My Chosen Wife

My Chosen Wife
Testpack.



Setibanya Harsen dan Vara di kediaman  mereka, Vara memilih untuk berjalan sendiri. Karena memang sedikit merasa enakan. Tapi Harsen, dia tetap merangkul pinggang Vara, bersama-sama berjalan menuju pintu masuk.


 


 


“Selamat malam, Pak, Bu.” sapa Mba Neni, asisten yang  di pekerjakan Harsen.


 


 


“Selamat malam Mba, kita langsung ke kamar dulu ya Mbaa. Bisa tolong saya buaatkan teh jahe buat Vara,  Mba. Agak gak enak body, nanti letak saja di atas meja makan. Biar saya yang bawa ke atas.” perintah Harsen dengan lembut.


 


 


“Baik Pak Harsen.” setelah mendapatkaan titah dari Harsen, langsung saja Mba Neni berjalan meninggalkan ruangan. Begitu juga Harsen, dia langsung saja membawa Vara untuk berjalan ke kamar  mereka.


 


 


Sesampainya di kamar, Harsen membantu sang Istri untuk sebentar rebahan di atas ranjangnya. Membantu melepaskan sepatu yang masih melekat di kedua kaki Vara. begitu juga dengan tas yang masih menggantung di bagian tengah tubuh Vara.


 


 


“Istirahat sebentar, selagi Aku menyiapkan air hangat buat kita mandi.” kata Harsen ke Vara yang sudah memejamkan matanya.


 


 


Langsung saja, kedua mata itu mengerjap dan menatap Harsen.


 


 


“Kita mandi? Kamu mau  mandi bareng sama Aku?” tanya Vara kaget.


“Iya. Kenapa? apa tidak boleh mandi bareng istri?”


Benar saja Vara terkaget, jarang-jarang aja tuh si Harsen minta mandi bareng.


 


 


“Ya enggak sih Kak. Hanya aneh saja,” balas Vara langsung menutup kedua matanya.


 


 


Sebenarnya, Harsen hanya takut. Takut membiarkan Vara untuk mandi sendiri, meskipun sebenarnya dia sangat takut, nafsu liarnya memangsa Vara setiap kali ada waktu dan kesempatan yang kosong. Duh Harsen, kau itu memang pria kalem tapi menggiurkan.


 


 


Harsen sudah berada di kamar mandi, memutar kran shower dan mengatur kehangatan suhu air dalam bathtub. Lalu, Harsen mengeluarkan alat testpack yang sempat dia beli di apotek  di simpang perumahan mereka dari saku celananya.


 


 


“Bagaiamana alat ini bekerja? apa aku harus googling terlebih dahulu?” tanya Harsen ke alat yang di pegangnya.


 


 


“Agh, biar Vara saja. Mungkin wanita lebih paham.” ujar Harsen lagi dan meletakkannya di atas bathtub.


 


 


Meskipun Harsen juga merasa sangat lelah, setelah satu harian melakukan pekerjaan, tapi tak mengurungkan niatan Harsen untuk memberikan kekuatan untuk sang Istri yang dia pikir hamil. Walau tidak hamil sekalipun, Harsen selalu mempriotaskan Vara menjadi yang utama di dalam hidupnya, setelah keduanya hidup menjadi satu.


 


 


Saat Harsen sudah berada di depan ranjang.


“Apa dia benar-benar tertidur?” Vara tampak sangat lelap dalam tidurnya, terus Harsen menjadi bingung, bingung karena Vara juga belum berganti pakaian dan sudah tidur saja. Bukan Vara yang biasanya, karena Vara paling anti banget, tidur sebelum bersi-bersi atau berganti pakaian.


 


 


“Baiklah, setidaknya  biarkan dia untuk sejenak merebahkan tubuh dan mengistirahatkan matanya.” kata Harsen dengan berjalan menuju pintu.


 


 


Setelah memilih untuk turun dan mengambilkan teh jahe yang di minta Harsen ke mba Neni, Harsen kembali lagi ke kamar. Tampak sang istri yang kebingungan karena tidak melihat Harsen berada di kamar.


 


 


“Kau mencari Kakak?”


 


 


Harsen berjalan masuk mendapati Vara yang sedang duduk  menoleh ke kiri dan ke kanan. Dengan membawa satu gelas teh jahe yang masih  mengepulkan asap di udara, Harsen mendekatinya.


 


 


“Iya. Vara pikir kakak di culik.” kata Vara manja.


 


 


“Konyol! yang di culik kan kamu.” kata Harsen dengan meletakkan gelas teh jahe di atas nakas yang berada di samping pinggiran ranjang Vara, seraya mendudukkan tubuhnya di samping Vara.


 


 


“Iya kan dulu. duh Vara rasanya lelah banget ini Kak, tapi sudah tidak pusing seperti sebelumnya.” kata Vara dengan menyentuh tengkuk lehernya.


 


 


“Apa mau Kakak pijat?” tawar Harsen.


 


 


“Tidak usah, Vara mau mandi kak.” kata Vara sambil bergerak hendak turun dari ranjangnnya.


 


 


Harsen dengan cepat membantu sang pujaan hatinya, dengan membantu Vara turun dari atas ranjang.


“Vara bisa sendiri kok Kak. Kak Harsen hari ini beda banget ya, kan Vara belum tentu hamil kak.”


 


 


Vara merasa Harsen seperti berlebihan dari biasanya, mungkin saja memang benar pikiran Harsen kalau Vara memang benar-benar hamil. Sedangkan Vara saja belum berani seyakin itu, meskipun dia juga berharap.


 


 


“Tidak apa-apa.. Kakak cuma mau memastikan keselamatan Vara. Kakak kan harus siagap, siap dan siaga. Jadi, Vara gak boleh menolak apapun. Kamu paham? di rumah ini, Kakak yang berhak mengatur Vara, kalau Vara sedang sakit” tegas Harsen ke Vara.


 


 


Vara hanya bisa senyum-senyum sendiri, bagaimana bila nantinya dia benaran hamil, apakah Harsen segalak itu? entahlah, melihatnya saja sudah sangat menggemaskan. ‘Oh Harsenku, kau memang pria idaman para wanita’. Gumam Vara di dalam hatinya.


 


 


Sesampainya di dalam kamar mandi, Harsen juga membantu Vara melepas pakaiannya. Harsen sekuat mungkin untuk tidak menjamah tempat-tempat tertentu. Ingat loh, Vara sedang sakit, jadi Harsen tidak boleh egois, hanya mementingkan kenikmatan dirinya.


 


 


“Kenapa kakak seperti itu?” tanya Vara yang melihat Harsen menutup matanya.


 


 


“Ti-tidak apa-apa. Mandilah, Kakak menunggumu di situ.” tunjuk Harsen ke closet duduk.


 


 


“Tidak usah, ayo mandi bersama.” ajak Vara lagi.


 


 


“Tidak usah, siap Vara saja.”


 


 


“Ya sudah, kalau gitu udahan. Tadi katanya mau mandi bareng,” balas Vara seraya beranjak dari bathtub.


 


 


“Hemm.. ya sudah. berendam lagi.”


 


 


Akhirnya Harsen pun tidak bisa menolak untuk melepas semua pakaianya, meskipun pikirannya itu sudah liar. Akan tetapi dia tetap menahan terus menahan hingga keduanya menenggelamkan sebagaian tubuh mereka ke dalam  bathtub.


 


 


“Apa ini kak?” tanya Vara saat mendapati testpack di sebelahnya.


“Itu alat yang di katakan kak Renata. Coba saja, biar kita tau, Vara  benaran hamil apa tidak.” ucap Harsen santai.


 


 


“Hemm.. Kalau tidak hamil bagaimana?” tanya Vara sedih.


“Kita berusaha lagi, kenapa harus bersedih? pernikahan kita juga masih baru kan.” balas Harsen.


 


 


“Baiklah, akan Vara coba.”


 


 


Vara sejenak membaca petunjuk pemakaian, karena memang ini kali pertamanya bagi dia. Dan kemudian, Vara memilih beranjak keluar dari bathtub, lagi-lagi Harsen menahan mata liarnya  saat sang istri berdiri dan menampilkan pemandangan yang indah di setiap harinya. Vara berjalan ke  tempat area kamar mandi yang menyediakan wastafel dan di lengkapi dengan kaca, dan segera dia membuka bungkusannya dan langsung mencoba.


 


 


Menunggu sejenak sambil melihat bagian merah yang harusnya dua garis kalau saja benar-benar positif.  Sudah 10 detik  berlalu, Vara terlihat manyun. Harsen memandang wajah sang Istri yang gusar. Dengan berani dia beranjak dari bathtub dan berjalan mendekati Vara dari arah belakang. Harsen mendekap tubuh Vara dan menyentuh tangan yang menggenggam alat tes kehamilan itu.


 


 


“Jangan bersedih, kita masih bisa mencobanya lain kali.” bisik Harsen tepat di bagian daun telinga Vara.


 


 


Vara pun menoleh kebelakang dan menatap sang suami.


 


 


“Benar Kakak bilang, bukankah pernikahan kita juga masih baru, kita masih bisa mencobanya lagi bukan? terus berusaha hingga sang pencipta menitipkan kehidupan baru di rahim Vara.” balas Vara dengan sekuat tenaganya.


 


 


“Jangan bersedih, Kakak tau Kau juga ingin sekali memliki anak, yakinlah, mungkin ini belum saatnya.” Harsen menyentuh puncak kepala Vara dengan sayang.


 


 


Vara menganggukan kepalanya, dia sama sekali tidak menangis. Tapi Harsen tau, ada kekecewaan di balik ucapan Vara. Setelah mencoba beberapa kali test kehamilan agar benar-benar yakin, setelahnya Vara dan Harsen memilih untuk bergegas mandi. Seusai mandi, Harsen memberikan teh jahe ke Vara, karena ini dugaan kedua Harsen, mungkin saja Vara sedang masuk angin, karena perutnya sempat telat untuk di isi.


 


 


“Apa masih sakit di bagian ini?” tanya Harsen seraya menyentuh perut bagian tengah Vara.


 


 


Vara pun menggeleng pelan.


 


 


“Tidak sesakit tadi kak, masih terasa perih sedikit. Apa mungkin Vara ada maag?”


 


 


“Sebelumnya Kau pernah maag? sepertinya selama kakak bersamamu, kau tidak pernah di serang maag.”


 


 


“Kalau boleh jujur, akhir-akhir ini, Vara sering telat makan Kak. Karena banyaknya project fashions design. Mungkin karena itu kali ya, sempat mual dan muntah-muntah. Sampai di kirain hamil, lucu banget sih.” Vara tersenyum ke Harsen yang duduk di depannya.


 


 


“Kau ini mulai nakal! setiap hari Kakak mengingatkan kamu makan dan mengajak kamu makan, di abaikan dan di tolak. Jadi ini dong jawabannya ya, kalau begitu, lain kali kakak akan langsung datang ke butik, untuk memastikan kamu makan atau tidak. Jangan membuat kakak khawatir Vara, nanti Kakak bisa gila benaran.” ancam Harsen dengan kedua matanya yang melotot.


 


 


“Duh, takut banget lihat matanya. Serem gitu, jangan marah-marah dong.  Vara  gak akan menyusahkan Kakak, jangan datang di saat jam makan siang, Vara bisa kok Kak Vara janji, tidak akan melewati makan siang mulai dari sekarang.” Vara mengangkat kelingkingnya ke arah Harsen sambil tersenyum.


 


 


“Kau itu sangat menggemaskan kalau sudah begini.” Harsen tidak mengaitkan kelingkingnya ke arah Vara, malahan menarik hidung Vara dengan gemas.


 


 


“Kakak!”


 


 


“Sudah, ayo kita makan malam. Mba Neni sepertinya sudah selesai memasak.” ujar Harsen sambil beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya ke Vara.


 


 


Vara dengan semangat menyatukan punggung tangannya ke atas telapak tangan Harsen. Hingga keduanya berjalan menuju pintu dan keluar bersama menuruni anak tangga.


 


 


“Setidaknya, kalau gagal masih bisa terus mencoba. Bukankah kedengarannya lebih baik dari pada harus mengeluh terus-menerus karena keadaan.” ~ Harsen.


 


 


Mari bantu dukung mereka untuk masuk 10 besar dalam bentuk VOTE . Hanya sampai di hari minggu aja ya All. Terima kasih ^^