My Chosen Wife

My Chosen Wife
KAPAN KALIAN MENIKAH?



"Suaramu Vara!" ketus Defan.


"Lo resek ya Fan, lo bilang kita mau nonton film terbaru. Nyatanya lo kasi kita film cartoon." balas Vara.


"Apaaan sih! ini kan filmnya menarik. Buat semua umur lagi. Dan Cartoon ini, bisa membuat janin Kak Renata turut senang, lo gak mau apa, keponakan lo tampan dan pintarnya kaya aku gitu." kata Defan menjelaskan dan memperlihatkan dirinya di edaran.


"Nah, lihat itu si Moana waktu kecil, jelas-jelas pintar. Kak Rava gak mau apa? anaknya seperti Moana? Pintar banget ini kak, masih kecil aja gak takut main sendiri di pantai. Semoga keponakanku seperti itu nantinya." tunjuk Defan ke arah layar TV.


Sejenak Rava menatapi layar TV nya, mencerna perkataan Defan. Menggambarkan wajah sang bayi, jika terlahir perempuan, mungkin saja menggemaskan seperti Moana. Agh, entahlah... Rava yang membayangkannya saja sudah senyum-senyum sendiri.


"Hemmm....baiklah. Kita coba tonton saja." balas Rava bersemangat.


"Gitu dong, kan Defan gak sia-sia gitu cari-cari film yang pas untuk menghibur ibu hamil." tukasnya dengan kembali menoleh ke TV.


Renata tidak berkomentar, dia hanya turut menatap ke TV. Baginya, nonton film cartoon jauh lebih bahagia ketimbang harus rebahan di atas ranjang. Apa lagi itu Moana yang menurutnya anak yang punya keberanian tinggi, dan Renata mau, anaknya bisa seperti Moana.


"Baiklah, mungkin kita harus seperti anak kecil juga sayang." bisik Harsen ke Vara.


Vara yang mencebikkan bibirnya dengan menatap ke depan, refleks menoleh ke Harsen yang sudah tersenyum dan mengunyah friend fries-nya.


"Benarkah?" sudut bibirnya terangkat, melengkung membuat senyuman.


"Iya.. hitung-hitung, kita belajar juga." bisik Harsen tanpa membalas tatapan Vara. Takut ketauan dengan yang lainnya.


Vara hanya tersenyum, menatap wajah Harsen dari samping. Segitunya Harsen, yang sangat menyukai anak kecil. Mungkin saja, itu pertanda Harsen bakalan siap menimang seorang anak pikirnya.


Kelimanya menonton dengan tatapan serius. Bahagia benar Renata, di dalam pangkuan sang suami, bersama-sama menikmati tontonan yang di sajikan spesial oleh Defan.


Tak terasa sudah satu jam lebih, mereka hening. Hanya suara dari TV yang terdengar di ruangan keluarga yang di sulap menjadi bioskop. Kedua mata Rava memperhatikan Renata, kepala yang berada di pangkuan Rava dengan tubuh yang terbaring di sofa.


Kedua matanya terpejam, sangat teduh. Rava membelai lembut kepalanya, seulas senyuman tampak dari kedua sudut bibir Rava.


"Akhirnya ketiduran sendiri." kata Rava.


"Kak, bawa ke kamar. Kasihan kak Rena, entar badannya sakit loh." bisik Vara.


"Iya kak, bawa ke kamar biar lebih lapang." timpal Harsen.


"Iyaaa... Terus si Defan, kalian berdua yang gotong ya?" Rava menunjuk ke Defan yang sudah tergeletak di atas lantai berlapis.


Vara memperhatikan tubuh Defan dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nih anak, wajahnya saat tidur aja gemesin. Pengen minta di gampar gitu" ujar Vara.


"Gak boleh gitu, Defan kan anak baik." ujar Harsen.


"Iya, karena gak sakit Kak. Biarin aja deh dia tidur di situ. Entar di gendong malahan minta susu, kan bahaya." Vara terkekeh.


Harsen mengerutkan keningnya, ada saja pikirnya si Vara.


"Kalian tunggulah di bawah, Kakak akan membawa Kak Rena ke atas." ujar Rava.


Mendapatkan jawaban Vara dan Harsen, Rava dengan sangat pelan dan hati-hati, membawa tubuh Renata ke kamar. Tinggalah Harsen dan Vara di tempat kegelapan. Hanya pantulan cahaya dari TV yang menjadi penerangan bagi mereka.


Harsen melirik ke Vara.


"Apa kau senang dengan filmnya?" tanya Harsen.


Si Vara gugup, otak dan pikirannya tidak bekerja sama dengan baik. Di mana Ia berpikir, di tempat kegelapan, hanya ada dia dan Harsen kekasihnya. Tunggu... Ada Defan juga di dekat mereka. Mana keduanya jarang duduk berduan, karena Harsen tidak pernah berniat lebih dan keduanya masih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Agh.. senang kok Kak. Vara suka dengan jalan ceritanya." kegugupan Vara tampak jelas di raut wajahnya yang tegang.


Harsen mengubah duduknya dan membuat posisi sempurna di hadapan Vara.


"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Harsen dengan mata berbinar dan senyuman meledek menatap Vara dengan wajah polosnya.


"Egh... apaan sih Kak. Gak ada kok, gak mikirkan apa-apa." balas Vara sekilas membalas tatapan Harsen.


"Jangan bohong, entar hidungnya panjang loh kayak pinokio." suara menggemaskan dari Harsen terdengar manis.


"Isss Kakak apaan sih! Hidung Vara kan memang panjang. Kenapa sih? Vara cuma gugup, di sini gelap. Terus ada Kakak dan Vara. Si Defan kan lagi bobok, terussss...." Vara menoleh dan sekilas menatap Harsen.


"Terus mau apa? mau di cium?" ledek Harsen.


"Isss... gak loh."


"Gak salah lagi kan?"


"Enggak kak, kakak kok nyebali banget ya!"


"Tapi kan suka?"


"Banget."


"Ya udah, minta di cium kan?"


Sejenak hening.


"Kak Harsen bikin malu Vara, uda agh gak asik." Vara hendak berdiri dari duduknya, sigap Harsen menarik lengan Vara, hingga Vara terduduk di atas pangkuan Harsen.


Harsen tertawa kecil, melihat kedua mata Vara berkedip-kedip, pertanda dia sangat gugup. Vara memang bisa saja, membuat Harsen gemas dengan tingkah lucunya. Harsen memperhatikan wajah Vara dengan seksama. Kedua matanya yang bulat, bulu matanya yang lentik, bibirnya yang tipis memerah seperti cherry, membuat Harsen ingin sekali menyentuhnya.


"Bolehkah?" bisik Harsen ke Vara.


Kedua mata Vara membulat, perasaan kaget dengan pertanyaan Harsen ke Vara. Vara masih mematang, tanpa mata yang berkedip. Bukankah, orang pacaran kalau mau cium ya cium aja, ngapain juga pakai pamit. Kayak mau pergi ker aja sih, batin Vara.


Harsen yang mendapatkan anggukan sebagai jawaban Vara, hendak melancarkan aksinya. Sedikit demi sedikit, wajah Harsen mendekati wajah Vara yang sudah memejamkan matanya. Harsen terus membawa wajahnya mendekati wajah Vara, dan hampir mendekat ke bibir Vara, nafas keduanya sudah saling membalas, tinggal sedikit jaraknya,


Huuuuaaaaachimmmm...


Suara bersin dari Defan membuat Vara dan Harsen kelabakan, membuat tubuh Vara hampir terjatuh dari pangkuan Harsen. Syukur tangan kekarnya Harsen refleks, mampu mencegah tubuh Vara tidak jadi terjatuh.


Keduanya saling beradau pandang, jantung Vara sekaan mau copot. Harsen sendiri, langsung melirik ke Defan.


"Apa dia pura-pura tidur Kak?" bisik Vara, sempat malu sendiri menatap Harsen.


Harsen menoleh ke Vara, jika lampu menyala, kedua pipi Vara memerah karena tersipu malu.


"Sepertinya sih enggak. Defan masih memejamkan matanya. Bisa jadi, Defan bermimpi." ujar Harsen menatap ke Vara.


"Lepaskan Vara, Kak. Defan yang tidur saja bisa bersin, Vara mau duduk, siapa tau kak Rava juga datang." ucap Vara sambil beranjak duduk di samping Harsen.


Harsen tersenyum.


"Karena itu, kamu gak boleh mancing harimau buat mengaung." ledek Harsen.


"Astaga, mana mungkin Vara mancing harimau Kak. Mancing Ikan aja jarang, boro-boro Harimau."


"Hahaha.. Kau ini sungguh polos." Harsen mengusap lembut puncak kepala Vara.


Vara menjadi tersenyum, baik banget Harsen pikirnya. Tak lama suara decitan pintu terbuka, tampak Rava berjalan masuk dan kembali duduk di atas sofa.


"Bagaimana?" tanya Rava.


"Apanya Kak?" tanya Vara.


"Kapan kalian menikah?"


Bersambung.


...


Tekan LIKE NYA dan berikan dukungannya kalian lewat VOTE, saya berharap dari seluruh pembaca saya. Buat yang sudah bantu dalam Vote star, jangan lupa ya ka , Terima kasih... 😘🥰