My Chosen Wife

My Chosen Wife
VANESSA.



Vara mengikuti Rava untuk duduk, lalu ia kembali menundukan kepalanya, masih merasa takut. Hawa dingin di ruangan kerja Rava, semakin membuat Vara takut.


“Vara… Lihat kakak.” ucap Rava tegas.


Dengan perlahan, Vara mengangkat wajahnya. Menatap wajah Rava, yang tidak bersahabat itu.


“Kakak,” ucapnya dengan pelan.


“Jelaskan pada kakak, kenapa kau  mengusir, Kak Rena di tengah malam?”


“Karena kak Rena, enggak baik untuk kita kak.” jawabnya dengan sepontan.


Rava yang mendengar jawaban Vara yang tidak pikir-pikir itu, masih menahan emosi.


“Terus… yang baik  untuk kita siapa?” tanya Rava masih dengan nada santainya.


Vara terdiam, dia tidak tahu mau menjawab apa. Vara lupa perkataan Harsen pada dirinya saat di mobil tadi.


“Vara! Siapa yang menurut kamu baik!” suara Rava sudah mulai meninggi.


“Siapa.. Vara tidak tahu kak, asal bukan Kak Rena.” gumamnya pelan.


“Kenapa kau jadi tidak punya sopan santun Vara! Jangan mencampuri urusan kakak, ini bukan bagian mu untuk mengurusi soal kehidupan pribadi kakak, yang harus kau ingat itu, dirimu sendiri Vara, belajar yang baik, agar kau bisa berguna suatu saat nanti, membuat papa dan mama bangga, memiliki kita berdua. Kenapa kau malahan mencampuri urusan pribadi kakak. Hak kakak, mau dengan siapapun kakak berhubungan, kau tidak perlu ikut campur. Ingat pesan papa padamu? Kau harus menuruti semuaaa peraturan kakak, selama kau berada di dekat kakak. Jadi kau tidak boleh mengatur kakak dengan sesuai kemauanmu. Jika papa dan mama sampai tahu, dengan perlakuanmu terhadap Renata, kakak rasa papa dan mama juga sependapat dengan kakak dan juga Defan. Ingatlah Vara, bibi Casandra dan Paman Varel, tidak pernah kasar terhadap anaknya, begitu juga denganku atau pun dirimu, jadi kakak mohon kau tau diri, jika kau masih seperti ini juga, kakak tidak mau berbicara denganmu lagi, sampai kau bisa merubah sifatmu,” ujar Rava panajang lebar.


Kedua matanya Vara berkaca-kaca, sangat sedih rasanya mendengar sang kakak marah pada dirinya, tapi ia masih tidak terima aja. Kakaknya sangat membela Renata, mungkin saja ia cemburu terhadap Renata. Entahlah, Vara tidak tahu yang ia tahu pasti, dia sangat tidak suka dengan Renata yang usil itu, tetapi benar yang di katakan Defan, Renata sangat berubah. Biasanya kalau Vara marah kepadanya, tidak pernah Renata meminta maaf atau pun hanya berdiam sampai menangis. Salah satu yang membuat Vara juga bingung, tapi kembali lagi pada pendapatnya, “Aku sangat tidak suka dengan kak Renata! Kakak lebih membela Kak Renata! Kakak enggak adil!” teriak Vara lalu berjalan meninggalkan ruangan Rava, dengan terisak.


Rava yang menatap kepergian adiknya itu, hanya menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menyentuh keningnya seraya mengusap wajahnya, merasa frustasi dengan Vara yang mungkin saja cemburu pada Renata.


Vara kekamarnya dan menangis terseduh-seduh, ia ingin sekali menelepon mama atau papanya, tapi ia juga sangat takut, bakalan lebih di salahkan. Karena papa dan mama mereka juga sangat menyayangi Renata. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menangis di bawah bantal agar tidak kedengaran.


***


Hampir jam tujuh malam, Rava pun menuruni anak tangga. Tampak Defan dan Harsen yang sedang duduk di ruang tamu, Rava berjalan mendekati mereka. Wajah Harsen dan Defan sama-sama merasa takut, tidak berani menatap pada wajah Rava yang sebenarnya masih dengan raut wajah yang memiliki masalah.


“Sen, Fan…kenapa dengan kalian?”


“Kakak… apa kakak  masih marah kepadaku?”tanya Defan dengan wajah minta di kasihani.


“Siapa yang marah denganmu?” tanya Rava dengan bingung.


“Loh… jadi kakak enggak marah dengan, Defan? Karena tadi pagi itu?” tanya Defan dengan mata berbinarnya.


“Enggak… sudah, kamu temani Vara, kakak mau pergi dengan Harsen, kamu temani dia makan. Jika dia tidak mau,kau paksalah. Kakak tadi memarahinya, karena dia itu mulai nakal. Kakak bingung dengan Vara, kenapa bisa jadi seperti itu. Agghhh…. Sudahlah, ayo Sen. Sebelum kita telat,” ajak Rava dengan berdiri dan melangkah ke arah luar, menuju mobilnya.


***


Club malam termewah di kota itu, di sinilah tempat di mana Rava janjian dengan sahabatnya, Zayn, Desta dan Harsen. Sahabat semasa Rava berkuliah, sama-sama berasal dari Jakarta, hingga mereka sama-sama sukses di tempat mereka menimbah ilmu. Di malam yang dingin itu, terasa angin malam yang menderu dengan lembut di setiap kulit anak kalangan muda, di club tempat perjanjian antara Rava dan sahabatnya.


Ya… walupun Rava sesekali ke Club dengan sahabatnya, di saat mereka berkuliah dulu, ia tetap  dalam pengawasan sang papa. Raka sangat takut, masa mudanya Rava seperti dirinya,  ia dapatanya seperti Eva, jika tidak… Raka merasa bersalah pada Eva tidak menjaga anaknya dengan baik. Walaupun berbedah Negara, Raka tetap  mengirimkan keamanan atau mata-mata seperti paparazzi buat putranya itu. Dari orang suruhannyalah, Raka bisa bisa memantau Rava.. Meskipun Rava tahu di pantau oleh papanya, ia memang anak yang baik. Tidak melanggar semua perkataan sang papa, tentang masa lalunya sebelum mengenal mamanya Eva.


Karena itu, saat ia mencoba melabuhkan dirinya pada Vannesa, ia tidak pernah sampai melampiaskan kekesalannya pada wanita manapun , seperti papanya dulu. Rava masih memandang pada adik dan mamanya. Ia sangat takut, untuk berbuat gila seperti papanya.


Di dalam Club  tersebut terlihat Rava dengan kedua sahabatnya itu, tengah duduk di salah satu meja bundar dengan membentuk lingkaran mengikuti meja yang berisi cawan dan botol wine. Bercanda gura bersama kedua sahabatnya di ikuti oleh Harsen sebagai pengawalnya . kenapa Harsen selalu ikut, karena Rava takut lupa diri.


“Ayooo… kita bersulang. Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini, semenjak kau Rava, cuma kau yang berpulang ke Jakarta. Mari kita bersulang” ucap Zayn dengan mengangkat gelas Kristal.


Semuanya menyambut gelas Zayn dan mengangkat ke atas dan saling berdekata, “Cheers” seru semuanya.  Lalu meneguk anggur mereka masing-masing dengan semangat.


*Iklan.


*Author : Jangan Lupa VOTE kalau memang mau banyak Update.


*


*Netizen : Sibuk banget sih lo thor! Ganggu baca aja!


*


*Author : Terserah lo lah! Penting saling menyemangati! Kalau cuma emak aja yang menyemangati Lo! Lo enggak mau VOTE, ya da. Masa bodoh!


*


*


Author : Namanya gua emak-emak, Wekz.


Iklan habis, silahkan di lanjut.


“Gimana, Va? Uda ada pengganti Vannesa?” tanya Desta,


Rava tertawa, “Ada… tenang saja, tunggu tanggal mainnya.” Alasan yang tepat bagi dirinya, agar mereka tidak mengejek Rava belum bisa move on dari Vanessa.


“Wauuu… Kapan lagi di kenalkan dengan kita?” sindir Zayn, “ ya kan sob?”


“Iya.. Va. Jangan main petak umpet sama kita ya? Jangan sempat lo nikah enggak bilang-bilang ke kita.”timpal Desta.


“Tenang saja, aku akan mengatakannya pada kalian, kalian pikir aku seperti perempuan dari masa lalu ku itu,” refleks Rava berkata dengan kesal.


“Wahhhh… enggak salah lagi nih, gua suka  gaya lo,Bro.” ucap Desta menimpali.


“Tapiiii..” sambung Zayn.


“Tapia pa, Zayn?” tanya Desta.


“Sepertinya kita akan kedatang-, itu orangnya,” tunjuk Zayn pada wanita yang berjalan anggun ke meja mereka. Seluruh pasang mata menoleh ke arah yang di tunjuk Zayn.


“Sial lo sob! Ngapain lo undang si , Vanessa!” teriak Desta seraya menoleh ke Rava.


Wajah Rava berubah kaget, langsung saja ia menoleh ke arah Zayn dan  mereka saling menatap.


“Maaf sob, dia minta gabung.”


Rava menarik nafasnya, tidak bisa menghindar. Karena jika dia pergi begitu saja,semuanya akan menjadi tidak enakan.


“Selamat malam semuanya?”sapa Vanessa dengan suara manjanya, seraya menatap ke Rava yang sedari tadi  membuang pandangannya.


“Selamat malam Vanessa, duduklah,” ajak Zayn yang lainnya tampak diam tidak bersemangat.


“Terima kasih Zayn,sepertinya yang lain tidak senang melihat kedatanganku,” ucap Vanessa masih berdiri, dengan mendapatkan pandangan Harsen yang seperti ingin menerkamnya.


Vanessa tertawa kecil, “Santailah, Sen. Saya kesini, untuk menyapa kalian saja. Sudah lama juga kan? Kita tidak berjumpa dan saling menyapa. Apa aku salah?”  ucap Vanessa lagi dan kembali menoleh ke Rava.


“Sudah.. duduklah, kita akan saling menyapa tanpa menyakiti.” sindir Desta dengan penekanan, Desta sangat membenci Vanessa, yang mengkhianati Rava itu.


“Baiklah… aku duduk di sini saja, karena aku sangat merindukan dirinya.” ucap Vanessa seraya duduk di pangkuan Rava, tanpa segan-segan. Sontak semua pasang mata menatap kaget dengan perilaku Vanessa yang tanpa malu itu.


Rava tersenyum kecil, tersenyum palsu seraya menggelengkan kepalanya, mengambil  gelas yang berisi wine itu dan meneguknya habis.


“Maaf nyonya, anda seharusnya tahu diri!” ucap Rava dengan penekanan.


“Apa kau tidak mau, menyapaku dengan baik, Rava?” tanya Vanessa seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Rava dan mendekatkan wajahnya.


“Nyonya, tolong jaga diri anda. Jangan lancang dengan atasan saya!” perintah Harsen, Vanessa tidak menggubrisnya, ia melirik tajam ke Harsen. Lalu menoleh kembali ke wajah Rava, “Apa kau tidak merindukan ku?” bisik Vanessa lagi.


“Tolong… jangan kelewatan, Vanessa!” teriak Desta.


Rava masih berdiam, tak lama tampak seseorang yang ia kenal barusan bergabung di Club itu, mata mereka saling memandang. Dengan cepat Rava berdiri, tanpa memikirkan Vanessa yang kewalahan berdiri, karena kaget Rava berdiri tiba-tiba dan hampir membuatnya terjatuh. Lalu semuanya mengikuti arah tujuan pandangan Rava, yang membuat Vanessa gagal merayu Rava.


“Ravaaaa!”


Gumamnya tidak kalah kagetnya dengan Rava, dengan tubuh yang menegang. Tak mampu menghindar dari pandangan yang merubah raut wajah Rava.


Bersambung.


****


Jangan lupa bantu VOTE ya kesayangan mami semuanya.^^


Netizen : Gua Gak sayang sama lu thor, suka banget menggantung! kek tali jemuran aja.


Author : Emang enak di gantung? biar greget, entar lu maki-maki mom lagi. Ayo semangatttt ya. 2 bab loh hari ini ^^  di tunggu VOTE nya yang banyakkk :)