
Rava menarik pinggang Renata dengan pelan, meremas pinggang Renata dengan sentuhan lembut. Nafas Rava terasa di kulit wajah Renata, hingga sedikit lagi, mereka menyatu.
"Kak Ravaaaaaaaa."
Kedua pasang mata itu, refleks bersama-sama melihat ke arah pintu. Mendengar panggilan dan ketuakan dari arah luar.
"Defan itu." kata Renata masih menatap daun pintu bercat putih yang tertutup rapat.
Bibir Rava kecewa, perasaannya sangat tidak menerima, ada gangguan yang hampir melancarkan aksinya untuk mencicipi bibir ranum sang Istri.
"Lihat Aku dong Sayang." kata Rava tidak mau rugi.
Kedua mata dan wajah Renata beralih dengan perlahan ke arah Rava. Dan seketika itu juga, bibirnya tenggelam di bibir tipisnya Renata. Sangat lembut, membuat Renata merinding nikmat.
"Kak Renataaaaaa..." teriakan Defan kembali menggelegar bersama ketukan pintu dari arah luar.
"Kak Rava, kak Renata, apa kalian sedang melakukan sesutu di dalam? jika pintu ini tidak terbuka, Defan dobrak!" ancam Defan.
Seketika itu juga, Renata melepaskan bibirnya.
"Kasihan tau." Renata menatap Rava yang tersenyum senang.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Renata dengan kening mengerut.
"Defan tidak akan pernah mampu, mencegah segala yang ingin Aku lakukan. Dasarrrr si pengacau itu tidak pernah berubah. Hahaha..." Rava tertawa penuh kemenangan, lalu ia memutar tubuhnya, "Biar aku yang membukakan pintu." katanya sambil melangkah.
Renata memilih untuk mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang. Memperhatikan Rava yang barusan membuka pintu kamarnya. Tampaklah si Defan yang menggunakan kaos putih milik sang suami.
Renata refleks tertawa dengan kedua tangan menutup mulutnya. Defan sekilas melirik ke Rava dan berpindah ke Renata. Defan menorobos masuk, membuat Rava berpindah dari hadapan Rava.
"Kak Renata." rengek Defan manja dan langsung duduk di samping Renata dengan memeluk lengan Renta.
"Kenapa?" Renata menatap ke Defan.
Di sana Rava sudah menggelengkan kepalanya, melihat kelakuaan sang adik somplak.
Defan mendongak ke arah wajah Renata.
"Lihatlah Kak kaos yang di berikan kak Rava, Ini kebesaran untuk Defan Kak. Masa iya tubuh kekarnya Defan tenggelam bagaikan di lautan lepas. Macam apaan begini Kak? ketampanan Defan yang di atas rata-rata bisa pudar karena kaos melebar ini." Defan menarik kaosnya dan menunjukkannya ke Renata.
Rava yang sudah menghentikan kakinya di depan kedua orang di sayanginya,pun menatap aneh ke Defan. Kedua manik mata Rava terlihat terpanah setelah mendengar perkataan Defan barusan. Renata jangan di tanya, dia kekeh karena geli. Tidak bisa menahan tawanya, karena Defan benar-benar lucu menurutnya.
"Ih.. senang banget kelihatannya?" sindir Defan ke Renata.
Kini kedua manik mata Rava berpindah ke Renata. Keduanya sama-sama melihat Renata yang sudah tertawa, hingga bercak buliran air mata menggenang di sudut kedua pelupuknya.
"Habisnya, kalian berdua lucu banget sih. Kalian memang pantas jadi abang beradik." Renata berkata di sela-sela tawanya.
Seakan menular, Rava yang awal mulanya sudah berkacak pinggang dengan dahi yang di kerutkan karena Defan, kini ia tertawa melihat sang kekasih yang sebegitu bahaginya.
"Dasarrrr... Kalian berdua memang sama-sama ingin menggoda Defan?" Defan mencebikkan bibirnya.
Renata menghentikan tawanya, kini Ia menoleh menatap Defan yang ngambek.
"Tidak! mana mungkin Kakak mau menggodamu. Kau ini lucu Defan, tidak usah di goda saja, Kau sudah memiliki aura yang membuat orang di dekatmu tidak bisa menahan tawa. Karena melihatmu, membuat Kakak sudah senang." Renata menarik leher Defan dan merangkulnya.
"Lepaskan!" kedua mata Rava melotot.
Defan malahan membalas rangkulan Renata. Terjadilah tarik menarik Defan dan Rava.
"Lo benaran ya Fan! pengen di tampol sesekali. Sudah jadi pengacau di antara kami berdua!"
"Apaan sih Kak? ini kaosnya kelonggaran, karena itu Defan ke sini untuk meminta kaos Kakak lainnya. Gitu aja kok, bukan mau ganggu momen romantis. Emang tadi lagi apa sih?"Defan memasang wajah tidak berdosa, dengan senyuman menghiasi wajahnya, menengadah ke arah Rava.
"Sedang apa??? mau tau aja Lo! ayo ikut ke ruangan pakaian! Lain kali itu, jangan kayak orang yang sudah berumur. Koper aja bisa lupa, syukur bukan kakimu yang kelupaan!" ketus Rava sambil berjalan menuju ruangan pakaian.
Defan yang di belakang Rava, mengikuti Rava dengan mulut yang di komat kamitkan, mengikuti ucapan Rava, tanpa Rava tau. Renata sendiri, hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat abang adik yang susah untuk di pisahkan. Dengan sisa tawanya, ia mengusap buliran cairan bening yang sempat terjatuh dengan tawanya.
Setibanya Rava dan Defan di ruangan pakaian, Rava menuju salah satu pintu lemari pakaian. Defan memilih untuk berdiri di tengah ruangan menanti Rava. Setelah beberapa detik Rava di depan pintu, Ia berbalik dan memberikan Defan pakaian minim bahan.
"Ini, pakailah ini. Ini bisa membuatmu lebih nyaman di bandingkan kaos tadi." kini Rava menatap serius ke Defan dengan menyodorkan pakaian Renata ke arah Defan.
Defan yang sadar sejenak saat Ia sudah memegang dress lingerie Renata yang di gantung dengan gantungan pakaian yang sudah di genggam Defan. Defan masih mencerna penglihatannya, sontak Rava ngakak setengah ******. Defan menatap wajah sang Kakak dengan kedua mata tajamnya.
Renata mendengar tawa suaminya di buat penasaran, jadilah dia berjalan menuju ke ruangan pakaian mereka. Di dapatinya Rava yang sedang tertawa hingga bersandar di lemari dengan memegang perutnya.
"Kenapa dengan kalian berdua?" Renata berjalan mendekat.
"Lihat ini kak." Defan menatap sedih dengan bibir yang di sunggingkan dan mengangkat lingerie Renata ke arahnya.
"Astaga... kenapa jadi lingerie Kakak yang di keluarkan?" Renata mengambil lingerinya dan berjalan ke arah pintu lemari.
"Suamimu nih Kak, masa Defan di suru pakai itu Kak. Kan Defan benaran terhina Kak." suara rengekan Defan berganti dengan tangisan. Ia menangis dengan harunya.
Rava masih saja tertawa dengan respon Defan tadi. Sekarang gantian Rava yang terpingkal-pingkal, hingga buliran air mata tampak di kedua sudut matanya.
"Apaan sih kamu ini!" Renata memukul lengan Rava.
"Sudah jangan menangis, sini ikut Kakak." Renata membujuk Defan berpindah ke lemari pakaian Rava. Renata membuka lemari pakaian Rava dan mengambil satu kaos dari lipatan baju sang suami.
"Nih, Pakailah ini." Renata memberikan kaos lain ke Defan.
"Terima kasih Kak. Kak Rava jahat!" ketus Defan kesal.
"Habisnya, kamu nakal sih!" balas Rava.
"Sudah ganti sana, Kakak tunggu di luar." ucap Renata dengan berjalan membawa tubuhnya keluar dari ruangan.
"Tunggu Aku sayang." Rava melototkan matanya, saat melewati Defan yang menatapnya dingin, sebelum keduanya berlalu.
"Kau ini keterlaluan dengannya." Renata memukul lengan Rava.
"Dia suka usil denganku sayang. Kan gak apa-apa sesekali aku mengusilinya juga." balas Rava dengan tawa kecilnya.
"Iya... tapi gak gitu juga, kamu kelewatan." Renata menatapnya dengan mata di bulatkan.
"Ayo Kak...ini sudah cocok." Defan memotong pembicaraan keduanya.
"Ya sudah, mari kita makan malam." ajak Rava pada keduanya.
"Kita aja yuk Kak." kini tangan Defan merangkul lembut lengan Renata. Keduanya berjalan meninggalkan Rava yang masih menatapi punggung keduanya.
"Gua bakalan punya saingan ini namanya! Selama tiga bulan pula. Dasarrrrr pengacaaauuuu!" umpat Rava kesal.
***
"Selamat malam Nak Harsen, terima kasih sudah mau mampir. Lama tidak melihat kedatangan mu di sini Nak. Dan sekarang, bersama seorang wanita." Pria paru bayah itu mendatangi meja Harsen dan Vara untuk menyapa langganan tetap yang sudah di anggapnya saudara.
Harsen berdiri dan merangkul pundak pria paru bayah di depannya.
"Selamat malam Paman Felix. Apa kabar Paman, maaf, kalau Harsen tidak menyapa duluan." Ia merangkul erat pundak sang Paman.
"Tidak masalah Anakku. Kau ke sini dengan pacarmu?" Paman Felix melepaskan pelukan Harsen dan menatap ke Vara.
Vara ikut berdiri dan memberikan salim ke Paman Felix.
"Nama saya Vara, Paman. Calon Ibu dari anak-anak Kak Harsen." gumam Vara mengenalkan dirinya.
Sontak kedua mata Harsen di buat terbelalak.
"Lengkap amat." bisik Harsen ke Vara.
"Biar lebih jelas Kak." balas Vara.
"Wah... sangat cantik. Kalian berdua berjodoh, dari wajah kalian tampak kemiripan dan keserasian. Kalian memiliki darah yang dingin, keduanya saling menghangatkan. Tampaknya semesta memang ibgin kalian bersama. Tidak ada yang tidak bisa kalian lewati. Segala hambatan akan berakhir di tangan kalian, hingga kebahagiaan tetap menyertai kalian." Paman Felix berucap dengan forum wajahnya yang sangat bahagia, bergantian melihat keduanya.
Vara terpelongo, dia bingung mendengar ucapan Paman Felix seperti peramal saja pikirnya.
"Iya Paman...Terima kasih buat doanya Paman. Waktu itu juga bilang, jodohnya Harsen orang sendiri dan gak jauh dari radar. Nah ini dia Paman, doa yang sempat Paman ucapkan waktu itu, akhirnya terkabulkan. Vara sejak kecil sudah bersama Harsen,Paman. Dan akhrinya, kami mau merajut hubungan bahagia ini dalam ikatan suci Paman." tutur Harsen dengan merangkul pinggang Vara dan tersenyum ke Paman Felix.
"Wah... sungguh kabar yang baik. Paman ikut senang denganmu Nak. Sampaikan salamku untuk kedua orang tua–mu Nak. Berbahagilah seperti mereka, itu doaku untuk kalian berdua. Baiklah, nikmati makan malam kalian. Paman undur diri, karena Paman tidak ingin mengganggu lebih lama waktu kalian." Paman Felix tersenyum.
"Terima kasih Paman Felix." ucap Harsen dan Vara bersamaan.
Paman Felix tersenyum dan memutar tubuhnya meninggalkan Vara dan Harsen. Ia berjalan dengan kedua tangan yang di tautkannya kebelakang, ia menganggukan kepalanya.
"Sungguh kebahagiaanlah yang menyelimuti keturunanmu Lusi." gumamnya dan berlalu.
"Siapa itu Kak? Apa dia seorang peramal?" Vara memulai pertanyaan yang sempat menguasai pikirannya.
Harsen tersenyum, "Dia pemilik resto terkenal ini. Dulu, kakak sering di bawa oleh mama dan papa , untuk sekedar mampir mengunjungi paman Felix atau makan malam di sini. Kata mereka, ini salah satu teman seperjuangan buyut Lusi. Kau lihat dia sangat awet muda? Karena dia memang memiliki kehidupan yang tidak enak, sebelum dia sesukses ini . Kata-katanya saat itu, merupakan doa untuk kakak." kata Harsen memuji.
"Benarkah? Apa papa Vara tau soal paman Felix?" Vara penasaran.
"Sepertinya iya, karena paman Felix memang mengenal keluarga Atmadja. Kau lihat kedua matanya menatapmu? Kekagumannya melihat cicit mendiang buyut Lusi terlihat membanggakan. Kakak bisa membaca mimik wajahnya yang tersenyum dan menatap kamu."
"Seperti itu kah.. Lantas bagaimana dengan perkataannya barusan Kak?" tanya Vara.
"Anggap saja sebuah doa yang akan terkabul." balas Harsen dengan memetik hidung mancung Vara.
"Kakak sangat bersemangat sekali." ledek Vara dengan menatap dalam kedua manik mata Harsen dan ikut tersenyum.
"Karena Kakak benar-benar bahagia Sayang. Di sini, di meja ini, paman Felix bilang, seperti tadi. Jodohmu tidak akan jauh, dia dekat denganmu, bahkan dia gadis yang selalu menyemangati dirimu. Dan dia yang akan menjadi penolongmu kelak. Dan Akhirnya, Kakak tersadar, itu Kamu." Harsen kembali tersenyum dengan kedua mata berbinar.
Vara tersipu malu.
"Vara bahagia, kalau itu ternyata Vara yang Kakak pikirkan." balas Vara.
"Kakak lebih bahagia." kedua mata mereka saling beradu pandang.
"Sangat romantis." celetuk Vara dengan kedua mata di sipitkan. Harsen di buat geli dan tertawa kecil.
"Makanan kita sudah datang." Vara menunjuk ke arah pelayan.
Dengan perasaan bahagia dan mata yang berbinar, Vara dan Harsen menyambut kedatangan makanan mereka. Selanjutnya, mereka menikmati makan malam romantis seperti sebelumnya.
***
Kediaman Keluarga Rava Atmadja.
Dengan mulut yang penuh, Defan menyantap setiap masakan yang terhidang oleh Mba Titin dan Mba Cika. Kedua asisten rumah tangga kediaman Rava itu di buat sangat bahagia adanya Defan. Menikmati hasil jerih payah keduanya dengan menggebu-gebu di buat tersenyum, nafsu makannya tinggi sekali.
"Pelan-pelan saja Fan." kata Renata.
"Gilaaaa Mba... ini benaran enak banget. Lama sudah tidak merasakan masakan seperti ini Mba. Jadi, Defan tidak boleh melewatkan semuanya." ucapnya dengan mulut yang penuh.
"Kau bisa menikmatinya setiap hari Fan. Itu yang buat masih hidup, jika Kau mau membawa orang-orang yang masak juga boleh." tukas Rava.
" Dih... gak bisa, entar Alice marah." kata Defan lagi.
Renata hanya menggelengkan kepalanya, melihat nafsu makan Defan yang tinggi.
"Pelan-pelan Defan! entar lo kesedak!" ketus Rava dengan suara sedikit tinggi.
"Perbaikan gizi Kak." balasnya dengan mulut yang masih penuh.
"Aku sungguh gila melihatnya, belum genap 1 hari Kau di sini. Bagaimana dengan tiga bulan? mungkin Aku benar-benar gila!" decak Rava .
"Sudah... Ada Defan rumah kita ramai. Gak sepi sayang. Dan Kau bisa bekerja, Defan bisa menjagaku bukan?" tanya Renata.
"Pak Rava, Tuan Raka menelepon anda di ruangan tamu. Karnena ponsel anda tidak ada jawaban, beliau menghubungi lewat telepon." ucap Mba Cika dari samping Rava.
"Baiklah Mba...Terima kasih." kata Rava.
"Sayang... Tunggulah sebentar, habiskan makananmu. Sebelum Defan yang menghabiskan."
Rava berjalan meninggalkan meja makan, dan berlalu ke ruangan tamu. Rava menempelkan gagang telepon di indera pendengarannya.
"Iya Pa?"
"Nak, bisakah Kau menemani Papa besok untuk bertemu rekan bisnis Papa? Papa tidak ingin memberatkan Leo Nak. Kalau denganmu, Kau juga bisa berbincang dengan rekan Papa yang pengajuan kontrak kerja samanya, baru Papa terima. Bagaimana? apa kau punya waktu? Ini masih membicarakan tentang isi kontrak. Rekan Papa juga ingin berbincang dengan meneguk kopi. Bisakah Kau menemani Papa?" suara Raka dari ujung sana.
"Baiklah Pa... besok Rava jemput Papa di perusahaan Papa ya." balas Rava..
"Baik Anakku. Terima kasih sebelumnya Nak. Sampai jumpa besok."
Suara telepon terputus menandakan pembicaraan antara bapak dan anak itu selesai. Rava menyentuh keningnya. Padahal, dia masih ingin bekerja dari rumah saja. Karena dia tidak ingin jauh-jauh dari Renata. Tapi, karena Raka jarang memintanya bersama, jadilah dia menuruti kemauan sang Papa. Karena sudah dua ribu kata lebih, tolong kasi dukungan VOTE kalian dan Like nya... Terima kasih 🤩🥰😘
.
.
.
Jangan lupa Follow IG nya Mom ya, @putritritrii_, untuk tau perkembangan dan di mana aja Novel Mom ada hihihihi. Oh ya, mom mau rekomendasikan Novel Author Ingrid Nadya, siapa tau aja kalian suka. Judulnya " SEMESTAKU SEMESTAMU". fotonya di bawah ini. Mampir ya, tolong bantu dukung karyanya 🥰