
Sudah beberapa menit Harsen dan Rava menunggu Vara dan Renata kembali ke meja mereka. Makanan yang mereka santap saja sudah habis, tetapi kedua wanita yang izin ke toilet sudah melewatkan lima belas menit. Ini sangat tidak masuk di akal pikir Rava, di karenakan, tamu hotel di restoran itu tidaklah banyak. Jadi Rava berpikir, tidak mungkin Renata dan Vara itu mengantri. Rava memutuskan untuk menyusul istri dan adiknya.
“Kamu di sini aja Sen, biar Kakak yang cek ke kamar mandi.” Rava segera beranjak dari duduknya stelah mendapatkan jawaban dari Harsen.
Rava berjalan dengan perasaan yang tidak enakan, Tidak mungkin kan keduanya ketiduran di dalam kamar mandi umum, yang benar saja. Dan kini, Rava berhenti di toilet yang di tandai dengan papan khusus kamar mandi wanita.
Rava memberanikan dirinya untuk melihat dari depan pintu masuk kamar mandi, Ia melihat tidak ada orang di dalam. Bahkan, pintu kamar mandi semua terbuka. Kedua manik matanya mengitari sudut kamar mandi, hingga terhenti di salah satu benda yang ia kenali.
Rava membawa kakinya untuk masuk ke dalam dan memastikan penglihatannya. Rava berjongkok di depan ikat rambut yang terjatuh di atas lantai.
“Bukankah ini milik Renata?” tiba-tiba perasaan gusarnya pun berdesir menyelimuti seluruh tubuhnya.
Rava panik dia pun buru-buru kembali mendapati Harsen, untuk memastikan lagi.
“Sen.” panggil Rava dengan panik dengan nafas yang tersengal-sengal setelah tiba di depan meja.
“Kenapa Kak?” tanya Harsen yang mendapati kepanikan dari Rava.
“Apa mereka tidak kembali juga? “tanya Rava.
“Tidak Kak, bukankah Kakak ke kamar mandi? Apa mereka tidak ada di sana?” Harsen bangkit dari duduknya.
“Tidak ada Sen, Kakak malahan mendapati ikat rambut Renata yang terjatuh di atas lantai. Apa sesuatu terjadi dengan Renata dan Vara?”tanya Rava dengan perasaan takutnya.
“Maksud Kakak, mereka di culik gitu?” wajah Harsen tampak di penuhi guratan ketakutan.
“Bisa jadi Sen! Kakak salah langkah! sial!” Rava memukul meja makan hingga membuat Harsen kaget.
“Apa maksud Kakak?” tanya Harsen.
“Kakak yakin ini ulahnya Ansel, Sen. Kemarin saat makan malam, kakak melihat dia juga berada di satu restoran dengan kami. Karena perasaan Kakak tidak yakin, dia mau buat sesuatu, jadinya Kakak hanya meminta team keamaan untuk menjaga kamar kalian! Pantesan saja tidak ada sesuatu yang di lakukannya, dia menunggu kalian keluar dari kamar dan melancarkan aksinya. Karena Kakak mikinrya dia hanya melakukan liburan singkat di sini, jadi team keamanan Kakak tarik kembali. Sial!!! kakak yakin ini perbuatan Ansel.Bagaiaman ini Sen, Renata sedang mengandung, kandungannya sempat melemah. Jika sesuatu terjadi pada ketiga orang yang Kakak sayangi, Habis dia di tangan kakak!” Rava mengumpat geram.
“Kak, sebaiknya kita cari dulu di sekitaran hotel. Mari kita membangunkan yang lainnya, untuk mencari keberadaan mereka.” ajak Harsen.
Rava pun menyetujuinya. Pikiran Harsen, siapa tau saja Vara mengajak Renata untuk bermain di pinggiran pantai. Jadi, berusaha untuk tetap tenang. Harsen dan Rava bersama-sama berjalan menuju kamar hotel keluarga mereka.
Saat semuanya bangun dan berkumpul, Jimmy meminta para Mama semuanya di kamar, siapa tau saja Renata dan Vara sudah kembali bisa memberikan info ke mereka. Apa lagi kini, Eva dan Casandra sama-sama menangis, karena memikirkan kedua putrinya.
Setelah merasa tenang, Raka, Jimmy, Varel, Leo, Defan, James, Rava dan Harsen berpencar, dengan titik area yang berbeda, mencari keberadaan Vara dan Renata mulai dari tempat mereka terakhir.
Rava yang memilih ke area pantai mencari dalam perasaan gusar,panik dan khawatir sambil memikirkan kedua orang yang teramat dia sayangi. Matahari yang panasnya menyengat, pun tidak memudarkan semangatnya mencari Renata dan Vara.
“Kalian di mana sih? Apa kalian berdua baik-baik saja?” gumamnya sambil berjalan di tepi pantai dan mengitari setiap sudut bibir pantai.
Rava tau, saat mereka menuju restoran, satu pun dari mereka berdua tidak membawa ponsel. Jadi, dia benaran tidak kepikiran untuk menghubungi Renata. Sedangkan Vara, saat Harsen menghubunginya berkali-kali, hanya suara robot dari operator yang berbicara. Karena seingat Harsen, Vara membawa ponselnya dari sebelumnya di isi daya, tidak langsung di aktifkan, masih dalam keadaan mati.
“Ini benar-benar membuat Aku gila! Jika sesuatu hal yang terjadi pada Istri dan Anakku, atau pun dengan Adikku, siapapun kalian di balik ini semua, Aku akan menghukum kalian!” teriak Rava ke arah pantai. Dia benar-benar frustasi, hancur, merasa tidak berdaya, hingga bahkan tidak bisa berpikir baik. Rava merasa tidak becus memberikan pelindungan untuk orang yang sangat dia cintai. Apa lagi, Mama dan Mami mertuanya meneteskan air mata ketakutan.
Di sisi lain, Harsen yang memulai pencariannya dari kamar mandi hingga kejalan keluar dari belakang, mulai mendapatkan cara orang yang membawa Renata dan Vara keluar dari pintu kecil di belakang yang menghubungkan pintu parkiran belakang dengan jalan yang terhubung dengan hutan-hutan yang tidak sering di jalani oleh pengunjung hotel. Harsen langsung meminta rekaman CCTV dari staff hotel yang sempat di lupakan Rava dan yang lainnya.
“Maaf Tuan, hanya sampai di sini saja CCTV kami terpasang. Tapi ini orang-orang sebelumnya tidak mencurigakan.”kata team keamanan hotel. Karena mereka menggunakan pakaian rapi layaknya pengunjung yang sedang berlibur.
“Bukankah bagian ini terkunci?” tanya Harsen menunjuk ke arah gerbang penghubung jalanan sepi dan di sertai hutan.
“Iya, coba kita kembali dari rekaman awal kedatangan mereka.” kata si team keamanan.
Tampak rekaman yang memutar balik dari awal kedatangan mobil mewah berwarna hitam itu, dengan beberapa pria yang turun dari dalam nya dan memaksa membuka pintu gerbang area belakang yang jarang di lewati orang dan memperlihatkan cara kerja mereka yang sangat professional. Seeperti orang-orang yang memang terlatih.
Harsen pun menyudahinya, setelah benar-benar mendapatkan titik terang kalau Renata dan Vara benar-benar di culik, tapi tidak bisa di pastikan siapa dalang dari ini semua. Mereka hanya menduga, Ansel-lah yang membuat ini semua.
“Baiklah. Terima kasih Pak!”
“Aku bisa gila kalau kita terus-terusan menunggu tanpa kabar yang jelas!” teriak Rava sambil berjalan mengitari ruangan.
Harsen masih diam tanpa bersuara, dia masih berpikir cara bagaimana mencari Vara dan Kakak iparnya dalam pikiran dan hati yang tenang dan sejenak menanti kabar yang menginformasikan apa tujuan si penculik menculik Renata dan Vara.
“Kenapa Kau diam saja Sen? Apa kau tau, Vara! Istrimu! berada dalam bahaya! ini sudah malam, tetapi tak satupun orang-orang di luar sana memberi taukan di mana Istri kita berada! Apa kau tidak menyayangi Vara!” bentak Rava ke arah Harsen.
Rere dan Leo hanya bisa melihat kemarahan Rava ke anak mereka. Karena Harsen memang anak yang bersikap tenang, tidak mengambil sesuatu itu dengan cara emosi seperti Rava.
“Sabar Rava! Papa juga setres, Tidak ada yang tidak stress, team kemanan juga sudah membantu mencari letak di mana tempat Vara dan Renata di bawa mobil itu. Hanya saja, nomer plat mereka tidak kelihatan di CCTV, jadi ini yang membuat kita kesulitan!”
“Iya Rava, jangan seperti ini, kasihan juga Mama dan mertua kamu, jika kau terus-terusan marah, seakan-akan tidak ada harapan untuk menemukan keduanya. Paman minta denganmu, turuti semua keinginan Papa mu. Tetap tenang, dulu saat mami mertuamu di culik juga Papamu Raka yang menemukan mereka. Begitupun dengan Papi mertuamu, jadi Kau tidak boleh seperti ini!” Jimmy mengingatkan.
“Tapi Paman! Aku bisa gila! Adik dan Istriku yang tengah mengandung, di luaran sana, Aku tidak tau di mana keberadaan mereka, Apa mereka makan dengan baik, minum dengan cukup, bahkan keadaan mereka saja Aku tidak tau Paman! Bagiamana bisa Aku tidak bersedih Paman,” kedua mata Rava mulai berkaca-kaca, memikirkan keadaan Renata dan Vara. Rava neremas rambutnya dengan kasar.
“Jika ini benar memang Ansel yang melakukan, kenapa Paman Raka tidak menghubungi papanya si Ansel, Paman? Bukankah Paman bilang mereka sempat meminta Vara menjadi Istrinya?” tanya Defan ke Raka.
“Benar juga yang Kau bilang Fan. Kenapa sampai tidak kepikiran oleh Paman.”
Setelah mendapati masukan dari Defan, Raka mengambil ponselnya dan mencari nomer ponsel Tuan Edward, Papa-nya Ansel.
Tidak lama suara nada dering panggilan berganti dengan suara dari Edward.
“Selamat malam Tuan Raka, sangat di kejutkan sekali dengan panggilan anda di malam hari? Dan tidak biasa-nya juga anda membuat panggilan secara pribadi ke saya, Ada yang bisa saya bantu?” ~Edward.
“Saya langsung saja ke intinya, tolong beritau saya di mana anak dan menantu saya di sekap oleh anak anda!” ~Raka.
“Apa maksud anda Tuan Raka?”~ Edward.
“Apa anda tidak tau, apa pura-pura tidak tau! Anak anda menculik putri saya dan menantu saya yang sedang mengandung. Anda mengerti kan, jika saya sudah melewati puncak batas kesabaran saya?”~Raka.
“Jangan mengancam Tuan! Saya tidak mengerti maksud anda!” ~ Edward.
“Anak anda Ansel, menculik putri saya dan menantu saya. Dan jelas, di rekaman CCTV terlihat wajah anak anda berada di hotel yang sama dan mengintai keluarga saya! Apa kurang jelas buktinya?”~Raka.
“Maaf Tuan, Setau saya, Ansel akan melakukan perjalanan bisnis di Bali. Bukan untuk menculik putri dan menantu anda”~Edward.
“Kalau begitu, berikan alamat di mana anak anda melakukan pertemuan bisnis! saya akan mendatanginya sendiri!” ~ Raka.
“Tidak perlu Tuan! Biar saya saja yang menghubunginya untuk memastikan perkataan anda!”~Edward.
“Jika kalian sekongkol dan melakukan tindakan keji ini, jangan pikir saya melepasakan kalian begitu saja! Saya tunggu dalam waktu paling lama 1 jam kedepan! jika anda tidak mengabarinya ke saya, anda juga terlibat dalam masalah ini!” ~ Raka.
“Saya pastikan itu tidak akan terjadi!”~ Edward.
Tutttt…Tutttt…Tuttttt..
Jawaban akhir dari Edrward menjadi penutup pembicaraan Raka dan dirinya.
“Bagaimana Pa?” tanya Rava penuh harap.
“Dia akan memastikan dulu Nak dengan Ansel. Jika memang tidak ada kabar darinya, memang benar ini ulah Ansel atau Papanya sendiri.” jawab Raka.
Rava kembali lesu, sementara waktu terus berjalan sudah hampir memasuki tengah malam. Tidak ada satu pun kabar dari orang-orang suruhan mereka. Si penculik benar-benar bermain cantik, seperti memang terbiasa melakukan masalah penculikan dengan sedetail mungkin. Tunggu lanjutannya, jika kalian sudi memberikan VOTE dan Like kalian sebagai penyemangat saya. Terima kasih ^^