My Chosen Wife

My Chosen Wife
BONUS PART JAMES.



Kaget ya dapat Notif 🥰


.


.


.


Lima bulan kemudian.


Secepat itu rasanya berlalu bagi Renata dan juga Rava. Berdua, bersama-sama mengurusi Rebecca yang sekarang sudah berumur lima bulan. Betapa sangat merepotkan, mengurus anak bayi. Begadang tak bisa di hindari, tat kala Rebecca terbangun tengah malam.


Tak lantas menyurutkan semangat Renata maupun Rava. Keduanya saling bergantian, merawat sang Baby yang sedang bertumbuh dengan cepat. Rava dan Renata, memang ingin merawat buah hati mereka sendiri. Tanpa bantuan siapapun, meskipun sebulan terakhir, Defan berkunjung karena libur semester. Sebelum dia menjadi mahasiswa tingkat akhir. Defan membantu menjaga Rebecca di kala siang atau tengah malam sekalipun. Defan siap berganti tugas dengan kakaknya.


Defan teramat menyayangi keponakan lucunya. Betapa berharganya Rebecca untuknya. Bola mata cokelatnya, bulu mata lentik yang sudah terlihat sejak bayi, matanya yang bulat, pipinya yang gembul seperti bakpao membuat Defan sering menghujaminya ciuman.


Dan sekarang, Rebecca tumbuh menjadi bayi yang semakin menggemaskan. Suaranya yang suda bisa melawani ucapan orang-orang sekitarnya, membuat siapa saja ingin mencubit pipinya.


"Apa kau sudah siap?" tanya Rava ke Renata, sambil menggendong Rebecca yang sudah mengenakan gaun putih dengan balutan renda putih. Kepalanya yang mungil, di hiasi Renata dengan bando putih berbunga-bunga, sepatu putih yang juga di hiasi bunga-bunga agar tampak selaras dengan gaun Rebecca. Bayi itu sangat tampak memukau, menggemaskan sekali seperti papanya.


"Sudah. Apa aku terlihat cantik?" tanya Renata dengan memutar tubuhnya yang masih terlihat seperti anak gadis di depan Rava. Mengenakan gaun putih dan di hiasi bunga, agar samaan dengan si kecil.


"Rebecca lebih cantik dari Mamanya." balas Rava sambil menyentuh tangan Rebecca. Rebecca menatap sang Mama, yang sedang mencebikkan bibirnya.


Renata tampak cemburu, saat sang suami memuji bayinya yang masih tidak mengerti.


"Baiklah-baiklah... Aku sudah terlihat tidak cantik lagi di matamu." ujar Renata seakan hendak berjalan melewati Rava.


Rava tertawa, kini tangannya menarik lengan Renata yang sedang ngambek itu dan mendekapnya ke arahnya dan juga Rebecca.


"Kau tetap cantik di mataku. Dalam hidupku, dan aku sangat mencintai dirimu hingga rambutmu memutih. Jadi, sekalipun kau sudah tua dan kulitmu keriput, aku akan tetap mencintaimu. Dan kau, tetap yang tercantik untukku dan Rebecca. Apa kau tidak percaya?" Renata mengulum senyuman mendengar perkataan Rava yang menduhkan hati dan pikirannya.


"Aku percaya." balas Renata sambil merapikan dasi kupu-kupu sang suami.


"Cium dulu." balas Rava menggoda.


"Ada Rebecca." kata Renata malu-malu, dan masih merapikan jas yang di kenakan sang suami.


"Aku menutup matanya, buruan cium aku sebelum kau melapisi bibirmu dengan lipstick." Rava sangat suka, kalau Renata yang duluan mengecup bibirnya. Seakan bibir sang Istri candu untuk dirinya.


Renata tersenyum dan berjinjit sedikit untuk menggapai bibir sang suami. Dengan lembut, Renata membenamkan bibirnya yang tipis, di bibir Rava yang merah.


"Sudah. Sini Rebecaa Mama cium juga, agar adil." Renata menarik kepala Rebecca dengan lembut dan mengecup pipi gembulnya.


"Mama kita sangat cantik kan sayang?" tanya Rava ke Rebecca dengan mendaratkan kecupan di pipi Rebecca. Suara Rebecca yang menyaut ucapan sang Papa semakin menggemaskan bagi Rava maupun Renata.


"Kalian sangat mirip." kata Renata.


"Karena dia anakku." balas Rava bangga.


"Dia juga anakku."


"Karena itu dia sangat cantik. Sudah, Aku tunggu di bawah, kau siap-siaplah. Rebecca aku ajak main di bawah ya." kata Rava sambil berlalu dengan mengayun-ayunkan Rebecca.


Renata dengan cepat bersiap, memoleskan make-up agar tampilannya sempurna. Sedangkan Rava yang berada di bawah, di kejutkan dengan kehadiran orang-orang yang tak lain keluarganya.


"Kalian ke sini?" tanya Rava dengan kaget.


"Rebeccaaaa.... sini sama Oma sayang." Eva mendekat ke Rava dan mengambil alih Rebecca yang sudah menyembulkan tawa dari bibir kecilnya saat Eva melawaninya.


"Ma, titip Rebecca dulu ya." kata Rava.


"Iya, sebentar lagi anakmu ini sudah di rebut sama yang lainnya. Tidak usah takut, penjaga anakmu sangat banyaak." kata Eva sudah menggendong Rebecca. Kedua mata kecil dari sang cucu menatap ke wajah Eva.


"Gimana Vara, Harsen? apa semuanya berjalan lancar?" tanya Rava seraya mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


"Lancar Kak... semuanya dalam keadaan baik." balas Harsen.


"Kalian ngobrol lah, Vara mau bermain bersama Rebecca." kata Vara dengan beranjak.


"Kenapa dia semakin gendut?" bisik Rava ke Harsen.


"Banyak maunya Kak, jadi Harsen terus memenuhi semua keinginan Vara. Sepertinya anak kami, mirip sama Mamanya, hobby makan." balas Harsen berbisik.


"Jangan menceritai Aku!" jerit Vara.


Rava dan Harsen tertawa.


"Pendengaran Vara semakin menajam kak, saat sedang hamil begini." kata Harsen lagi.


Di sana, Vara, Eva dan Raka sudah mengerumuni Rebecca. Mereka sangat suka melawani Rebecca yang gampang sekali tersenyum itu. Sungguh membuat Eva dan Raka bersemangat dengan cucunya.


"Kakak." suara Defan terdengar dari arah pintu masuk.


"Astaga Fan? Kau datang? bukankah Kau sedang meriset untuk akhir masa pendidikanmu?" tanya Rava yang mendapati Defan, Frans dan Delia.


"Bang Raka." teriak Frans mendekati Raka dan yang lainnya tak kala senangnya. Di ikuti oleh Delia, yang juga sangat senang melihat Rebecca.


"Defan sudah selesai Kak... hanya tunggu waktu di wisuda. Dan untuk memenuhui undangan ini, Defan khusus terbang ke sini, dan lusa sudah kembali pulang. Terus wisuda, usai wisuda bekerja. Dan selesai bekerja, nikah dong ya?" Defan mendudukan tubuhnya di samping Harsen.


"Halo Kak." bisik Defan dengan menepuk pundak Harsen. Keduanya sama-sama membalas senyuman.


"Wuuuuu... yakin lo?" Vara tiba-tiba datang dan berjalan mendekati Harsen dan lainnya. Rava, ekspresinya datar. Bingung gitu dengarnya, apa lagi membayangkan kalau Defan benar-benar menikah. Apa jadinya?


"Hallo semuanya." Renata dengan anggun menuruni anak tangga. Membuat seluruh pasang mata beralih ke Renata.


"Istri gue, cantiknya kebangetan." kata Rava sambil melihat Renata yang melangkah menuruni anak tangga.


"Hallo sayang." balas Eva.


"Hallo Ma, Pa. Paman, Bibi. Apa kita berangkat bersama?"


"Tentu saja Nak. Kita akan beriringan menuju tempat di mana James dan Jenny menggelar pernikahan." balas Raka.


"wah, baiklah Pa." balas Renata, kemudian berjalan mendekati Vara dan juga lainny.


"Varaaaaaa." jerit Renata dengan melebarkan kedua tangannya.


"Kak Rena, cantik banget sih? waktu hamil Rebecca gak segendut Vara." rengek Vara dengan membalas pelukan sang ipar.


"Jangan bersedih. Setelah lahiran, jika kau merawat tubuhmu, itu akan kembali lagi. Lagian, kalau Vara gendutan juga Harsen masih mencintai kamu. Benarkan Sen?" kini pandangan Renata berpindah ke Harsen.


"Benar Kak. Harsen sudah berulang-ulang dan berkali-kali sudah memberitahukan ke Vara. Dia tidak percaya." Harsen membuang nafas kasarnya.


"Kalau sudah jadi mamak-mamak, jangan sok cantik dan kecentilan deh Vara. Ingat status dong," sindir Defan sambil berjalan menuju sofa yang di dudukkan Rava.


"Defaaaannnn!" teriak Vara kesal.


"Kau datang Fan? bukannya sebulan lalu baru pulang?" Renata menatap Defan kaget.


Plakkkkk....


"Duh! kak Rava." Defan mengadu sakit saat dia duduk di samping Rava.


"Berani banget kau mengejek adikku!" kata Rava dengan mata melotot.


"Habsinya sih! mikir gendutttttt.. pikirkan itu bayi yang di dalam perut. Kan masih butuh asupan makanan dan gizi dari mamanya. Defan yang gak hamil saja mengerti." balas Defan.


***


Wedding Ballroom & Hotel.


Seluruhnya tiba di tempat James dan Jenny menggelar pesta megah mereka. Baru saja tiba, mereka juga di pertemukan dengan Casandra dan juga Varel. Langsung saja, Rebecca di ambil alih oleh Varel, yang sangat merindukan cucunya itu.


Dengan bersemangat, Defan dan Frans berjalan masuk duluan. Di sambut dengan iringan musik, yang sudah mengiringi jalannya pesta anak si Jimmy dan Anna.


"Gilaaaaa....bisa juga dia tampan seperti itu. Biasanya juga kumel." gumam Frans yang melihat Jimmy sedang menyalami para tamu undangannya.


"Jangan buat rusuh Pa! Ini hari di mana anak satu-satunya menikah." bisik Defan.


"Tenang saja kau di boncengan." balas Frans sambil berjalan mendekat ke arah Jimmy.


Defan menggelengkan kepalanya. Bisa apa coba pikirnya, melawan si Frans itu tidak bisa.


"Eheeeeemmmm..." Frans berdehem.


"Lo!" suara Jimmy hampir meninggi, tapi dia baru lngat, kalau dia sedang jadi orang terpandang di pesta anaknya.


Jimmy pun mendekati Frans.


"Jangan membuat keributan di pernikahan anak saya!" bisik Jimmy.


Frans pun merangkul pundak Jimmy dan menepuk-nepuk pundak Jimmy.


"Kita kawan kok hari ini. Jangan takut Marimar, gue cuma mau kasi selamat buat lo." Frans tertawa.


"Gue gak bekawan sama lo... issss..." balas Jimmy.


"Baiklah... kalau begitu gue mau nyanyi." Frans berjalan menuju di mana tempat band dan para penyanyi mengiringi lantunan musik yang menghibur para tamu.


"Ferguso! Kau jangan lancang!" ketus si Jimmy sambil menarik lengan Frans.


"Kalau begitu, kita berdansa." ajak Frans lagi.


"Jangan membuat masalah Frans." Raka menarik pundak Frans dan merangkulnya, menarik dengan paksa untuk membawa Frans ke meja yang di sediakan khusus oleh Jimmy untuk mereka semua.


"Egh bang Raka... iya iyaaa..." Frans tidak berani menolak.


"Terima kasih Pak Raka." bisik Jimmy.


____________


Setelah seluruh keluarga itu berkumpul di meja yang sudah di sediakan Jimmy untuk semua keluarga kesayangannya, kini mereka mengikitu serangkaian acara hingga hampir di ujung. Tampak di sana Defan sedang naik ke atas panggung, untuk menemui James, yang di anggapnya sepupu. Berbeda dari bapak-bapak keduanya.


Dan saatnya, acara yang di pandu oleh MC, meminta mereka yang ingin berdansa untuk maju ke depan dengan berpasang-pasangan. Kedua mempelai pengantin, pun di ajak untuk turun, agar menemani para tamu berdansa.


Langsung saja, Defan bingung bukan kepalang. Biasanya, ada bagian berdansa di pesta-pesta keluarga mereka, Jameslah yang menjadi pasangan dansanya.


"Terus aku sama siapa sekarang?" tanya Defan ke mereka yang sudah bersiap menunggu musik.


"Sama Kak Harsen saja. Kak Harsen dan Kak Vara masih duduk di tempat mereka." bisik Renata yang sudah berpasangan bersama Rava.


"Lain kali itu, kalau kau pulang ke Jakarta, ajak Alice untuk menemani dirimu." timpal Rava.


"Apesss banget nasibku." balas Defan sambil berjalan menuju meja di mana Vara dan Harsen duduk.


"Kak Harsen." panggil Defan.


Kening Harsen mengerut.


"Kau mau apa Defan?" tanya Harsen bingung.


"Mari kita berdansa Kak. Vara badannya sudah gemuk, dia akan kelelahan jika berdansa dengan Kakak. Mari bersama Defan Kak, kita berlenggok ke kiri dan ke kanan." ujar Defan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Enak saja Kau mengatai ku gemuk!" Vara sensitif jika di katai Gemuk.


"Kau saja sendiri! Kakak mau menemani Istri dan anak kakak." balas Harsen menyentuh perut Vara yang sudah membuncit.


"Lah Kak... Vara bisa melihat kita dari sini." bujuk Defan lagi.


"Pergilah Sayang. Temani Defan, dia kalau tidak membawa dirinya di pesta berdansa, merasa kurang lengkap. Sana, kalian berdansa saja, Vara bisa sendiri." Vara menolak pelan tubuh Harsen agar mau bangkit dari duduknya.


Harsen pun membuang nafasnya, merasa tidak bernafsu untuk menjadi teman dansa si Defan.


"Baiklah." kata Harsen lemas.


"Semangaaattt..." wajah Vara yang gembul itu mampu membuat Harsen tersenyum.


"Ayooo Kak." Defan menarik lengan si Harsen dengan bersemangat dan berjalan ke tengah ruangan. Seluruhnya sudah berdansa, hanya Harsen dan Defan yang baru bergabung.


Dengan gemulainya si Defan menarik lengan Harsen dan membawanya berdans. Harsen mau tidak mau, pasrah. Di sana Vara tertawa melihat wajah bodoh Harsen yang mengikuti gerak dari tubuh Defan. Bukan hanya Vara, seluruh keluarga mereka. Termasuk Rere dan Leo, sambil berdansa mereka cengengesan melihat Defan dan juga anak mereka.


Usai dari acara berdansa, kini tiba saatnya di penghujung acara. Pembawa acara, meminta agar yang belum menikah, single, janda, duda untuk maju ke depan. Karena Jenny dan James akan melempar hand bouquet.


Dengan semangatnya, Defan berjalan menuju ke bagian tengah ruangan, yang bersejajar dengan pengantin yang berdiri di pelaminan.


"Gak tau malu lo!" seru Rava.


"Biarkan saja, sapa tau kalau Defan yang dapat, mungkin dia segera menikah." sambung Eva.


"Iya Rava... jangan meragukan Defan. Dia sama dengan pamanmu." kata Frans bangga.


"Upppsss... Rava lupa paman." kata Rava menggaruk kepalanya.


"Rebecca... Uncle kamu sedang mengadu jodoh." Renata menunjuk ke arah Defan yang sudah berada di kerumunan para Jomblo.


Rebecca hanya tertawa dengan kaki dan tangannya yang di ayun-ayunkan. Sungguh semangat sekali Rebecca yang barusan terbangun.


"3....2.... 1..." suara pembawa acara di iringi dengan lemparan James dan Jenny ke arah belakang mereka.


"Yeeeeeee." Frans melonjak dari duduknya, saat melihat Defan melompat dengan pasti mendapatkan hand bouquet dari James dan Jenny.


"Kenapa kau senang sekali?" tanya Raka dengan kening mengerut.


"Kau membuat Rebecca kaget." ucap Delia.


"Maafi Opa Rebecca, Opa senang kalau Uncle kamu tahun depan akan menikah." kata Frans bersemangat.


"Serius kah itu?" tanya Delia.


"Seriusss... tahun depan, Alice kan sudah dua tahun berkuliah. Selesai masa pendidikannya, mari kita nikahkan mereka." ujar si Frans yang sebenarnya gak mau kalah sama Jimmy.


"Kau bersemangat sekali, menunggu cucu?"


"Begitulah Kak." balas Frans tersenyum.


Dengan bersemangatnya, Defan membawa hand bouquet yang di dapatnya. Dengan segenap hatinya dia berjanji.


"Tunggu Abang Dek, di pelamanan."


****


Yeeee... nah bonusnya. Jangan lupa mampir di "Seberkas Cinta Perjodohan." itu pengganti Wedding Ring ya. Karena Wedding Ring, gak saya bawa di sini. Terima kasih...🤗🥰😍 Tolong berikan VOTE nya ke judul yang saya kasi tau tadi ya. Jangan lupa di Favoritkan, di berikan Rate bintang limanya, Okey anak-anak🤗