
💐 Jangan lupa berikan VOTE untuk mereka ya. Hanya sampai hari minggu jam 23:00. Terima kasih...💐
.
.
.
Setelah malam panjang di nikmati keluarga Atmadja dan sahabat mereka yang di sebut keluarga itu di salah satu hotel berbintang lima di Jakarta, Frans memesan tempat di rooftop. Bersantai menikmati angin malam, bercanda, ngobrol bersama, tidak ada yang terlewatkan bagi mereka.
Kekeluargaan yang terjalin sejak mereka di pertemukan di salah satu perusahaan yang terkenal, hingga terjalin sebuah persahabatan, cinta, hingga keluarga, bahkan sampai ke anak-anak mereka yang memiliki cinta yang juga berasal dari hubungan dekat mereka.
Siapa yang tidak senang, andai-andaian mereka sebelum memiliki anak, akhirnya di jawab oleh sang pencipta kehidupan. Si pemilik cinta, menanamkan sepercik cinta di hati anak mereka. Eva dan Casandra, yang di pertemukan di Atmadja Group, dengan penempatan yang sama. Persahabatan mereka, di akhiri dengan status sah sebagai keluarga, hubungan antar besan.
Di sinilah mereka menikmati malam kebersamaan, terkecuali Defan. Sudah empat bulan sejak dia meninggalkan Jakarta. Ada perasaan rindu bersarang di hati Rava dan juga Renata, karena mereka sudah sering bersama.
Tiba di hadapkan dengan makan malam bersama, atau pun kumpul bersama, perasaan keduanya merasa kekurangan. Merasa tidak pas saja, tidak adanya Defan di tengah-tengah mereka.
Frans mengabarkan, kalau Defan sedang sibuk-sibuknya, karena Defan sudah berstatus mahasiswa tingkat akhir. Jadi, lima bulan kedepan, Defan tidak bisa di ganggu gugat, itu pesannya Defan.
Ada rasa sedih dari Renata, mengingat usia kandungannya tinggal dua bulan lagi. Bukankah, Defan bakalan tidak bisa datang, melihat keponakannya?
Semoga saja, nantinya bisa di pertemukan lagi. Entah itu sesudah Defan di wisuda. Kapanpun itu, Renata mau, Defan bisa melihat keponakannya yang sempat di jaganya selama tiga bulan usianya, saat di dalam kandungan.
Paman yang lucu untuk sang buah hati, itulah rasa-rasanya pikiran Renata saat ini, di bawah awan gelap yang menjadi atap mereka.
Acara traktiran Frans atas kepindahannya ke Jakarta, sekaligus untuk mengurangi kepadatan penduduk di rekening Frans berakhir dengan senyum dan tawa mereka. Setelah banyak yang mereka bicarakan, meskipun ada perbedaan pendapat di antara Frans dan Jimmy, Raka dan Frans, sedikit membuat perut mereka berolahraga, karena mereka tidak bisa menahan tawa, bila di rasa lucu. Gimana tidak lucu, lihat wajah Frans saja mereka tertawa.
"Aku tidak akan pernah melupakan momen ini, di masa tuaku nantinya." ~ Raka.
"Apapun yang menjadi masalahmu, keluarga atau sahabat sekalipun, bisa menjadi tempat peraduanmu. Setidaknya, sahabat merupakan keluarga tanpa ikatan darah yang bisa di jadikan tempat tumpuan"~ Eva.
"Bisa di katakan, kesempurnaan keluarga yang sempat hilang dalam hidupku, tumbuh bersama kalian."~ Frans.
"Keluarga yang utuh, yang tidak sempurna seperti keluargaku juga, mampu tergantikan dengan keutuhan cinta dari mereka yang ku sebut kakak dan abang." ~ Delia.
"Aku bersyukur, karena aku ada bersama mereka, di tengah mereka-mereka ini, aku akhirnya memiliki cinta yang hampir sempat berakhir di hidupku."~ Rere.
"Karena kau tidak sendiri. Jika kau menaru kepercayaan, dan yakin, masih ada cinta di dunia ini, kelak kau akan mendapatkannya, meskipun itu tidak kau dapatkan dari keluargamu."~ Leo.
"Sebisa mungkin, akan menjadi kenangan indah nantinya. Bila salah satu dari kita berkurang karena kematian."~ Casandra.
"Karena kebersamaan kita yang indah ini, tercipta dengan warna-warni serta keunikan kita masing-masing. Momen indah ini, tercipta dengan baik. Meskipun sudah berjanji, persahabatan rasa keluarga ini akan di bawa hingga kita menua, serta hanya kematianlah yang dapat memisahkan."~ Varel.
"Meskipun nantinya kita berpisah, ingatllah, kalian tidak akan terlupakan, layaknya hilang di telan bumi. Aku pastikan itu, kalian adalah yang terbaik, yang Aku miliki selama ini, selain keluarga kandungku.:~ Jimmy.
"Karena sejatinya, Kita ada karena terbiasa bersama, menjalin ikatan kekeluargaan dengan mengisinya pakai cinta yang nyata. Bukan semu, bukan hanya semata-mata berucap tentang cinta atau juga sayang. Menurutku, itu sangat teramat baik dan teramat nyata saat hadir bersama mereka."~ Anna.
"Ya, sebenarnya memang nyata. Karena dari kalian semua, Aku paham akan cinta yang kalian berikan untuk kami sebagai generasi baru dari kalian."~ Rava.
"Dari kebersamaan kalian, tumbuh cinta yang tidak pernah terbayangkan olehku, olehnya dan oleh kita semua. Aku suka, cara mereka berbagi, cara mereka bersama, bahkan cara mereka menyelesaikan masalah. Mereka patut di contoh, meskipun tidak akur dalam bertutur kata, ada cinta di balik itu semua. Ingatlah, Aku akan menceritakan tentang mereka nantinya, ke anak-anakku kelak."~ Renata.
"Demikian juga denganku, akan aku nikmati, setiap alur cerita yang tercipta dari bagian mereka. Mungkin saja, kita nantinya bisa seperti mereka."~ James.
"Karena kalian-lah, yang di sebut dengan Keluarga."~ Harsen.
"Saling berbagi, saling bersama, saling mencintai, saling memberi, susah bersama, senang pun bersama-sama. Aku bangga, berada di tengah-tengah mereka."~ Vara.
Bingkai kata itu, mereka tulis di atas masing-masing kertas berbentuk love serta berwarna-warni, dan setelahnya, mereka mengambil foto kebersamaan mereka, dan menempelkannya di dinding kaca khusus foto serta menempelkan kertas berisi kata-kata cinta mereka, yang tersedia di depan pintu masuk ke rooftop. Seperti itulah, akhir kebersamaan mereka malam itu
.
"Kenapa Rava?" tanya Eva pada putranya.
"Pesan dari Defan, Ma." balas Rava sambil menempelkan kertas berwarna biru berbentuk hati itu, di dinding kaca, tepatnya di depan pintu masuk.
"Aku yakin, Aku nantinya bisa seperti kalian semua.Memahami bentuk rasa cinta yang kalian berikan. Cinta dan kebahagiaan kalian, sudah terpatri di dalam hatiku."~ Defan.
"Oke... Ini sudah pas." kata Rava tersenyum.
"Baiklah, mari kita pulang." ajak Raka.
Benar-benar sudah berakir malam panjang itu. Masing-masing dari mereka, akhirnya berpisah di lapangan parkir Hotel. Hanya Raka dan Eva saja yang ikut bersama Frans dan Delia. Karena memang satu komplek perumahan.
Yang lainnya, berpisah ke masing-masing arah. Semuanya memiliki perasaan yang sama, karena kebersamaan mereka itu memang indah. Mari kita tutup dengan perasaan cinta dan kasih nyata dari mereka.
"Rasanya Aku bersyukur banget, bisa lahir dari rahim mami, dan menjadi keluarga Atmadja, bisa mengenal mereka semua, meskipun terkadang, Aku tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan." kata Renata ke Rava yang sedang mengemudikan mobilnya, di tengah malam kota Jakarta.
Rava tersenyum.
"Jangankan dirimu. Aku pun seperti itu Sayang, kalau saja tidak ada perjodohan dari Mama dan Mami, mungkin kau bukan jodohku." kata Rava.
"Hemmm... benar juga ya. Bisa jadi dengan mantan kamu yang seksi itu kan?" manik mata Renata tiba-tiba sinis.
Rava menoleh ke Istrinya dan mengangkat tangannya, mengusap lembut kepala sang Istri yang sedang cemburu.
"Kalau lagi cemburu gini gemesin deh." kata Rava meledek.
"Gombal!" sergah Renata.
"Kaget ih! aku gak gombal! Aku cuma bucin."
"Najis igh! masa bucin, geli tau!"
"Dih! gini imutnya."
"Terserah deh, asal kamu senang."
"Aku malam ini senang sekali sayang, semuanya egh tanpa Defan sih, bisa kembali berkumpul lagi. Kau lihat senyum-senyuman dari orang tua kita tadi, tampak mewakili perasaan mereka."
"Hemm... benar juga sih. Salut banget sama mereka ya."
"Huum, karena mereka memiliki cara tersendiri, untuk memberikan dan berbagi cinta mereka di tengah-tengah keluarga kita." balas Rava lagi.
"Karena itu, Aku mencintaimu dan mereka." ujar Renata bersemangat.
Rava dan Renata tertawa bersama, menikmati goresan kenangan indah yang barusan mereka ciptakan. Tidak ada masalah yang tidak bisa mereka selesaikan di saat bersama. Suasana itu hidup seketika, karena mereka memiliki perasaan yang sama dengan tulus.
"Kelak sampai tua, aku akan mencintai mereka semua, seperti mereka mecintai Aku." — Rava.
.
.
💐 Jangan lupa berikan VOTE untuk mereka ya. Hanya sampai hari minggu jam 23:00. Terima kasih...💐