My Chosen Wife

My Chosen Wife
KEMBALI BEKERJA.



Setelah merayakan kelulusan Vara dengan makan malam romantis, Vara dan Harsen kembali ke kediaman Rava. Dengan perasaan yang sangat bahagia, jantung Vara yang berdisco sangkin bahagianya, membuat Vara di sepanjang jalan hening. Bukan hanya Vara, Harsen juga merasa sangat gugup sebenarnya. Vara tidak ingin langsung memberikan jawaban atas permintaan Harsen untuk menjadikannya pendamping hidup seorang Harsen, Hanya saja Vara tidak ingin tergesa-gesa karena Ia masih ingin meminta pendapat dari Mamanya Eva.


 


 


Sesampainya di rumah yang tampak sangat sepi, bahkan Defan pun belum pulang, ,membuat suasana keduanya menjadi canggung. Lucu banget sebenarnya merasakan jatuh cinta, rasanya bisa membuat seseorang jadi lupa sama dirinya. Rasanya Vara yang gugup menjadi tidak enakan, membuat Harsen hanya berjalan di belakangnya. Dengan membawa bunga dari Harsen, Vara menoleh ke belakang menghentikan Harsen.


 


 


“Kak.. Defan belum pulang,” kata Vara mengingatkan.


 


 


“Hemmm.. Sebentar Kakak buat panggilan,” balas Harsen langsung mengambil ponselnya.


 


 


Tiba-tiba suara pintu terbuka menghentikan Harsen, bersamaan itu keduanya melirik ke arah pintu.


 


 


“Defan,” panggil Vara.


 


 


Defan yang semula mengendap-endap seperti pencuri menjadi terkesiap. Ia pun salah tingkah menghampiri keduanya.


 


 


“Kenapa baru pualng?” tanya Harsen seperti meminta alasan.


 


 


“Kakak sama Vara juga baru pulang. Kenapa kalian juga baru pulang?” tanya Defan balik.


 


 


Harsen dan Vara saling memandang.


 


 


“Kakak dan Vara merayakan kelulusan Vara, Kau sendiri?” tanya Harsen menantang


 


 


“Dih Kak… Alasan aja. Itu pakai bunga segala, kalian juga Candle light dinner kan? Defan sama Kak. Jadi, kita tidak boleh saling mengadu ke kak Rava. Entar kita sama-sama di marahi kak Rava pulang jam segini,” kata Defan mengingatkan.


 


 


Harsen mencebikkan bibirnya, “Sudah pintar mengancam atau bernegoisasi kamu?”


 


 


“Tidak dua-duanya, duh kalian ini. Kita sama-sama melakukan malam yang seru, kenapa harus di rusak dengan perdebatan sih? Tuh lihat Vara malam ini sangat cantik, pakai bunga-bunga segala. Mungkin ada cincinya juga ini?” tanya Defan penasaran.


 


 


Vara langsung menyembunyikan tangannya agar tidak kelihatan oleh Defan.


 


 


“Kenapa? Apa kau juga memberikan cincin ke Alice?” tanya Vara.


 


 


“Betuuulll… tebakanmu sangat pas Vara,” balas Defan.


 


 


“Sudah-sudah..,jangan di lanjut. Kau besok masih kuliah, Vara sudah masa bebas. Sebaiknya naiklah ke atas bersih-bersih dan Istrihat.” kata Harsen yang tidak ingin di perpanjang.


 


 


Defan yang merasa terhindar dari masalah dengan cepat Ia berjalan ke arah tangga sebelum Harsen berubah pikiran. Tinggal Vara dan Harsen, Saat Vara mengembalikan pandangannya kembali ke Harsen dengan kaget ia melihat Harsen yang sudah mendekatinya.


 


 


“Apa mau kakak gendong ke atas? “tanya Harsen tiba-tiba.


 


 


“Apa Kakak tidak lelah?”


 


 


“Tidak… Kakak rindu menggendongmu,” kata Harsen kemudian berjongkok membelakangi Vara.


 


 


Vara tersenyum , Ia pun dengan cepat menaiki tubuh Harsen, Lalu Harsen berdiri dengan menggendong Vara menaiki anak tangga.


 


 


“Kenapa bunga itu tidak di letak di meja?” tanya Harsen saat kaki sudah melangka di anak tangga.


 


 


“Mau Vara letak di kamar, ini bunga  pertama Kakak,” balas Vara malu.


 


 


Harsen tersenyum, “Vara harus bahagia seperti malam ini, harus selalu tersenyum jangan pernah bersedih. Karena Kakak akan selalu di samping Vara bersama-sama melewati hari-hari kita, meskipun nanti kita akan sibuk dengan masing-masing pekerjaan kita, tapi yakinlah Kakak akan selalu ada buat Vara.” kata Harsen dengan perlahan.


 


 


Vara menganggukan kepalanya yang berada di bahu Harsen, “Kakak juga harus bahagia bersama Vara.”


 


 


“Itu pasti,” balas Harsen terus berjalan membawa Vara.


 


 


Sesampainya di depan pintu kamar Harsen, Vara terkaget.


 


 


“Kak.. kenapa berhenti di depan kamar Kakak?” tanya Vara gugup.


 


 


“Agh… Maaf Kakak lupa. Kita kan masih pacaran ya, bukan suami istri,” ledek Harsen dengan cepat Ia membawa Vara.


 


 


“Nah ini baru benar ya,” kata Harsen dengan perlahan menuruni Vara.


 


 


Saling memandang malu, Vara pun tersenyum lalu dengan cepat Ia mengecup pipi Harsen.


 


 


“Good night Kak…” kata Vara langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam kamar.


 


 


“Aih co cweet banget sih dapat ciuman,” ledek Defan dari belakang Harsen.


 


 


Harsen yang menyentuh pipi bekas ciuman Vara menoleh ke belakang.


 


 


“Tau apa anak kecil!” ketus Harsen dengan berjalan ke arah kamarnya.


 


 


Defan terkikik geli melihat respon Harsen yang aslinya kaku tampak kembali lagi setelah di cium oleh Vara.


 


 


 


 


 


 


Jakarta, 07:00 Wib.


 


 


Hari pertama Rava dan Renata bekerja, sudah berada di meja makan dengan menggunakan stelan kerja mereka masing-masing. Dari keesepakatan bersama dengan Rava, Renata akan di antar oleh Rava ke perusahaanya. Karena Rava ingin selagi dia punya waktu, Rava mau agar Renata bersamanya.


 


 


“Habiskan Teh kamu sayang,” kata Rava ke Renata.


 


 


“Iya… jus mu juga.” balas Renata yang sibuk dengan ipadnya.


 


 


“Ini sudah mau habis, apakah kerjaanmu sudah banyak?” tanya Rava penasaran.


 


 


“Aku hanya mengecek beberapa email masuk sayang, maafkan Aku,” kata Renata yang tidak enakan.


 


 


“Tidak masalah, Ayo kita berangkat, Aku akan mengantarmu.” ajak Rava.


 


 


“Ayo,” balas Renata dengan cepat meneguk sisa tehnya dan beranjak berdiri.


 


 


“Mba Titin dan Mba Cika, tolong jaga gawang kita ya,” kata Rava dengan candaan.


 


 


Kedua asisten rumah tangga itu sudah tertawa dan bersamaan menjawab ucapan majikannya yang sudah berjalan bersama sang istri menuju carport. Sesampainya di mobil setelah keduanya bersiap , Rava melajukan mobilnya dan meninggalkan kediamanya. Di dalam mobil keduanya saling berbincang mesra. Bagi Renata, Ia seperti berlibur selama dia tidak bekerja, sedangkan bagi Rava ini adalah pertama kalinya Ia mengisi kekosongan kepemimpinan yang ada di perusahaan itu.


 


 


Beberapa menit kemudian, mobil terhenti di depan perusahaan Renata, dengan seulas senyuman Renata melepas seatbeltnya, kemudia ia menoleh ke Rava.


 


 


“Selamat bekerja di hari pertam kamu, Sayang.” kata Renata di ikuti dengan kecupan pada bibir Rava.


 


 


“Terima kasih Istriku,” kata Rava dengan menyentuh puncak kepala Renata.


 


 


“Ingat.. jika kau merasa lelah dengan kerjaanmu, ada Aku yang bisa kau andalkan. Berhentilah jika Kau merasa tidak ingin bekerja lagi.” kata Rava mengingatkan.


 


 


“Baiklah suamikuuu, Aku pamit ya. Pelan-pelan di jalan, semoga hari pertama kamu menyenangkan,” balas Renata.


 


 


“Kau juga sayang,” balas nya seakan tidak mau berpisah dari Renata.


 


 


Renata sudah membuka pintu mobil,perasaannya jadilah tidak enakan melihat raut wajah Rava yang berubah ngangeni. Renata menyentuh pipi Rava yang dengan cepat Rava mengecup telepak tangan Renata, “Kita akan ketemu sore nanti sayang, jangan bersedih,” kata Renata yang mendapatkan anggukan dan senyuman Rava.


 


 


Saat Renata benar-benar sudah turun dan berjalan menuju perusahaanya, Rava pun kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan R&A. Dengan suasana yang sangat tenang dia kali ini sendiri tanpa ada Harsen yang mendampinginya.


 


 


Kabar Rava yang akan memimpin perusahaan sudah terdengar jelas oleh seluruh staff perusahaan. Setibanya Rava di perusahaan, Ia turun dari mobilnya dengan mengenakan stelan jas yang penuh berkharisma berjalan menuju loby perusahaan. Dari kejauhan tampak seorang wanita dengan mengenakan stelan kerja serba ketat dan mini menyambut kedatangan Rava lebih dulu.


 


 


“Selamat pagi Pak Rava,” katanya dengan suara paling lembut.


 


 


Rava tidak berhenti dari langkahannya, Ia tetap berjalan dan menjawab sapaan Wanita yang di sampingnya.


 


 


“Selamat pagi,” balas Rava dingin.


 


 


“Saya Eliana, Sekretaris pribadi Pak Rava,” katanya dengan sopan.


 


 


“Siapa yang menugasi kamu?” Rava kembali bertanya.


 


 


“Tuan Raka, Pak.” balasnya tanpa mendapatkan jawaban Rava.


 


 


Sesampinya di depan Lobby seluruh staff sudah membuat dua barisan untuk penyambutan Rava. Di tengah lantai pemisah sudah terbentang karpet merah. Rava sejenak terhenti dengan melihat semua staff yang sudah setengah menunduk memberikan penghormatan pada Rava, Rava pun berjalan di tengah-tengah di ikuti oleh Eliana, dan di tengah jalan Rava berhenti.


 


 


“Lain kali tidak usah memberikan penyambutan secara formal. Tapi setidaknya saya ucapkan terima kasih pada kalian atas kerja keras kalian.” kata Rava kemudian berjalan menuju pintu lift khusus atasan yang sudah di buka oleh seorang Pria. Ketiganya masuk ke dalam mesin pengangkut yang membawa mereka ke lantai 10 gedung perusahaan.


 


 


Seusai kepergian Rava, seluruh karyawan perusahaan yang menyambut kedatangan Rava di buat heboh. Ketampanan Rava membuat para kaum Hawa di perusahaan tersebut menjadi saling memuja Rava. Sedangkan para kaum Adam menjadi ngenes, merasa ada saingan berat.


 


 


“Gila… Gak sangkah gua, anak dari pemilik perusahaan ini tampan banget,” ucap salah satu karyawan  cewek.


 


 


“Sudah nikah kali Ka, Jangan jadi pelakor!” balas karyawan lainnya.


 


 


“Biarinlah… mengagumi kan gak salah, kita punya mata kali,” balas yang lainnya.


 


 


Sampailah semua berdebat satu demi satu karena ketampana Rava. Setiba di lantai 10, pintu lift terbuka dan dengan cepat pria yang di tunjuk Raka sebagai asisten pribadi Rava sementara membawa Rava untuk berjalan ke arah ruangannya. Lagi-lagi Rava mendapatkan penyambutan dari staff di lantai 10, ia mendapatkan penghormatan seperti di bawah sebelum tiba di ruangannya.


 


 


“Rava” ucap salah satu staff wanita yang terkesiap melihat kedatangan Rava.


 


 


.


.


.


Karena kalian bersemangat sampai Membawa MCW kembali ke Ranking 13 dengan bantuan VOTE kalian, ini Mom berikan bonus 1 bab lagi. Dan buat kalian yang belum baca Extra partnya Harsen dan Ansel, monggo ke Terpaksa Menikah ya pembacaku yang baik hatinya dan yang tidak sombong hihihihi… Vote nya tetap di My Chosen Wife ya. Jangan lupa juga mampir di Kekasihku Seorang CEO 2, Partnya Jayda dan Jayden ya, karena di bab awal masih banyak yang belum saya Revisi. Terima kasih semuanya ^^


 


 


Ini bonusnya Visual Harsen dan Vara buatttt kalian yang minta, mom putri baik kan ^^, iyalaaah gak sakit wkwkwkwk.