas , asal main ngebut aja kau ini!." ketus Rava.
Dengan cepat Ia mengunyah sisa makannannya, karena ingin protes dengan ucapan Rava barusan. Rava sengaja menunggu Defan usai mengunyah.
"Agh... Kakak ngerjain Defan?"
"Hemmm...Begitulah." kata Rava, lalu Ia beranjak, "Angkat semua piringmu ke wastafel pencuci piring, lalu matikan lampunya. Kakak sudah sangat mengantuk" Rava berjalan meninggalkan dapur.
Buru-buru Defan mengangkat piring dan gelasnya, meletakkannya dan berlari kecil ke arah saklar lampu dapur, kemudian berlari mengejar Rava yang sudah di depan tangga. Entah apa yang di takuti si Defan itu, membuat Rava yang sudah di sampingnya hanya menggelangkan kepalanya. Tetapi begitupun Rava, dia tetap menyayangi Defan yang memang sangat manja terhadap dirinya, entahlah...Mungkin kedua orang tua mereka, memang sengaja mendekatkan keduanya, walaupun jarang sekali mesra antara kakak beradik.
Bersambung.
.......
Nah sudah 2 bab kan? masih bilang authornya pelit, kalian bantu dong karya saya agar tetap naik rankingnya bukan turun ya. Tolong kitanya saling kerja sama, jangan lupa tekan like dan berikan vote. Oh ya... maaf ini saya buat ceritanya Rava dan Defan dulu, biar ada manis-manisnya gitu di antara mereka. 🤗😁.
Terima kasih untuk seluruh pembaca saya yang benar-benar mendukung saya, saya sering perhatikan riwayat vote, siapa saja yang memang benar-benar mendukung karya saya, maaf gak bisa menyebutkan satu persatu, tetapi saya pribadi mengucapkan banyak Terima Kasih..❤🥰😍🙏