
Café & Cake NY.
“Pindah! Ini tempat dudukku, Nona!” ketus seorang pria, yang tiba-tiba datang di hadapan Renata.
Renata yang awalnya memandangi para pria bule itu pun mengubah pandangannya ke arah pria yang di depannya. Merasa kaget, ia pun mengernyitkan keningnya, dan masih terdiam menatapnya.
“Kenapa hanya diam? “ tanyanya dengan mata tajam.
“Kenapa kau bisa di sini?” jawab Renata.
“Aku? Ini kan tempat umum? Bukan milik kau seorang.” balas nya dengan sok dingin.
“Aghhh… baiklah kalau begitu. Silahkan duduk, aku akan pergi.” ucap Renata dengan mengambil ponsel yang ada di atas mejanya dan mengambil tasnya, kemudian ia beranjak, untuk berjalan keluar, dengan sigap Rava menarik tangannya, dan kembali membawanya duduk.
“Duduklah…” ucap Rava, kemudian ia ikut duduk di depan Renata.
Renata menatap kesal ke Rava, “Kenapa di mana saja ada dirimu?” tanyanya kesal.
Rava tersenyum, “Bukankah kau senang? Ada aku di manapun?” tanya Rava dengan ujung bibir yang terangkat.
“Cih… itu dulu, sekarang enggak! Jangan menggangguku, aku sedang melihati pria bule di sini, untuk melupakan pria seperti dirimu. Jika kau tetap di sini, bagaimana bisa aku mendapatkan pria bule di kota ini?”
Rava terdiam menatapi wajah Renata yang mulai merasa kesal pada dirinya.
“Kalau kau berjodoh dengan pria di Negara ini, adanya aku di sini kan bukan jadi penghalangmu?”
“Agh… sudahlah, aku tidak mau berdebat dengan pria aneh sepertimu!”ia membuang pandangannya ke arah luar.
“Kenapa aku aneh? Menurutmu aku aneh di mananya, Rena?” tanya Rava dengan penasaran.
“Ya anehlah, coba kau pikirkan. Berapa tahun aku mengejarmu, tidak pernah kau pikirkan perasaanku, terus kau malah berpacaran di sini selama bertahun-tahun, aku terluka Rava, apa kau tahu? Sekarang aku sudah tidak ingin menjadi wanita yang bodoh, mengemis cinta dari orang sepertimu! Aku mau menjauh darimu, malahan kau terus mendekati aku. Aku enggak mau menjadi pelarianmu! Jadi cukup, bersikaplah seperti kau tidak mengenalku! Dan anggap saja aku orang asing bagimu! Apa kau paham?”
Rava tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, “Tidak…aku tidak paham, aku akan terus mendekatimu, sampai kau benar-benar bisa melupakanku. Mari kita bertaruh, jika kau bisa melupakan aku, aku akan mengikuti permintaanmu, jika tidak… teruslah mencintaiku seperti caramu.” ucapnya dengan tersenyum senang.
“Kau benar-benar, Pria yang aneh Rava, kalau kau tidak mencintaiku, kenapa kau harus capek-capek mendekati ku. Jika aku tidak mampu melupakanmu, kau mengajukan permintaanmu, agar aku terus mencintaimu, orang yang tidak pernah mau membuka hatinya untukku dan bukan orang yang mencintaiku, untuk apa aku mencintaimu! Dasar gila kau ini, pergi sana, cari wanita yang bisa kau cintai, aku tidak akan pernah merepotkanmu lagi, semenjak kau terus mengabaikan perasaanku! Aku sudah lelah denganmu.”
“Benarkah itu? Sepertinya, aku tidak percaya dengan kata-katamu, ini.” ucap Rava dengan senyumannya lagi.
“Jangan meledekku, dan jangan senyum seperti itu. Aku takut melihat kau tersenyum, tetaplah dingin , sebegaimana kau menatapku dulu! Aku tidak akan tertarik dengan dirimu lagi!.”
Rava tertawa mendengarkan ucapan Renata barusan, dan satu sisi sebenarnya, dia merasa kaget dengan pernyataan Renata terhadap dirinya. Ternyata dia sudah dewasa, selama aku jauh darinya.
“Permisi, Nona. Pesanan anda sudah datang,” Alice mengantarkan pesanan Renata dan meletakkan di atas meja mereka. Betapa kagetnya Alice, saat melihat Rava bersama dengan Renata, kaget ternyata keduanya saling mengenal. Rava pun menatap Alice, lalu berpindah menatap Renata.
“Terima kasih, Nona.”jawab Renata.
“Kenapa kau melihatku? Kau tidak memesan apapaun?” tanya Renata.
Dengan cepat Rava mengambil hot chocolate yang sudah di letakkan Alice, lalu meminumnya, kemudian menarik piring yang berisi cake pesanan Renata, dan mengambil sendok plus garpu, lalu menyantapnya.
Dengan mulut terngangah, Renata menatap kaget dengan sikap aneh nya Rava. Alice pun tak kalah kagetnya, Rava yang dingin selama yang ia lihat, bisa bersikap seperti itu karena wanita yang Alice kagumi.
“Rava!!! Kau ini sengaja membuatku marah? Itu kan pesanan aku?” Renata protes dengan suara kesalnya.
“Pesan saja lagi, aku sangat lapar!” ucap Rava tanpa menoleh ke Renata. Kemudian Renata mengerucutkan bibirnya dengan perasaan yang benar-benar kesal, karena Rava asik melahap seluruh pesanannya.
Alice menatap ke Renata dengan wajah yang sudah di tekuk menahan kesal, “Nona… apa anda mau mengganti pesanan?” tanya Alice dengan ramah.
“Tidak usah, Nona. Saya sudah merasa kenyang, melihat Pria aneh ini makan. Berikan saja bill padanya.” ucap Renata lembut.
“Baik.. nona.” Balas Alice dan kemudian meninggalkan keduanya.
“Keduanya sangat cocok dan serasi,” gumam Alice seraya berjalan.
“Kenapa kau ini?” tanya Renata.
Renata tertawa, “Itu kan kau yang mau? Bukannya aku,”
“Tapi kemarin waktu aku pingsan, ada yang menangis karena takut aku mati, karena belum bilang sayang , belum mengatakan cinta, kalau kamu mati terus aku nya bagaimana? Bukankah itu perkataanmu saat aku setengah sadar?” ledek Rava dengan mata Rava menatap tajam pada Renata.
Renata memutar kedua bola matanya, merasa ada sesuatu yang membuatnya kaget, “Terus… kalau kau setengah sadar, sebelum aku mengatakan yang barusan kau ucapkan itu, untuk ci_”
“Aku tahu! Tiga kali bukan?” ledek Rava tiba-tiba.
“Ravaaaaaa!!!” teriak Renata kesal dan merasa malu.
“Jangan berteriak di depanku! Kau ini membuatku malu saja. Lihat, semua orang melihat kita,” ucap Rava dengan kesal.
“Kau keterlaluan Rava,” ucap Renata seraya berdiri, dan hendak berjalan meninggalkan Rava. Rava dengan cepat berdiri dan menarik tangan Renata, kemudian Alice datang saat ingin memberikan billnya.
“Berapa nona?” tanya Rava seraya menggenggam erat tangan Renata, yang mencoba melepaskan diri dari Rava.
Alice pun memberitahukan, jumlah tagihan Rava.
“Tunggu di sini! Jangan ke mana-mana. Jika kau berani melangkahkan kakimu! akan aku patahkan kakimu!” ucap Rava penuh penekanan, karena Rava ingin mengambil dompet dari sakunya.
Renata hanya diam, tidak menjawabi Rava, sedangkan Alice yang mendengar itu hanya menatap kaget dengan perkataan Rava, yang menurutnya sangat tidak baik bagi seorang wanita. Dengan perlahan ia melepaskan tangan Renata, dan mengambil dompetnya, seraya melirik ke Renata, mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, lalu memberikannya ke Alice, dann… lariiiiiiii Renataaa.
Renata berlari secepat yang ia bisa, Rava buru-buru memasukkan dompetnya, dan ikut berlari mengejar Renata.
“Tuan… kembaliannya.”seru Alice.
“Ambil saja,” teriak Rava yang sudah di ambang pintu.
Renata dengan cepat berlari, kemanapun ia bisa terlepas dari Rava, sesekali ia melihat kebelakang, tampak Rava yang mengejarnya.
“Renataaa… tunggu. Jangan lari, nanti kau terjatuh.” teriak Rava.
“Biarin.. aku tidak mau di dekatmu.” Renata membalas dengan suara kerasnya.
Bruggggggggg….
Renata menabrak tubuh pria bule yang sangat tampan, matanya tidak berkedip memandangi tatapan dari pria bule itu, walaupun dia sudah terduduk karena jatuh.
“Permisi , nona. Apa kau baik-baik saja?” tanya pria bule itu dengan tangan yang di ulurkan.
Rava tiba di samping Renata, “Maaf.. Tuan, dia tidak sengaja.” Rava menarik tubuh Renata agar berdiri.
Si pria bule itu pun tersenyum, lalu meninggalkan keduanya.
“Kenapa kau tidak bisa mendengarkan perkataanku? Mana pakai rok, enggak takut apa di lihat orang?” ucap Rava setengah duduk membantu membersihkan pakaiannya dan kaki Renata.
Renata tersenyum, melihat Rava yang sangat perduli padanya. Tapi dia, masih kesal dengan sifat Rava.
“Biarin! Habisnya kau itu berbohong padaku!”
“Aku berbohong apa, Renata!” ucap nya dengan berdiri menatap renata.
“Berbohong kalau kau sedang tidak sadarr! Sehingga aku memberikan ciuman pertamaku pada dirimu! Yang harus nya aku berikan pada orang yang mencintaiku! Bukan orang sepertimu!” ucap renata kemudian berbalik dan berjalan ke arah semula.
Rava tertawa kecil, melihat Renata berjalan menatap punggungnya, dan mencoba berjalan mengikutinya dari arah belakang.
“Kau salah! Itu kan pertolongan pertama, bukan di anggap ciuman.” seru Rava dari arah belakang.
Renata pun terhenti , mendengarkan ucapan Rava barusan, kemudian dia menoleh ke arah Rava yang berada di belakangnya. Dan berjalan ke arah Rava, dengan tatapan tajamnya, terus mendekati Rava yang berdiam dengat menatap ke Renata.
Berdiri di depan Rava, ia mendekatkan wajahnya, melingkarkan kedua tangannya di leher Rava dan mencium bibir Rava dengan lembut, dengan mata yang terpejam, menikmati bibir Rava. Rava tidak menolak, ia menatap wajah Renata , yang tiba-tiba mengeluarkan air matanya.
Kemudian Renata melepaskan ciumannya dan menatap sendu ke Rava, “Apakah seperti itu yang di anggap ciuman pertama?” tanyanya dengan sedih.