
“Aku tidak percayaaaa! Semua ini pasti tidak mungkin,” Rava meraung di atas lantai, Raka juga tidak kalah sedih, meratapi kesedihan Rava yang di sampingnya.
Dari arah belakang, Defan berjalan menghampiri Raka dan Rava yang duduk di atas lantai dengan air mata yang menggenangi kedua mata bapak dan anak itu.
“Kakak, Paman,”panggil Defan.
“sanaaa! jangan bercanda Defan! Kau lihat kakakmu sedang berduka,” kata Raka tanpa menatap Defan yang juga sudah menangis bersamaan dengan tawa yang di tahan.
Rava mendongak ke atas menatap Defan dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
“Happy Birthday, Kakak, Paman,” ucap Defan bersuara dengan suara orang nangis dan menyodorkan cake ulang tahun ke arah keduanya.
“Kau apa-apan Defan!” ketus Rava dengan kedua mata yang menyala.
Raka memperhatikan Defan dan cake yang ada di tangan Defan, yang di arahkan ke Rava cake bulat dengan di hiasi baby di atasnya, sedangkah cake yang di arahkan ke Raka, berbentuk bulat dengan di hiasi pria memakai jas hitam dengan mengenakan kaca mata hitam memangku seorang bayi.
Raka menoleh ke Rava, “Apa meraka ini mengerjai kita?” tanya Raka dengan beranjak dan mengusap air matanya.
“Sayang… Mana Renata? Apa kalian semua mengerjaiku dan Rava?” Raka histeris dan berjalan mencari kamar Casandara.
“Kau yang benar saja Defan!” ketus si Rava dengan menarik kerah baju Defan.
“Kak… ingat Tuhan kak, sadar Kak. Ini Defan Kak, adikmu yang paling tampan,” celetuk Defan dengan Cake yang masih di kedua tangannya.
“Di mana Renata! Cepat kasi tau kakak!” Rava menyadari, seluruh keluarganya tidak ada di sekelilingnya lagi.
“Tiup dulu lilinnya dong! Ini sudah mau meleleh kak!” perintah Defan.
“Kau jangan membuatku gila, Defan! Kakak sedang tidak bercanda, Di mana Renataaaa!” bentak Rava dengan penekanan.
“Di hatimu” balas Defan bercanda.
Rava sudah mengangkat tangannya ke arah Defan, kedua mata Defan refleks mengerjap seakan ingin menghindar,” Iya ya ya Ka, Kak Renata ada di lantai 4 , di ruangan Dokter Steven”
Rava spontan berlari.
“Kakkkkk, tepatnya di bagian Dokter kandungan,” teriak Defan lagi.
Rava tidak sedikitpun menoleh ke belakang, dengan cepat Rava berlari ke arah lift. Defan mengejarnya dengan kedua cake yang masih di pegangnya di atas kedua telapak tangannya. Sesampainya Rava di depan ruangan Dokter Steven ahli kandungan, Rava terhenti sejenak mengatur nafasnya yang tersengal-sengal habis berlari seperti angin besar dan kuat yang mengguncang lautan.
Rava mengetuk pintu ruangan Dokter Steven, tampak daun pintu ruangan terbuka, senyuman suster yang berada di dalam ruangan, menyambut Rava,
“Selamat malam Tuan,” sapanya dengan menarik pintu ruangan melebar.
Tidak memperdulikan sapaan sang suster, Rava menyelonong masuk dan mengitari pandangannya ke seluruh ruangan Dokter Steven.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan?” tanya Dokter Steven yang beranjak berdiri dari depan mejanya.
“Dok, apakah istri saya tidak di sini? “tanya Rava mendekati meja Dokter.
Sekilas kedua mata Rava terpaku di depan layar tv datar yang berukuran tidak kecil menampilkan gambar,tampak hasil USG yang berwarna jingga terpampang jelas di layar, “Ny.Renata.” catatan kecil di atas tampilan gambar USG.
Kedua mata Rava berbinar, “Dok, apa itu hasil USG dari Istri saya?” tanya Rava dengan semangat.
Dokter Steven yang sedari tadi memasang senyuman memberikan jawaban ke Rava.
“Yang pertama, istri anda tidak di sini, beliau sudah di pindahkan ke lantai 6 ruangan VVIP nomor 101. Yang kedua, benar, ini hasil USG istri anda Tuan. Nyonya Renata, menitipkan pesan, beliau menunggu anda di sana. Selamat ulang tahun, Tuan Rava Atmadja. Kado special anda,” tunjuk Dokter Steven ke arah layar.
Matanya berkilat, terpampang senyum di wajahnya, tanpa menjawab ucapan sang Dokter,Rava berlari keluar dari ruangan Dokter Steven.
“Keluarga Atmadja memang sangat unik,” gumam Dokter Steven dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesampainya Rava di lantai 6 dan mencari nomor kamar yang di sebutkan Dokter Steven, dari kejauhan Rava sudah melihat Defan yang berdiri dan bersandar di dinding dengan menyilangkan kedua kakinya, masih memegang dua cake ulang tahun tadi. Tampak Defan bersiul dan menoleh ke arah Rava yang berjalan mendekat ke arahnya.
Defan berdiri tegak, saat Rava menghampirinya.
“Dari mana aja sih kak? lama amat? tiup dulu dong lilinnya,” kata Defan lagi dengan mengarahkan cake untuk Rava.
Rava terhenti di hadapan Defan, dia menyeringai, sudut mulutnya muncul dan menatap dingin ke Defan.
“Fan! Jangan mepermainkan Kakak! cukup bercandanya! Kakak mau lihat Renata, Fan! Kau tau? Kakak sudah hampir mati dengan candaan kalian! gak lucu! gak asik! kalian bisa-bisanya bercandanya kelewatan! Kan jadi buat pembaca banyak meningalkan komentar! Sudahlah, minggir. Kakak mau masuk,” Rava menahan kesal dan emosinya, rasanya pengen sekali melayangkan tinjuan ke wajah Defan yang sedang menertawainya.
Defan tidak berpindah dari depan Rava, malahan asik tertawa. “Benar-benar ya Kak Rava, cintanya tidak di ragukan lagi. Dulu aja ngeselin buat kak Renata menangis, sekarang, dih… maunya nempellll terossss”
“Berisik! minggir gak? kalau gak juga, Kakak gebukin ini!” ketus Rava dengan mata melotot.
“Dih seram amat sih, ya sudah sana,sang Ratu sudah menunggu,”
Rava dengan cepat berjalan dan menarik handle pintu kamar Renata, saat pintu terbuka dengan sempurna. Raka, Eva, Vara, Harsen, Casandra, Varel, Leo,Rere, Anna, Jimmy dan James, terlihat tersenyum dan langsung membuat satu suara.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, Happy birthday
Happy birthday to you
Tarrrrr…. Prettttttttttttttttttt….
Selesai menyanyikan lagu, suara terompet yang di tiup oleh James dan Jimmy, terdengar menyorakkan acara yang di komandoi oleh Defan. Dari arah belakang, Rava di kejutkan oleh Defan dengan meledak balon di kupingnya.
Duaaarrrrrrrrrrrrrrrrrr….
Refleks Rava kaget di buat oleh Defan yang sudah tertawa terpingkal-pingkal.
“Jahat amat sih Defan, kasihan Rava dong,” suara Renata terdengar dari depan.
“Duh, Rava jadi sedih, itu air matanya jadi keluar lagi kan?“ Anna menatap sedih ke Rava.
Benar saja, kini air matanya jatuh dari kedua pelupuk matanya. Rava mengusapnya dengan kasar. Kedua matanya tidak berkedip menatap sang Istri yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Habisnya kalian semua kelewatan sih!”Raka protes.
Seluruhnya tertawa bersamaan.
“Kakak, Maafkan Vara ya,” kata Vara saat Rava sudah melewatinya.
Rava hanya melirik sekilas ke Vara.
“Selamat ulang tahun sayang, Maafi Mama juga ya,” Eva menyentuh pundak Rava.
Rava hanya menoleh dan sesunggukan, mengusap-usap air matanya, setelah tiba tepat di depan sisi ranjang Renata. Rava menatap wajah Renata yang memucat, tangannya yang sudah di pasang jarum infus, itu bukan candaan.
“Jangan menangis,” kata Renata dengan mengarahkan tangannya ke wajah Rava dan mengusapnya dengan lembut.
Rava semakin terisak, saat tangan Renata mengusap lembut air matanya.
“Kok makin menangis sih? jangan menangis lagi, Aku masih hidup kok.” kata Renata meyakinkan.
“Bagaimana tidak menangis! kau hampir membuatku benaran gila Renata! Candaanmu sungguh kelewatan!” katanya dengan terisak.
Renata tersenyum dan kembali mengusap air mata Rava, Rava yang merasakan kehangatan tangan Renata, memberikan kecupan pada punggung tangannya.
“Kau akan mengingat hadiah terindah dariku di saat ulang tahunmu,Suamiku,” balas Renata dengan santainya.
“Benar, sangat indah. Sangkin indahnya, kau membuat jantungku hampir pindah dari posisinya,” balas Rava tidak terima.
“Ternyata kak Rava cengeng juga,” ledek Defan.
Rava berdiri dan melempar pandangan sinis ke Defan, kakinya hampir melangkah, karena Renata menarik tangannya, membuat Rava tidak berkutik untuk membalas Defan yang sudah menjulurkan lidahnya.
“Rava, mereka semua sudah ngerjai kita berdua! bagaiamana sekarang kita yang pergi dari sini, kita demo gitu,” ajak Raka.
“Kamu aja sana yang demo,” sambung sih Eva.
“Dih, segitunya kamu sama suami kamu yang hampir pingsan, yang kalian lakukan itu JAHAT!”
“Astaga Pak Raka, kan momennya bersamaan dengan datangnya cucu, kan enggak apa-apa. Sesekali gitu,” celetuk Casandra.
“Dih San,kalau bukan karena kamu itu besan saya, sudah saya kasi kamu itu SP 1.” ketus Raka.
“Salah Besan, kan saya bukan karyawan kantoran lagi. Itu si Jimmy, SP aja,” kata Casandra.
“Benar juga, besok terima SP kamu di ruangan saya , Jim.” balas Raka masih kesal.
“Kenapa saya sih Pak?” Jimmy protes dan mendekati Raka.
Kedua mata Raka menatap dingin, “Terus siapa dalang dari semua ini?” tanya Raka dengan berkacak pinggang.
Seluruhnya terkecuali Rava, menunjuk ke arah Defan.
“Kaborrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.” teriak Defan dan berlari ke arah pintu keluar.
Raka sepontan mengejar Defan, sedangkan Casandra memberikan kode untuk memberikan waktu untuk anak dan menantunya.
Renata tersenyum, melihat semuanya memberikan semangat ke arahnya dan berjalan keluar.
“Masih bisa senyum ya,” sindir Rava.
Renata menoleh ke Rava yang duduk di sampingnya.
“Iya dong, senang tau.”
“Dih, jahat gitu,senang?” Rava menarik hidung Renata.
“Iya.. kamu enggak senang apa?” tanya Renata balik.
“Ada dua ini, senang dan tidak senang,” ungkap Rava.
“Apaan? bisa sebutkan?” tanya Renata penasaran.
“Yang pertama, senang karena akhirnya kamu benaran hamil. Terima kasih sudah memberikanku kado special di saat hari jadiku sayang.” Rava menarik punggung tangan Renata dengan sangat lembut dan mengecupnya, “Yang kedua, Aku tidak senang dengan candaan kamu yang kelewatan Kalau ini benaran apa candaan?” tanya Rava ke arah jarum infus.
Renata menyipitkan matanya sejenak, “Ini benaran, lihat ini jarumnya kan sudah nempel masuk ke dalam. Ini di karenakan, aku melemah Rava. Dokter menganjurkan Aku untuk menerima cairan infus, sampai kondisiku benar-benar baik,” Renata menatapnya sendu.
Rava mendekatkan tubuhnya ke arah Renata dan memeluknya dengan sangat erat. Dengan menenggelamkan kepalanya di atas pundak Renata.
“Terima kasih Sayang, Aku sangat bersyukur, Kau masih memberikanku semangat untuk hidup. Jangan pernah mengulanginya, Aku sungguh takut. Benar-benar sangat takut. Biarkan Aku yang mati duluan, ketimbang aku yang harus melihat kepergianmu,” decak Rava dengan sangat hangat memeluk tubuh Renata yang memang lemah.
“Tidak, Aku juga tidak ingin melihat kau mati duluan, kau jangan membuatku jadi janda muda. Jangan! mari kita berjanji untuk lebih dulu menua bersama. Meminta pada sang pemilik kehidupan, untuk memberikan kita umur yang panjang,” Renata membalas pelukan Rava dengan sangat hangat.
“Baiklah, semoga sang pemilik kehidupan mendengar seruan doa kita,” balas Rava dengan melonggarkan pelukannya.
“Selamat ulang tahun Suamiku,” kata Renata dengan kedua mata berbinar.
.
Nah kan? kalau di buat mati aja pada komentar, jadilah pembaca yang aktif kasih like, kasi vote, kasi saran yang membangun, bukan menjatuhkan apa lagi mencaci. Saran baik kalian bisa jadi penyemangat untuk seluruh penulis, dan bagi saya pribadi ya karena merasa karyanya di hargai :). Dan karena saya masih melihat antusias kalian yang banyak dalam bentuk komentar bahkan VOTE membuat saya bersemangat, jujur, ini sebenarnya pengen saya buat Tamat, terserah kalian mau bilang saya itu baperlah atau apalah. Karena memang ya, kalau pembacanya aktif penulis juga semangat. Nah, baiklah, karena banyak yang minta jangan sad ending, seperti sebelumnya, saya memang gak suka sad ending, jadi bakalan saya lanjut sampai semuanya keturunan mereka bahagia. Buat kalian pembaca Mom, yang selalu setia memberikan dukungannya, mom ucapkan banyak Terima kasih , yang bilang hari minggu saya gak up, keknya gak ngikuti tiap hari. Saya senin-minggu tetap menghibur kalian dengan jam yang tidak di tentukan.^_^ karena kalian memang keren hihihi…sampai jumpa besok .
Ehg.. jangan lupa VOTEnya di tutup jam 22:59:59 Terima kasih membawa My Chosen Wife kembali ke ranking 13, walaupun belum bisa ke 10 besar, saya sangat berterima kasih, Muacchhhhh....