My Chosen Wife

My Chosen Wife
MAKAN MALAM ROMANTIS.



"Kak." panggil Zahra ke Ansel.


 


 


Ansel melirik ke Zahra dan tersenyum. "Sudah selesai? Ayo kita pulang." ajak Ansel.


 


"Sebentar Kak... Apa Kakak benar-benar menyukai Vara?"


 


Ansel memutar kedua bola matanya, sejenak terdiam.


 


"Jangan di bicarakan di sini. Ayo kita pulang, gak enak di dengar orang." balas Ansel menarik lembut tangan adiknya.


 


Keduanya berjalan menyusuri lapangan Universitas yang sudah semakin sunyi. Sedangkan Vara dan Harsen sudah menaiki mobil dengan kecepatan sedang. Mobil melaju meninggalkan area kampus Vara. Di dalam mobil, Vara masih terdiam mengingat perlakuan Ansel yang sangat berbeda menurutnya.


 


 


"Kenapa dengan kakaknya si Zahra?"


 


 


"Sayang." panggil Harsen mengembalikan raga Vara dari lamunannya.


 


 


"Iya Kak..." balas Vara kemudian melirik ke Harsen.


 


"Makan malam di rumah atau di luar?" tanya Harsen.


 


"Dua-duanya boleh Kak." jawab Vara seraya tersenyum.


 


"Hemmm... Ide yang bagus. Maksudnya beli di luar makannya di rumah kan?" Harsen tersenyum melirik ke Vara.


 


 


"Iya Kak... Double porsi Kak... Biar semakin kuat." Vara mengajak Harsen bercanda.


 


 


"Benar sih... Vara harus memiliki asupan gizi yang lebih. Kan Vara hari ini sudah selesai tugas akhirnya. Dua minggu lagi sudah di wisuda, dan hari ini mari kita merayakan kabar baik ini sebagai pembalasan di hari sebelumnya .Vara sudah sangat sibuk sampai makan terbang" Harsen berkata dengan bahagianya.


 


 


Vara ikut tertawa senang, "Benar juga yang Kakak katakan. Mari kita membeli makanan olahan daging, seafood dan sejenisnya. Terusss... Kita suruh bu Marni mempersiapkan makanan yang lainnya." ucap Vara gembira, "Tapi Kak...." Vara tiba-tiba cemberut menatap ke Harsen.


 


 


Harsen melirik ke Vara dengan sesekali melirik ke jalanan.


 


"Kenapa Sayangnya, Kakak? Kok sedih begitu?"


 


"Kita kan cuma berdua Kak. Defan sedang makan malam romantis dengan Alice, Kak. Kan mubazir Kak makan begitu banyak cuma kita berdua saja." balas Vara masih dengan menyunggingkan bibirnya.


 


 


"Kalau begitu... Kita makan malam romantis juga." celetuk Harsen.


 


 


Kedua bola mata Vara membulat sempurna.


 


"Kakak serius?" tanya Vara.


 


Harsen melihat ekspresi wajah Vara di buat tertawa oleh Vara.


 


"Kenapa responnya begitu sih... Apa salah, Kakak mengajak calon Istrinya untuk makan malam romantis?" Harsen bertanya di sisa tawanya.


 


Vara membuang pandangannya dan menunduk sedih.


 


"Enggak salah sih Kak... Malahan Vara senang, akhirnya punya kekasih pekah juga. Baru kali ini kan Kak Harsen ngajak Vara makan berduaan."


 


 


"Iyaaa... Karena ini juga momen penting Kamu, jadi Kakak ajak sekalian. Biar romantis seperti kemauan Vara. Tapi Vara sepertinya enggak senang, malahan bersedih. Kenapa?"


 


 


Tiba-tiba Vara purak-purak menangis, "Bagaimana enggak sedih, Kakak ngajaknya di saat Vara masih kumel seperti ini. Masih bau keringat Kak, masih bau bahan-bahan jahitan. Kenapa Kakak tegah mematahkan semangat Vara. Kalau pertama kali kencan kan harus cantik." kata Vara bersungut-sungut.


 


 


"Kamu seperti itu saja sudah sangat cantik. Vara enggak bau, tetap harum di hidung Kakak." goda Harsen.


 


"Karena hidung Kakak hidung karet, gombalannya recehan banget sih Kak." balas Vara dengan melirik tajam.


 


Harsen tertawa, "Gak percaya ya sudah... Pokoknya makan malam romantis." ujar Harsen santai.


 


"Kakak pintar banget! Ngajaknya saat Vara jelek, biar enggak ada yang liatin Vara ya? Sedangkan Kakak sudah tampan jadi tambah tampannya. Kakak sudah rapi, berarti Kakak tadi pulang ke rumah kan? Kakak sudah merencanakan ini semua kan?" Vara menunjuk ke arah Harsen.


 


 


 


 


"Tauuuulah... Kakak kan usil!" ketus Vara.


 


"Enggak kok... Kakak romantis." balas Harsen protes.


 


"Apaan romantis... cuma dia yang rapi, sedangakan kekasihnya dekil dan kumal. Gimana sih? pulang aja lah, Vara enggak mau makan di luar sekalipun itu romantis!"


 


"Wah... Kenapa jadi marah-marah begini? jelek tau."


 


 


"Biarin aja! Lagi ngambek tau!"


 


"Ada ya... Ngambek bilang-bilang?" ledek si Harsen.


 


 


"Yaaa ada, Vara namanya." ucap Vara kesal.


 


Sangkin gemasnya si Harsen lihat wajah Vara, Harsen mengangkat tangannya dan menyentuh kepalanya Vara dan mengusapnya lembut. Vara melirik ke Harsen yang sangat senang menyentuh puncak kepala Vara, masih dengan bibir yang di cemberutkan menatap Harsen. Saling memandang, Harsen semakin tertawa di buat Vara, Ia pun menarik pipi Vara.


 


"Jangan tarik-tarik dong, entar melar loh!" katanya masih kesal.


 


 


Harsen tidak menjawab dia semkin tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Tidak beberapa lama Harsen menghentikan mobilnya di depan salah satau butik yang masih buka. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan lapangan butik. Vara di buat bingung oleh Harsen, Ia melirik sekilas ke Harsen lalu ke butik yang terlihat dinding kaca di dalamnya di pajang gaun-gaun yang terlihat mewah.


 


 


 


"Kaaaak... Kita mau ngapain ke sini?" tanya Vara.


 


"Turunlah.. Kita mau menjenguk gaun-gaun di dalam." balas Harsen melepas seatbeltnya dan turun dari mobilnya.


 


Vara masih mencerna perkataan Harsen, "Menjenguk gaun? Aku rasa Kak Harsen mulai gila. Apa dia berfantasi?" tanya Vara sendiri.


 


Tidak mau berpikir lama melihat Harsen yang tidak menunggunya, dengan cepat Ia keluar dari mobil dan berlari mengejar Harsen yang sudah di ambang pintu.


 


"Kak." panggil Vara ke Harsen yang sedang berbicara dengan seorang wanita yang menyambutnya.


 


"Ini Gadisnya, tolong dua puluh menit dari sekarang Liz..." perintah Harsen ke Liza.


 


"Kau memang sangat hemat waktu Sen, baiklah." balas Liza tersenyum melihat Vara yang merangkul tangan Harsen karena takut.


 


 


"Semuanyaaaa." panggil Liza pada karyawanya.


 


Semuanya pun keluar, ada enam orang para wanita keluar dan berjalan menuju ke Vara yang mendapatkan kode dari atasannya.


 


"Tamu VVIP... seperti yang di katakan tadi siang oleh Tuan Harsen. Kalian harus sudah selesai 20 menit dari sekarang." perintah Liza.


 


"Baik Nona." balas mereka bersamaan.


 


"Kak... Kakak sudah gila ya?" tanya Vara melirik ke Harsen dan merangkul erat lengan Harsen.


 


Harsen tertawa dengan menarik lengan Vara dan mendorong tubuh Vara ke arah pekerja butik. Vara menggeleng-gelengkann kepalanya saat tubuhnya sudah di bawa paksa oleh suruhan Harsen. Harsen hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


 


"Terima kasih Liza... sudah mau menunggu kekasihku." ucap Harsen sungkan.


 


"Tidak masalah... siapa yang berani menolak dengan permintaan keluarga Atmadja." balasnya dengan tersenyum anggun.


 


 


"Baiklah.... Aku akan kembali untuk menjemputnya." kata Harsen.


 


"Baiklah Pria misterius." balas Liza.


 


 


Harsen tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di luar, Harsen berjalan menuju mobilnya dan kembali masuk meninggalkan area butik dan melaju dengan kecepatan sedang.


 


 


"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Harsen pada dirinya sendiri.


 


"Sepertinya sih tidak... Aku yakin Vara menyukainya." balas Harsen sendiri.


 


 


Harsen tersenyum sendiri dengan membayangkan wajah Vara yang marah. Mungkin saja memaki Harsen di dalam hatinya. Dan bisa jadi saja, Vara jadi ngambekan lagi. Enggak mau ngomong sama Harsen, itu semua sih masih pendapatnya Harsen. Bagaimana dengan kalian? apa yang hendak di lakukan Harsen ke Vara? Jangan lupa dong berikan VOTE dan LIKE Nya 🥰🙏