My Chosen Wife

My Chosen Wife
TERLANJUR MENGINGINKANNYA.



"Iya Pa... Apakah usai Vara di wisuda dia akan di nikahkan Pa?" Rava bertanya ke Raka.


 


Raka tidak langsung menjawab pertanyaan dari sang anak. Menengadah ke atas seolah Ia mencoba berpikir. Kemudian, Raka kembali menatap putranya.


 


"Papa tidak bisa memutuskan itu Nak. Biarlah Adikmu dan Harsen yang memutuskan. Apakah Kau keberatan dengan sesuatu?" Raka mencoba menggali maksud dari pertanyaan sang Putra.


 


 


"Tidak... Rava tidak keberatan dengan apapun keinginan Vara nantinya. Karena si cerewet itu sudah besar." kata Rava dengan tersenyum kecil.


 


 


"Baguslah... Mama pikir Rava akan menentang jika adikmu akan menikah. Kalau begitu, apa kalian sudah makan?" Eva tersenyum dengan melirik ke Rava dan Renata.


 


 


"Sudah Ma... Rava yang memasak." balas Renata dengan cepat.


 


"Wah... Apa kau memasak telur setengah masuk?" Raka penasaran.


 


"Pasti dong Pa... menu andalan Papa." jawaban Rava mengundang tawa kedua orang tuanya.


 


"Bagus kalau Kau membuatnya turun temurun Nak."


 


"Karena Renata menyukainya Pa." jawaban Rava membuat Raka tertawa.


 


 


"Terus... Kalian usai ini mau ke mana?" tanya Eva.


 


"Kami mau ke rumah Mami dan Papi mertua Ma. Apa Mama mau ikut?" tanya Rava.


 


"Tidak Nak.. Kalian saja. Ini kunjungan pertama kalian, setidaknya berikan ruang untuk kalian berdua dengan orang tua kalian seperti di sini." Eva tersenyum.


 


 


"Benar yang di katakan Mamamu, Nak. Jika Mamamu juga ikut, bukan melepas rindu. Yang ada Mama dan Mami kalian ngerumpi. Kalian kan jadi terabaikan." sambung Raka mendapatkan pelototan Eva.


 


Raka seketika itu merapatkan mulutnya. Sedangkan Renata dan Rava tertawa.


 


"Papa kalian hobinya begini, suka sekali mencemarkan nama baik Mama kalian." ujar Eva membela diri.


 


 


"Tuntut saja Aku Ma." balas Raka sedih.


 


"Jangannnn... Aku tidak mau jadi Janda." balas Eva.


 


 


"Ini nih...namanya Istri yang bijak... sangkin bijaknya jadi seperti ini." ledek si Raka lagi dengan menunjuk ke Eva seakan mengadu ke anak dan menantunya.


 


"Dari pada minta di pijak." celetuk Eva lagi.


 


Rava dan Renata masih tersenyum lucu melihat kedua orang tua itu bisa saling mengejek. Membuat kedua pipi Renata kakuh. Betapa bersyukurnya Renata memiliki Eva dan Raka sebagai mertua yang tidak pernah kakuh. Mereka tidak pernah sungkan mengumbar kemesraan mereka bahkan saling ejek. Membuat teduh siapapun yang melihat mereka berdua tertawa bahkan marah karena cemburu.


 


 


"Baiklah Ma.. Pa... Rava dan Rena pamit dulu, Kami mau berangkat ke rumah keluarga Rena."


 


"Sebentar Rava." ucap Eva menghentikan Rava dan Renata yang sudah beranjak.


 


"Ada apa Ma?" tanya Rava saat melihat Mama nya sudah berdiri di depan laci lemari Mamanya.


 


 


Eva berbalik kemudian berjalan ke arah Renata dengan membawa satu kotak perhiasan.


 


"Ini... Dari buyut kalian dulu sebagai kado ulang Tahun Mama. Nama Rava terukir di dalam liontin kalung ini. Jadi... Mama berikan ke Renata. Apakah Renata mau memakainya Sayang?" tanya Eva dengan lembut.


 


 


Renata menganggukan kepalanya dengan senyuman yang tampak di bibir tipisnya. "Mau Ma."


 


Eva langsung tersenyum dan langsung mengalungkan kalung berlian yang memiliki liontin bulat kecil dan tertulis nama Rava di belakangnya. Eva berpikir, ini adalah tujuan nenek Lusi memberikannya kepada Eva. Bukan hanya sebuah permintaan nama, tetapi nenek Lusi sekaligus ingin mewariskan langsung sesuatu pada mantu dari cucunya.


 


 


"Terima kasih Ma." ucap Renata seraya menyentuh Liontin lama tapi kelihatan mewah.


 


"Jangan berterima kasih sayang. Ini memang hak kamu dari buyut kalian. Kalau saja Rava membelikan kamu kalung yang lebih mewah, simpanlah yang baik Nak. Agar bisa kalian berikan kepada cucu kami nantinya." Eva membuat suatu perjanjian.


Raka sendiri hanya menatap Istri, Anak dan menantunya. Meingat betapa berjasanya sang Nenek akan keluarganya.


 


"Baiklah Ma... Renata mengerti." balas Renata.


 


"Oke.. Kalau begitu kalian berdua hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya Nak." ucap Eva ke Rava.


 


 


 


"Baiklah... Sampaikan salam kami pada Papi dan Mamimu Renata." Raka tersenyum serta memandang si Menantu.


 


 


"Tentu Pa... Ma. Kalau begitu Kami pamit ya Ma." balas Renata bersemangat.


 


 


Setelah mendapatkan jawaban, Renata dan Rava berjalan keluar kamar Raka dan Eva. Keduanya melarang untuk mengantarkan mereka. Hal hasil, Eva dan Rava mengiyakan kemauan anak-anaknya. Rava dan Renata akhirnya meninggalkan area rumah Raka Atmadja.


 


 


***


 


Di sana adalah sore yang di penuhi awan jingga. Vara menatap langit-langit jingga yang akan menjemput malamnya.


 


"Sangat indah." ucapnya seraya mengarahkan tangannya ke atas.


 


Seusai melakukan sidang dengan mendapatkan nilai terbaik membuat Vara lega. Karena Ia akan memberikan kabar baik untuk keluarganya. Di sinilah Vara duduk manis, di tangga Universitas yang memang di padati oleh Mahasiswa akhir. Ia menanti kedatangan Harsen yang memiliki jadwal padat mengurusi perusahaan Rava.


 


 


Sedangkan Defan, Ia malam itu akan melakukan kencan spesial yang di rancang khusus oleh Vara untuk Defan dan Alice. Vara ingin, hubungan Defan dan Alice maju seperti hubungannya dengan Harsen. Sedang enak memandang langit sore itu, Ansel datang dari arah depan.


 


 


"Vara." panggilnya dengan lembut.


 


Kedua mata Vara beralih ke Ansel membuat keduanya beradu pandang. Ansel tersenyum melihat Vara menatapnya.


 


 


"Jangan sok akrab denganku." kata Vara sambilan membuang pandangannya.


 


Ansel tertawa kecil, "Jangan jutek banget dong. Sayang kan.. wajahnya yang cantik jadi cepat keriput." balas Ansel dengan berjalan mendekati Vara.


 


 


"Jika Aku keriput sekalipun bukan urusan Kamu." balas Vara dengan suara pelan masih tidak memandang ke Ansel.


 


"Baiklah... Apa Kamu menunggu Harsen?" tanya Ansel ke Vara.


 


"Bukan urusan kamu... Tinggalkan saja Aku." balas Vara acuh dengan menopang dagu.


 


 


"Wah.... Sepertinya memang sangat susah dekat dengan Nona Vara. Setidaknya, bisakah kita menjadi teman?" tanya Ansel ke Vara.


 


 


Vara menengadahkan wajahnya menatap dingin ke Ansel.


 


"Bagaimana bisa kita berteman? Aku dan adikmu saja bermusuhan. Jangan mencoba untuk berteman denganku, karena semuanya tidak akan mungkin terjadi. Adikmu saja seperti itu bagaimana dengan Kakaknya?" celetuk Vara dengan suara kecil kemudian Ia berdiri dan hendak pergi. Tapi tangan Ansel menahannya dan menarik Vara.


 


 


Keduanya saling beradu pandang, perkataan akhir yang di ucapkan Vara terdengar oleh Ansel. Membuatnya menjadi penasaran.


 


"Apa maksud perkataan Kamu yang terakhur kali kamu ucapkan."


 


 


"Lepaskan tanganmu!" seru Harsen.


 


Dengan cepat Vara menepis kasar tangan Ansel dan berjalan ke arah Harsen. Vara langsung saja memeluk lengan Harsen seakan takut dengan tatapan Harsen ke Ansel.


 


 


Harsen malahan tersenyum ke Vara, "Maafkan Kakak sangat lama." ucapnya lalu melepaskan tangan Vara dengan lembut.


 


Harsen berjalan mendekati Ansel dan berkata, "Walaupun Kau anggap kita sudah berteman, jangan berani menyentuh orang yang bukan milikmu Sel. Aku tidak suka wanitaku di sentuh olehmu. Aku takut Kau malahan mengingkannya." bisik Harsen dengan penekanan.


 


"Maaf.... Kalau begitu Aku duluan." sambung Harsen lagi.


 


 


Harsen berjalan ke arah Vara dan masih memberikan senyuman ke Vara. Lalu menarik tangannya dan menggandengnya berjalan meninggalkan Ansel.


 


"Tebakanmu benar, Aku meinginkan wanitamu. Tunggu saja waktunya." gumam Ansel dengan melihat kepergian Vara dan Harsen.


 


 


Di ujung sana Zahra barusan berjalan ke arah Ansel. Tidak tau jelas apa yang terjadi dengan ketiganya. Tapi Zahra tetap mengerti Kakaknya sangatlah tertarik dengan Vara yang membuatnya menjadi jengkel akan hal itu. Karena itu, tolong bantu Vara dan Harsen dalam bentuk VOTE dan LIKE. Agar karya mom bisa naik ke atas sayangnya Mom.


 


🥰🥰😍🙏