
Roller coaster berhenti, pertanda permainan itu sudah selesai. Rasa-rasanya jantung Rava sejenak berhenti. Wajahnya yang pucat, kepalanya yang berasa pusing, hingga menimbulkan mual dari perutnya. Renata yang sempat tertawa senang, menoleh pada Rava dengan panik
“Kau tidak apa-apa, Rava?” Renata mencoba membantu menopang tubuh Rava seraya meninggalkan tempat dan segerah untuk turun.
Di bawah, Vara yang melihat Renata menopang Rava yang lemas itu buru-buru mendekati Renata dan Rava di ikuti oleh yang lainnya.
“Kakak,” seru Vara, mata Renata di buat terbelalak akan kedatangan mereka semua.
“Vara, Defan, Harsen.” Sebut Renata satu persatu lalu menatap Alice yang tersenyum pada dirinya.
“Kak,” panggil Defan sedih pada Rava, kemudian menatap rindu pada Renata.
“Kak Rava baik-baik saja?” tanya Harsen menarik tubuh Rava dan mencari tempat untuk membawanya duduk, Harsen memilih menggendong Rava. Sedangkan Renata, berlari ke arah lain.
“Lah.. Kak Renata mau ke mana?” seru Defan.
Pandangan Rava yang hampir pingsan itu menatap pada kepergian Renata, “Sen… tolong lihat Rena,” ucapnya sangat pelan di atas gendongan Harsen.
Vara berlari mengikuti Renata, Harsen melirik sekilas pada keduanya, hatinya pun menjadi gusar melihat Vara yang ikut berlari di dalam kerumanan pengunjung. Sampai di satu tempat yang bisa di gunakan untuk duduk, Harsen memanggil Defan yang bingung dengan situasi saat itu.
“Sen… sini! Jaga Kak Rava,” teriaknya.
Defan dan Alice bersamaan berlari menuju Harsen dan Rava. Sesampainya di dekat Harsen, dengan rasa paniknya Harsen meminta Defan untuk tetap di sisi Rava yang sudah hampir pingsan itu.
“Fan… Kamu dan Alice tetaplah di sini. Jaga kak Rava, kakak akan menyusul Vara dan Kak Renata. Ok.” perintah Harsen, tanpa menunggu jawaban Defan, Harsen segerah berlari ke arah yang sempat dia lihat.
Defan menopang tubuh Rava dengan meringis sedih, “Kak… jangan mati. Defan masih butuh Kakak di samping Defan. Defan janji, Defan enggak nakal lagi. Defan sayang banget sama kak Rava, kalau Kak Rava mati, siapa dong yang harus Defan peluk-peluk. Hah… Kak Rava, ayo sadarlah.” Defan meringis, membuat Alice ikut sedih menatap pada Rava. Pria yang sempat membuatnya pingsan dan Pria yang di anggapnya aneh.
“Kenapa Kau berisik sekali, Fan. Kak Rava masih hidup, kenapa Kau bilang dia sudah mati. Bukannya kakakmu ini ada rada anehnya? Saat Aku pingsan saja, di kata bodoh dengannya. Jadi Kau jangan mau tertipu dengan tampang Kakakmu ini,” celetuk Alice masih menatap kesal ke Rava yang memejamkan matanya.
Tiba-tiba Rava bergerak dan mencoba membuka kedua matanya, Rava menatap pada Alice dengan tajam. Defan menjadi ikut bergerak karena bingung dengan keadaan Rava yang sesungguhnya.
“Beraninya Kau mengataiku!” ucapnya dengan pelan.
“Nah kan… Apa yang Aku bilang padamu. Kakak mu ini aneh, tampangnya aja lemas dan tak berdaya seperti itu, tapi kekuatannya, wuh… jangan di pertanyakan.” sambung Alice tanpa takut.
“Alice…” seru Defan yang takut dengan keberanian Alice mengatai Rava dengan bersemangat.
“Apa Kekasihmu ini tidak punya perasaan! Kenapa dia sangat cerewet sekali? Kepala kakak semakin pusing mendengar ocehannya.” ucap Rava memegang kepalanya dan menunduk.
“Hah.. Maafkan Alice, kak. Dia hanya perhatian, iya perhatian.” ucap Defan mendapatkan pelototan dari Alice.
Rava kembali mengangkat wajahnya, “Kalian berdua memang sangat serasi, di mana Renata?” ucap Rava takut.
Di sana, Renata yang buru-buru mendatangi tempat penjual minuman, Vara yang berpikir Renata mau kabur lagi dengan nafas yang memburu berada tepat di belakang Renata. Usai membayar dua botol air mineral dan dua bungkus roti, Renata berbalik mendapati Vara yang lelah itu.
“Vara,”seru Renata, “Kenapa Vara di sini sayang,” ucapnya dengan memegang pundak Vara.
“Vara pikir Kakak akan kabur lagi, jadi Vara berusaha mengejar kakak.” jawabnya masih dengan nafas yang terengah-engah.
“Astaga.. Kakak Cuma mau beli Air mineral dan Roti. Mungkin saja Kak Rava belum makan siang. Karena itu dia hampir pingsan bermain roller coaster.” jawab Renata.
“Bukan Kak, Kak Rava itu tidak pernah bermain roller coaster. Untuk pertama kalinya ka Rava bermain di sini bersama Kak Renata. Biasanya Kak Rava itu sangat susah di ajakin ke taman bermain Kak,” Harsen tiba-tiba menimpali dengan nafas yang terengah-engah.
“Astaga, jadi Kak Rava berbohong pada kakak. Katanya dia sudah beberapa kali bermain itu.” sambung Renata dengan pandangan aneh.
“Bisa jadi Kak, kak Rava ingin membuat Kakak tidak kecewa,” balas Vara sudah kembali bersemangat.
“Hah Vara,” ucap Renata mendekati Vara dan memeluk tubuhnya.
“Kak Renata harus janji ke Vara, kak Rena enggak boleh meninggalkan Kak Rava lagi. Apa kakak mau berjanji?” tanya Vara melonggarkan pelukannya dan menatap pada wajah Renata.
Renata tersenyum, “Kakak janji sayang, mana mungkin kakak berani meninggalkan pria yang selama ini kakak cintai.”jawabnya dengan membelai lembut rambut Vara.
Vara pun tersenyum dan kembali memeluk tubuh Renata, “Terima kasih Kak, Vara sangat menyanyangi Kak Rena.” Ucapnya dengan haru.
Harsen ikut tersenyum melihat pada keduanya, dan Renata yang menatap pada Harsen mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Harsen, jadilah ketiganya berpelukan dalam penuh rasa haru.
“Sudah.. ayolah kita kembali ke mereka. Kasihan Kak Rava,” ajak Harsen.
“Ayo,” balas Renata dan Vara bersamaan.
Dengan tawa yang menghiasi bibir mereka, mereka kembali menuju pada Rava yang setengah pingsan itu. Rasanya cukup aneh untuk Renata, Rava mengorbankan dirinya untuk bermain roller coaster hanya untuk menyenangkan Renata. Sungguh Rava jadi sebodoh itu, ketika ia di dekat Renata atau memang karena sudah terhanyut dalam indahnya asmara percintaan.
Defan yang masih cemas itu, melihati sekelilingnya, kali aja Renata dan yang lainnya sudah kelihatan. Defan sangat takut, jika Rava benaran Mati bukan pingsan yang terlintas dalam pikirannya.
“Jangan, kan Kak Rava Cuma pusing dan mual.” Ucap Alice menatap Rava yang masih memejamkan matanya.
“Sudahlah Fan, cukup Kau dan Kekasihmu ini diam saja! Kakak sudah mulai berasa enakan,” balas Rava.
Alice mengerucutkan bibirnya, pikirnya Rava itu memang sangat dingin jika di dekat orang yang tidak dekat dengannya, percis banget seperti Raka saat memandang mamanya.
“Itu kak Rena,” seru Defan dengan bersemangat.
Rava langsung saja membuka matanya menatap ke arah yang di tunjuk oleh Defan, bersamaan itu juga Alice ikut memandang ke arah kedatangan Vara dan yang lainnya.
“Kakak,”seru Vara mendekati Rava.
“Sudah.. Kakak tidak apa-apa.” ucapnya dengan lembut.
“Apanya yang enggak apa-apa? Kenapa kau malahan membohongiku, katanya beberapa kali sudah bermain roller coaster, nyatanya enggak. Ini minumlah,” Renata menyugukan botol air mineral yang sudah di bukanya.
Rava tersenyum sangat lembut, melihat guratan kekhawatiran yang tergambar jelas pada wajah sang pujaan hati.
“Terima kasih,” ucap Rava mengambil botol minuman dari tangan Renata, lalu meneguknya, “Aku benaran tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan Aku, yang penting Aku bisa menemanimu di hari terkahir kamu di sini,” balasnya dengan menatap Renata.
“Wah.. So sweet banget sih kalian, kok Aku jadi gimana gitu ya lihatnya,” sindir Vara.
Renata tersipu malu dan tersenyum, lalu Rava yang asik memandang Renata itu berdiri karena memang sudah merasa enakan, lalu ia mendekati Renata dan merangkul pinggang Renata dengan mesra, saling memandang dengan Renata dan tersenyum, Rava menarik sejenak nafasnya lalu memandang pada adik-adiknya termasuk Alice.
“Baiklah… karena kalian sudah di sini dengan tujuan untuk merusak kencan kakak kalian, ada baiknya kita makan malam. Karena hari sudah mau malam, dan Renata juga harus istirahat untuk melakukan penarbangan besok, jadi kalian tidak sempat untuk bermain, kita langsung go ke restoran terdekat. Apa kalian mau?”
Vara, Defan, dan Harsen bersama-sama menjawab dengan bersemangat, “Let’s Go.” Seru mereka bersamaan.
Alice hanya tersenyum, ikut merasakan kesenangan pada mereka. Tetapi sekilas Ia menatap pada Renata yang tersenyum senang, apa lagi Rava yang sangat berbedah memandang Renata dan adik-adiknya. Mata Rava sangat berbinar saat Ia memandang Renata, benar-benar wanita yang beruntung pikirnya. Sangat selaras dan seimbang, itulah Rava dan Renata yang ada di pikiran Alice.
“Kau ikutlah dengan kami,” ucap Rava pada Alice.
“Hah.. Oke Kak,” jawab Alice kaget.
Renata menoleh pada Alice, Ia merassa tidak asing dan membuat keningnya mengkerut seaakan mencoba mengingat.
“Kau ingat saat di Café, semua pesananmu waktu yang di antarnya aku makan semua?” Rava yang tahu Renata mencoba mengingat Alice membantunya.
“Hah.. Kau gadis di Café itu?” tanya Renata pada Alice.
Alice tersenyum, “Ia nona, saya Alice.” ucap Alice sopan.
Renata mendekati Alice dan menyentuh tangannya, “Jangan panggil Nona, panggil saja Kakak.” Renata sangat ramah membuat Alice tidak enakan.
“Agh.. Terima kasih Kak.” balas Alice.
“Tapi.. kenapa kalian semua bisa berkenalan dengan Alice?” tanya Renata menatap pada semuanya.
“Kakak enggak tahu? Nona Alice ini siapa?” sambung Harsen.
Renata menoleh pada Harsen seraya menggelengkan kepalanya, dengan wajah bingungnya.
“Alice itu pacarnya Defan , Kak.” Sambung Vara bersemangat.
“Wah… Defan, kau sangat hebat. Harsen dan Kak Rava kalah dong ya.” jawaban Renata membuat Rava saling memandang pada Harsen lalu menatap ke Renata yang masih tersenyum ke Alice tanpa berdosan itu.
Rava berjalan ke arah Renata dan Alice dengan pandangan tajam dan cemberut, menarik tangan Renata seraya berjalan, “Sudah semuanya BUBAR! Ayo kita berangkat.” Katanya dengan dingin.
Seluruhnya tertawa mendengar dan menatap wajah kusut Rava yang di bilang kalah dari Defan. Sedangkan si Harsen biasa saja, lalu Ia menatap Vara yang juga menatapnya. Vara lebih memilih jalan duluan ketimbang harus berdampingan dengan si Harsen yang tak pekah itu pikirnya. Sedangkan Defan dan Alice bersamaan mengikuti Rava dan Renata di depan mereka. Jadilah permainan yang mereka bayangkan batal.
Bersambung.
>>>>>>>>
Tolong dong bantu VOTE nya dan Like nya, jangan hanya berkomentar tetapi tidak mau berpartisipasi, harap di mengerti. Terima kasih ^^
PEMBERITAHUAN :
UNTUK SETIAP PEMBACA NOVEL SAYA, SEBELUMNYA SAYA MINTA MAAF, KARENA GROUP CHAT SAYA ADA PEMBERSIHAN MEMBER YANG MEMANG KHUSUS UNTUK PEMBACA SAYA DAN YANG SERING BANTU VOTE, JIKA ADA YANG TIDAK SENGAJA DI KELUARKAN DARI GROUP SAYA, MOHON UNTUK KEMBALI MASUK DENGAN MENYERTAKAN CATATAN BAHWASANNYA SUDAH MEMBACA DAN VOTE, KARENA GROUP CHAT SAYA MEMILIKI SYARAT DAN PERATURAN. SEKALI LAGI SAYA MINTA MAAF 🙏.