My Chosen Wife

My Chosen Wife
Aku Tidak Mengharapkanmu



.


.


.


Setelah dua hari, pasangan manusia ini telah bersiap untuk melakukan pekerjaan barunya, meski tak menyenangkan bagi Kinaya namun bagi Rey inilah moment yang ia tunggu tunggu,


"ini sangat menyenangkan,," batinya setelah menyadari hari penantiannya telah tiba,


yah tentu saja, Rey menginginkan semua ini terjadi, meski seharusnya Kinaya tidak layak untuk mendampinginya tetapi dengan cara itu ia bisa dekat wanita yang sudah lama ia incar. Terlebih lagi Kinaya seorang sekertaris perusahaan yang benar-benar sangat tidak bisa di ganggu pekerjaannya akan tetapi atas permintaan putranya Yandra tidak bisa menolak...


Rey berpamitan pada Mira dan juga Yandra,


"Jaga baik-baik anak gadis orang," bisik Yandra pada putranya.


"Baik ayah, terimah kasih atas kerjasamanya."balasnya tanpa melenyapkan senyum yang sedari bangun pagi selalu terlukir sempurna di bibir tebalnya


Setelah berpamitan, ia segera memasuki mobil yang akan membawa mereka kesebuah pekerjaan yang baru, mobil ini sudah di servis dan memastikan akan tetap aman selama perjalanan mereka yang memakan waktu cukup banyak...


*


"Selamat pagi tuan Putri, apa anda sudah siap?" Tanya Rey saat ia sudah berada di rumah Kinaya.


"Jangan basa-basi, ayo berangkat." balasnya dengan ketus


Kinaya dengan balutan gaun panjang berwarna putih melekat di tubuhnya di padukan gardigan berwarna abu abu dengan jilbab polos membungkus kepalanya. Hari ini penampilan Kinaya sangat berbeda, terlihat sangat cantik dari depan belakang membuat Rey semakin terpukau.


"Ayo," ajaknya lagi karena melihat Rey masih bergeming akan posisinya.


"Kenapa dia sedari tadi memperhatikanku, apa ada yang salah dengan caraku berpakaian.?" batinya yang merasa tidak percaya diri akan tatapan Rey


"Hei, kau mau tetap di sini dan aku membatalkan perjalanan ini," teriaknya membuat tatapan Rey membuyar


"Maaf,"Rey tersenyum tipis dan segera menarik langkahnya untuk memasuki ruang kemudi...


"Kenapa kau selalu menatapku seperti itu, apa aku salah berpakaian.?" Tanyanya merasa risih


"Kalau ini merusak pandanganmu, tunggu sebentar aku akan menggantinya. "


"Aaa.. ahah, tidak usah, aku menyukainya, kau terlihat sangat cantik." Tanpa sadar Rey memuji Kinaya hingga membuat bibirnya sedikit tertarik di sana,


^^^


setelah perjalannya sudah memakan waktu yang cukup lama, tubuhnya merasa kelelahan, kinaya tanpa sadar tertidur dengan pulas.


Rey tersenyum melihat wajah Kinaya saat tertidur, ini untuk pertama kali ia melihat raut wajah asli Kinaya.


Benar sangat cantik, dalam keadaan tidur pun ia masih terlihat tersenyum. Batin Rey yang sesekali melirik ke arah Kinaya,


"Aku tidak akan menyesal akan pilihanku," lanjutnyaa.


Rey sesekali menguap, pandangannya seakan tidak fokus karena matanya yang begitu banyak mengeluarkan air, ia memencet tombol on pada kotak audio yang ada di dalam mobilnya hingga mengeluarkan alunan musik serta nyanyian nyaian favorite Rey membuat kantuknya hilang, bahkan ia pun mengikuti alunan lirik yang di nyanyikan dalam CD tersebut.


Tak heran ia mengoleksi banyak CD dalam mobilnya untuk mendengarkan musik atau bahkan ia sering karokean ketika sedang perjalanan.


Terdengar sangat bising di telinga Kinaya, kedua matanya masih berat untuk terbuka namun gendang telinganya seakan pecah seiring alunan musik dan suara Rey yang membuat tidurnya terganggu...


Kedua tangannya mengercap kedua matanya yang baru saja terbuka. Tangannya spontan memencet tombol off hingga kebisingan kembali memudar.


Rey tanpa sadar, dengan asiknya bernyanyi mengikuti irama musik tersebut seketika hilang, hanya suaranya yang menggelegar dalam mobil tersebut....


:Diammm....! teriaknya membuat Rey terkejut,


"Kau kenapa berteriak seperti itu," seru Rey,


"Kau menganggu tidurku, apa kau tidak melihat aku sedang tidur lalu kau asik bermusik dan bernyanyi." Celoteh Kinaya.


"Mau-mau aku donk, mobil-mobilnya siapa, aku bebas mau ngapain saja," jawab enteng Rey membuat Kinaya mengepalkan kedua tangannya.


Rey kembali tersenyum menang, ia merasa ada kepuasan tersendiri saat berhasil membuat wanitanya merasa kesal, satu hal yang Rey kagumi dari Kinaya ialah wajah polos dan wajah kegeraman Kinaya saat ia menganggunya. Serasa ada makna tersendiri dalam hatinya saat melihatnya marah, matanya melihat ada kepalsuan di sana, ia merasa wajah marahnya tersebut seperti di buat-buat, dan ia merasa itu tindakan yang sangat menggemaskan dan ia sangat menyukainyaa...


"Kalau mau marah silahkan marah, aku tidak punya hak melarangmu untuk marah. Jadi kau juga tidak punya hak melarangku untuk bernyanyi, semua orang punya haknya masing masing..." ucapnya tanpa ada rasa bersalah


"Aku bisa gila jika terus bersamanya ya Tuhan." Gumam Kinaya memegang dahinya.


"Baru kali ini aku menemukan lelaki yang benar-benar menyebalkan," umpat Kinaya dalam hatinya. Rasanya ia ingin sekali mencekam wajah Rey sampai habis,


Rey sangat menikmati musik dan suaranya di sana membuat Kinaya berdecak kesal, ia mengubah posisi duduknya membelakangi Rey, ia menghadap ke jendela luar menikmati perjalanannya, mungkin itu yang bisa membuat kekesalannya sedikit pudar.


Semua kendaraan, baik roda dua, roda empat ataupun rodanya melebihi pada umummnya, termasuk mobil yang mereka tumpangi juga harus berada pada jejeran kendaraan yang menanti lampu merah berganti hijau, seorang lelaki tua mengenderai sepeda berhenti pas di samping kiri mobil Rey tepat di depan mata Kinaya, seketika ia teringat masa kecil bersama ayahnya. Waktu Kinaya hendak berangkat ke sekolah, ia selalu di antar oleh ayahnya menggunakan sepeda karena pada masanya belum banyak yang menggunakan motor bahkan mobil.


"Ayah, Kinaya Rindu, apa kabar ayah di sana.?"


"Aku harap sudah bahagia, tenang bersama ibu di surga." Ia terus memperhatikan lelaki tua itu seakan mengobati rasa rindu pada ayahnya.


"Ayah, ibu. Kinya sangat merindukan kalian, semoga bisa bertemu kembali yah,,, I love you."


ucapnya dengan serpihan mutiara lembut tersapu di kedua pipinya.


Rey sedari tadi memperhatikan Kinaya yang tak bergerak dari posisinya, padahal sebelumnya Kinaya banyak gerak untuk mencari posisi yang aman karena punggungnya yang panas.


"Apa dia kembali tidur, kenapa tidak bergerak sedari tadi.?" gumam Rey sambil melirik ke arah tubuh yang memunggunginya, telapak tangannya menyapu dengan sangat lembut membuat yang punya bergerak karena sentuhan yang sudah tidak asing lagi di tubuhnya, ia merasa sangat sensitif dengan kulit yang menyentuhnya, meski terbalut dengan bahan tebal tapi rasanya benar-benar menciut di sana.


Kinaya segera menghapus air matanya dan menepis tangan Rey tanpa menoleh ke arahnya.


"Maaf, aku pikir kau tertidur.." ucap Rey.


"Bagaimana aku bisa tidur dengan keributan seperti ini," serunya tanpa sadar berbalik ke arah Rey,


Rey tertegun melihat mata Kinaya yang sendu, "kau menangis.?" Tanyanya,


"Siapa yang menangis," bantah Kinaya


"Matamu memerah, seperti barusan menangis."


"Matamu yang rusak," ia melototkan kedua matanya ke arah Rey....


Ucapanmu bisa saja berbohong tapi tidak dengan matamu, lanjutnya membatin


Ia merasa hatinya begitu menyempit, ketika melihat buliran air mata jatuh dari pelupuk seorang perempuan yang ada di hadapannya sekarang


"Apa dia menangis karena aku selalu memancingnya untuk marah," apa karena tidak bisa tertidur, apa dia secengan itu, Rey tak henti memandangi Kinaya dengan jutaan pertanyaan, jujur saja hatinya merasa teriris melihat gadis di sebelahnya menangis.


"Apa karena dia takut," batinnya tak henti menerka nerka,


"Kenapa kau selalu mengintipku, kau pikir telingaku tak melihat kepalamu sering menoleh kepadaku.?" Tanya nya setelah menyadari akan tatapan Rey padanya


"Siapa yang mengintipmu, kilah Rey


Lalu, kau melihat siapa, sedangkan di sini hanya kau dan aku, "


"Yah memang di sini hanya ada kau dan aku, dan akan selamanya seperti itu, kau dan aku lebih indah jika menggantinya dengan kata “KITA” " ucap Rey dan sambil mengeja kata di bagian Kita


"Jangan mengharapkan sesuatu yang sangat mustahil terjadi, karena kau tidak pernah tau seberapa hancurnya hatimu jika kekecewaan itu menimpamu, "


"Dan aku tidak pernah berharap, hanya saja aku selalu berdoa agar ketidakmungkinan itu akan menjadi mungkin seiring harapanku pada Tuhan..."


"Kau jangan berperasangka kalau aku mengharapkanmu, karena aku juga tidak pernah berharap padamu, aku hanya berharap pada Tuhan, jika ternyata harapan yang Tuhan berikan padaku adalah dirimu maka kau tidak akan bisa menolak, sememohon apapun dirimu..." jelasnya membuat Kinaya mencerna,


"Itu tidak mungkin, huuhh,,," batinnya setelah memahami penjelasan Rey


.


.


.


.


.


kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa jejakkan like d kolom bawah😊


Terima kasih


🐾