
"Oh, maksudku ayah dari perusahaan tempatmu bekerja" jawabnya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut...
"Aku lupa, kalau dia tidak mengetahui identitasku di perusahaan ayah," batin Rey menyadarkannya.
"Lebih baik kau lanjutkan saja besok, aku akan kembali ke kantormu dan memberitahu atasanmu kalau kau sedang sakit dan mendadak pulang," ucapnya dengan suara rendah
"Jangan melakukan hal yang bodoh, kau mendoakan aku sakit?" ketus Kinaya
"Tidak, bukan itu maksudku, aku hanya kasian jika kau kembali bekerja dengan pakaian seperti itu"
"Tolong jangan mengasihaniku, kalau kau tidak bisa mengantarku ke kantor turunkan aku di sini aku bisa kembali naik taxi.." pinta Kinaya.
"Kau yakin bisa bekerja dengan tubuh yang terendam air rempah seperti ini," pertanyaan itu membuat Kinaya mengangguk dengan ragu, meski ia juga merasa kulitnya sangat tidak bekerja dengan baik lagi setelah kuah makanan di restaurant tadi menumpahinya, namun ia tidak bisa seenaknya pulang begitu saja.
Tanpa kembali bertanya, Rey membelokkan arah mobilnya ke arah jalan menuju gedung besar yang sepenuhnya milik ayahnya yang akan segera dipindah namakan kepadanya....
*****
"Kinaya, kau dari mana, kenapa bajumu kotor seperti ini, badanmu penuh dengan aroma rempah-rempah?" tanya seseorang beruntun setelah melihat sosok Kinaya sedang melintas di depan ruang kerjanya,
"Kinaya," teriaknya lagi setelah pertanyaan itu tidak mendapati jawaban,
"Ada apa Marissa, kau bisa memanggilku dengan suara rendahmu," balasnya melemah
"Aku bertanya, sementara kau hanya diam dan melintas begitu saja, jadi aku meneriakimu aku pikir kau tidak mendengarku," jelas Marissa
"Kau dari mana saja, tuan Rey membawamu kemana?" tanyanya mendesak
"Dia tidak membawaku kemana mana,"
"Lalu bajumu kenapa bisa seperti ini?" tanyanya menyentuh bagian kain yang terlihat kekuningan di sana,
"Kenapa kau begitu mengkhawatirkan bajuku, huh, ini tidak kenapa-kenapa hanya kena tumpuhan kuah maknanan di sana,"
"Kau terlihat sangat kotor, kau tidak ingin mengganti bajumu?"
"Aku tidak punya pakaian ganti di sini"
Kinaya berjalan meninggalkan rekan sekaligus temannya itu yang masih menatapnya dengan tatapan datar, sampai pada tubuh itu hilang seiring tertutupi oleh pintu...
^^^^
Suara deringan ponsel dari dalam saku celana Rey mencelah keheningan di dalam ruang kemudi, ia meraihnya dan mendekatkan benda tersebut kedaun telinga kanannya,
"Halo, maaf Lan aku sedang perjalanan pulang, maaf aku lupa menghubungimu tadi ada sedikit kejadian di restaurant jadi aku harus mengantar pulang wanitaku ke kantornya"
"Oh iya, kau makan saja, di lain waktu aku akan mengajakmu bertemu dan mengenalkannya."
"Iya, iya, aku serius, tapi kau jangan sampai jatuh hati padanya setelah bertemu dengannya karena dia wanita yang sangat cantik yang pernah aku temui"
"Yasudah, aku akan kembali ke kantor, selamat makan," sautnya sepihak terdengar menjawab dari lawan bicaranya"
~
Sore hari, Kinaya dan Marissa sudah bersiap untuk meninggalkan tempat yang begitu banyak menghabiskan waktu setiap harinya,
"Marissa sebentar, aku ada telephon," ucap tiba-tiba Kinaya yang hendak melangkah dari sana, namun ia urungkan tatkala suara deringan begitu mendesak di dalam tas jinjingannya,
"Iya, halo, ada apa?" tanyanya kemudian,
"Hm,, iya sebentar lagi aku akan turun,
"Hmm, kalau kau tidak bisa menunggu, kau pergilah tidak usah menungguku,"
"Yasudah, tunggu sebentar, kenapa kau tidak bisa sabar, "
Suara sepihak terdengar begitu nyaring di telinga Marissa membuatnya tersenyum penuh arti..
"Pasti dari tuan Rey kan?" tanyanya penuh curiga,
"Cepatlah Marissa jangan membuatnya menunggu," desak Kinaya membuat Marissa segera beranjak dan mengikuti langkah Kinaya yang sudah cukup jauh darinya,,,
"Kau sudah begitu tidak sabar untuk bertemu dengannya, padahal kalian baru saja bertemu," goda Marissa setelah langkahnya sudah sejajar dengan Kinaya,
"Jangan banyak bicara Marisaa, aku sangat tidak ingin berada dengan posisi saat ini,"
"Kenapa, bukan kah tuan Rey sangat perhatian padamu, harusnya kau tau maunya," ucapnya kembali meledek
"Aku sama skali tidak menginginkan ini semua, aku tidak menyukainya," ketusnya
"Kau tau Kinaya, tuan Rey sangat di hormati di kalangan pemuda, bahkan di semua perusahaan di kota ini, dia begitu berpengaruh dan tentu aku tau dia tidak sembarang membawa perempuan kesana ke mari, hanya perempuan yang beruntunglah bisa dekat dengannya dan kaulah perempuan itu," jelasnya membuat perempuan tersebut tersenyum geli,
"Ia kau benar, termasuk tempat kita bekerja, dia sangat memberi banyak pengaruh di sini, bahkan sangat berani mengancamku jika aku tidak menuruti semua perkataannya, aku seperti menjadi robot sekarang." Kinaya menghela nafas dengan pasrah
"Tentu saja, kau tau bukan kalau dia seorang putra dari tu..." jawabnya menggantung karena Kinaya sedang menukasnya tatkala melihat Rey sudah memberinya tatapan penuh maksud di sana...
"Kinaya, kau meninggalkanku tanpa pamit," teriaknya kesal..
"Kau bisa melanjutkan ceritamu besok Marissa," teriaknya dengan tangan yang sudah memegang knop pintu mobil milik Rey.
^
"Bagaimana pekerjaanmu, apa sudah hampir selesai untuk taget bulan ini?" tanya Rey di sela bisingan dari mesin mobil yang mereka tumpangi.
"Hampir" jelasnya singkat tanpa mengalihkan pandangannya yang begitu fokus menatap jalan kedepan,
"Kau bisa izin sehari untuk beristirahat sebelum memulai pekerjaan baru kita, mungkin lusa kau bisa tidak bekerja aku akan mengurus surat cutimu,"
"Kau tidak perlu repot mengurusku, aku masih bisa sendiri," jawabnya ketus...
"Kau bisa jangan membantah perkataanku," teriaknya karena merasa sangat tidak berguna berada di sisi perempuan tersebut.
"Rey, kau bisa tenang, jangan berteriak! Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun, termasuk dirimu. Aku bisa melakukan semuanya tanpa bantuan siapapun," jelasnya begitu santai
"Kau sangat keras kepala, kau selalu menolak apapun kebaikan orang lain padamu, padahal tanpa sadar kau telah membantu orang-orang untuk mendapatkan pahala, jika saja kau tidak menolak, aku sudah ada harapan lagi untuk memanen pahalaku." Balasnya dengan suara rendah
"Kau bisa melakukannya pada yang lain, bukan hanya denganku" jawabnya dengan tatapan ke satu arah
"Tapi aku ingin sekali melakukannya padamu, tolong jangan selalu menolak apapun yang aku katakan." Lanjutnya dengan memohon.
"Aku tidak menolak hanya tidak ingin merepotkan orang lain, aku masih punya otak untuk berfikir dan tangan untuk melakukannya, karena Tuhan menyempurnakan anggota tubuhku untuk bisa bekerja tanpa harus bantuan orang lain, "
"Bukankah Tuhan juga berkata, kalau manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain,"
"Tentu, tapi tidak dengan ini, karena aku masih bisa melakukannya.. tolong jangan selalu memaksaku, aku sangat tidak suka di paksa, terlebih kau aku sangat tidak suka jika kau selalu memaksaku,"
"Tapi aku sangat menyukainya," ucapnya tersenyum tipis membuat si perempuan tersebut kembali merasa kesal.
"Turunkan aku," teriaknya dengan mata yang begitu kesal menatap ke arahnya membuat lawan bicaranya begitu sangat gemas...
Beri like & votenya ^_^