My Chosen Wife

My Chosen Wife
CIUMAN PERTAMA.



Di ruangan keluarga, Ada Rava, Vara, Alice,Harsen, dan Defan. Mereka semua berbincang, hanya saja Vara yang lebih antusias untuk terus bertanya tentang hubungan Alice dengan Defan.


"Alice... bagaimana Kau dan Defan bisa jadian?" tanya Vara semangat.


Alice malu, Ia menatap ke Defan yang tersenyum menatap dirinya.


"Jawab saja.... Vara enggak gigit kok, Kalau kak Rava itu biasa, tampangnya aja kek gunung es, tapi hatinya baik." sindir Defan yang di tatap Rava dengan dingin.


Rava menatap Defan tajam, kedua tangannya terlipat di dada. Harsen yang di samping Rava mengikuti gaya duduk Rava dan menatap tidak senang juga ke Defan.


"Lu pikir.... Adik gua apaaan!." celetuk Rava tidak senang.


"Iya nih Ka.. Masa iya Vara menggigit." wajah Vara mengkerut.


"Becanda kok Kak... Serem banget langsung di tatap sama gunung Es." celetuk Defan.


"Kasi tahu dong Alice... bagaimana si Defan nyatakan perasannya ke kamu." Vara masih penasaran, dia menggoyang-goyangkan tangan Alice.


"Sabar Vara... Baik akan Aku akan kasi tahu." Alice merapikan duduknya, dan mulai ingin bercerita.


 


Rava langsung menoleh ke Alice, Karena memang dia juga sangat penasaran. Bagaimana bisa, si Defan dengan mudahnya mendapatkan hati wanita, siapa tahu aja Rava bisa mengikuti jejak Defan pikirnya.


 


"Jadi gini... Kapan hari ya.. aku lupa soalnya, waktu Defan jemput dan mengantar aku ke Cafe, di mobil Defan mengungkapkan perasaannya ke aku. Jadi... Ya gitu aku terima aja. Karena Defan memang baik ya, ramah, sampai mama juga klop banget sama Defan. Kenapa harus aku tolak, toh Defan memang cowok yang lembut, enggak kasar, enggak egois, enggak cerewet, enggak apa lagi ya? Pokoknya enggak seperti gunung es. Jadi ya aku terima, karena di Defan sendiri, banyak kriteria yang aku suka darinya." tuturnya dengan menatap Defan, bersamaan mereka tersenyum. Defan berubah seketika, mendapatkan pujian dari Alice membuatnya seperti terbang ke awan-awan rumah mereka.


 


"Wah....Aku tidak tahu, Defan ada sisi gelapnya." Vara takjub.


 


"Gelap? Kau pikir apaan? Listrik padam?" Defan pun protes.


 


"Sama! Tidak ku sangkah, Kau ini anak yang sedang Matang. Hah... Vara kakak mau ke kamar, Harsen menginaplah di sini." Rava beranjak hendak meninggalkan ruangan tamu.


"Vara.... kemarin aku jumpa wanita yang bersama kakakmu, saat di cafe." ucap Alice ke Vara.


Rava terhenti, lalu Ia menoleh ke Alice dan mendekati Alice.


"Di mana Kau melihat dia?" tanya Rava dengan tegas.


Alice terkaget melihat raut wajah Rava yang serius, membuat Alice menjadi ikut menegang.


"Iya Alice....Di mana Kau lihat kak Rena." sambung Defan enggak kalah kaget, dan berdiri di samping Rava.


"Agh.... Di dekat Cafe, bersama seorang wanita paruh baya. Mereka seperti baru keluar dari mini market, karena membawa barang belanjaan. Waktu itu aku sedang buang sampah ke arah parkiran, jadi di sebrang jalan tepatnya aku melihat Nona itu yang aku tebak sih mamanya." jelas Alice.


 


"Apa kau lihat dia baik-baik saja?" tanya Rava.


 


"Baik... hanya saja berjalan lambat, wajahnya juga seperti agak pucat. Tapi kalau aku perhatikan dari kejahuan ya, Aku pikir sih sehat. Karena Nona itu sering tersenyum saat bercerita dengan wanita di sebelahnya."


 


"Baiklah... Terima kasih infonya." balas Rava kemudian melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar Rava.


 


 


Vara heboh sendiri, semakin menempel ke Alice.


 


 


"Alice.... Jika Kau bertemu dengannya lagi. Kabari ke Aku , Kau masih menyimpan nomorku kan?"


 


 


"Iya Vara... Masih ada. Emangnya kenapa dengan nona itu?" Alice penasaran.


"Kak Rena pacarnya , Kak Rava. Hanya saja... Keduanya lagi break. Ada sesuatu yang membuat hubungan mereka rumit. Aku akan mencari keberadaan kak Rena, supaya Kak Rena dan Kak Rava bisa bersatu." ujar Defan dengan semangat.


 


Vara pun berdiri, "Aku juga Fan, mari kita cari Kak Renata. Biar Kak Rava tidak sedih lagi, kasihan kak Rava." sambung Vara dengan sedih.


 


Harsen menggelengkan kepalanya, lalu Ia berdiri dan mendekat pada keduanya. Vara, Defan dan Alice menoleh ke Harsen.


"Hah.... Tidak usah merepotkan diri kalian sendiri. Kenapa kalian tidak mengenal kakak kalian. Kak Rava bisa saja sudah tahu di mana kak Rena, hanya saja dia memberikan waktu untuk Kak Renata. Biarkan kak Rava melakukannya sendiri. Kalau dia perlu bantuan, harusnya Aku sudah di beri perintah kan?" Harsen menatap ke mereka dengan kedua tangan di saku celananya.


"Benar juga yang di katakan Kak Harsen. Kenapa aku sampai lupa." ucap Defan memukul keningnya.


"Iya... Benar. Ya sudah... kalau begitu kita tunggu aja, apa yang akan di lakukan kak Rava." sambung Vara.


"Alice.... ayo kita pulang sayang." ucap Anet yang datang bersama Eva.


Semua menoleh ke Anet dan Eva, Alice segerah berdiri dan melangka menghampiri Anet.


"Ayo... Ma." balasnya dengan lembut.


"Defan... Antarlah mereka." ucap Eva dengan lembut.


"Baik Bi."


"Bi... Terima kasih untuk jamuan makan malamnya. Semuanya sangat enak dan nikmat. Alice dan Mama pamit ya Bi, semoga penerbangan Bibi dan Paman tiba dengan selamat." ucap Alice.


Eva kemudian memeluk tubuh Alice.


"Iya sayang... Bibi yang terima kasih, karena kalian sudah mau datang. Kamu jaga Mama dengan baik ya, Nak." ucap Eva seraya melepas pelukannya dan menatap Alice dengan senyuman.


"Terima kasih Va, kamu sudah mau menerima kami." ucap Anet.


Eva pun memeluk tubuh Anet.


"Iya Mba... Sama-sama... semoga kita semua baik-baik ya Mba?"


"Iya Va..." balas Anet dengan membalas pelukan Eva dan Ia tersenyum.


"Sudah... Ayo Aku antar mba." ajak Eva.


Seluruhnya berjalan menuju pintu keluar, begitupun dengan Harsen, dia mengikuti yang lainnya untuk mengantarkan Alice dan Mamanya sampai di depan pintu.


"Defan... Hati-hati ya Nak, pelan-pelan saja nyetirnya." Eva mengingatkan.


"Baik Bibi." jawab Defan yang sudah duduk di bangku kemudi.


Seusai kepergian mobil Defan, tinggallah Vara dan Harsen.


"Kalian Istirahtlah Nak." ucap Eva pada kedua anaknya .


"Baik Bi," jawab Harsen yang langsung membalikan tubuhnya dan hendak masuk.


"Okey... Mama ku sayang." ucap Vara dan buru-buru mencium pipi Eva, kemudian berlari kecil ke Harsen dan melompat dalam tubuh Harsen.


Harsen refleks memegang kedua paha Vara, seakan menggendong Vara yang sudah merangkul Harsen dengan erat.


"Ayo kak... kita naik." bisiknya.


Eva yang melihat tingkah anaknya yang dari dulu tidak berubah hanya menggelengkan kepalanya, Ia pun mendekat.


"Kau itu sudah gadis, Nak. Kalau dulu Harsen menggendong kamu, kamu itu masih kecil. Enggak kasihan apa sama Harsen?" Eva menatap keduanya.


"Tidak Apa-apa Bi, Harsen tidak masalah. Mungkin Vara sedang rindu di gendong." balasnya dengan tersenyum.


Eva tersenyum, lalu menyentuh pipi Harsen dengan lembut, "Kau memang anak yang sangat baik, Papa dan Mama kamu sangat bangga memiliki kamu, apa lagi buyut kalian. Ya sudah, Mama duluan naik ya." ucap Eva.


"Terima kasih, Bibi." ucap Harsen.


Eva tidak melarang kalau Vara manja ke Harsen. Karena keduanya memang besar bersama dengan Rava sebagai kakak mereka.


Vara menempelkan wajahnya di pundak Harsen dan merangkul Harsen dengan sangat erat. Harsen sendiri tersenyum, karena Vara itu memang gadis yang paling sangat dia sayangi dari semasa kecil mereka. Hanya saja, dia berpurak-purak dingin di depan Vara.


"Kak Harsen." panggil Vara.


"Hemmm." balas Harsen dengan tersenyum, dan mulai melangkahkan kakinya.


"Kenapa kakak enggak mau jadi pacarnya Vara? Apa Vara jelek ya?" Vara cemberut.


Harsen yang mendengar pertanyaan Vara tersenyum, dengan pelan dia menapaki anak tangga rumah itu. Memang sudah lama banget bagi Harsen tidak menggendong Vara seperti saat sekarang.


"Siapa yang bilang, Nona Vara jelek?" tanya Harsen.


Vara mendongak, "Jangan memanggilku Nona! akan Aku gigit lehermu jika memanggilku Nona! merusak mood aja." celetuk Vara dengan kesal.


Harsen lagi-lagi tersenyum, "Cih... Kau cerewet sekali. Tidak pernah Kakak, tidak mendengar ocehanmu."


Vara kembali menyandarkan wajahnya di atas pundak Harsen, "Lagian Kakak sih, terus saja memanggilku Nona. Vara enggak suka , Kak Harsen."


"Iya... Iya.. Jangan marah lagi. Kau jelek saat marah-marah." ucap Harsen.


Vara tersenyum, "Gitu dong... Kak Harsen belum jawab pertanyaan Vara. Kenapa kakak enggak mau jadi pacar Vara?"


"Karena Kau belum cukup umur." jawab Harsen dengan cepat.


"WAH.... Kalau nanti Vara sudah cukup umur, bolehkan Vara jadi pacar Kak Harsen?"


"Tergantung dengan sikapmu." ledek Harsen.


"Apaan sih Kak Harsen, kok gitu?" Vara sedih.


Harsen tersenyum, "Vara enggak boleh memikirkan yang lain, Vara harus bisa menyelesaikan Kuliah Vara. Baru memikirkan pacaran, Apa Vara mau janji?" bujuk Harsen.


"Kalau itu... Kak Harsen, Vara janji. Kalau Kak Harsen ingkar janji, Vara akan membenci Kakak selama sisa hidup Vara." ancam Vara.


"Hemmm... Kakak enggak bisa janji." jawab Harsen.


"Loh... Kenapa? Apa kakak sudah punya pacar?" Vara langsung ingin turun.


Dengan sigap Harsen menggenggam kuat kedua paha Vara, "Jangan seperti itu! Kalau kau jatuh bagaimana?"


"Biarin.... Habisnya kakak ngeselin." jawab Vara dengan bibir di majukan.


"Ya sudah... Lain kali jangan pernah mengajak Pria lain jadi pacarmu. Masa iya... Perempuan yang menyatakan perasaannya duluan."


"Habisnya sih... Kakak itu sama dengan kak Rava! Enggak pekah! Lihat sekarang kak Rava, dia menyesalkan? Apa kak Harsen mau sama dengan Kak Rava?"


"Tidak!." jawab Harsen dengan cepat.


"Wah.... Jadi benaran nih... Kak Harsen punya rasa ke Vara?" ledek Vara.


Wajah Harsen berubah Merah, "Jangan mengada-ngada, sudah jangan bicara lagi! Kau membuat kepala kakak pusing!." Harsen kembali menaiki anak tangga, Vara sendiri sudah senyum-senyum.


Sesampainya di depan pintu kamar Vara, Harsen menuruni Vara dengan peralahan. Lalu keduanya saling menatap.


"Masuklah... Selamat tidur dan selamat malam." ucap Harsen yang sudah menegang, ketika ingin berbalik, Vara melayangkan ciuman di pipi Harsen.


Vara tersenyum, Harsen refleksnya menyentuh pipinya.


"Selamat malam Pria masa depanku." ucap Vara kemudian buru-buru masuk ke kamarnya.


Harsen sendiri masih menyentuh pipinya, merasa senang, kaget, terharu semua jadi campur aduk. Untuk pertama kalinya, Vara mencium pipinya di masa mereka beranjak dewasa.


Masih berasa membekas di pipinya, Harsen melangkah ke arah kamarnya seperti orang bodoh. Tersenyum sendiri dengan memegang pipi bekas ciuaman Vara.


Bersambung.


........


Tekan Like dan jangan lupa bantu VOTE. Terima kasih.