
Rava melajukan mobilnya menuju Rumah sakit keluarganya. Dengan perasaan gelisah, dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena memang, itu siang, tidak bisa melajukan dengen kecepatan maksimal.
"Masih sakit sayang?" tanya Rava dengan mengusap-usap perut Renata.
"Sudah enggak sih, naik turun aja nih. Tapi sepertinya memang mau lahiran ini. Pokoknya bawa aja aku ke rumah sakit, ini benar-benar waktunya kali. Mana mama mu belum makan pizza nak." kata Renata mengelus-elus perutnya.
"Kenapa jadi Pizza sih sayang? Pizza entar kalau kamu sudah lahiran juga bisa aku belikan. Ini Aku benaran takut loh liat wajah kamu pucat banget." Rava galau sendiri, mana istrinya masih bisa becanda pula pikirnya.
"Tenang saja, Aku masih bisa nahan-nahan sedikit ini."
"Benaran ini kan?" tanya Rava.
"Benaran loh. awwwwww..." suara Renata kembali mengadu sakit.
"Duh... kan sakit kan. Sabar-sabar Nak, papa sebentar lagi kita sampai kok." kata Rava dengan rasa gugupnya.
Sementara di grup keluarga mereka.
KELUARGA CERAMAH.
Rava.
β Semuanya... Renata akan lahiran hari ini.
Jimmy.
β Seriusss???π±π±π±
Rere.
β Bukannya kemarin empat hari lagi kalian informasikan?
Anna.
β Iya kan... maju ini.
Leo.
β Kita akan segera ke rumah sakit Rava, kamu yang kuat ya, berikan semangat untuk Renata.
Harsen.
β Kita uda otw ya.
Frans.
β Wowwww.... kita juga sudah otw. Semoga Renata kuat, sekuat aku.π
Jimmy.
β Bukan waktunya becanda ini! lo kadang suka ngeselin ya. Gak di dunia nyata, di dunia tak kasat mata juga lo sama aja!
Frans.
β Yeeee serah gue deh. Ini hp gue, mah lo yang sirik. Dasar orang-orangan sawah lo.. cerewet aja kayak emak-emak.
Vara.
β Kok jadi pada ribut sih ?π
Jimmy.
β Paman kamu ini, lagi PMS, Vara.
Rava.
βKita sudah sampai di Rumah sakit, Renata juga sudah di tangani team medis. Lagi di cek pembukaan, kemungkinan Renata bakalan lahiran normal. Karena sudah pecah ketuban juga, aku benar-benar sangat takut.
Harsen.
β Kita sudah hampir tiba Kak, semangat kakak ya.
Defan.
β Kenapa baby gak tunggu paman sih?
James.
β Paman apaan lo, kan lo di New York. Kalau nunggu ya kelamaan. Gilaaaa...!
Vara.
β Berisik amat sih kalian! siapapun yang bisa ke Rumah sakit, sekarang ke sana temani kak Rava.
***
Rumah Sakit Atmadja.
Di sini Rava berada, di ruangan bersalin. Memberikan semangat ke Renata. Wajah pucatnya Renata membuat air mata Rava hampir lolos dari kedua matanya.
"Ayo bu.. dorong yang kuat." suara Dokter memberikan arahan ke Renata.
Sambil mencengkram tangan Rava, Renata memberikan dorongan.
"Aghhhhh.." suaranya di barengi embusan nafas yang di keluarkan dari mulutnya.
"Semangat sayang, sedikit lagi." kata Rava dengan membisikkan suaranya ke telinga Renata dan menggenggam erat tangannya, memberikan se
mangat untuk sang Istri yang terus berjuang.
"Benar Bu, ayo sedikit lagi. Tarik nafas dalam-dalam, terus buang sambil mendorong."
Renata pun mengikuti setiap arahan sang Dokter. Dan tidak lama kemudian, suara sang bayi memenuhi ruangan bersalin.
"Terima kasih sayang." suara Rava bergetar dan mengecup kening Renata dengan hangat.
Cairan kristal pun tampak pada kedua pelepuk mata Rava dan Renata. Tangis haru dari keduanya, membuat semua rasa lelah dan persakitan Renata seakan terbayar, dengan adanya Rava di sisinya dan suara tangisan sang bayi yang memenuhi ruangan.
"Ini Bu bayinya." suara sang perawat yang membantu, meletakkan bayi mereka di atas dada Renata. Sentuhan pertama, dari bayi dan ibu pun membuat Renata terus menangis haru.
Rava jangan di tanya, dia semakin memberikan ciuman di puncak kepala Renata, saat sang bayi di letakkan di atas dada sang Istri.
"Jenis kelamin perempuan, beratnya 3.20kg dan panjangnya 50cm. Anak dalam keadaan sehat ya pak , bu. Selamat, buat Bapak dan Ibu." kata Dokter Hermawan, yang memberikan penanganan pertama buat Renata.
"Terima kasih Dok." balas Rava penuh syukur.
***
Setelah semuanya usai, Renata yang masih di ruangan pemulihan di temani Rava. Keduanya saling berbagi kebahagiaan.
"Sangat cantik seperti mamanya." ungkap Rava ke Renata.
"Tapi wajahnya sangat mirip sama kamu." kata Renata.
"Iya. Takut banget ya, gak di akui sama Papanya." ledek Rava.
"Hahaha... gak gitu juga. Mungkin biar tau, kalau papanya itu tampan. Oh ya, sudah siap di mandikan belum ya?"
"Sabar sayang, nanti kan baby nya mau di susui sama kamu." kata Rava masih dengan kedua manik mata berbinar.
"Iya kah?"
"Pak Rava." panggil seorang Suster tiba-tiba.
"Iya Sus...?" Rava beranjak.
"Keluarga anda dan Ibu Renata, sudah menunggu semua di luar, mereka menanti Ibu Renata dan baby. Setelah bayi di berikan ASI dan Ibu Renata sudah pulih, kita sudah bisa membawa Ibu Renata ke ruangan inap." kata Suster dengan ramah.
"Baiklah Sus.. Terima kasih banyak."
Tidak beberapa lama, bayi Rava dan Renata yang sudah di mandikan itu, di berikan ke Renata untuk di susui. Rava tersenyum saat melihat sang buah hati, mencoba mencari susunya.
"Duh gemesin banget sih Kamu sayang." Rava mengecup lembut kepala sang anak, lalu berpinda ke pipi Renata.
"Namaku siapa papa?" suara Renata terdengar seperti anak-anak dengan mengusap lembut kepala bayinya.
"Nama kamu Rebecca sayang, itu nama dari Papa dan Mama untuk kamu. Lebih lengkapnya, Rebecca Atmadja." kata Rava.
"Terima kasih banyak ya Pa... Rebecca sayang Papa."
Keduanya pun tertawa. Kebahagiaan yang tidak ternilai harganya bagi Renata dan Rava.
***
Saatnya Renata di antar ke ruangan rawat inap, karena Renata tidak menunjuk tanda-tanda lainnya. Bersamaan Renata di bawa dengan menggunakan kursi roda, menuju ruangan VVIP, Rebecca juga di bawa dengan ranjang khusus baby.
Semua keluarga menyambut haru, melihat Renata yang tersenyum bahagia.
"Renata." suara Casandra duluan meyambutnya.
"Mami, selamat sudah jadi Oma. Babynya perempuan." kata Renata membalas pelukan sang Mami.
Yang lainnya memberikan selamat ke Rava dan memeluknya.
"Selamat juga buat Mama, sudah jadi Oma cantik." kata Renata.
"Itu baby-nya kalau mau lihat, sekarang. Karena mau di bawa ke ruangan bayi." kata Rava menunjuk ke arah ranjang bayi.
Semuanya mendekat, Raka duluan yang menggendong sang cucu.
"Ya ampun, ini mirip nya ke Rava." suara Varel.
"Iya... Papanya banget ini." timpal Anna.
"Benaran ya, tapi hidungnya mirip banget sama Renata." kata Casandra.
"Iyalah, gak mungkin kan mirip gue." saut si Jimmy.
"Amit-amit." kata Frans.
"Sirik amat lo!" balas Jimmy sinis.
"Mancung banget, gantian dong." kata Eva.
Raka yang barusan menimang pun memberikan ke Eva.
"Gak sangka ini, uda punya cucu." kata Eva sambil menimang cucunya. Casandra mendekat dan memberikan kecupan. Kemudian, di kembalikan ke suster untuk di bawa ke ruangan bayi. Bersamaan dengan itu, Renata dan Rava berjalan ke ruangan kamar inap.
"Iyaaa... selamat buat Pak Raka, Eva, Casandra dan Varel. Kalian semua sudah sah, menjadi Opa dan Oma." balas Leo bersemangat sambil semuanya berjalan bersama mengikuti Rava dari belakang.
"Papa Leo juga jadi Opa." saut Vara.
"Iya dong, kan cucunya Papa juga." balas Leo ke Vara.
"Iyaaa... tapi ini kan sah juga dari Harsen dan Vara, Pa." Harsen mencoba menjelaskan.
"Maksudnya??? Vara hamil?" sambung Rere.
Vara tersenyum dan menganggukan kepalanya. Refleks para papa itu menoleh ke belakang.
"Kamu serius sayang?" tanya Raka memastikan.
Semuanya pun terhenti.
"Serius pa. Uda mau masuk dua bulanan malahan."
"Wah... selamat dong buat kalian. Akhirnya, generasi kedua bakalan lahir di keluarga Harsen dan Vara. Selamat pak Raka dan Eva, cucunya uda mau dua." kata Jimmy. "Pak Leo dan Mba Rere juga."
"Iya nih... gak sangkah ya, Renata lahiran, Vara sambung ngisi. Selamat buat kamu sayang, sehat-sehat anak Mama." Rere memeluk tubuh Vara.
Leo hampir menangis, Eva pun ikut memeluk dan mengecup pipi Vara, di ikuti dengan Raka.
"Doa papa dan mama menyertai kamu ya nak. Sehat dan kuat sampai lahiran nanti." bisik Raka ke Vara.
"Terima kasih papa." balas Vara dengan haru.
"Kok Pak Loe mewek?" sindir Frans.
"Agh enggak kok , cuma kelilipan Frans." balas Leo dan buru-buru menghapus air matanya.
"Agh....jangan menangis. Ini kabar bahagia buat kita." Raka menepuk pundak Leo.
"Iya Besan. Cuma terharu saja, saya bakalan jadi Opa benaran dari anak-anak."
"Dasar melan kolis amat sih, pak Leo." kata Jimmy.
"Kamu belum ngerasain sih. Entar, James dan Jenny menikah ya." balas Rere.
"Masih lama Bi... hehehe." saut James.
"Dengar itu, si James mau umur tiga puluh tahun baru mau menikah katanya." balas Jimmy.
"Sangat matang itu." balas Varel.
"Ayo semuanya, Renata sudah di kamar." panggil Rava tiba-tiba.
"oh iya, kenapa kita jadi berserak di sini." kata Raka tiba-tiba.
***
Di ruangan Renata, mereka masih membicarakan kecantikan anak dari Renata dan Rava. Senyuman dan tawa dari keluarga itu, membuat Renata dan Rava senang.
"Rambutnya hitam, bulu matanya lentik kayak Renata Terus pipinya gembul, duh gemas banget. Tapi mirip banget ke papanya." Casanrdra bersemangat.
"iya mirip banget kan, gak buang gitu. Kulitnya putih, duh rambutnya buat aku gak nahan, lebat banget." timpal Anna.
"Seperti Mamanya kan?" sambung Rava.
"Gak mungkan kan seperti aku?" sambung seseoranh dari depan pintu sana.
Refleks semua mata menatap kaget.
"Defaaan!" suara Renata memanggil kencang.
"Kak Renata." teriak Defan sambil berlari menuju Renata dan memeluknya.
"Kapan dia pulang?" tanya Eva ke Frans.
"Kemarin malam sudah sampai, ketiduran Mba." bisik Frans.
"Jangan lama-lama peluknya dong." protes Rava.
"Sirik amat sih Kak! Duh kak Rena... Maafi Defan telat ya, tadi ketiduran di taxi, bukannya di banguni malahan di bawa jalan-jalan." kata Frans ke Renata.
"Hahahaha... gak apa-apa, keponakan kamu sudah lahir. Sekarang di ruangan bayi, kalau mau lihat." balas Renata.
"Seriusan ini, gak mirip sama Defan, Kak?" tanya Defan lagi.
"Lo siapanya! Kenapa jadi mirip sama lo." balas Jimmy.
"Yeeee, kenapa lo sewot. Ini kan Pamannya, nah kalau mirip lo yang bisa bahaya!" sindir Frans.
"Jadi ceritanya lo mau dua batu di sini lawan gue gitu?" tantang Jimmy.
"Ogah agh, lawan orang-orangan sawah, gak guna." Frans langsung membuang pandangannya.
"Ada baiknnya kan, kalian berdua keluar aja! bising tauuuu!" ketus Raka.
"Ini nih Kak... sewot amat." tunjuk Frans.
"Stooooop!" kata Delia.
Keduanya pun saling memandang, dan memberikan cebikan di bibir mereka masing-masing.
"Sekarang kita foto dulu yuk, selagi ada Defan nih." ajak Renata.
Semuanya pun berjalan mendekati ranjang Renata dan membentuk barisan serta gaya masing-masing. Dengan menggunakan kamera ponsel Defan, dan memasang timer kamera depan, semuanya pun tersenyum ke arah kamera.
"Terima kasih keluargaku semuanya." kata Rava seusai mereka berfoto.
"Terima kasih, kebersamaan kalian , membawa cinta dan kasih di tengah-tengah kami." sambung Renata.
"Kami yang harus berterima kasih, karena kalian anak-anak kami, bisa mengikuti jejak kami sebagai orang tua kalian." balas Raka bersemangat.
"Egh tunggu dulu, siapa nama keponakan Defan?" tanya Defan.
"Oh iya ya... kenapa kita lupa?" sambung Eva.
"Iya, gak ke situ mikirnya sangkin bahagianya" kata Rere.
"Namanya, Rebecca Atmadja." Rava menghentikan pertanyaan-pertanyaan di antara mereka.
"Nama yang cantik, seperti dirinya." balas Varel.
"Sama seperti Aku." kata Defan dengan memeluk Rava.
"Lo cowok!" ketus Rava.
"Gak apa-apa, demi keponakan, Defan rela kok di katain cantik." balas Defan lagi.
"Tapi kan gak gini juga main peluk-peluk "
"Biar kangennya terobati,"
"Oh ya, mari kita katakan, ke pembaca semuanya. Jangan lupa kan kami ya." perintah Jimmy ke semuanya.
Dan pada akhirnya mereka kembali lagi membentuk lingkaran di ranjang Renata dan bersama-sama mengucapkan.
"Jangan lupakan kami ya, Keluarga Atmadja dan para sahabat-sahabatnya."
Semuanya pun tertawa senang, mendapati kebahagiaan mereka masing-masing. Vara dan Harsen akhirnya mencapai keinginan mereka. Alice dan Defan mempersiapkan masa depan mereka, menyelesaikan tugas mereka masing-masing, bekerja lalu memikirkan pekerjaaan. Jenny dan James juga sama, mereka sedang santai dan menikmati status baru mereka sebagai pekerja di salah satu perusahaan.
Jadi, semuanya berbahagia di posisinya masing-masing. Jangan tanyakan lagi ya, ini benar-benar TAMAT. Terima kasih untuk semuanya, sudah mampir dari Terpaksa Menikah dan My Chosen Wife. Untuk Wedding Ring, kalian bisa baca sementara di MT, infonya bisa lihat di IG saya @putritritrii_ kedepannya mungkin My Chosen Wife yang terakhir. ya. Terima kasih...π₯°πππ