
Suara sirine Ambulance mengiringi perjalanan Rava bersama Renata. Seperti Dejavu, Rava menangis meratapi Renata yang terbaring dengan lemah, wajahnya tampak sangat memucat, hanya hembusan nafasnya terdengar di telinga Rava yang sibuk meminta Renata terbangun.
"Bangun sayang... Jangan mengulang kejadian waktu itu. Aku tidak terima, kejadian dulu, kini kau ulang lagi. Aku gak rela, jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana denganku? Berkali-kali aku menanyakan kepadamu, di bagian mana rasa sakit yang Kau rasakan, tapi tidak seditkitpun kau keluhkan. Berkali-kali, Aku mengajakmu ke Rumah sakit, tidak juga kau indahkan perkataanku Rena." Rava histeris, kedua matanya di banjiri air mata hingga menggenangi kedua pipinya. Suaranya terdengar parau dengan getaran di sela-sela ucannyaa dengan menggenggam punggung tangan Renata.
"Pak....Tolong jangan menangis seperti ini, pasien bisa mendengarkan suara anda. Setidaknya berikan kata semangat ke istri anda. Beliau butuh semangat meskipun matanya terpejam." suara salah satu team medis yang memberikan pertolongan pertama untuk Renata menegur dengan halus.
Rava mendongak dengan kedua mata yang di genangi air mata. "Anda tidak tau seberapa pentingnya orang yang terbujur kaku di hadapan saya! Orang ini separuh dari jiwaku! Sekujur tubuhnya sangat dingin, dan anda kata saya harus menyemangati istri saya sementara setengah dari tubuh saya tidak bergerak sama sekali! Bagaimana anda bisa seenaknya memerintah sayaaaaa!" teriak Rava seperti gemuru yang mengahantam langit.
"Pak... tolong tenang, Istri anda memerlukan pertolongan, tapi tolong jangan membuat kekacaun!"
"Katakan pada sopir didepan, lebih cepaaaat. Jika kalian sedikitpun terlambat untuk menolong Istri saya, akan saya pecat kalian semuaaaaa!" teriak Rava lagi.
Renata tidak bergeming, tubuhnya tampak kaku dengan wajahnya yang memucat. Entah kenapa, setelah tertidur sangat lama, Renata tidak kunjung terbangun, tubuhnya berasa dingin di sertai hembusan nafas yang melemah.
Di sinilah, tubuhnya terbaring, bersama selang oksigen yang sudah di pasang di kedua lubang hidungnya. Jarum infus tertancap di urat nadi yang trlihat di balik kulit putihnya. Bagaimana tidak? perasaan kalut Rava singgah di hingga ke dasar ketakutannya, ketakutan di tinggal pergi Renata selamanya.
Sampai di lobby Rumah sakit keluarga Atmadja, Rava segera turun diiringi dengan team medis menarik b brankar Ambulance keluar dari mobil. Rava terlihat sangat gusar, melihat Renata yang masih tidak membuka kedua matanya.
Hendak melangkah masuk, tampak seluruh keluarga beriringan tiba di Rumah sakit, Rava tidak menghiraukan sama sekali keluarga yang tak kalah takutnya dari Rava. Rava mengejar team medis mengiringi Renata hingga masuk ke dalam ruangan UGD.
Di depan UGD Rava tidak di izinkan maauk oleh petugas team medis. Merasa fustasi tidak bisa menemani Renata di dalam, Rava masih merapatapi pintiu yang menutupi secara bersamaan, isak tangisannya terdengar oleh seluruh keluarganya.
"Rava, tenang Nak." Eva merangkul tubuh Rava dengan sangat erat.
Rava terkulai lemas di pelukan Eva, "Bagaimana ini Ma? Renata Ma." isakan tangisnya melukai hati seorang Ibu yang melahirkannya. Tak terasa kedua mata Eva menangis.
"Sabar Nak... doakan Renata tidak apa-apa Nak." bisik Eva dengan bergetar.
"Rava, duduk Nak." Raka menarik lengan Rava untuk duduk di salah satu bangku tunggu.
Casandra tidak kalah harunya, di dalam pelukan Varel yang menenangkan sang Istri meskipun rasa takutnya gak kalah bergejolak dari Rava dan sang Istri. Sedangkan Vara yang melihat kakaknya bersedih dan larut dalam kesedihan, hingga tak ada satu pun yang bisa menghentikan tangisannya, turut menangis di pelukan Harsen. Harsen juga tak kala sedihnya, mengingat Renata adalah kakak perempuan satu-satunya yang Ia miliki.
Leo, Rere, Jimmy dan Anna, juga terpaku melihat seluruhnya menangis. Tampak guratan kesedihan yang mereka pendam, agar tidak semakin menambah haru suasana di sekitar mereka.
Rava kembali berdiri di depan pintu UGD seakan mencari-cari cela untuk bisa melihat sang pujaan hatinya. Bagaimana pun bagi Rava, dia selalu ingin di masa kesulitan atau pun senang, Rava bisa mendampingi sang Istri.
"Rava duduklah Nak." Raka mencoba menenangkan kembali anaknya.
"Gak bisa Pa! Istriku sedang di dalam, bagaimana bisa Rava di sini duduk dengan tenang. Sedangkan di sini, Rava tidak tau menauh apa yang sedang terjadi di dalam sana." kata Rava di sertai isakan tangis.
"Papa tau Nak, setidaknya tunggulah Dokter. Jika kau terus begini, Renata bisa merasakannya." guratan wajah Raka di sertai manik mata kekhawatiran yang di tutupinya.
"Kakak.... Jangan menangis." Defan memeluk Rava meskipun dia menangis.
"Kau lihat kan Fan, Renata di dalam sana sendirian. Tidak tau apa yang sedang di alaminya di dalam sana!" Rava lagi-lagi melampiaskan semua amarah dan kesedihannya.
Tak lama kedua pintu terbuka, team medis kembali mendorong brankar dan Renata keluar dari ruangan UGD. Seluruhnya berdiri mendekati Dokter yang menangani Renata.
"Bagaimana Istri saya Dok?" Rava menyentuh lengan Dokter seraya menoleh ke Renata , wajahnya memucat.
"Maaf Tuan, kami akan memindahkan istri anda ke ruangan ICU.
Rava mendengarnya serasa terpukul.
"Dok, kenapa Istri saya harus di bawa ke ruangan ICU? bukankah hanya sakit lambung atau sejenisnya?" Rava mencoba meminta penjelasan.
"Maaf Tuan, Keadaan istri anda sedang tidak stabil, pasien memerlukan pemantuan ketat dan memerlukan perlatan khusus dan tenaga yang terlatih." Dokter yang berjenis kelamin pria tersebut mencoba menjelaskan ke Rava.
"Apakah separah itu Istri saya Dok?" tanya Rava dengan takut.
"Tolong bawa pasien ke ruangan ICU." perintah Dokter ke team medis yang bertugas.
Casandra dan yang lainnya melihat Renata terus menerus meneteskan air mata. Seakan tidak terima sang anak di bawa ke ruangan ICU, Casandra meraung dan terisak sedih, Varel sendiri sudah tidak sanggup menutupi kesedihannya.
"San.... tenang, ayo kita bawa dalam doa. Semoga Renata baik-baik saja." Eva memeluk tubuh Casandra.
Anna yang sedang merasakan kesedihan sang kakak ikut memeluk tubuh Casandra memberikan kekuatan ke kakaknya. Jimmy, Leo dan Raka memberikan kekuatan mereka ke Varel, yang turut larut dalam kesedihan.
"Bagaimana Dok? Apa Istri saya memiliki penyakit yang berakibat buruk?" Rava kembali mengulang pertanyaannya.
"Benar Tuan, Apa sebelumnya istri anda pernah mengalami kecelakaan dan mengenai bagian perut pasien?" Dokter mencoba menggali riwayat sang pasien.
Rava sejenak terdiam, seakan Ia kembali ke masa Renata mengorbankan dirinya demi Vara. Tubuh Rava gemetar seakan berasa lemas, perasaan takut yang kali ini lebih membuatnya merasa tidak berdaya.
"Apa karena kecelakaan waktu itu Dok?" Vara mendekati Dokter dan Kakaknya dengan isakan tangis.
Harsen mengikuti Vara dari samping , sebelum semuanya larut dalam isakan tangis yang haru.
"Berarti benar pasien pernah mengalami kecelakaan yang berefek di bagian dalam area perut pasien, terutama bagian rahim pasien. Dugaan saya, pasien bisa saja tidak bisa memiliki keturunan."
DEGGGGGGG....
Seluruh yang mendengarkan perkataan sang Dokter kaget bukan main. Rava sendiri histeris ke arah sang Dokter.
"Saya tidak peduli soal keturun Dok! yang saya pedulikan Istri saya tersadar! Selamatkan Istri sayaaaaaa!" teriak Rava seakan ingin melahap si Dokter.
"Rava.. Tenang Nak... kenapa kau seperti ini." Raka menarik tubuh Rava untuk menjauh dari Dokter.
Seorang perawat berlari ke arah keluarga besar Rava dengan panik dan menyerukan nama Renata, "keluarga Renata, keluarga pasien Renata."
Seluruhnya melihat ke arah Perawat, "Ada apa Sus?" tanya Eva yang lebih dulu.
"Pasien kritis Bu, keluarga bisa mendampingi pasien untuk terakhir kalinya." perawat mencoba menjelaskan.
"Tidak mungkin," Rava menggeleng, "Tidak mungkinnnnnnn!" teriakan Rava terdengar menggelegar.
"Rava, tenanglah Nak. Kau harus mendampingi Renata di masa-masa kritisnya. Tenangkan dirimu, kau seperti ini akan semakin membuat Renata lemah." Raka mendekap sang anak.
Casandra sudah tidak sadarkan diri, membuat team medis yang melihat membantu membawa Casandra. Sedangkan Varel terduduk lemas di atas lantai di dalam pelukan Jimmy yang juga menangis.
"Ayo Nak... Papa temani." Raka mencoba membujuk sang putra.
Belum tiba di depan ICU, Perawat lain yang keluar dari ruangan ICU menatap Rava yang ia tau adalah suami Renata. Dokter lain juga keluar dengan perasaan lesu dan wajahnya yang kecewa. Keduanya datang menghampiri Rava dan Raka.
"Maaf Tuan, Istri anda—" suara Dokter tersebut terhenti, seperti ada yang tertahan di tenggorokanya.
"Ada apa dengan Istri saya Dok?" Rava membulatkan sempurna kedua matanya.
"Kami gagal menolong Istri anda Tuan, pasien gagal berjuang melawan masa kritisnya."
Rava terduduk lemas di atas lantai, Raka tercengang.
"Tidak.... Tidak mungkin." Rava berucap pelan.
"Ini tidak mungkin kan? Aku yakin ini hanya mimpi. Kalian semua membohongikuuuuu! aku tidak percaya, di mana Istriku! Di mana Istriku, tunjukkan istrikuuu di mana diaaaa!" teriakan Rava menjadi-jadi, dengan pertolongan Leo dan Raka,tubuh Rava di tahan.
"Di mana Istriku," pelan dengan isakan tangis.
Tampak brankar Renata di doroang melewati Rava dan yang lainnya. Segerah Rava mendekati dan membuka kain penutup wajah Renata.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Bangun sayang, Ini aku, aku masih membutuhkanmu. Bukankan kita berjanji saat kita berbulan madu, kita akan menua bersama? kenapa kau tega meninggalkan Aku?" bangun, aku mohon bangunlah!" Rava mengguncang tubuh Renata yang sangat dingin.
"Maaf Tuan, kami akan membawa ke ruang jenazah."
Rava kembali terduduk lemas, meratapi kesedihannya. Saat brankar dorong sudah tidak tampak. Rava meraung sedih, seperti orang kehilangan kewarasannya. Maka dari itu, kalian tolong author dalam bentuk VOTE dan LIKE. apa kalian setuju kalau ini sad ending? Kalau tidak setuju berikan dalam bentuK VOTE dan LIke kalian. Terima kasih ^_^