My Chosen Wife

My Chosen Wife
MELAMAR.



"Aku juga mau Balonnya." Suara ini, menghentikan niatan Rava untuk menekan tombol di depannya. Harsen dan Rava sama-sama menoleh ke arah suara. Keduanya sama-sama terkaget.


"Kak Rena." gumam Harsen seketika.


Renata berjalan mendekati keduanya dengan tersenyum. Rava sendiri dalam posisi tegang, menatap Renata tanpa mengedipkan matanya.


"Kenapa balon ini banyak sekali? Apa yang ingin kalian lakukan dengan balon-balon ini?" ucap Renata dengan menyentuh balon, kemudian tatapannya berpindah ke Rava yang terus menatapnya dengan serius, "Hemmm.... Aku sepertinya tidak bisa lari dari dirimu." ucapnya ke Rava.


Rava kemudian tersenyum kecil, "Selama aku masih hidup dan belum mendapatkan dirimu, Kau tidak bisa lari dari pandanganku!" ucap Rava penuh penekanan.


"Wah.... Aku seperti sedang berbicara dengan seorang mata-mata. Jangan menatapku seperti itu!" ketus Renata.


Harsen menatap ke Rava , ada emosi yang tertahan dari raut wajahnya. Raut wajah kerinduan, kekhawatiran bahkan kesedihan.


Rava langsung mengubah topik, sebelum Renata semakin marah. Memberikan buket bunganya ke Renata secara perlahan.


"Aku senang, bisa melihatmu lagi dalam keadaan sehat." ucapnya dengan buket merah yang mengarah ke Renata.


Renata menatap buket merah yang sempat membuatnya senang, tiba-tiba Ia kembali sinis menatap ke Rava.


"Apa Kau ingin menggodaku? Atau menyogokku?" Renata menatap tajam.


"Tidak.... Aku ingin melamarmu." ucap Rava serius.


Renata terdiam sejenak serta menatap wajah Rava, kemudian Renata tertawa kecil.


"Jangan bercanda... Ini tidak lucu." Renata membuang pandangannya.


"Tidakkk... Aku serius. Apa tidak cukup bagimu menghukumku beberapa hari belakangan ini? Sudah Aku katakan untuk menungguku! Tapi apa??? Kau malahan pergi mengingkari janji. Cih... Aku baru sadar Kau itu wanita yang pendendam." celetuk Rava.


Renata kembali menoleh ke Rava dengan tatapan mamanya, "Apa Kau ke sini cuma untuk mengataiku!" Hah.. Kau pikir kata-katamu itu menyentuhku!."


Rava enggak mau kalah dari Renata. Ia ikut melototkan matanya serta berkata, "Apa Kau itu tuli! Sudah aku katakan, Aku ke sini untuk melamarmu jadi Istriku! Bukan untuk terus betengkar denganmu!."


Harsen semakin pusing di buat kedua orang di depannya, mana si Rava mau melamar pakai acara ngamok segala pikirnya.


"Sudah... sudah... Kakak semua kok pada berantam sih?" protes Harsen.


"Bukan Urusanmu!" ucap keduanya bersamaan.


"Nah kan... Itu aja sama jawabnya. Kalian berdua memang berjodoh, tapi terlalu gengsi untuk menyatakan perasaan kalian."


Renata menoleh ke Harsen, menyentuh pundak Harsen dengan tersenyum ke arahnya.


"Kau pasti lebih mengenal kakakmu yang sok keren ini, Sen!" ucap Renata, Rava langsung menatap ke arahnya, "Harusnya... Kau lebih paham dengan sifatnya Dia."


Harsen melirik ke Rava dan keduanya saling memandang.


"Justru karena itu kak, Kak Rava sangat mencintai kakak, mencemaskan kakak, makan saja tidak bernafsu, selalu mengingat kak Rena. Masa iya Kak Rena enggak bisa merasakan apa yang Kak Rava rasakan?"


Rava yang mendengarnya seakan menikmati ucapan si Harsen, sambilan senyum-senyum gak jelas.


"Kau tidak sedang membual kan? Kau tidak lihat tampang Kakakmu ini! Cih... Playboy!."


"Apa Kau bilang!" ucap Rava kesal.


"Playboy! Kau tidak senang? kalau tidak senang, pergi saja dari sini. Carilah cinta pertamamu yang sudah mencampakkanmu!" Renata bersiap untuk berjalan masuk, sigap Rava menariknya hingga Renata tersungkur dalam pelukan Rava. Keduanya saling memandang dalam diam. Hingga Rava tersenyum, kemudian dia memposisikan tubuh Renata berdiri.


"Dengarkanlah sebentar, Aku ingin Kau tahu. Aku ke sini bukan untuk mengajakmu bertengkar. Aku ke sini, untuk mengajakmu hidup bersama. Menemaniku untuk bersama-sama melewati dunia. Mencintai dan di cintai. Maafkan Aku, jika di masa lalu... Aku mengabaikanmu. Hah... Di abaikan rasanya memang tidak enak. Tolong tarik hukumanmu, Aku sungguh tidak tahan." ucap Rava dengan perlahan, dengan tatapan sendu.


Renata masih menatapnya dalam diam, Harsen... dia senyum-senyum mendengar pernyataan Rava. Pikirnya, Rava sangat keren membuat Renata terpaku, hingga rasanya tidak percaya dengan apa yang barusan Rava ucapkan.


Rava mengangkat boneka Teddy yang sedari tadi di letaknya di lantai koridor Apartemen Renata. Mengarahkannya ke Renata, wajahnya berada di balik Teddy, membuat Renata tidak bisa melihatnya.


"Dengan boneka Teddy ini, mewakali perasaanku. Mau kah Kau menjadi Istriku?" lagi-lagi Rava bertanya dengan serius, dengan menggerakan kedua tangan Teddy.


Renata tersenyum, pikirnya Rava bisa seromantis itu walaupun kakuh.


Refleks Rava menatapnya, "Apa Kau serius?"


"Iya... Aku serius!" jawab Renata dengan tatapan tajam.


Rava langsung kecewa, Harsen apa lagi. Rasanya seperti sia-sia, melakukan itu semua. Renata tanpa gugup mengatakan "Tidak Mau" membuat hati Rava tercabik-cabik.


"Kau sungguh-sungguh?" Rava bertanya sekali lagi.


Renata dengan cepat menganggukan kepalanya dengan raut wajah yang santai. Rava masih kecewa, menarik nafasnya sejenak. Harsen pun sedih, melihat Rava yang terpukul itu.


"Baiklah... Aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu, Kau harus tetap sehat, tetap bahagia, saat pulang nanti berhati-hatilah." pesan Rava ke Renata.


Renata tersenyum, "Terima kasih." balasnya.


"Ayo Sen," ajak Rava dengan lesu.


"Tapi Kak... Bagaimana dengan balon, buket dan boneka? Masa kita bawa kembali turun?"


"Cih... Kalau Aku tahu bakalan begini, akan ku berikan semua untuk anak kecil tadi." gumam Rava kecil.


Rava kembali menoleh ke belakang dan mengambil semua barang-barang yang ada di tangan Harsen. Rava mendekat ke Renata dan menatapnya.


"Walaupun Kau tidak menerimaku, tolong ambil semua bawaan ini. Jika tidak mau, buang saja ke tong sampah!" ucap Rava kemudian berbalik dan berjalan untuk meninggalkan Renata.


Renata menatap pada Balon, Bunga, Boneka yang sudah penuh di tangan dan pelukannya. Kemudian dia memanggil Rava.


"Ravaaaa!" jerit Renata.


Rava dan Harsen bersamaan terhenti, lalu menoleh ke Renata.


"Apa seperti itu caramu?" ucap Renata yang mulai berkaca-kaca.


"Apa tidak ada lagi usahamu? Tidak di terima langsung main pergi meninggalkan aku? Apa Kau masih tidak belajar dari pengalamanku? Berapa lama Aku bertahan menunggu jawabanmu! Berusaha untuk tetap mencintaimu, menunggu jawaban yang tidak pasti. Apakah sebanding dengan yang Kau lakukan barusan!" air matanya jatuh , melewati kedua pelupuknya.


"Terus... Aku harus bagaimana lagi Renata? Apa Aku harus bunuh diri, agar Kau percaya Aku benar-benar mencintaimu! Sudah Aku katakan, Aku tidak sekuat dirimu, Rena. Bukankah Aku sudah menyadari kesalahanku selama ini? Aku ke sini benar-benar sangat merindukan dirimu! Aku bisa gila, jika Kau terus menghindar dariku! Kau pikir Aku tidak terluka?"


Renata tertawa, "Kau memang bodoh Rava! Siapa yang mau di lamar sama Boneka? Kau pikir Aku wanita apa?"


Rava menatap tajam, "Terusss... Kau mau Aku lamar pakai Apa? Cincin? Rumah? Mobil? Pesawat terbang? Katakan padaku." balas Rava.


"Cih... Sombong banget! Aku punya segalanya, Kau harus tahu itu! Kau memang cowok bodoh!" Renata melepas Balon dan Buket bunga yang ada di genggamannya, lalu memegang Boneka dan kembali mengangkatnya seperti yang di lakukan Rava tadi, "Kau bilang begini, Dengan boneka Teddy ini, mewakali perasaanku. Mau kah Kau menjadi Istriku?" ucap Renata kemudian menurunkan bonekanya dan menatap ke Rava.


"Jika Kau jadi Aku, Apa Kau mau di lamar menjadi suami Boneka ini?"


Harsen yang mendengar ucapan Renata langsung melirik ke Rava. Harsen paham akan ucapan Renata barusan. Rava sendiri, sama sepemikiran dengan Harsen, matanya melotot seakan kaget.


Rava kembali melangkah dan berjalan menghampiri Renata yang masih menangis sedih, sampai di depan Renata, Ia mengusap air mata Renata dan tersenyum.


"Aku katakan padamu, jangan menangis. Kau sangat jelek saat menangis." ucapnya dengan lembut.


Renata tersenum, "Apa perdulimu kalau Aku jelek?"


Rava tersenyum, "Karena Kau calon Istri dari seorang Presdir tampan sepertiku. Maukah Kau menjadi Istriku?" Rava menatapnya sendu.


Renata tersenyum dengan harunya dia menatap pada Rava.


"Apa Aku harus menjawabnya?"


Bersambung.


.......


Tekan Like dan VOTE nya ya. Terima Kasih :)