My Chosen Wife

My Chosen Wife
DEFAN PUNYA PACAR.



Seusai mengantarkan Frans, Raka, Eva dan Defan tiba di kediaman Rava. Vara yang sedang di dapur mengambil minuman, mendengarkan langkahan kaki dari pintu masuk rumah, tak lama melihat Eva berjalan memasuki ruangan tamu. Vara berlari kecil dan bergegas menghampiri Eva.


"Mama." seru Vara dengan memeluk Eva.


"Vara... Ngapain kamu, sayang?" tanya Eva menyentuh puncak kepalanya dan mengajaknya jalan ke ruang tamu.


"Vara haus Ma, cuma mau minum. Oh ya... Kak Rava sudah pulang Ma."


"Hemmm... Ya sudah biarkan kakak, kamu beristirahat." jawab Eva seraya duduk di sofa.


"Tapi kakak minta di bangunkan kalau mama dan papa pulang. Oh ya... Papa mana, Ma?"


"Masih di luar sama Defan." Eva tersenyum manis ke Vara.


"Maa... Bagaimana kak Rena, Ma?" Vara memasang wajah murung.


"Belum... Mama enggak bisa menghubungi mereka lagi sayang, Karena itu pasti kemauan Rena sendiri. Jadi mama yakin, Bibi dan Pamanmu itu, enggak bisa menolak keinginan Rena. Jadi kamu enggak perlu pikirkan apapun, biar kakakmu sendiri yang mengurusnya."


"Baiklah, Ma." ucap Vara sedih.


"Jangan bersedih," Raka tiba-tiba muncul bersama dengan Defan.


"Papa." gumam Vara pelan.


Raka kemudian duduk di sebelah Vara, membuat Vara berada di tengah-tengah Raka dan Eva. Lalu Raka menarik pundak Vara dengan merangkul lembut.


"Kau tidak boleh bersedih sayang, ini bukan urusan kita, tapi urusan hati antara kakakmu dengan kak Rena. Terus... Ada baiknya kau tetap memberikan semangat untuk kakakmu itu. Kau tahu... Papa juga sama, mendapatkan mama kamu saja penuh perjuangan, enggak semudah membalikkan telapak tangan. Apa lagi itu si Defan." ucap Raka menunjuk ke Defan.


Defan yang duduk di depan mereka menatap bingung, lalu menunjuk ke wajahnya.


“Defan??? Apa hubungannya dengan Defan, Paman?” Defan mengernyitkan keningnya.


Raka tertawa, Vara dan juga Eva bersamaan menatap Raka seakan menunggu jawaban atas pertanyaan Defan.


“Hahahah.. hubungannya, Papa dan Mama kamu itu bersatu dengan penantian panjang, Defan. Apa papamu atau mamamu tidak pernah menceritakan kisah mereka ke kamu?” tanya Raka.


“Hemmmm… Sepertinya papa cuma bilang, mama itu cinta pertamanya, Paman. Selebihnya Defan tidak tahu.” balas Defan dengan rasa penasaran.


“Itu memang benar, hanya saja mama mu itu, sempat meninggalkan papa mu. Kau tahu? betapa sedihnya dia, saat keberanian papa mu untuk mengungkapkan perasaan nya ke mama kamu, dia malahan di tinggal pergi. Sangat sakit bukan?”


“WOW… Mama ku memang keren, Paman.” ucap Defan berdecak kagum.


“Kau anak yang aneh, Fan.” Celetuk Vara.


“Vara,” panggil Eva seraya menggelengkan kepalanya.


Vara tersenyum, "Mama enggak tahu sih, Defan itu rada aneh, masa iya paman Frans yang sedih begitu enggak di belain. Dasarrr anak durhaka sama papanya. Oh ya Ma, Pa... Defan uda punya cewek loh." ujar Vara heboh sendiri.


"Benarkah?" ucap Raka dan Eva bersamaan.


"Apaan sih Lu, Vara." bantah Defan.


Vara dengan cepat menganggukan kepalanya, "Iya... Ma. Benaran deh, namanya Alice , Ma." balas Vara dengan semangat.


"Benarkah itu, Defan?" Raka bertanya dan menatap Defan seakan tidak percaya.


Defan menggaruk kepalanya, "Benar... Paman. Baru kemarin jadiannya" balas Defan dengan malu.


"Wah... Paman acungi jempol buat Defan. Si Frans benaran kalah dengan anaknya." Raka tertawa seakan geli sendiri mengingat Frans.


"Bawalah kesini, Fan. Makan malam bersama, apa kau bersedia? Sebelum Paman dan Bibimu pulang." ucap Eva dengan lembut.


"Apakah boleh, Bi?" tanya Defan kaget.


"Boleh dong, kenapa tidak?" itu Raka yang jawab.


"Agh... Okey Paman, akan segerah Defan hubungin dulu." balas Defan bersemangat serta beranjak meninggalkan ruang tamu.


"Vara gimana? Apa, Vara sudah punya pacar juga?" ledek Eva.


Raka dengan cepat menatap ke putri kecilnya itu, "Tidak boleh... Belum cukup umur." jawabnya ketus.


"Papa." gumam Vara sedih.


"Pokoknya enggak boleh, Kalau mau pacaran selesaikan dulu kuliah kamu, kalau berani pacaran di belakang papa, siapapun pria yang bersama kamu itu akan papa patahkan lehernya!" ucap Raka dengan berapi-api.


Harsen yang baru turun hendak menyapa keluarga itu, menyentuh lehernya. Merasa takut dengan ucapan Raka yang tidak sengaja di dengarnya. Rava tiba di belakang Harsen , memukul pundaknya pelan.


"Kak Rava." gumam Harsen.


"Kenapa kau diam? Ayo bergabung," ajak Rava yang langsung saja berjalan ke arah ruang tamu.


"Agh iya... Kak." balasnya gugup.


"Rava." sapa sang mama.


"Bibi.... Paman." sapa Harsen yang juga duduk di samping Rava, dengan melirik Vara sekilas dan mendapatkan anggukan Raka dan Eva.


"Baru saja tiba, Nak." jawab Raka dengan santai.


"Hemmmm... Apa Mama dan Papa masih lama di sini?"


"Tidak Nak, Lusa kami sudah pulang. Kami tidak akan menunggu yang lainnya. Bagaimana? apa Kau sudah dapat kabar mereka?"


"Belum Pa... Rava hanya mau memberikan waktu saja buat Renata. Rava mohon sama Mama dan Papa agar tidak mengambil hati, dari keadaan ini. Rava tidak menyalahkan siapapun atas kejadian ini, Ma, Pa." ucap Rava dengan tegas.


"Baiklah... Papa dan Mama mengerti. Buatlah seperti kehendakmu, Nak. Karena Papa yakin, kau itu punya cara sendiri dari masalah yang kau hadapi sekarang." ujar Raka dengan penuh percaya.


"Terima kasih , Pa. Sudah memberikan kepercayaan penuh untuk Rava." ucap Rava tersenyum.


"Jangan sungkan Anakku, Kau itu penerusku. Kau harus tunjukkan kekuasaanmu, kelebihanmu, serta kemampuanmu. Jadilah anak Raka Atmadja yang penuh ketangkasan yang tidak bisa di kalahkan siapapun. Kau paham?" Raka semakin bersemangat.


"Hahaha.... Rava paham, Pa. Papa memang luar biasa, Rava bangga punya Papa."


"Jagan terlalu memuji Papamu, sayang. Kau tidak tahu bagaimana dia mengurusi mantannya dulu? Buyutmu yang duluan turun tangan." ledek Eva dengan melirik tajam ke Raka.


Raka langsung menoleh ke Eva, "Sayang... Kenapa kau membuka aib ku?" protes si Raka.


Rava juga Vara serta Harsen menahan tawa melihat raut wajah sang Papa berubah sedih, berbedah waktu seperti memberikan semangat ke Rava.


"Memang faktanya seperti itu kan? Sudahlah... Vara, Rava dan Harsen, Mama mau Istirahat sebentar, nanti Mama mau masak untuk menyambut pacar Defan, mau makan malam bareng kita." ucap Eva serta berdiri di ikuti oleh Raka.


"Papa juga mau istirahat, karena nanti mau bantui Mama." balas Rava dengan senyum simpul.


"Bantui apa Pa?" tanya Vara menatap ke Raka.


Raka menduduk ke arah wajah Vara dan menyentuh hidungnya, "Bantuin makan dong sayang, sudah ya.. papa mau istirahat." Raka menarik tangan Eva yang memandangnya aneh kepadanya.


"Selamat Istirahat, Pa, Ma." ucap Rava.


Seusai Raka dan Eva meninggalkan ruangan tamu, tinggallah Vara, Harsen dan Rava. Rava menatap ke Vara dengan penasaran.


"Kenapa, Kak?" Vara merasa di lirik.


"Siapa pacar, Defan?" tanya Rava antusias.


Harsen juga penasaran, dengan wajah serius kedua pria yang di depan Vara itu menunggu jawaban dari Vara.


"Loh... Masa iya kakak enggak tahu?"


"Kau pikir, kakak mu ini pencari berita yang sedang panas-panasnya?" Rava menatap tajam.


"Hemmmm... Enggak sih. Defan pacaran dengan Alice kak." jawab Vara seadanya.


"Si pedagang koran?" tanya Rava.


"Huum... yang bekerja di Cafe juga, Kak."


"Agh... Defan hebat. Dengan mudahnya dia menaklukan hati seorang Wanita. Sedangkan Aku... Wanita ku melarikan diri." celetuk Rava , membuat Vara dan Harsen tertawa dengan terbahak-bahak.


Rava menoleh pada keduanya secara bergantian,


"Kenapa kalian menertawai kakak? Apa kalian mau kakak jodohkan?" Mata Rava melotot.


Vara dan Harsen terdiam bersaaman, saling memandang dan berpindah menatap ke Rava. Vara dengan berani menjawab ucapan sang kakak.


"Setubuh Kak... Vara mau." ucap Vara cepat dengan mata berbinar.


Sementara Harsen hanya terdiam dan membisu, tanpa berniat menjawab pertanyaan Rava.


"Setubuh?" Rava memiringkan kepalanya, merasa bingung, "Kau ini kelewat nafsu Vara, masih kecil juga. Sudahlah... Kakak mau ke ruangan kerja kakak, kalian mengobrol lah." Rava berdiri dan beranjak meninggalkan Vara dan Harsen.


"Kak... Bagaimana? Kak Rava sudah memberikan lampu hijau menjodohkan kita. Apa kak Harsen enggak mau menjadikan Vara sebagai cinta pertama kakak?" tanya Vara tanpa sungkan.


Harsen yang mendengarnya kelagapan sendiri, perasaannya menjadi salah tingkah mendengar ucapan Vara yang dengan berani memperjelas perkataan Rava tadi.


"Eheeeeemmmmm...." Harsen berdehem, lalu berdiri, "Nona Vara lebih baik menyelesaikan kuliahnya dulu, baru pikirkan tentang perjodohan."


"Awassss saja.... Kalau aku benaran punya pacar, kau akan aku tinggal!" celetuk Vara yang juga berdiri dan melangkah meininggalkan Harsen.


Harsen tersenyum sendiri dan menatap ke arah kepergian Vara, merasakan sesuatu dari perasaan Vara membuat perasaan Harsen berbung-bunga.


Bersambung.


........


Tekan Like dan berikan VOTE nya ya. Posisi Rankingnya 14 Nih, bantu VOTE ya Cinta. 🥰