
"Apa Kau bercanda?" Harsen menatap dengan tajam.
Kedua mata Vara di buat berkedip berkali-kali, rasa tegangnya menatap kedua mata Harsen yang sangat serius, membuat Vara menjadi gugup. Vara memilih membuang pandangannya seraya tertawa seakan ada yang lucu.
"Hahahaha.... Iya Vara cuma becanda kok. Kak Harsen terlalu serius." ucap Vara tanpa menoleh ke Harsen.
Harsen melepas tangan Vara, dan kembali ke posisinya dengan raut wajah kekecewaan. Rasanya seperti di permainkan oleh wanita yang dia suka. Seawalnya saja , Harsen merasa senang hingga terkaget mendengar ucapan cinta dari Vara, bisa jadi pikirnya ungkapan dari sebuah perasaan.
Harsen kembali menjalankan mobil, walaupaun tertinggal dari Defan, Harsen tahu arah tujuan mereka. Selang beberapa jam, seluruhnya tiba walaupun Harsen dan Vara baru tiba sebelum Defan dan Alice. Mereka berkumpul di area parkiran dan bersamaan masuk.
Dengan malasnya si Harsen mengikuti ketiganya yang sangat bersamangat. Berbeda dengan Harsen, rasa kecewanya tadi mematahkan semangatnya, melihat area beramain yang ramai itu saja rasanya malas.
"Ayo Kak... Kenapa diam aja?" Vara mendekati Harsen yang masih berdiri seraya menarik tangannya.
"Kalian aja, Kakak lagi enggak bersemangat," ucap Harsen kemudian berjalan memutar ke arah pintu keluar. Vara terdiam dan tidak menahannya, sedangkan Defan dan Alice yang menoleh ke belakang terhenti menatap keduanya.
"Kak Harsen." jerit Defan.
Harsen yang mendengar panggilan Defan terhenti dan menoleh ke belakang. Tampak Vara sudah setengah duduk dengan wajah yang ditutup, Alice sudah berada di sampingnya, menepuk bahunya dengan lembut. Harsen yang melihat Vara menangis dengan cepat berlari mendekati Vara.
"Vara kenapa?" tanya Harsen mencoba menarik wajahnya yang sudah tertutupi rambutnya.
Vara mengangkat wajahnya, "Kak Hareen Jahat! Kenapa mau ninggali Vara di tempat keramaian!" teriaknya dengan isakan tangis yang menyedihkan.
"Vara." panggil Harsen lembut.
"Sudah sana... Pergi saja!" ucap Vara seraya berdiri dan berjalan dengan cepat. Harsen ketakutan sendiri melihat air mata Vara, dengan cepat Ia mengejar Vara. Alice dan Defan sama-sama tersenyum menatap keduanya.
"Kenapa Vara?" Harsen menarik tangannya dan terhenti saling memandang.
Vara mengusap air matanya dengan kasar dan menatap pada Harsen, "Kenapa Kak Harsen main pergi aja, enggak sekalian aja pergi dari hidup Vara." ucapnya dengan tersiak.
Harsen tertawa kecil, "Kau benaran mau Kakak pergi dari hidupmu?" tanya Harsen, dengan gaya oppa Hyun Bin.
"Enggak." balasnya cepat.
Harsen tertawa lalu berjalan selangkah lebih dekat ke Vara , lalu mengusap air matanya yang terus mengalir, "Kalau enggak, jangan menangis lagi. Kau itu kalau menangis sangat jelek, sudah jangan menangis lagi. Ayo kita bermain, kita cari kak Rava dan kak Rena." ajak Harsen yang mencoba bersemangat dengan menarik tangan Vara.
Vara akhirnya tersenyum, melihat Harsen bersemangat. Defan dan Alice juga semakin bersemangat dan berlari bersama masuk di keramaian pengunjung.
Sampai di tengah tempat bermain, keempatnya kembali berkumpul merundingkan yang akan mereka lakukan.
"Kita main apa?" tanya Defan pada Vara.
"Apa langsung mau main? enggak cari Kak Rava dan Kak Rena dulu?" tanya Vara.
"Benar Fan.. Kita cari Kak Rava dan Kak Rena dulu, biar bisa main bareng." Harsen menimpali.
"Aku ikut kalian saja." sambung Alice.
"Baiklah... Kalau begitu kita cari kak Rava dan Kak Renata. Terus caranya bagaimana?" tanya Defan.
"Coba Vara telepon kak Rava." sambung Harsen.
"Terus... tanya apaan kak? entar ketahuan dong mendengar suara keramaian." balas Vara.
"Benar juga Kak. Bagaimana kalau kita berpencar mencari mereka." usul Defan.
"Benar itu Kak... Kita berpencar, jika tidak menemukan mereka kita harus kembali di tempat ini lagi. Jika ketemu, kita saling kasi kabar." sambung Alice.
"Setuju... Kalau begitu, Ayo kita berpencar." ucap Harsen.
Dengan cepat Defan menarik tangan Alice dan segerah meninggalkan Harsen dan Vara. Vara dan Harsen masih terdiam, saling memandang dengan kaku.
"Sudah ayo jalan," ajak Vara dengan rasa kaku dan berjalan.
Harsen tertawa dan menggelengkan kepalanya lalu mengejar Vara dan menarik tangan Vara. Vara kaget melihat Harsen yang tiba-tiba tanpa malu menarik tangannya. Harsen menoleh ke Vara dengan senyuman, "Kakak takut kehilangan kamu di keramaian." ucap Harsen.
Vara tersenyum dan mengikuti Harsen berjalan menelusuri keramaian, sesekali melihat kekiri dan kekanan mencari keberadaan kakaknya.
"Kak, itu Kak Rava." tiba-tiba Vara melihat Rava dan Rena yang bergandengan tangan berjalan menuju roller coaster.
"Iya kak.. Tapi biarin aja. Kita lihat dari sini, buruan hubungi Defan, Kak." ucap Vara.
Cepat-cepat Harsen mengambil ponsel, enggak tahunya Defan dan Alice datang menghampiri mereka.
"Kak... Enggak kelihatan. Kita dua sudah lelah berkeliling sedari tadi." ucap Defan dengan wajah lelahnya.
"Iya Vara... Enggak ada... kita uda cari berkeliling dari posisi tadi." sambung Alice.
Vara tertawa, "Iyalah enggak ada... Lihat ke sana." tunjuk Vara pada roller coaster.
Mata Defan terbelalak, "Huahhhhh... Apa kak Rava uda gila. Kok bisa-bisanya kencan pertama memilih permainan ekstrem seperti itu." celetuk Defan dengan perasaan tegang.
"Kau jangan mengatai kakakku, Kakakku itu pemberani, Kau lihat saja nanti." ucap Vara membela kakaknya.
"Kita lihat... Ayo kita lihat dari dekat." ajak Defan seraya berjalan menju roller coaster.
"Ayo.... Siapa takut!" jawab Vara dengan berjalan cepat.
Kini Alice dan Harsen yang menatap bingung.
"Kamu yang sabar, Nona. Keduanya memang seperti itu, akan berdamai pada waktunya. Tapi ketahuilah keduanya sangat baik dan saling menyayangi." ucap Harsen menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Kak. Alice mengerti, Ayo kita susul." ucap Alice sambilan berjalan.
Keempatnya pun tiba menghadap roller coaster, yang sudah hampir penuh itu. Keempatnya memandang ke atas penuh rasa yang berdebar-debar. Defan semakin ke situ semakin tidak mempercayai apa yang dilakukan keduanya.
"Kak Rava." teriak Defan.
"Kak Rena." teriak Vara.
Rava dan Renata menatap ke bawah, terdengar samar-samar dari suara orang yang di kenal. Rava yang melihat kebawah, langsung membuang pandangannya, purak-purak enggak melihat. Sedangkan Renata, tidak sadar dengan suara yang di dengarnya barusan.
"Apa Kau takut?" tanya Renata pada Rava.
Rava memasang wajah sok santai, "Agh... tidak. Aku tidak takut, Aku sudah beberapa kali main di sini." celetuk Rava menyimpan ketakutannya.
"Wah... Benarkah. Syukurlah.... Akhirnya kekasihku selerahnya sama denganku." ucap Renata dengan tersenyum senang.
Rava tersenyum terpaksa, dalam hatinya dia curhat.
Mampiussss deh gua... Kenapa juga gua memilih kencan pertama di taman bermain. Kenapa Kau bodoh sekali Rava! Malahan adik-adikmu datang lagi. Huahhh... Kemana wajah ini ku letak, harga diriku akan jatuh di depan mereka. Sialllll... Siallllll... gua sungguh bodoh.
"Kau sudah siap? Sudah mau jalan." ucap Renata dengan tersenyum ke Rava.
"Iya... Aku siap." jawabnya dengan tersenyum kecut.
Apanya yang siap, sampai kapan pun Aku tidak akan pernah siap bermain permain kesukaanmu. Wah... Kau tidak tahu apa perasaanku cenat-cenut begini. Mama, Papa, Vara... Kak Rava sayang kalian semua. Semoga kakak baik-baik aja.
"Kak Ravaaaaaaa.... semangattttt." teriak Defan saat roller coaster sudah perlahan berjalan.
Vara tersenyum sendiri menatap ke atas, Harsen menatap tegang karena Harsen tahu, Rava tidak pernah bermain seperti itu selama Ia mengikuti Rava.
"Apa Kakak akan baik-baik saja?" tanya Vara pada Harsen.
Harsen menoleh ke Vara, "Sepertinya Kakak akan pingsan." bisik Harsen dengan wajah santai.
"Serius, Kak?" tanya Vara dengan mata melotot.
"Entahlah.... Kakak juga tidak yakin." balas Harsen.
"Hah... Ini gawat... Jika Kak Rava pingsan di atas. Bisa malu tuh kak Rava di depan kak Rena." gumam Vara sedih.
Terdengar suara jeritan dari seluruh penumpang roller coaster. Jangan di tanya, Renata berteriak dengan senangnya. Sedangkan Rava berteriak sangat kencang dengan perasan takut. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bersambung.
..........
Tekan like dan jangan lupa bantu VOTE ya 🥰😘🙏