My Chosen Wife

My Chosen Wife
CEMBURU.



Di kediaman Keluarga Leo.


 


Pagi itu adalah Hari pertama bagi Harsen untuk kembali terbangun dari tidurnya. Tepatnya di kamarnya yang sudah sangat lama tidak Ia tempati. Dan untuk pertama kalinya juga Ia pulang ke rumahnya setelah Ia tiba di Jakarta, Kota kelahirannya.


 


 


Pagi itu menampakkan sinar cahaya yang sangat menyengat kulit. Meskipun cahaya itu terik, pagi itu merupakan pagi yang sangat spesial bagi Rere. Dengan semangat yang tinggi, Rere yang sudah menyibukkan diri di dapur, mempersiapkan sarapan untuk anak dan suaminya.


 


 


"Selamat pagi sayang." sapa Leo dengan melingkarkan tanganya di pinggang Rere yang sedang memindahkan makanan.


 


 


"Pagi sayang... Apa Harsen sudah bangun?" tanya Rere bersemangat.


 


 


"Belum... Mungkin saja masih sangat mengantuk. Karena tadi malam, Aku dan Harsen minum bersama. Sudah lama sekali, Aku tidak mengobrol dengan anak kita sayang." ujar Leo dengan manjanya.


 


 


"Duduklah... Akan Aku bangunkan." ucap Rere ke Leo.


 


 


"Biarkan saja Sayang... Sudah lama juga kan dia tidak tidur di ranjangnya?" tanya Leo seraya mendaratkan tubuhnya.


 


 


"Hemmmm.... Iya sih, tapi ini kali pertamanya juga kita sarapan bersama O. Bukankah sebentar lagi kamu akan berangkat bekerja?" tanya Rere dengan tatapan sendu.


 


 


"Iya.... Tap—."


 


"Selamat Pagi Ma, Pa." sapa Harsen yang sedang menuruni anak tangga dan berjalan mendekati Leo dan Rere.


 


Wajah Rere berbinar menatap putranya, "Wah... Selamat pagi sayang, barusan juga Mama mau banguni kamu." kata Rere menyentuh wajah Harsen dengan lembut.


 


Harsen menyentuh punggung tangan Rere dan memberikan kecupan, "Harsen tidak mungkin melewatkan pagi pertama ini Ma." ucap Harsen dengan manja.


 


 


"Duduklah Nak." Leo menimpali.


 


Harsen pun menarik bangku dan mendudukan tubuhnya. Rere menyendokkan nasi ke piring suami dan anaknya dengan senyuman manis menghiasi kedua sudut mulutnya.


 


"Bagaimana tidurmu Nak? Apa nyaman?" tanya Leo perhatian.


 


"Sangat nyaman Pa, ternyata memang lebih nyaman tidur di ranjang sendiri." kata Harsen dengan mengambil piring yang di berikan Rere.


 


 


"Wajar Nak, karena kamu sudah lama tidak pulang. Sudah ayo di makan dulu, bukankah kamu sangat merindukan masakan mamamu?" tanya Rere.


 


 


Harsen tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


 


"Benar Ma... Harsen sangatttt merindukan masakan Mama." katanya lalu menyantap makanannya dengan lahap.


 


 


Leo dan Rere bersamaan menoleh ke Harsen dengan tersenyum bahagia. Ketiganya pun makan dengan sedikit obrolan dan candaan, melepas rindu yang selama ini mereka pendam.


 


"Oh ya Sen... Apa kamu kenal Silvia?"tanya Leo tiba-tiba.


 


"Sylvia?" tanya Harsen dengan berpikir sejenak, "Agh.... teman sekolah Harsen ya Pa? Kenapa Pa?" tanyanya dengan mengunyah makanannya.


 


"Benar Nak, kemarin saat Papa dan Mama mau berangkat ke rumah Pak Raka, Ia mengirimkan kue karena baru pindah di area perumahan ini, tepatnya rumahnya ada di dua rumah dari kanan. Terus karena dia melihat Papa dan Mama, dia langsung menebak, kamu kembaran papa katanya." ujar Leo bangga.


 


 


"Artinya kalian mirip sayang." Rere menimpali.


 


"Iya begitu maksudnya sayang, Aku versi tuanya dan Harsen Versi mudaku. Apakah itu sedikit keren?" tanya Leo ke Rere.


 


Rere malahan tertawa, "Kamu memang lucu, berbeda saat kamu muda, untuk tertawa saja kaku, sama dengan anakmu ini, semoga saja Vara bisa memiliki tingkat kesabaran seperti Mama." kata Rere masih di sisa tertawanya.


 


 


"Hah... Pa.. Ma.. Tapi kalian harus hati-hati, Sylvia itu sempat bertengkar dulunya sama kak Renata," ujar Harsen dengan wajah mengkerut.


 


 


"Kenapa sayang?" tanya Rere penasaran.


 


"Ma... Dulu Sylvia itu sangat menyukai Harsen, tapi tidak bagi Harsen, karena dia tahu kak Renata dekat dengan Harsen, dia mikirnya Harsen dan kak Renata pacaran. Jadilah dia mencari masalah dengan kak Renata. Bukankah Mama dan juga Papa tahu bagaimana kak Renata jika dia sedang marah?"


 


Leo menganggukan kepalanya, "Ya... Kami sangat tahu, sama seperti maminya." ujar Leo .


 


"Nah... Malahan jadi ribut dengan kak Renata sampai Vara yang kelasnya ada di lantai satu juga ikut tahu. Papa dan Mama hati-hati, jangan memberitahukan info apapun tentang Harsen padanya, Harsen sangat membenci wanita keganjenan seperti dia." ucap Harsen dengan kesal.


 


 


Leo dan Rere saling menatap dan menganggukan kepala mereka yang merespon kekesalan anak mereka.


 


"Nyonya... ada yang mencari tuan muda Harsen." ucap Bu Lasma sopan.


 


 


Harsen terkesiap dan menoleh ke arah Bu Lasma, "Siapa Bu?"


 


 


"Nona Sylvia Tuan." jawabnya.


 


"Astaga....Baru juga di ceritai. Pagi-pagi begini dia mau apa?" tanya Leo ke Rere dengan panik.


 


"Coba kamu susul sana, jangan berpikir yang enggak-enggak dulu sayang. Kemarin malam, kita berpapasan dengan dia, mungkin saja dia melihat Harsen dari depan. Sudalah.. samperin aja dulu, gak enak kalau di husir." ujar Rere.


 


"Baiklah Ma." jawab Harsen dengan malas.


 


 


Harsen berjalan mengarah ke ruangan tamu, tampak Sylvia masih berdiri di depan pintu rumah Harsen. Dengan malasnya, Harsen menghampiri Sylvia.


 


 


"Hemmmmm..." Harsen berdehem.


 


Langsung saja Sylvia menoleh ke arah Harsen dengan tatapan yang berbinar. Harsen melipat kedua tangannya di atas dada.


 


 


"Harsennnnnn!!" seru Sylvia bersemangat dan hendak memeluk Harsen.


 


Harsen mundur dan mengarahkan kedua tangannya di depan Sylvia, "Jangan sembarangan! kau mau apa? cepat katakan." ucap Harsen datar.


 


 


 


 


"Tapi tidak untukku! Bagaimana? apakah kau cuma mau mengatakan itu saja?" tanya Harsen datar.


 


 


"Egh tidak... Aku mau minta bantuan kamu Sen, karena cuma kalian yang Aku kenal di perumahaan ini." ujar Sylvia.


 


"Ada apa?" tanya Harsen.


 


"Itu... Syalku tersangkut di atas pohon tepat di pohon di dalam rumahku, Pohonnya sudah tua dan amat tinggi, Aku tidak bisa menjangkaunya, meskipun aku sudah mencobanya. Bisakah Kau menolongku? Karena syal itu akan aku gunakan sebagai sampel di perusahaanku." ujarnya dengan perlahan.


 


 


"Kenapa bisa tersangkut ke pohon, tidak logika saja." ucap Harsen.


 


 


"Harsen... Pembantuku tidak sengaja, saat menggantungkan syal itu di jemuran, dia tidak menjepitnya. Aku mohon Sen." ucap Sylvia memohon.


 


"Arggghhh... menyusahkan saja pagi-pagi. Ya sudah... tunjukkan rumahmu!." decak Harsen malas.


 


 


Sylvia pun teramat senang mendengarnya, Ia menuntun Harsen berjalan menuju rumahnya. Beberpa menit kemudian, mobil hitam mengkilap memasuki perkarangan rumah Leo. Dengan memakai stelan santainya, Ia turun dengan elegannya dari mobilnya dan menuju ke pintu masuk yang terbuka.


 


 


"Paman.... Bibi." seru Vara dengan bersemangat di depan pintu.


 


"Vara." ucap Rere dengan kaget dan langsung mendekati Vara serta memeluknya.


 


"Selamat pagi Bi," sapanya dengan memeluk tubuh Rere.


 


"Selamat pagi sayang... Dengan siapa kamu ke sini sayang?" tanya Rere dengan melonggarkan pelukannya.


 


 


"Sendiri Bi." balas Vara dengan malu.


 


"Astaga... Apa papa, mama dan kakakmu tahu kau membawa mobil sendiri sayang?" tanya Rere khawatir.


 


 


"Tidak Bi... Vara cuma bilang, hanya mau berjalann sebentar, tetapi tidak ada yang tahu Vara membawa Mobil. Tapi kenapa sih Bi, semuanya melarang Vara membawa mobil sendiri? kan Vara sudah besar, terus buat apa papa memberikan kado berupa Mobil untuk Vara?" tanya Vara sedih.


 


"Iya ya...benar juga. Tapi Bibi tidak tahu sayang, mungkin papa dan kakakmu sangat takut, jika kamu sendirian di jalan."


 


 


"Tidak apa-apa Bi, oh ya... Kak Harsen ada Bi?" tanya Vara.


 


 


Rere sejenak terdiam, kedua bola motanya berputar dengan berpikir mencari alasan yang tepat.


 


"Ada di rumah tetangga sayang... Dua rumah dari sini sebelah kanan." kata Leo tiba-tiba datang.


 


 


"Halo Paman.... selamat pagi. Paman mau berangakat bekerja?" Vara mendekat pada Leo.


 


 


Leo pun merangkul pundak Vara yang memang sudah di anggapnya sebagai anaknya sejak Vara kecil, "Iya sayang... Paman dan papa kamu akan mengadakan pertemuan penting hari ini. Kamu temuilah Harsen, pasti dia sangat senang melihat kedatanganmu." ucap Leo dengan lembut.


 


 


"Baiklah Paman... kalau begitu Vara akan menyusulnya. Paman hati-hati di jalan ya, dan jangan katakan pada papa, kalau Vara membawa mobil." ucap Vara dengan berjalan ke arah luar dan menatap serta senyum ke Rere. Leo sangat senang melihat kedatangan Vara di kediamannya.


 


 


Setelah kepergian Vara, Rere mendekati Leo.


 


"O... Kenapa malahan kamu katakan? Apa yang akan terjadi kalau Vara melihat Harsen dan Sylvia?" tanya Rere takut.


 


 


"Sayang... Kenapa sih harus takut begitu? Biarkan semuanya berjalan dengan kemaun mereka. Lagian Sylvia cuma berteman kan? Sudahlah sayang... Aku mau berangkat dulu , sepagi ini Vara datang, tanyakan padanya dia sudah sarapan apa belum ya. Aku berangkat." ucap Leo mengecup kening Rere.


 


...


Vara tiba di rumah yang di beritahu oleh Leo, Rumah besar dengan gerbang yang terbuka lebar. Vara melangkahkan kakinya untuk masuk, setidaknya menemukan Harsen, saat beberapa langkah, dari jarak yang tidak terlalu jauh dari posisi Vara. Tampak pemandangan yang tidak mengenakan di hati Vara.


 


"Ini." kata Harsen memberikan Syal yang tersangkut di atas pohon mangga yang sudah tua.


 


Sylvia tersenyum, bukan hanya mengambil Syal, Sylvia menarik tangan Harsen hingga keduanya berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Vara mendesis kesal dan tertawa kecut melihat adegan sylvia. Harsen menepis kasar tangan Sylvia dan menjauhkan tubuhnya dari depan Harsen.


 


"Jangan kelewatan!." kata Harsen dengan marah.


 


"Kau masih saja sama seperti dulu Sen, dingin. Bagaimana kabar Vara? apa kau sudah jadian dengan adik atasanmu itu?"tanya Sylvia dengan mata meremehkan.


 


"AKU BAIK-BAIK SAJA!!!" teriak Vara dengan kesal.


 


 


Keduanya menoleh ke arah Vara yang berdiri dengan amarah yang meletup-letup. Harsen terkesiap menatap kedatangan Vara, dengan perlahan Ia mendekati Harsen dan Sylvia.


 


 


"Kau bertanya tentangku?" tanya Vara menantang.


 


"Aghhh... Kau di sini juga rupanya. Oh iya aku lupa... kalau Harsen dan Kau itu bersama-sama di New York. Hemmm... Ya maafkan Aku, Aku tidak bermaksud untuk menggoda kekasihmu, tenanglah. Jangan marah seperti itu, Aku hanya meminta bantuannya saja. Jangan di masukan ke hati Vara, karena Aku takut menyentuh barang milik Keluarga Atmadja." ujarnya dengan menantang.


 


 


"Jaga ucapanmu Sylvia!" bentak Harsen.


 


"Wow... Kau marah? Memang benar... Siapa yang berani melawan keluarga Atmadja? Mereka memiliki kekuasaan yang besar bukan? Termasuk dirimu Sen, Kau juga bakalan menjadi keluarga Atmadja, aku lupa itu. Tetapi Aku tidak berniat mengganggu hubungan kalian berdua, Aku hanya ingin menyapa kalian."


 


 


 


Mata Harsen membulat dengan sempurna, tatapan tajam Ia berikan ke Sylvia, dengan cepat Ia menarik tangan Vara dan mengajaknya untuk keluar dari rumah Silvia. Vara mengikuti langkahan kaki Harsen yang berjalan keluar dari pintu gerbang rumah Sylvia, sesampainya di depan rumah Harsen, Vara terhenti dan melepaskan tangannya. Harsen pun menoleh ke arah Vara .


 


"Kenapa? Ayo masuk." ajak Harsen.


 


Vara membuang pandangannya, "Tidak usah! Aku mau pulang!"


 


 


 


Bersambung.


.....


TEKAN LIKE DAN JANGAN LUPA BANTU VOTE. Sesekali buat Vara cemburu ya 😂.