
"Apa di sini tempatnya?" Raka mengedarkan pandangannya seraya menunjuk ke arah sekitar, kota kecil di New York. Dengan di kawal beberapa petugas keamanan, di dalam mobil, Ansel duduk tepat di belakang Raka dengan di temani Varel dan beberapa petugas, sedangkan Leo duduk di samping pengemudi, sekalian mengamati orang-orang yang mendampingi mereka.
Ya, setelah satu hari melewatkan malam bersama keluarganya, Raka, Varel dan Leo meminta izin untuk terbang ke New York. Tidak ada dari mereka yang tidak merasa cemas, apa lagi mereka tahu, bagaimana seorang Valdi. Yang sempat melakukan hal keji di masa lalu.
Eva dan Casandra yang sangat cemas, karena memang keduanya sempat merasakan apa yang pernah terjadi ke pada keluarga mereka. Sedangkan Rere, bukan tidak cemas terhadap keselamatan sang suami. Rere berpikir, ini adalah misi yang harus di selesaikan. Karena itu, Rere sangat yakin, ketiganya mampu menyelesaikan dengan hasil yang baik.
Kini Raka, Varel dan Leo, tiba di mana tempat yang di berikan Valdi ke Ansel. Benar saja, ini adalah pedesaan kecil di New York. Mungkin untuk Valdi sangat cocok, cocok untuk bersembunyi dari orang-orang masa lalunya, atau hanya sekedar melupakan masa lalu.
"Leo, amankan semua tempat." perintah Raka, sesaat setelah mobil terhenti di salah satu rumah yang terlihat di keliling rerumputan hijau. Tidak besar dan tidak kecil, suasana di sana sangat sejuk, harusnya Valdi bisa hidup di dalam ketenangan. Ada pepohonan hijau yang mengelilingi setiap sisi rumah Valdi, bercat putih susu, dan di tambah dengan hiasan warna-warni dari bunga yang tumbuh di atas pinggiran tanah rumahnya. Bukankah itu sangat baik untuknya, menghabiskan masa tua di mana tempat tinggalnya saja mendukung ketenangan untuk dirinya.
Setelah terdengar perintah dari Leo, beberapa petugas yang mengikuti mereka, turun dan mencoba untuk mengamankan di titik-titik tertentu. Kemudian,Raka menugaskan untuk Ansel turun dalam keadaan biasa. Dia tidak di ikat, Ansel di berikan kebebasan untuk berjalan seperti tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
Dengan perlahan turun dari mobil, Ansel menjejakkan kakinya di atas bebatuan yang membawa kakinya menuju ke pintu depan, teras rumah Valdi. Setelah tiba di depan pintu, suara Ansel terdengar seraya mengetuk pintu dan terus memanggil. Tak lama, pintu itu terbuka dengan perlahan. Tampaklah wajah Valdi dengan tersenyum ke Ansel, refleks menarik tubuh sang anak hingga memeluknya dengan sangat erat, tampak menggambarkan kerinduan di antara keduanya.
“Kenapa dengan wajahmu Nak?” suara Valdi dengan menyentuh wajah Ansel terlihat dari kejahuan.
Masih dalam mobil, Varel dan Raka melihat Valdi, ada rasa geram dalam diri Raka, begitupun Varel, kedua tangannya terkepal. Pengen sekali rasanya dia langsung turun dan mencekik lehernya, atau memberikan bogeman mentah ke wajah Valdi, betapa kejinya segala perbuatannya terhadap anaknya yang tidak memiliki hubungan dengan masa lalu mereka.
“Apa kamu yakin Varel, Ansel bisa mengikuti permainan kita?” tanya Raka ke Varel.
“Entahlah Besan, saya juga merasa tidak yakin.” ucap Varel tanpa melepas pandangannya ke arah depan.
Tampak di sana masih tidak ada yang mencurigakan. Rasa-rasanya, masih aman dan terkendali. Leo yang di bertugas langsung memandu anak-anak suruhannya untuk mengamati dan mendengarkan pembicaraan keduanya dengan jelas.
“Bagaimana Nak? Apa kita perlu menyusun rencana yang baik? Apa kau benar-benar mau menggagalkan pernikahan Vara dengan anak si Leo itu?” tanya Ansel.
Ansel menyentuh dahinya.
“Papa mengenal keluarga paman Leo?”
“Kenapa tidak? dia yang menggagalkan rencana Papa untuk membunuh oma tirimu, Mamanya si Varel yang menghancurkan kebahagiaan Oma dan Opamu. Kehadiran Paman dan Oma tirimulah, yang menghancurkan keluarga kami. Kalau saja mereka tidak hadir di kehidupan kami, tidak pernah terjadi kehidupan yang sangat mengerikan ini. Kalau saja si Leo itu tidak datang, sudah mati semua mereka di tanganku” balas Valdi dengan penuh emosi dan kebencian.
“Pa.” panggil Ansel dengan lirih.
“Hemm.. Ada apa nak? masuklah dulu, kita bicarakan di dalam. Kau pasti sangat kelelahan.”
“Tidak usah Pa, mari kita duduk di bangku ini. Ansel sudah lama, tidak menikmati suasana di rumah ini, tepatnya bersama dengan Papa.” ungkap Ansel dengan merangkul pundak Papanya dan duduk di bangku teras rumah yang menghadap pepohonan hijau.
Keduanya pun duduk, Ansel memperhatikan setiap sudut yang sudah di amankan oleh petugas Raka, dengan di lengkapi senjata. Leo sendiri yang menjadi saksi pembicaraan keduanya, merasa geram atas ucapannya. Ternyata, Valdi juga membalaskan dendamnya untuk Leo, sehingga Harsen juga masuk daftar dari pembalasan dendamnya.
“Sangat keji sekali dia!” gumam Leo dalam hatinya.
“Bagaimana Nak?”
Ansel merubah posisinya, menatap sempurna ke arah Valdi.
“Pa… Maukah Papa menyudahi semuanya? “
Varel, Raka dan Leo, mengerutkan dahinya. Ini di luar konteks dari arahan Leo. Raka memberikan kode ke Leo, agar membiarkan Ansel meneruskan permainannya, selama masih aman terkendali.
“Maksud kamu?” tanya Valdi ke Ansel.
Ansel menarik punggung tangan papanya.
“Pa. mari kita hidup dengan tenang. Lupakan masa lalu, kita menata hidup baru berdua Pa. Ansel ingin tenang, Ansel tidak ingin hidup dalam kebencian Papa. Bisakah Papa tinggalkan semuanya? setidaknya, pandang Ansel, Pa. Ansel sangat ingin sekali, di cintai dan di sayangi dengan tulus. Terutama dari Papa, dan orang-orang yang benar-benar menyayangi Ansel Pa. Bagiamana Pa? Apa Papa tidak ingin mencobanya? setidaknya kita berdua bisa terus bersama Pa” bujuk Ansel dengan pelan dan suaranya yang bergetar menahan cairan bening yang ingin sekali tumpah.
Valdi mengerutkan keningnya, tatapan wajahnya seketika itu berubah.
“Apa maksudmu Ansel!” bentaknya dengan menepis tangan Ansel kasar.
“Pa.. Mari kita hidup dengan tenang. Biar Ansel yang menjaga Papa, mengurusi hidup Papa. Di masa-masa tua Papa sekarang. Hemmm…” suara Ansel sangat lirih.
“Tidak! Kau jangan gegabah Nak. Kita tinggal sedikit lagi, untuk mendapatkan tujuan kita. Kenapa Kau malahan berhenti di tengah jalan nak! Ayo, kita hancurkan semua keluarga Atmadja! jangan sampai ada yang tersisa.” bujuk Valdi dengan menyentuh punggung Ansel.
Valdi bingung menatap Ansel yang sudah menangis.
“Kau kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi? Apa luka-luka di wajahmu ini berhubungan dengan keluarga Atmadja? “ Valdi mulai curiga.
“Pa.. Mari kita menyerahkan diri saja! Mereka semua ada di sini.” balas Ansel dengan isakan tangisnya.
Refleks Valdi beranjak, di ikuti dengan keluarnya Raka,Varel dan Leo. Betapa kagetnya si Valdi, mendapati orang-orang yang sangat di bencinya. Dengan perlahan, seluruhnya berjalan ke arah Valdi.
“Berhenti di tempatmu!” perintah Varel.
“Kau! Kaliaaaan semua! Apa yang kalian lakukan dengan anakku! Apa kalian mencuci otaknya?” suaranya yang lantang, kedua mata yang penuh kebencian, secara bergantian menatap ke arah semua yang berjalan mendekat ke arahnya.
“Sudahlah Valdi, lebih baik kau menyerahkan dirimu!” perintah Raka.
Valdi tertawa. “Kau pikir, segampang itu menangkap Aku!” teriak Valdi, lalu ia berlari masuk kedalam rumahnya, dengan menutup pintu seraya menguncinya dan meninggalkan Ansel di depan teras rumahnya, anak itu malang itu menangis haru.
“Cepat kalian lihat di seluruh pintu belakang dan samping.” perintah Leo.
Leo berjalan menuju pintu depan dan mencoba mendobrak. Sedangkan Varel mengikuti petugas lainnya, begitpun Raka. Semuanya berpencar, bila mana Valdi bisa lolos dari beberapa pintu yang ada di rumahnya. Rumah Valdi ini di kelilingi pepohonan dan beberapa taman di belakang rumahnya,di lengkapi dengan batu-batu pegunungan yang di jadikan tempat penghias di pinggiran taman.
Dorrrrrrrr…
Suara tembakan pertama terdengar, membuat Ansel cepat-cepat mengusap air matanya, kemudian dia beranjak dari duduknya, mencoba untuk membujuk sang Papa. Karena melawan pun itu sangat percuma untuk Valdi.
Dooorrrrr…
Dooorrrr…
Suara tembakan kedua dan ketiga yang terdengar dari belakang rumah, dan sempat membuat Varel kaget, karena melukai tiga petugas keamanan yang duluan berada di belakang pintu dan juga yang berada di dekatnya , untuk melindungi Varel dan bertugas mengamankan tempat yang berada tidak jauh dari arah pintu keluar di belakang, Valdi bergegas berlari dari kejaran.
Tampak Valdi lari ke arah pepohonan dengan menggenggam senjata, hendak melarikan diri ke dalam perkebunan , yang terletak tidak jauh dari belakang rumah Valdi, hanya saja butuh tempat berlindung untuk Valdi yang kejar-kejaran dengan Raka dan sisa petugas keamanan.
“Ada baiknya kau kembali ke Jakarta! bawa orang-orangmu Varelllll! jangan ikut campur dengan hidupku!!!” teriak Valdi ke Varel di balik pepohonan, yang sempat melihat keadaan petugas keamanan yang menjadi korbannya.
Raka sendiri sudah mengambil posisi di arah pepohanan lain, yang tidak jauh dari posisi Valdi dengan di lengkapi senjata. Hanya saja Raka butuh waktu untuk menarik pelatuknya. Raka sendiri ingin menangkap si Valdi, karena dia juga harus memberikan si Valdi pembalasan atas apa yang dia lakukan ke keluarga Atmadja.
“Kau tidak bisa lari ke manapun Valdi. Serahkan saja dirimu ke Pak Raka! Dari dulu Aku katakan, Kau tidak akan bisa mengalahkan keluarga Atmadja, meskipun Nyonya Lusi sudah tiada!” ucap Varel dengan kuat dan mengendap-ngendap untuk mendekati si Valdi. Ini stratetegi Varel dan Leo, mengulur waktu.
“Itu hanya omong kosong! Kau akan tau bagaimana pembalasanku untuk keluarga Atmadja! jika mayatnya si Raka sekarang Aku berikan untukmu!”
Di sana Raka sudah mengeker tembakannya, yang sudah jelas mendapatkan punggung Valdi jika dia tepat dengan sasarannya. Refleks, Raka memposisikan tubuhnya sempurna, hingga sedikit keluar dari batas pepohonan yang sempat dia gunakan untuk berlindung. Menarik pelatuknya dengan perlahan, hingga terlihat tubuh Valdi duluan menggeser dan berubah posisi serta mengarahkan tembakannya ke arah Raka yang juga sedang ancang-ancang menembak ke arahnya.
Dorrrrrrrrrrrr…..
Kedua mata Raka membulat penuh, di iringi dengan darah yang menetes. Varel, Leo dan yang lainnya pun turut kaget dengan kejadian yang secepat kilat terjadi, tidak ada yang bisa menolong. Karena posisi Raka tidaklah dekat dengan mereka.
Bersambung.
***
Yesss… Jangan lupa bantu VOTE Ya, oh ya kalau di rasa cukup untuk tetap bertahan di ranking 10, ada baiknya tahan VOTE nya sampai di jam 23:00 masuk hitungan VOTE baru ya anak-anak mom. Dan saya ucapkan Terima kasih banyak, yang sudah mau VOTE sampai ribuan untuk bantu karya saya bisa masuk 10 besar. Siapapun kalian yang sudah mau memberikan VOTE kalian, berapapun itu, itu sangat berharga buat saya. Semangat saya dan merasa pembaca saya itu benar-benar peduli sama karya saya yang gak seberapa ini huhuhu… Jangan lupa LIKE nya juga ya anak-anak mom.. Terima kasih banyak ^^