My Chosen Wife

My Chosen Wife
MENGAUM LAGI.



Malam pertama, di ruangan yang sama dengan bertaburan kelopak bunga mawar merah yang  berhamburan di atas lantai, mengiringi jejakan kaki mereka ke arah ranjang. Pun di bagian ranjangnya, terlihat kelopak bunga merah yang membentuk lambang cinta dan tulisan dengan dua ekor kain yang di bentuk menyerupai angsa. Persiapan yang di berikan pihak hotel bagi tamu yang berlibur untuk berbulan madu, memang sangat bagus.


 


 


 


 


Kesan ruangan yang terbilang sangat mewah, di samping ranjang di di batasi dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan kolam berenang privat, sungguh membuat Vara takjub di awal mereka masuk ke kamar mereka.


 


 


“Ini sangat indah, sungguh-sungguh sangat indah seperti sebelum-sebelumnya.” kata  Vara dengan menyentuh dinding kaca sebagai pembatas antara kamar mereka dengan kolam berenang privat dari kamar mereka.


 


 


Harsen mendekati Vara, menarik pinggang  Vara dan  memeluk tubuhnya dari arah belakang dengan menyandarkan dagunya di atas pundak Vara. Vara menoleh kaget, Harsen tiba-tiba memeluknya. Jantung Vara cuma satu, tapi kenapa seperti ada beberapa gitu yang berdetak kencang dan samar-samar.


 


 


Vara menegang, saat Harsen mengecup tengkuk leher Vara. Dengan sangat lembut dan berkali-kali di area yang sama. Dingin, berubah dingin sekujur tubuhnya. Membuat aliran darah Vara berdesir.


 


 


“Kenapa jadi sangat gugup?” tanya Harsen dengan menoleh ke Vara.


 


 


Vara yang membalas tatapan Harsen yang masih menatapnya dari atas pundaknya.


 


 


“Ngeh, Tidak. Ti-tidak apa-apa Kak,” balas Vara gugup dan kembali menatap private pool  yang ada di depannya. Lampu yang temaram menghiasi ruangan kolam dan bunga-bunga yang masih menghiasi air di dalam kolam menambah suasana romantis di kamar mereka.


 


 


Harsen langsung menarik tubuh Vara untuk menghadap ke arah nya.


“Apa Kau tidak siap untuk malam ini?” goda Harsen dengan menempelkan keningnya ke kening Vara.


 


 


Kedua mata Vara berkedip-kedip gugup. Kelopak matanya berangsur menegang, susah untuk menatap wajah Harsen yang terus memandanginya tanpa cela sedikitpun. Inikah yang di namakan waktu yang di tunggu-tunggu?


 


 


Harsen tertawa melihat wajah Vara yang berubah kaku.


“Kau ini sangat menggemaskan sekali sih” Harsen menarik kedua pipi Vara.


 


 


“Dih Kakak, Vara lagi tegang-tegangnya, malahan bercanda.” Vara menepis kedua tangan Harsen dan berjalan menuju ranjangnya.


 


 


Harsen tidak tinggal diam, tangan Harsen menarik lengan Vara dan membuat tubuh Vara ke dalam dekapannya, Refleks tangan Harsen menarik wajah Vara dengan kedua tangannya. Dengan bersemangat, Harsen melancarkan aksinya, Harsen menenggelamkan bibirnya ke bibir tipis Vara. Menyesap, menyusup dalam setiap sentuhannya.


 


 


Vara memjamkan kedua matanya dan menikmati sentuhan dari hangatnya bibir Harsen. Ini berbeda, berbeda dari sebelum-sebelumnya. Sangat intim, membekas hingga berefek di ubun-ubun. Rasa-rasanya, Vara ingin mati saja! kenapa seperti itu? dia tidak mampu mengikitu ritme dari sentuhan Harsen.


 


 


Dan tak lama, tubuh Harsen menggiring tubuh Vara ke atas ranjang.  Vara tidak menolak, tubuhnya bagaikan magnet yang melekat erat di tubuh Harsen. Dia terhipnotis, dan kemudian, Harsen menarik bibirnya dan melempar lembut tubuh  Vara.


 


 


“Apa kau siap?” tanya Harsen dari depan Vara.


“Kakak? Vara sangat takut.” balas Vara dengan raut wajahnya yang panik.


 


 


“Kita kan bersama-sama, kenapa harus takut? Apa kita hentikan saja sampai di sini?” tanya Harsen untuk meyakinkan.


 


 


Vara berdiam dan menatap ragu untuk sesuatu yang bakalan merubahnya menjadi wanita seutuhnya untuk Harsen.


 


 


“Baiklah, kalau belum bersiap. Kakak tidak akan memaksa.” Harsen menarik tubuhnya dari atas Vara.


 


 


“Kak,” Vara menarik lengan Harsen dan menghentikan niatan Harsen untuk beranjak berdiri.


 


 


Harsen menoleh ke Vara.


 


 


“Ada apa?”


 


 


“Ayo lanjutkan.” balas Vara gugup.


 


 


“Tidak  usah. Kakak tidak akan memaksa. Kakak akan menunggu sampai Kau benar-benar siap.” balas Harsen dan kembali ingin beranjak.


 


 


“Tapi Kak.” lagi-lagi Vara menarik lengan Harsen.


 


 


“Iya?”


 


 


“Ayo lakukan sekarang saja.” ucap Vara yang tidak ingin mengecewakan suaminya.


Harsen tertawa dan menarik hidung Vara.


“ Kenapa jadi kau yang sangat menginginkannya?” ledek Harsen.


 


 


“Kakak! Iss bercanda aja pun. Vara sudah mengumpulkan keberanian Vara, Tapi Kakak malah-“


 


 


Harsen kembali melanjutkan niatannya dan dengan cepat melahap tubuh Vara ke bagian-bagian terlarangnya, hingga Vara mengaum-ngaum dengan permainan Harsen. Gila benar ini Harsen, tidak seperti Harsen yang biasanya, sungguh-sungguh liar.


 


 


“Kak pelan-pelan.” suara Vara dengan terbata-bata.


 


 


“Ini sudah sangat pelan.” balas Harsen.


 


 


“Awwwwwwwwwwwwww!”


 


 


“Jangan menjerit! mengaum saja seperti kata Paman Jimmy.” Harsen berkata-kata dengan bersemangat menari-nari di atas tubuh  Vara.


 


 


“Vara bukan harimau yang bisa mengaum Kak. Vara bisanya menjerit!” tegas Vara dengan raut wajah menahan sakit.


 


 


Harsen tidak peduli, yang penting gawang lawannya jebol dari pertahannya,


"Nanti saja tanya-tanya nya."


 


Akhirnya Vara cuma bisa pasrah berdiam menikmati tari-tarian dan getaran gelombang ranjang mereka.


 


 


**


Di samping kanan kamar Vara dan Harsen. Renata menempelkan kupingnya, mencoba mendengarkan, atau merasakan getaran aja gitu. Sudah cukup untuk Renata, tapi nihil, tidak ada yang bisa di dengar Renata.


 


 


“Ada apa denganmu? “ tanya Rava yang sedang memainkan ponselnya sambil berselonjor di atas ranjangnya dan melirik ke arah Renata.


 


 


“Hemm.. mencoba menguping. Tapi sama sekali tidak kedengaran.” balas Renata dengan berjalan menuju ranjangnya dan merangkak naik ke atasnya.


 


 


“Apa kau mau jadi penyelundup”


 


 


Renata berkilah dan melototkan matanya ke arah Rava.


“Tidak! Kan cuma mau tau aja!” balas Renata lalu membuang pandangannya.


 


 


Rava meletakkan ponselnya di atas nakas sebelah ranjangnya, lalu ia kembali mengarahkan pandangannya ke Renata.


 


 


“Sini, peluk aku.” Rava mendekati Renata dan menarik tubuh Renata kedalam pelukannya.


 


 


Renata menurut, dia mendaratkan wajahnya di atas bidang dada Rava yang empuk.


 


 


“Jangan bilang ada maunya ya?” sindir Renata.


 


 


“Iyaa memang ada maunya. Mau di peluk dan di belai-belai dong.”


 


 


“Dih, kayak anak kecil aja sih manja amata.”


 


 


“Dari pada kamu itu nguping-nguping malam pertama orang, kayak gak pernah aja. Kasihan si kecil di dalam perut kamu ini, di ajak mamanya buat nguping.”


 


 


“Iya.Iya gak lagi deh. Namanya penasaran juga.”


 


 


“Sudah,pejamkan matamu! mari kita tidur, Aku sangat mengantuk” kata Rava dengan mendaratkan wajahnya di atas kepala Renata.


 


 


“Tidurlah. Aku akan mencobanya.” balas Renata di sela-sela hembusan nafas Rava yang sudah langsung terlelap.


 


 


“Dia sungguh sangat cepat tertidur, bahkan tidak dalam hitungan menit. Jika sudah memelukku saja, dia langsung tertidur.” gumam Renata dengan berat dan mencoba memejamkan matanya.


 


 


***


Di kamar sebelah kiri.


 


 


“Gila, ini bergetar. Apa-apaan ini Kak Harsen.” gumam Defan setelah menempelkan kupingnya di dinding pembatas kamarnya Harsen dan Vara.


 


 


“Parah lo gilanya!” saut James yang sedang bermain game.


 


 


“Dih iya kok, kok kek ada yang bergetar gitu di kaki gue.” balas Defan.


 


 


“Serius lo?” James melototkan matanya.


 


 


“Iya James, ini bergetar.” balas Defan dengan kembali menempelkan kupingnya di dinding.


 


 


James yang tidak percaya, melempar ponselnya ke atas ranjangnya dan ikut menempelkan daun telingnya di dinding pembatas.


“Enggak ada!” kata James dengan menatap ke Defan yang di depannya.


“Terus kok gue rasakan getaran di kaki gue.” balas Defan.


 


 


James mendekati tubuh Defan dan menyentuh kakinya, benar saja itu bergetar. Lalu tangan James merabah-rabah bagian paha Defan.


 


 


“Ponsel lo yang bergetar! dasarrrrrr! Kamar ini kedap suara, mana mungkin juga bisa lo dengar sauara yang ada di ruangan sebelah.” James mendengus kasar dan berjalan kembali menuju ranjangnya.


 


 


“Yeee lo kecewa ya!” ledek Defan


 


 


“Diam lo! gue lagi serius main ni game, lo ganggu konsentrasi gue.” kata James mengambil kasar ponselnya.


 


 


Defan tertawa senang, wajah James itu sangat mirip sama Jimmy kalau lagi  ngambekkan. Buat hati Defan seperti terbang ke awan. Karena memang cuma James yang bisa menerima Defan dengan hati yang lapang selapang, lapangan sepak bola. Sekian dan Terima kasih  ^^ cieee.. kecewa ya malam pertamanya gak hot. Ingat! yang baca gak semuanya di atas umur ya, karena itu seminim mungkin mom buat. Maaf ya ^^


 


 


 


 


 


 


***


“Jangan hari ini, besok saja! hanya wanita itu seorang yang saya mau!.”


 


 


“Baik Boss! Semampu kami, kali ini akan mendapatkan apa yang boss minta.”


 


***


Seusai malam pertama siap tersalurkan dengan aman dan terkendali ^^



Keduanya saat bermain di pesisir pantai.