My Chosen Wife

My Chosen Wife
100% BERHASIL.



Setelah menghubungi Alice, Defan mendapatkan langkah-langkah untuk  membuat Chesee Cake, bersama James dan Rava. Kini, bagi Rava bukan bayangan lagi. Kenyataannya, Renata memsangkan apron berwarna pink di tubuh Rava. Benar-benar hayalan yang berubah jadi kenyataan. Sungguh miris batin Rava, tapi lagi-lagi mengingat sang bayi, ini adalah perintah sang pemberi kehidupan baru di dalam rahim sang Istri. Rava haruslah bersyukur dan bersemangat, meskipun keanehan terus terjadi pada dirinya.


“Hanya Sembilan bulan bukan? Kenapa aku harus merasa kesusahan, Ini adalah perjalan baru untuk menuju keluarga kecil yang di lengkapi dengan seorang anak,” gumam Rava setelah Renata usai mengikat apron kebelakang pingganya.


“Okey Papa Rava, semangat terussss… Kau memang Papa yang layak di acungkan jempol.” Renata memberikan ibu jarinya membentuk pujian untuk Rava.


Rava tersenyum, pikirnya aneh saja si Renata yang sedang mengandung, berubah dengan kebiasaan yang baru. Kebiasaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sungguh menggemaskan, melihat senyumnya Renata dengan kedua  mata berbinar menatapi ketiganya.


“Kak? Kenapa berdiam? ayo bantui,” Defan membuyarkan lamunanya yang sempat memperhatikan raut wajah kebahagiaan Renata.


“Sabar! lo ngapain rupanya Fan? Kasi kakak yang gampang-gampang saja, selebihnya kalian berdua saja yang bertugas penuh..” perintah Rava dengan seenaknya.


“Enak saja! kalau yang gampang itu ya itu kakak cuma liati James dan Defan dong kak.” kata James menimpali.


“Terus??? Kakak ngapain?” tanya Rava mencoba berdamai.


“Okey, sekarang kita periksa dulu bahan-bahannya ya.” ucap Defan dengan menatap handphone-nya.


Rava dan James yang di samping kiri dan kanan Defan mulai bersipa memegangi semua bahan-bahan yang ada di atas bar mini dapur Anna.


“Butter.” seru Defan.


Rava dan James sama-sama mencari.


“Okey ada.” James meangangkat dan menyisihkannya.


“Gula bubuk?”


Masih sama-sama mencari dan membaca setiap kemasan bahan,


“Okey ini ada.” Rava mengangkatnya.


“Susu cair, cream cheese, tepung terigu, tepung maizena.” ucapan Defan yang cepat membuat keduanya bukan mencari , tetapi kedua mata James dan Rava di buat melotot ke arahnya. Defan yang terus masih menyebutkan bahan kue nya tiba-tiba terhenti dan menoleh ke  kiri dank e kananya.


“Kenapa sih?”


“Cepat amat kayak angin,” sindir James.


Rava mengusap kasar wajahnya,pusing banget lama-lama dekat si Defan, susah untuk serius. Kini, Defan mencoba mengulang lagi seluruh bahan yang sudah di kirimkan oleh Alice untuknya dan setelah itu, mereka bertiga membagi tugas, ada yang mengayak tepung, ada yang mengocok lepas kuning telur, bahkan seeprti Rava mengambil panci, memanaskannya dan mencampur bahan butter, cream cheese, dan susu cair dan bersamaan di aduk olehnya. Sungguh niat banget jadinya merasakan cheese cake buatan sendiri. Setelah ketiganya sama-sama berbagi tugas, hingga adonan berkumpul jadi satu di dalam satu wadah,


Tugas Defan terakhir, menuangkan adonan bahan yang sudah menyatu ke dalam loyang yang sudah di oleskan James dengan margarin.


“Baiklah, ini sudah bisa di panggang.” ucap Defan.


“Panggang ke dalam oven.” Anna beraksi soal memanggang.


Kedua loyang yang berisi bahan-bahan yang sudah jadi itu, di bawa oleh Anna dan memasukkannya ke dalam oven.


“Kenapa dengan wajah Kakak?” tanya James ke Rava.


Buru-buru Rava mengusapnya.


“Kenapa? apa ada tepung?”


“Bukan Kak, margarin itu sepertinya,” Rava menghapusnya dengan tisu.


“Rava, sana temani Renata. Di kamar bawah, Renata sedang tertidur. kalau sudah masak, nanti Bibi panggilkan.” kata Anna dengan lembut.


“Baiklah Bi, Terim kasih banyak.”saut Rava dengan buru-buru melepas apronnya.


Saat kedua kaki Rava melangkah keluar dari dapur, suara yang tidak asing baginya terdengar sangat jelas.


“Selamat sore semuanya,” sapa Jimmy bersemangat.


Rava dengan cepat berjalan menuju kamar yang di maksudkan oleh Anna sebelum Jimmy merusuh,


“Eeeh… Rava mau ke mana? kok main kabur aja sih?” Jimmy menunjuk ke Rava yang terus berjalan, pura-pura tidak mendengar suara Jimmy, hingga ia refleks menarik nafasnya saat sudah tiba di depan pintu dan langsung masuk berlalu ke dalam.


“Sudah sana ganti pakaian kamu, Rava mau menemani Renata.” kata Anna dengan membantu yang  lainnya bersih-bersih.


“Dih itu muka atau canvas?” ledek  Jimmy dengan berjalan ke arah Defan yang masih berdiri bersandar di depan dinding bar.


Defan yang santai menatap Jimmy yang ngoceh, tidak perduli, ia terus menikmati sisa keju yang ada di hadapannya dengan lahap.


“Berisik amat sih Om. Pulang-pulang rewel banget. Sudah minum susu belum?” tanya Defan dengan tangan yang mengangkat sisa susu.


“Tidak! kau pikir Om anak bayi apa!”


“Dih Pa, bukan bayi aja yang minum susu, nenek-nenek dan kakek-kakek juga masih bisa minum susu.” saut James.


“Terserah kalianlah! Terus, apa yang kalian lakukan dengan dapur ini! sangat berserak, kasihan tuh Mba Icha capek-capek membereskannya.” Jimmy menunjuk-nunjuk ke arah bahan-bahan yang sangat menjoroki dapur Anna, dengan bantun Mba Icha yang turut membersihkan dapur agar kembali semula.


“Pa, ini permintaan calon cucu Papa. Kak Renata meminta James, Defan dan Kak Rava untuk membuatkannya cheese cake. Dan inilah hasil dari semuanya."


"Semoga saja hasilnya sesuai dengan yang di inginkan Renata. Kenapa radarku mengatakan, tidak enak ya?" sindir Jimmy.


"Pa... kalau cuma mau mendoakan hasilnya tidak sesuai harapan. Lebih baik, Papa bersih-bersih dulu. Mandi gitu. Biar adem, pikirannya." kedua mata James melotot.


"Tanpa Kau suruh pun, Papa memang mau mandi. Byeeeeee." bisik Jimmy.


"Anna siapkan dulu air panasnya." kata Anna hendak meninggalkan dapur, "Oh ya...kalau ovennya sudah berbunyi, tandanya sudah matang. Bisa kalian angkat ya." Anna mengingatkan ke James dan Defan, sebelum Anna dan Jimmy benar-benar berlalu.


Tinggalah Defan dan James, sama-sama menanti suara bunyi oven, pertanda timer yang di tentukan sudah siap dan benar-benar matang. Masih mengenakan apron keduanya, dengan senantiasa menanti, dengan handphone di ketua tangan mereka, sama-sama bermain game online. Hingga suara oven terdengar membuyarkan keseriusan keduanya dan dengan cepat mengambil hasil panggangan yang sangat di nantikan keduanya.


Setelah Defan mengeluarkan cake ciptaan keduanya, dengan kedua mata yang berbinar, menyambut satu persatu kue yang di keluarkan oleh Defan.


"Gilaaaa... baunya enak banget. Kejunya ya ampunnnn... menggiyurkan sekali." James berucap dengan mendekati kue-kue yang di letakkan defan di atas lantai marmer mini bar.


"Coba, di lumeri dengan coklat leleh James. Terus toppingnya pakai strawberry. Tapi yang satunya biarkan saja, biar jadi rasa original gitu." kedua mata Defan berbinar.


Rasanya bangga, kerja keras mereka berhasil dengan hasil yang memuaskan. James dengan cepat, melakukan yang di perintahkan Defan pada dirinya. Hingga Ia mempoles akhir dari setiap contoh yang mereka pelajari.


"Apakah itu sudah selesai?" kini Renata datang mendekati James dan Defan, senyum sumringah terhias di bibirnya yang tipis.


"Sudah Kak... Ini berhasil. 100% berhasil, ayo kita makan." ajak Defan.


"Jangaaan!" jerita Renata membuat Defan berdiam sejenak.


"Kenapa Kak?" tanya Defan.


"Kenapa Kak? egh Noona... kenapa?" James turut di buat bingung.


"Karena, kakak akan memberikannya ke Vara dan juga Kak Rava." kata Renata dengan senang.


"Terussss...apa kami tidak boleh menimatinya Kak?"


"Tentu boleh, kita tunggu Kakak kalian bangun." balas Renata.


"Renata." panggil Jimmy yang barusan tiba di bawah.


"Paman." Renata berjalan menghampiri Jimmy dan memberikan salim ke pada Jimmy.


"Kau menginginkan kue keju buatan Rava, Defan dan James. Tapi setelah matang, kenapa kamu ingin memberikannya ke yang lain Renata?"


"Iya Paman. Bagi Renata, menikmati baunya saja sudah cukup Paman." balas Renata dengan tersenyum.


James dan Defan sama-sama saling memandang, rasanya seperti mengdengar suara kilat yang membelah batu karang. Apa-apaan pikir mereka, cuma di cium.


"Cukup sabarrrrrr.." Defan mengelus dadanya.


Bersambung.


***


Yeee....besok kita angkat Vara dan Harsen ya. Tolong bantu VOTE dan LIKE nya 🤗😍😘


Ranking 23, ini saya selipkan cara vote dan gambar ke dua nggap saja James dan Defan siap masak-masak.😂 Defan yang pakai singlet aja tuh, James sebenarnya bukan yang itu ya. Anggap aja itu mereka 😂.



Cr :IG brightrpp