My Chosen Wife

My Chosen Wife
KEBERSAMAAN YANG INDAH.



Setelah lelah berlarian dengan Defan, Harsen memilih menghentikan kakinya. Begitu juga dengan Defan, yang juga berhenti tidak jauh dari posisi Harsen. Keduanya melemparkan tubuh mereka di atas pasir. Dengan nafas tersengal-sengal, keduanya menyesuaikan ritme detak jantung mereka.


Langsung saja, Defan merebahkan tubuhnya di atas pasir. Kedua manik mata Defan bermandikan awan yang berarak menyelimuti langit jingga. Sungguh sangat indah pemandangan itu.


Kini ia mengubah pemandangannya dengan memutar kepalanya ke arah Harsen yang masih duduk dengan menunduk.


"Kak... Sudah Defan katakan! ini bukanlah ide Defan! Percalayah Kak." Defan berkata dengan penuh memohon.


Harsen membalas tatapan Defan.


"Jika bukan Kau! siapa lagi yang bisa membuat cerita gila ini!" sorot mata dingin Harsen terpancar seperti bongkahan Es.


"Astagaaaa... Bukan seperti itu Kaaaak! Ini di luar konsepnya Defan. Haruskah Defan menenggelamkan diri ke dalam lautan pantai ini? agar Kakak percaya dengan ucapan Defan?" Kini dia mendudukan tubuhnya, menatap dalam-dalam dari kejauhan.


"Jika Kau mau silahkan Defan! Kakak sungguh tidak percaya padamu!" balas Harsen dan membuang pandangannya.


"Harsennnnn!" panggil Rava dari kejauhan.


Harsen dan Defan, sama-sama menoleh ke Rava.


"Ada apa kak?" jawab Harsen masih dari posisinya.


"Sebenarnyaaaa... Ide ini adalah ide Kak Rava. Kau sekarang boleh marah sama Kakak." jerit Rava dengan kedua tangan yang di selipkannya di bibirnya.


"Astagaaaa Kak Rava! Ternyata musuh dalam selimut. Kakak dengarkan itu siapa! Siapa yang membuat ide gila ini! Kakak sih tidak percaya sama Defan. Ke sini saja, Defan baru tau tadi karena di paksa ikut!" Defan mengeluarkan segala unek-uneknya.


Harsen tidak bergeming. Bukannya beranjak untuk mengejar Rava. Ia masih tidak mengeluarkan sepata kata. Pun dengan ucapan Defan, hanya seperti hembusan angin yang menerjang menyapu kulit. Rasnya tidak mungkin saja, ini semua bisa terjadi.


Haren tiba-tiba menunduk seraya tertawa.


"Mulai gila ya kak?" Defan menatap takut.


"Iyaaaa.. Kalian semua membuatku gila! Terutama Kau, Defan."


"Is merinding. Kenapa jadi Defan lagi sih yang di salahkan? kan bukan Defan?"


"Karena sebenarnya, Kau pemula dari semua ide-ide gilamu. Dan mereka adalah murid-muridmu. Kau mengertikan maksud Kakak? kau itulah guru mereka, dasarrr!" Harsen melampiaskan marahnya ke Defan, sungguh ngenes si Defan.


"Dih PMS ya? Jangan, kan mau malam pertama, asik mau marah aja sih. Kasihan Vara, kalau Kakak terus marah-marah, energy Kakak terus berkurang, terus bisa jadi lemas, terus loyo, terus bobok. Kan kasihan Vara sudah menunggu momen pecah ketuban." cetus Defan dengan santainya tanpa melihat Harsen yang sudah memandanginya.


Hawa dingin menyelimuti Defan, tanpa dia tau Harsen memandanginya dengan tatapan dingin. Seenaknya saja dia berbicara.


"Kenapa angin di sini mesra sekali ya? Kayak meluk-meluk gitu deh dari belakang." ujarnya dengan menyentuh tengkuk lehernya.


Tiba-tiba dari belakang, tubuh Defan di angkat paksa oleh Raka, Varel, Jimmy dan James.


"Lepaskaaaaaan." teriak Defan sekencang mungkin.


Raka, Varel, Jimmy dan James sudah tertawa dengan sangat senangnya. Saat sampai di pinggiran pantai, kempatnya menjeburkan tubuh Defan.


Byuuuuuuuuurrrrrrrr......


"Aggggggghhhhh." suara Defan setelah mendarat di atas air.


Terdengar tawa dari para pria yang sangat senang dengan perbuatan mereka ke Defan. Defan yang sudah kelelep, mengusap-usap wajahnya menghapus air pantai yang menggenangi wajahnya.


"Kenapa kalian jadi mengerjai Defan satu hari ini?" protes Defan.


"Kau layak mendapatkannya Fan! Kau selalu mengerjai orang, kadang hidup itu harus timbal balik. Seperti karma, apa yang kau perbuat, ada balasan yang kau terima. Bukankah ini sungguh adil? Agar Kau tau rasanya di kerjai!" kata James dengan menjulurkan lidahnya.


"Kenapa jadi Defan! Ini kan malam pertamanya Kak Harsen dan Vara! kenapa jadi Defan sih artisnya?".


"Kau kan artis pendukungnya." balas Jimmy.


"Ke mana Harsen?" tanya Leo mengedari pandangannya ke setiap sudut.


"Hemmm...ke mana ya? enggak terbawa arus kan? jangan-jangan?" Jimmy menatap ke Leo.


"Jangan yang aneh-aneh, itu kan dia bersama Vara."tunjuk Raka ke sisi pesisir pantai yang tidak jauh dari mereka. Leo aja yang membesar-besarkannya.


"Sudah! Defan izin dulu, mau mandi." kata Defan sambil melangkah.


"Jangan dulu! Sekarang, kalau dulu keburu basi lo!" saut James.


"Berisikk!!!!" kata Defan berlalu.


Raka dan Varel saling tatap dan tertawa, James dan Jimmy ikut menertawai Defan yang bukan mimpi basah lagi, tapi benaran basah. Dan ini, adalah masa-masa tua yang paling mereka nikmati. Saling berbagi, saling menikmati, saling memberi. Itu semua telah mereka lakukan sampai, mereka hampir memiliki cucu.


"Jangan ganggu Harsen dan Vara. Kita jahat banget sama mereka berdua. Gak pernah lihat Harsen sebegitu marahnya. Biar mereka menikmati masa-masa pertama mereka menjadi suami istri. Entah kenapa, nasib anak-anakku tidak sebaik Papanya saat berbulan madu dulu." ujar Raka sambil melihat anak dan menantunya.


"Benar... itu semua idenya Rava yang katanya biar adil." sambung Leo.


"Dan kita menyetujuinya... sama saja dong dengan si Rava." Varel tertawa.


"Karena itu, kita semua juga terlibat bukan?"


"Dari dulu begitulah cinta, deritanya tiada akhir. walau deritanya hilang, ingatan hal yang menyakitkan dan mengerikan tidak pernah akan hilang." James mengucap kutipan dari kisah cintanya Chu Pat Kay.


Plakkkkkkkkkk....


"Ngawurrrrrr!" kata Jimmy lalu berjalan meninggalkan James, mengikuti Varel dan Raka.


***


Senyum Vara bermekarang mengiringi langkah kaki mereka. Hembusan angin yang melambai-lambai, membuat rambut panjangnya berhamburan , menari-nari dengan di iringi irama deburan ombak.


Sungguh sangat tidak bisa di bayangkan, rencana yang sudah di rencanakan, gagal tiada membekas. Harsen tidak menyesali itu, yang terpenting Vara ada di sampingnya dan bahagia.


Vara menghentikan langkah kakinya, menghadap kepada luasnya lautan yang membentang di pesisir pantai yang mereka jejaki. Sejenak Ia menutup matanya, menarik nafasnya dalam-dalam, menghirup aroma laut. Sangat tenang, jiwa dan pikirannya di rasuki oleh Vitamin sea.


"Apa kau menyukainya?" tanya Harsen yang berdiri di samping Harsen.


"Sangat! Ini sangat menyenangkan Kak. Tidak ada duanya." balasnya dengan menarik nafas dalam, dan menoleh ke Harsen sambil tersenyum.


"Syukurlah Vara menyukainya." balas Harsen menatap ke depan.


"Apa Kakak tidak menyukainya?" Vara menghadapkan tubuhnya ke Harsen.


"Sangat senang, kalau Vara senang. Itu sudah lebih dari cukup, Istriku." kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman.


Vara tertawa kecil dan tersipu malu, di panggil Istriku oleh Harsen.


"Kenapa tertawa?" Harsen menaikkan sebelah alisnya.


"Lucu aja Kak? rasa-rasanya tuh, Vara seperti gak cocok jadi Istrik Kakak. Kayak kakak-adik gitu kak."


"Siapa bilang? Kan kita cocok, apa mau di buktikan?" goda Harsen.


"Isss... Kakak."


"Ayolah...kalau mau di buktikan ayo." Harsen ingin menarik tubuh Vara.


Vara sudah berlari-lari di atas pasir putih, yang membuat jejak kaki mungilnya Vara.


"Tangkap saja Kak, kalau bisa." kata Vara dengan berlari-lari.


"Kau menggoda Kakak? Jangan menyesal, kalau kakak bisa menangkap kamu, akan kakak campakkan tubuh kamu ke air laut!" ancam Harsen, dan dengan tawa dari keduanya, berlari bersama, suara jeritan, bahkan tawa yang melayang-layang di udara menggambarkan kemesraan dan kebahagiaan Vara dan Harsen.


"Andai saja, Aku yang di situ." gumam seseorang dari atas penginapan.


Kebersamaan Vara dan Harsen.



***


Setelah usai bermandi ria di pesisir pantai, kini semua keluarga bersama-sama untuk menikmati malam mereka. Berbeda untuk pengantin baru, mereka lebih memilih untuk melakukan layanan kamar. Karena rasa lelah mulai singgah di tubuh keduanya.


Renata yang sempat merasa bosan sangat bersyukur, karena memang momen bulan madu Vara, membuatnya bisa ikut terbang ke Bali. Karena Dokter mengizinkan Renata dengan kehamilan yang memiliki kemajuan pesat dari sebelumnya.


"Makan yang banyak Sayang." Casandra mengambilkan sup ke dalam mangkuk Renata.


"Renata akhir-akhir ini mulai makan banyak kok Mi. Mual Renata sudah tidak mengganggu. Tapi kali ini, imbasnya ke Rava. Dia sangat sulit makan, kalau tidak ada makanan berkuah. Rava ingin kalau makanannya selalu berkuah." balas Renata ke Casandra sambil melirik Rava.


"Benar yang di bilang Renata Mi. Sekarang Renata sudah tidak terlalu suka mual. Tapi, Rava sekarang suka haus aja kalau makan. Maunyaaaa berkuah gitu." kata Rava sambil mengunyah makannya.


"Berarti bisa hemat nasi kalau begitu, tinggal tambahkan saja, air dari bak mandi. Selesai bukan?" saut Jimmy.


"Kok jadi air bak? mandi dong itu Om." saut Defan.


"Iya nih, masa jadi air bak. Kelelep kalau di jadikan kuah." timpal Leo dengan menggaruk kepalanya.


"Anggap aja, si Jimmy lagi mimpi *BASAH*." sambung Varel membela menantunya si Rava.


Semuanya tertawa, ingat si Defan. Bisa-bisanya mimpi seperti itu. Membuat Eva menceritkan mimpi Defan ke seluruh sahabat yang di anggapnya keluarganya.


"Jangan di bahas lagi kenapa Paman? Di sini ramai, kan Defan jadi malu." Defan menunduk sedih.


"Emangnya Kau masih punya urat malu Fan?" sindir Jimmy.


"Egh iya ya. Defan kok suka lupa gitu ya om? Kan uda gak punya ya." balas Defan bersemangat.


"Kalian ini memang ada-ada saja. Jangan ngobrol lagi, makan habis semuanya." perinta Eva dengan lembut.


Setelah mendapatkan perintah Eva, semuanya makan dengan tenang di ruangan yang sudah di persiapkan Rava sebelumnya. Perasaan Rava tiba-tiba gak enak, saat dari tempat meja mereka makan, melihat sosok yang tidak di inginkan. Buru-buru Rava mengambil ponselnya.


Rava.


✔ Tolong jaga ketat di sekitaran kamar Vara dan Harsen. Tapi jangan sampai ketahuan oleh Vara dan Harsen. Pun juga, dengan target. Kalian bermain cantik. Saya tidak mau kedok kalian sampai ketahuan. Ini menyangkut keamanan orang-orang yang saya sayangi.


Sekretaris Rans.


✔ Siap Boss. Akan kami laksanakan.


Bersambung.


.....


Yuhuuuu.. ayo mana VOTE nya ni dan Likenya. Semakin banyak yang silent reader nih...hihihi...yadalah gak apa-apa, saya tetap up sampai di hari H untuk tamat. Kalau besok, saya gak bisa janjikan ada Update atau tidak. Jadi, tolong di bantu VOTE ya anak-anak.


Netizen : Ya mom.. tapi tunggu kumpul poin dulu ya 🤪🤪🤪


Heheheheh... ❤❤❤